<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588</id><updated>2012-02-16T14:21:00.994+07:00</updated><category term='bahasa-matematika'/><category term='lebih personal'/><category term='demokrasi-politik'/><category term='ekonomi-bisnis'/><category term='review buku'/><category term='sistem informasi'/><category term='manajemen'/><category term='nilai-nilai'/><title type='text'>Y Pancawijaya</title><subtitle type='html'>Pondok Diskusi Ringan: Manajemen, Informasi, Manajemen Informasi, Sistem Informasi, Review Buku Manajemen</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>257</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-7114067609954399201</id><published>2011-09-18T19:56:00.005+07:00</published><updated>2011-09-21T21:04:31.964+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lebih personal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahasa-matematika'/><title type='text'>Yuk Ngarang</title><content type='html'>Karena dunia tulis menulis adalah aktivitas berbahasa, kali ini saya coba membahas mengenai itu saja. Saya sering mengkhayal bagaimana caranya menjelaskan membuat karangan sebagai suatu proses mental. Penjelasan yang sederhana tapi mengena, mudah-mudahan, bisa mendorong siapa saja yang ingin menulis memulai keinginannya itu. Begini... Sesungguhnya karangan tidak lain adalah sekumpulan gagasan yang disusun sedemikian rupa melalui bab-bab, kemudian paragraf-paragraf, kalimat-kalimat, kata-kata, hingga ke huruf-hurufnya.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ketika membuat karangan, misalnya dalam bentuk &lt;span style="font-style:italic;"&gt;essay&lt;/span&gt; satu atau dua halaman, kita bisa memulai dengan membuat kerangka karangan. Eh sebelumnya kita harus memikirkan topiknya.  Setelah kerangkanya bagus, kita membuat topik-topik gagasan untuk tiap paragraf, yang semuanya mengalir menjadi suatu gagasan utuh sesuai dengan topik utama. Masing-masing topik paragraf itu sendiri kita buat menjadi suatu kalimat utama. Dulu waktu masih sekolah, kita diajarkan menempatkan kalimat utama di awal paragraf atau di akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, paragraf yang sudah kita tentukan kalimat utamanya kita kembangkan dengan menambahkan kalimat-kalimat pendukung. Bentuknya dapat berupa uraian atau deskripsi atau contoh-contoh yang mendukung gagasan kalimat utama. OK, sebelum kejauhan, saya stop aja di sini. Bagi Anda yang membutuhkan penjelasan lebih lengkap perihal tulis menulis dapat mencari di sumber lain. Di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;world wide web&lt;/span&gt; apa sih yang nggak bisa dicari? Saya ingin mengulasnya dari sisi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu sesudah kita lancar membaca dan mulai mengenal kata-kata, guru kita meminta kita untuk menyusun kalimat sempurna. Tidak cukup hanya menuliskan satu kata, kira-kira di kelas dua, kita sudah diberi tugas menyusun ulang kata-kata acak menjadi suatu kalimat sempurna. Di tahap inilah, proses mental kita seharusnya naik ke level baru. Mengapa? Satu kalimat sudah lengkap gagasannya. Ia bisa berdiri sendiri. Coba bandingkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lapar… Saya lapar.&lt;br /&gt;Ungu… Dia suka warna ungu.&lt;br /&gt;Anak… Kalian adalah anak-anak yang baik.&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;Warna ungu membuat kalian menjadi anak-anak yang lapar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda kan? Satu kata memang berarti. Seribu kata apalagi. Itulah yang pertama kali diajarkan Allah kepada Adam. Pengetahuannya tentang kata-kata itu yang membuatnya lebih mulia dari para malaikat. Tapi coba bandingkan kata-kata yang berserak dengan satu kalimat sempurna. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;You know what I mean, don’t you?&lt;/span&gt; Saya kira nggak perlu lagi uraian panjang lebar untuk menunjukkan tingginya kedudukan suatu kalimat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke khayalan saya, sebetulnya tulisan itu tidak lebih dari sebuah kalimat, Judul karangan, walaupun biasanya dituliskan dalam suatu frasa saja, sebetulnya mewakili sebuah kalimat. Satu karangan yang terdiri dari ratusan atau ribuan kalimat selalu bisa dimampatkan menjadi satu kalimat sempurna saja. Contoh yang diberikan Nassim Nicholas Taleb buat saya sangat menarik. Ilustrasinya agak sinis yang bernada kurang lebih sebagai berikut: biografi seorang CEO hebat setebal 500 halaman dapat diringkas menjadi “CEO anu adalah orang yang beruntung pada waktu dan tempat yang tepat dengan teman-teman yang tepat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih melanjutkan khayalan, suatu bab atau suatu paragraf selalu dapat dimampatkan menjadi satu kalimat sempurna saja. Ya iyalah. Satu buku aja bisa, apalagi hanya satu paragraph. Di sinilah saya ingin membuat satu argumen yang berat: pengetahuan kita tidak lain hanyalah SATU KALIMAT SAJA dengan pola SPOK: Saya hanya tahu sedikit saja! Atau: Segala sesuatu mempunyai hubungan dengan sesuatu yang lain! Atau: Hidup sungguh sangat singkat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang SATU KALIMAT SAJA itu bisa dielaborasi menjadi satu set kalimat-kalimat, jutaan mungkin, dengan susunan tertentu. Kita bisa mengubah fokus perhatian kita, seperti mikroskop, sehingga kita bisa turun naik dari satu level ke level granularity lainnya. Berapa level? Banyaklah! Level paling detail misalnya sejuta kalimat. Level ringkasan pertama mungkin 100 ribu kalimat. Level ringkasan kedua mungkin 10 ribu kalimat. Demikian seterusnya diringkas-ringkas terus sampai jadi SATU KALIMAT SAJA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, wah, wah... Tulisan ini seharusnya belum berakhir, tapi koq rasanya sudah kepanjangan. Lain kali diterusin, insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-7114067609954399201?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/7114067609954399201/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=7114067609954399201' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/7114067609954399201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/7114067609954399201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2011/09/yuk-ngarang.html' title='Yuk Ngarang'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-7750159475534812121</id><published>2011-08-30T09:45:00.009+07:00</published><updated>2011-09-21T21:04:14.383+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lebih personal'/><title type='text'>Selamat Idul Fitri 1432H</title><content type='html'>Walaupun saya mengikuti keputusan pemerintah mengenai jatuhnya 1 Syawwal 1432H pada hari Rabu, 31 Agustus 2011, masih terdapat catatan kecil di lubuk hati paling dalam. Sebelum curhat dilanjutkan, saya ingin mengucapkan terlebih dahulu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432H...&lt;br /&gt;TaqobbalalLahu minna wa minkum...&lt;br /&gt;Semoga Allah menerima amal dan tobat kita...&lt;br /&gt;Mohon maaf lahir dan batin...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-2HSh6PflFog/TlxUhMdGkDI/AAAAAAAAAdM/4lxH3uH_IUo/s1600/28082011847.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-2HSh6PflFog/TlxUhMdGkDI/AAAAAAAAAdM/4lxH3uH_IUo/s400/28082011847.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5646480962071466034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bagaimana kenyataan di lapangan. Kalender sudah jauh hari mengindikasikan hari raya jatuh pada tanggal 30 Agustus 2011. Kantor pemerintah sih sudah kosong sejak Senin, 29 Agustus. berbeda dengan kantor pemerintah, seandainya punya usaha, kita pasti seminimal mungkin tutup warung, iya kan? Kalau bisa, cukup tutup dua hari saja atau malah satu hari. Kemarin pas jalan ke ITC BSD, pas mau nyari hadiah buat sunatan Hanif, banyak toko mainan yang menyatakan libur dua hari, mengikuti kalender.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedih juga deh dengan realitas perbedaan hari raya yang sudah berlangsung dari tahun ke tahun dan mungkin masih akan terjadi bertahun-tahun ke depan. Buktinya toko mainan yang tutup itu aja. Cerminan kebingungan di akar rumput. Malah di berita, masyarakat miskin di Sulawesi kecewa karena sudah terlanjur menyiapkan hidangan lebaran buat hari Selasa dan tidak cukup punya uang untuk menyiapkan hari Rabunya. Komentar-komentar terhadap berita di media &lt;span style="font-style:italic;"&gt;online&lt;/span&gt; juga sama saja. Walaupun ada yang cukup arif menyikapi perbedaan, banyak yang bingung dan menyalahkan elit pemerintah dan ormas Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya udah deh... kata Rani, anak pertama kami... sabar aja, hidup penuh cobaan. Dan kalau kita melihat dari sudut pandang lain, situasi ini bisa aja justru membahagiakan. Setidaknya ada lelucon atau sindiran buat kita mentertawakan diri sendiri. Contoh sikap positif bisa dilihat pada foto di atas. Memang bukan dalam konteks perbedaan hari raya, tapi dalam konteks menghadirkan iklan yang berbeda dari kenyataan yang biasa-biasa saja. Pengumumannya begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Libur Makan Bebek&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mulai Senin, 29 Agustus 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mulai Makan Bebek Lagi&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kamis, 5 September 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke topik perbedaan hari raya, kepada elit pemerintah dan ormas Islam, walaupun harapannya tipis, saya berharap ke depan ada jalan keluar yang arif. Mungkin bisa dimulai dengan penentuan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;dateline&lt;/span&gt; penanggalan hijriyah. Bisa saja &lt;span style="font-style:italic;"&gt;dateline&lt;/span&gt; hijriyah itu sama dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;dateline&lt;/span&gt; penanggalan masehi yang membelah globe tepat di kawasan yang populasinya sedikit, karena kondisi kawasan berupa samudera pasifik yang teramat luas. Barangkali ada hikmahnya Allah menciptakan bentuk daratan di muka bumi ini seperti bentuknya yang sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kita nggak belajar dari kaum lain?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-7750159475534812121?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/7750159475534812121/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=7750159475534812121' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/7750159475534812121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/7750159475534812121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2011/08/selamat-idul-fitri-1432h.html' title='Selamat Idul Fitri 1432H'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-2HSh6PflFog/TlxUhMdGkDI/AAAAAAAAAdM/4lxH3uH_IUo/s72-c/28082011847.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-5043503303665522449</id><published>2011-08-28T17:22:00.004+07:00</published><updated>2011-09-21T21:03:27.574+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lebih personal'/><title type='text'>Menulis Lagi</title><content type='html'>Tahun ini kegiatan saya menulis sangat minimal. Mungkin karena waktu habis untuk aktivitas lain, seperti latihan catur. Alhamdulillah pada porsebi 2011 ini, tim kami mendapatkan emas. Buat saya sendiri, perak sudah pernah dapat, pada tahun pertama masuk kerja. Perunggu juga pernah didapat dua tahun lalu, ketika Pak Bahari mengajak saya kembali ke dunia catur. Sebelum pekan olah raga kali ini dimulai, saya sudah berniat berhenti dan kembali menekuni banyak hal lain yang sempat tertinggal, termasuk tulis menulis ini.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu saya makan siang bersama beberapa mahasiswa yang sedang praktek kerja di kantor. Di luar dugaan, seorang di antaranya menanyakan mengenai blog saya. Setahun lalu atau dua tahun lalu, saya selalu mempromosikan blog pribadi ini, tapi sekarang agak malu karena &lt;span style="font-style:italic;"&gt;update&lt;/span&gt;-nya sangat jarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil makan siang, di antara topik-topik lain, kami berdiskusi mengenai manfaat menulis. Saya memberi kuliah bahwa menulis itu berarti harus membaca. Itu yang pertama. Yang kedua saya sampaikan menulis adalah kegiatan mental yang jauh lebih aktif daripada sekedar membaca. Dengan menulis, kita dipaksa meng-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;organize&lt;/span&gt; gagasan dengan cara yang lebih baik. Di situlah proses pembelajaran terjadi di level yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dipikir-pikir lagi… ah mungkin kuliah itu jadi nggak berarti kalau saya sendiri meninggalkannya. Ya sudah… mulai hari ini saya akan coba lagi aktif mengisi blog. Itu artinya harus lebih banyak buku yang dibaca. Banyak artikel yang dibaca. Banyak fenomena yang harus diamati dan dituliskan, kecuali fenomena politik yang membuat selera menulis hilang entah kemana.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-5043503303665522449?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/5043503303665522449/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=5043503303665522449' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/5043503303665522449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/5043503303665522449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2011/08/menulis-lagi.html' title='Menulis Lagi'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-1119664292773801115</id><published>2011-05-11T21:50:00.005+07:00</published><updated>2011-05-11T22:21:44.099+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekonomi-bisnis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><title type='text'>Ke(tidak)bijaksanaan Elit</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kayaknya para pengambil kebijakan nasional di sektor keuangan mesti hati-hati deh. Di Amerika, para pengambil kebijakan semasa Bush terus saja dituntut tanggung jawabnya atas resesi yang hingga saat ini belum berakhir. Contohnya adalah seperti yang ditulis oleh Paul Krugman berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan tidak mungkin muncul banyak Krugman Indonesia yang punya legitimasi akademis untuk memberikan kritisi-kritisi yang amat berat bobotnya. Iya sih, Krugman adalah seorang "liberal" yang suka atau tidak suka sering dikaitkan dengan Partai Demokrat yang berseberangan secara ideologis dengan GOP (Partai Republik) yang "konservatif" tapi sejatinya sangat liberal menurut bahasa kita. Anyway, saran saya untuk para pengambil kebijakan nasional agar jangan cuma asal ikut-ikutan arus dengan alasan konvergensi hukum global. Toh, di sono para pengambil kebijakan mulai dicap tidak bijak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemahan&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.nytimes.com/2011/05/09/opinion/09krugman.html" target="_new"&gt;The Unwisdom of Elites&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;By PAUL KRUGMAN&lt;br /&gt;Published: May 8, 2011 at NYTimes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun terakhir telah menjadi bencana bagi hampir semua perekonomian barat. AS memiliki tingkat pengangguran jangka panjang tertinggi untuk pertama kalinya sejak tahun 1930-an. Sementara itu, mata uang tunggal Eropa sedang tercabik-cabik di negara-negara anggotanya. Bagaimana semuanya bisa jadi begitu salah? &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang makin sering kita dengar dari anggota elit pembuat kebijakan – yaitu orang-orang yang menilai diri bijaksana, para pejabat, dan pakar-pakar terkemuka – adalah klaim bencana itu sebagian besar akibat kesalahan publik. Idenya adalah bahwa kita masuk ke dalam kekacauan ini karena pemilih menginginkan sesuatu serba gratis, dan politisi yang berpikiran pendek mengakomodasi kebodohan pemilih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sepertinya inilah saat yang tepat untuk menunjukkan bahwa pandangan yang menyalahkan publik tersebut tidak hanya cenderung egois, tapi benar-benar salah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya adalah apa yang kita alami sekarang adalah suatu bencana dari orang atas, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;top down&lt;/span&gt;. Kebijakan-kebijakan yang membuat kita jatuh dalam kekacauan ini bukan merupakan respon terhadap kebutuhan masyarakat. Kebijakan-kebijakan itu, dengan beberapa pengecualian, diusung oleh kelompok-kelompok kecil orang berpengaruh. Dalam banyak kasus, mereka adalah orang yang sekarang menceramahi kita semua agar serius. Dan dengan berusaha untuk menyalahkan masyarakat umum, para elit menghindari refleksi yang justru dibutuhkan terhadap kesalahan mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Izinkan saya fokus terutama pada apa yang telah terjadi di AS, dan kemudian sedikit berpendapat tentang Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari ini warga Amerika dicekoki ceramah terus menerus tentang perlunya mengurangi defisit anggaran. Fokus pada pengurangan defisit tersebut sebetulnya merupakan prioritas yang keliru, karena &lt;span style="font-style:italic;"&gt;concern&lt;/span&gt; jangka pendek kita saat ini mestinya pada pembukaan lapangan kerja. Tapi anggaplah kita diwajibkan fokus pada defisit tersebut dan bertanya: Apa yang terjadi dengan surplus anggaran yang dimiliki pemerintah federal pada tahun 2000?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya ada tiga hal utama. Pertama adalah pemotongan pajak Bush, yang membebani sekitar $2 triliun utang nasional selama satu dekade terakhir. Kedua adalah perang di Irak dan Afghanistan, yang menambahkan kurang lebih $1,1 triliun utang tambahan. Dan ketiga adalah resesi ekonomi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;the Great Recession&lt;/span&gt;, yang menyebabkan tidak hanya jatuhnya pendapatan tetapi juga naiknya pengeluaran secara tajam untuk program asuransi pengangguran dan jaring pengaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, siapa yang bertanggung jawab atas masalah anggaran ini? Pastinya bukan orang kebanyakan di jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden George W Bush memotong pajak demi ideologi partainya, bukan demi memenuhi sentimen tuntutan masyarakat – dan gelondongan besar dari potongan tersebut dinikmati oleh segelintir minoritas yang super kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula, Bush memilih untuk menyerang Irak hanya karena alasan ia dan penasihatnya ingin melakukan itu, bukan karena rakyat Amerika menuntut perang melawan rezim yang tidak ada hubungannya dengan 9/11. Bahkan dibutuhkan sebuah kampanye yang sangat menipu untuk mendapatkan dukungan rakyat Amerika terhadap invasi, dan meskipun begitu, pemilih tidak pernah bulat mendukung perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, resesi didatangkan oleh sektor keuangan yang tak terkendali, akibat deregulasi yang sembrono. Dan siapa yang bertanggung jawab atas deregulasi itu? Orang-orang kuat di Washington yang memiliki hubungan dekat dengan industri keuangan. Izinkan saya memberikan sapaan-teriakan spesial untuk Alan Greenspan, yang memainkan peran penting dalam deregulasi keuangan dan pelolosan program pemotongan pajak Bush – dan beliau kini, tentu saja, di antara orang-orang yang mengintimidasi kita tentang defisit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi j&lt;span style="font-style:italic;"&gt;udgment&lt;/span&gt; yang buruk dari elit lah yang menyebabkan defisit Amerika. Bukan keserakahan orang-orang biasa! Dan situasinya amat mirip untuk kasus krisis Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak usah dikatakan bahwa bukan seperti itu yang Anda dengar dari para pembuat kebijakan Eropa. Penjelasan resmi di Eropa adalah bahwa pemerintah dari negara-negara yang bermasalah terlalu condong berpihak pada rakyat, terlalu banyak janji kepada para pemilih sembari mengumpulkan terlalu sedikit pajak. Dan itu adalah, sejujurnya, penjelasan yang cukup akurat untuk Yunani. Tetapi berbeda sekali dengan apa yang terjadi di Irlandia dan Spanyol, yang masing-masing memiliki hutang yang rendah sekaligus surplus anggaran tepat sebelum krisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah sesungguhnya dari krisis Eropa adalah bahwa para pemimpin menciptakan mata uang tunggal, euro, tanpa menciptakan lembaga-lembaga yang dibutuhkan untuk mengatasi siklus &lt;span style="font-style:italic;"&gt;boom and bust&lt;/span&gt; di dalam wilayah euro. Dan desakan mata uang tunggal Eropa sebenarnya merupakan proyek &lt;span style="font-style:italic;"&gt;top-down&lt;/span&gt;, suatu visi elit yang dipaksakan kepada pemilih yang sebetulnya sangat menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hm, apakah semua ini penting? Mengapa kita harus peduli terhadap upaya menimpakan kesalahan kebijakan pada masyarakat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya sederhana: akuntabilitas. Orang-orang yang menganjurkan kebijakan defisit anggaran selama periode Bush seharusnya saat ini tidak boleh menjadi kritikus defisit. Orang-orang yang memuji-muji Irlandia (rasanya Prof Krugman memasukkan Thomas L Friedman dalam kategori ini hehe – Y Pan) sebagai model percontohan seharusnya tidak boleh menguliahi kita tentang pemerintah yang bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, jawaban hakikinya adalah dengan mengarang cerita tentang nasib buruk yang sedang kita alami, sambil memberikan pemutihan ke orang yang bertanggung jawab, kita membuang kesempatan untuk belajar dari krisis. Kita perlu menimpakan kesalahan ke orang yang memang bertanggung jawab, untuk mengkoreksi mereka. Jika tidak demikian, mereka akan membuat lebih banyak kerusakan di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-1119664292773801115?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/1119664292773801115/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=1119664292773801115' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/1119664292773801115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/1119664292773801115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2011/05/ketidakbijaksanaan-elit.html' title='Ke(tidak)bijaksanaan Elit'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-7833473873605043793</id><published>2011-04-29T07:04:00.002+07:00</published><updated>2011-04-29T07:10:39.183+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><title type='text'>Muqaddimah: Diskusi Pendahuluan Pertama</title><content type='html'>Oleh: Ibn Khaldun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi sosial adalah suatu kebutuhan. Filsuf mengungkapkan fakta ini dengan mengatakan: "Manusia itu politis secara alami". Artinya dia tidak bisa apa-apa tanpa organisasi sosial yang diistilahkan secara teknis oleh filsuf dengan "kota" (polis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah arti peradaban. Karakter manusia terhadap organisasi sosial atau peradaban dijelaskan oleh fakta bahwa Allah menciptakan dan menyempurnakan manunisa dalam bentuk yang dapat hidup dan bertahan hanya dengan bantuan makanan. Dia membimbing manusia kepada dorongan alami terhadap makanan dan menanamkan dalam dirinya kekuatan yang memungkinkannya untuk memperoleh makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kekuatan individual semata tidak cukup bagi seorang manusia untuk mendapatkan makanan. &lt;span class="fullpost"&gt;Artinya kekuatan individualnya itu tidak mampu memberikan makanan yang memadai yang dia butuhkan untuk hidup. Bahkan untuk batas absolut minimum, yaitu makanan yang cukup untuk satu hari, misalnya sedikit gandum, jumlah makanan tersebut dapat diperoleh hanya dengan proses-proses seperti menggiling, mengadon, dan memanggang. Masing-masing proses tersebut membutuhkan alat-alat yang tersedia hanya dengan bantuan pandai besi, tukang kayu, dan pengrajin keramik. Kalaupun kita beranggapan bahwa manusia bisa makan biji gandum yang tidak diolah, sejumlah besar operasi tetap diperlukan untuk memperoleh gandum: menabur, menuai, dan menggilingnya untuk memisahkan gandum dari batangnya. Setiap operasi memerlukan sejumlah alat dan lebih banyak keahlian dari yang telah disebutkan di atas. Hal ini di luar kemampuan seseorang untuk melakukan semuanya sendirian, atau bahkan sebagiannya saja. Jadi, ia tidak dapat melakukannya tanpa kekuatan gabungan dari sesama, jika ia berniat mendapatkan makanan bagi dirinya dan bagi mereka. Melalui kerjasama, kebutuhan sejumlah orang jauh lebih banyak daripada jumlah mereka sendiri dapat dipenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga, setiap individu membutuhkan bantuan orang lain untuk pertahanan hidup. Ketika Allah menyempurnakan kodrat semua makhluk hidup dan membagi-bagi kekuatan di antara mereka, binatang diberikan kekuatan yang lebih sempurna daripada manusia. Kekuatan kuda, misalnya, jauh lebih besar dari kekuatan manusia, dan begitu juga kekuatan seekor keledai atau lembu. Kekuatan singa atau gajah berkali-kali lebih besar dari kekuatan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agresivitas adalah sifat makhluk hidup. Oleh karena itu, Allah memberi mereka masing-masing anggota tubuh khusus untuk pertahanan menghadapi serangan. Bagi manusia, sebaliknya, Dia menganugerahkan kemampuan berpikir dan sepasang tangan. Dengan kemampuan berpikir, tangan mampu membuat peralatan. Peralatan, pada gilirannya, digunakan sebagai instrumen untuk melayani manusia, sebagai ganti kaki (dan cakar) yang digunakan hewan untuk pertahanan. Tombak, misalnya, mengambil peran tanduk untuk menanduk, pedang mengambil peran cakar untuk melukai, perisai mengambil peran kulit tebal, dan sebagainya. Masih banyak hal-hal lain seperti itu. Semuanya disebutkan oleh Galen di De usu partium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan seorang manusia memang tidak sebanding dengan kekuatan binatang liar, apalagi kekuatan hewan pemangsa. Manusia umumnya tidak bisa mempertahankan diri melawan mereka sendirian. Tidak juga kekuatan individualnya cukup walaupun sudah dengan menggunakan peralatan pertahanan yang ada, karena peralatan itu begitu banyak dan butuh banyak keahlian dan tetek bengek lainnya. Oleh karena itu mutlak diperlukan kerjasama sesama manusia. Selama tidak ada kerjasama, ia tidak akan mampu mendapatkan makanan atau nutrisi pertumbuhan, dan kehidupan tidak bisa terwujud baginya, karena Allah telah menciptakannya sedemikian rupa sehingga ia harus makan untuk hidup. Tidak juga, tanpa senjata, ia dapat membela diri. Dengan demikian, ia menjadi mangsa hewan dan mati jauh sebelum waktunya. Dalam keadaan ini, spesies manusia akan punah. Ketika, sebaliknya, ada kerjasama timbal-balik, manusia dapat memperoleh makanan sebagai nutrisi dan senjata untuk pertahanan. Maka rencana Allah yang Bijaksana – bahwa ras manusia harus bertahan dan manusia sebagai spesies tetap terjaga – akan terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, organisasi sosial menjadi keperluan spesies manusia. Tanpa itu, eksistensi manusia tidak akan lengkap. Keinginan Tuhan untuk menyempurnakan dunia dengan makhluk manusia dan untuk menjadikan mereka sebagai wakil-Nya di bumi tidak dapat terealisasi. Inilah arti peradaban, subyek ilmu pengetahuan yang sedang didiskusikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan panjang lebar di atas secara alami telah menetapkan keberadaan obyek pembahasan dalam bidang ilmu tentang peradaban. Seorang sarjana dalam disiplin tertentu sebenarnya tidak wajib memberikan penjelasan keberadaan obyek bahasan tersebut, karena secara logis sudah jamak diterima bahwa seorang peneliti ilmu tertentu tidak harus membentuk fondasi keberadaan obyek pembahasan dalam bidang ilmu tersebut. Dari sisi lain, para ahli logika tidak menganggap bahwa melakukannya adalah suatu yang terlarang. Ini adalah kontribusi sukarela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan dengan Rahmat-Nya memberikan kesuksesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika manusia telah membentuk organisasi sosial, seperti yang dijelaskan di atas, dan ketika peradaban telah menjadi kenyataan, masyarakat membutuhkan seseorang untuk memegang kendali dan menjaga hubungan antar individu, karena adanya sifat binatang berupa agresi dan ketidakadilan di dalam diri manusia. Senjata yang dibuat dalam rangka pertahanan manusia dari binatang agresif tidak cukup untuk menahan agresi manusia terhadap manusia lainnya, karena masing-masing dari mereka memiliki senjata tersebut. Makanya diperlukan sesuatu yang lain sebagai instrumen pertahanan agresi manusia terhadap satu sama lain. Dia tidak bisa datang dari luar, karena kemampuan semua binatang lain jauh lebih rendah dari persepsi dan inspirasi manusia. Orang yang memegang kendali dalam masyarakat, oleh karena itu, haruslah salah satu dari mereka sendiri. Dia harus mendominasi dan memegang kuasa dan otoritas atas mereka, sehingga tidak satupun dari mereka dapat menyerang yang lain. Inilah arti dari otoritas kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, menjadi jelas bahwa otoritas kekuasaan adalah kualitas alami manusia yang mutlak diperlukan bagi umat manusia. Filsuf menyebutkan bahwa otoritas kekuasaan juga ada pada beberapa hewan tertentu seperti lebah dan belalang. Seorang peneliti mengamati di antara mereka adanya otoritas dan ketaatan kepada pemimpin. Mereka mengikuti salah satu dari mereka yang dijadikan sebagai pemimpin berdasarkan tubuh dan karakteristik alamiahnya. Namun, di luar manusia, otoritas kekuasaan itu muncul semata dari hukum alam dan ilham ilahiyah, dan bukan hasil dari kemampuan berpikir atau mengelola. "Dia memberi segala sesuatu kodrat atau karakteristik alamiahnya dan kemudian membimbingnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para filsuf melangkah lebih jauh. Mereka berusaha untuk memberikan bukti logis dari adanya nubuah (kenabian) dan menunjukkan nubuah itu merupakan kualitas alami manusia. Dalam hal ini, mereka membawa argumen kepada konsekuensi akhirnya dan mengatakan bahwa manusia benar-benar membutuhkan otoritas kekuasaan untuk mengendalikan masyarakat. Mereka kemudian mengatakan bahwa kekuasaan pengendali ada melalui hukum agama yang ditetapkan oleh Allah dan disampaikan kepada umat manusia oleh seorang manusia. Manusia spesial ini dibedakan dari manusia lainnya dengan kualitas khusus bimbingan ilahi yang Allah berikan padanya, sehingga ia mendapati yang lain tunduk kepadanya dan siap menerima apa yang dia katakan. Akhirnya, otoritas kekuasaan di antara mereka dan atas mereka menjadi kenyataan tanpa sedikitpun penyangkalan atau perbedaan pendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proposisi terakhir dari sebagian filsuf di atas tidak cukup logis, seperti dapat kita lihat. Keberadaan dan kehidupan manusia dapat diwujudkan tanpa adanya kenabian melalui perintah-perintah yang dirancang oleh seseorang pemegang otoritas atau dengan bantuan sentimen kelompok yang memungkinkannya untuk memaksa orang lain untuk mengikuti ke mana ia ingin pergi. Orang yang memegang kitab ilahiyah dan mereka yang mengikuti nabi hanya sedikit dibandingkan dengan semua kelompok masyarakat lain yang tidak memiliki kitab wahyu. Yang terakhir ini merupakan mayoritas masyarakat dunia. Namun, mereka juga memiliki raja-raja dan monumen, belum lagi kehidupan itu sendiri. Mereka masih memiliki raja-raja dan monumen tersebut pada saat ini di daerah utara dan selatan. Hal ini sangat kontras dengan kehidupan manusia di negara anarki, tanpa satu pemegang otoritas pengendali. Proposisi tersebut sungguh tidak mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini menunjukkan bahwa para filsuf telah keliru ketika mereka menganggap bahwa kenabian ada karena kebutuhan. Keberadaan nubuah tidak terikat dengan logika. Karakteristiknya ditunjukkan oleh hukum agama, seperti keyakinan kaum Muslimin awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah memberikan kesuksesan dan bimbingan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-7833473873605043793?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/7833473873605043793/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=7833473873605043793' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/7833473873605043793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/7833473873605043793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2011/04/muqaddimah-diskusi-pendahuluan-pertama.html' title='Muqaddimah: Diskusi Pendahuluan Pertama'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-230152981457911165</id><published>2011-03-18T07:38:00.003+07:00</published><updated>2011-03-18T08:11:56.773+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sistem informasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekonomi-bisnis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahasa-matematika'/><title type='text'>Pasukan Pengacara Digantikan Software</title><content type='html'>SMARTER THAN YOU THINK&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.nytimes.com/2011/03/05/science/05legal.html" target="_new"&gt;Armies of Expensive Lawyers, Replaced by Cheaper Software&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;By JOHN MARKOFF&lt;br /&gt;Published (in the NY Times): March 4, 2011 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika lima studio TV tersangkut dalam gugatan anti-monopoli Departemen Kehakiman terhadap CBS, biaya yang keluar sangat besar. Sebagai bagian dari tugas yang agak nggak jelas berupa “penemuan” atau “penggalian” – untuk menyediakan dokumen yang relevan dengan gugatan – studio-studio itu memeriksa enam juta dokumen dengan biaya lebih dari $2,2 juta sebagian besar untuk membayar sekelompok pengacara dan asistennya yang bekerja selama berbulan-bulan dengan tarif tinggi per jam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu terjadi pada tahun 1978. Sekarang, berkat kemajuan dalam kecerdasan buatan (&lt;em&gt;artificial intelligence&lt;/em&gt;), software e-discovery dapat menganalisis dokumen dalam waktu jauh lebih singkat dengan biaya yang jauh lebih murah. Pada bulan Januari, misalnya, Blackstone Discovery di Palo Alto, California, membantu menganalisis 1,5 juta dokumen dengan biaya kurang dari $100.000. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa program bahkan melampaui lebih dari hanya menemukan dokumen yang relevan dengan cepat. Mereka dapat mengekstrak konsep-konsep yang relevan bahkan tanpa terminologi khusus, dan menyimpulkan pola perilaku yang dapat meringankan tugas para pengacara dalam memeriksa jutaan dokumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari sudut pandang tenaga kerja bidang hukum, itu berarti banyak orang yang dulu dialokasikan untuk meninjau dokumen tidak diperlukan lagi," kata Bill Herr, yang sebagai pengacara di sebuah perusahaan kimia besar biasa mengumpulkan pengacara dalam auditorium untuk membaca dokumen selama berminggu-minggu di akhir pekan. "Orang-orang bisa kelelahan, orang mengalami sakit kepala. Komputer tidak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komputer semakin baik dalam meniru penalaran manusia – seperti penonton &lt;a href="http://www.nytimes.com/2011/02/17/science/17jeopardy-watson.html?_r=2" target="_new"&gt;“Jeopardy!”&lt;/a&gt; temukan ketika menyaksikan Watson mengalahkan musuh manusianya – dan mereka mengambil alih pekerjaan yang dulu dilakukan oleh orang-orang dalam profesi bergaji tinggi. Jumlah desainer chip komputer, misalnya, secara signifikan telah mengalami stagnasi sejak program perangkat lunak digunakan untuk menggantikan kerja yang dilakukan oleh sepasukan desainer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perangkat lunak juga mulai merambah ke wilayah eksklusif para pengambil keputusan, seperti konsultan pinjaman dan KPR dan akuntan pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk baru dari otomatisasi telah mengembalikan perdebatan hangat tentang konsekuensi ekonomi dari kemajuan teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;David H. Autor, profesor ekonomi di Massachusetts Institute of Technology, mengatakan ekonomi Amerika Serikat sedang mengalami fenomena "kekopongan" ("&lt;em&gt;hollowed out&lt;/em&gt;"). Pekerjaan baru, katanya, terisi pada bagian bawah piramida kerja, di tengah-tengah hilang karena otomatisasi dan &lt;em&gt;outsourcing&lt;/em&gt;, dan sekarang pertumbuhan kerja di bagian atas melambat karena otomatisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada alasan untuk menyimpulkan bahwa teknologi menciptakan pengangguran," kata Profesor Autor. "Dalam jangka panjang kita selalu dapat menemukan pekerjaan untuk orang lakukan. Namun, masalahnya, apakah perubahan teknologi selalu mengarah ke pekerjaan yang lebih baik? Sayang jawabannya tidak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otomasi pekerjaan di bagian atas piramida mengalami percepatan karena kemajuan ilmu komputer dan linguistik. Baru-baru ini saja para peneliti dapat menguji dan menyempurnakan algoritma untuk sampel data yang besar, termasuk gunungan e-mail dari Enron Corporation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dampak ekonominya akan sangat besar," kata Tom Mitchell, ketua departemen pembelajaran mesin (&lt;em&gt;machine learning&lt;/em&gt;, cabang &lt;em&gt;artificial intelligence&lt;/em&gt;) di Carnegie Mellon University di Pittsburgh. "Kita berada pada awal periode 10-tahun di mana kita akan mewujudkan transisi dari komputer yang tidak mengerti bahasa ke situasi di mana komputer dapat mengerti sedikit tentang bahasa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan ini paling tampak jelas di dunia hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi e-discopvery umumnya dapat dibagi ke dalam dua kategori besar yang dapat digambarkan sebagai "linguistik" dan "sosiologis."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan linguistik yang paling mendasar menggunakan kata-kata pencarian yang spesifik untuk mencari dan mengurutkan dokumen-dokumen yang relevan. Program yang lebih canggih menyaring dokumen melalui jaringan definisi kata-kata dan frase. Seorang pengguna yang mengetik "anjing" juga akan menemukan dokumen yang menyebutkan "teman terbaik manusia" dan bahkan gagasan "berjalan" (dalam kultur barat, anjing memang biasa dianggap sebagai "teman terbaik manusia" dan mesti diajak ”jalan” sekali waktu - Y Pan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atasnya, pendekatan sosiologis menambahkan suatu lapisan analisis inferensial, meniru kekuatan deduktif seorang Sherlock Holmes. Insinyur dan ahli bahasa di Cataphora, perusahaan skrining informasi yang berbasis di Silicon Valley, membuat software yang dapat menggali (&lt;em&gt;mining&lt;/em&gt;) dokumen terkait kegiatan dan interaksi orang-orang – siapa yang melakukan apa kapan, dan siapa berbicara dengan siapa. Perangkat lunak tersebut memvisualisasikan rangkaian peristiwa. Ia mengidentifikasi diskusi yang telah terjadi melalui email, pesan instan, dan telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian komputer menerkam, ibaratnya, untuk menangkap "anomali digital" yang sering diciptakan penjahat kerah putih dalam usaha menyembunyikan aktivitas mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, ia dapat menemukan momen "telepon saya" – insiden ketika pegawai memutuskan untuk menyembunyikan tindakan tertentu dengan memulai percakapan pribadi. Biasanya ini melibatkan perubahan media, mungkin dari percakapan email ke pesan singkat, telepon, atau bahkan tatap muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ia tidak menggunakan kata kunci sama sekali," kata Elizabeth Charnock, pendiri Cataphora. "Tapi ia adalah sarana untuk menunjukkan siapa yang membocorkan informasi, siapa yang berpengaruh dalam organisasi, atau kapan sebuah dokumen sensitif seperti laporan ke SEC sedang diedit dalam frekuensi yang tidak wajar oleh tipe atau jumlah orang yang tidak biasa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Software Cataphora juga mampu mengenali sentimen dalam sebuah e-mail – apakah seseorang positif atau negatif. Ia juga dapat mengidentifikasi yang disebut "berbicara lantang" – sebuah penekanan yang tidak biasa yang mungkin memberikan indikasi bahwa dokumen tersebut mencerminkan situasi stres. Perangkat lunak ini juga dapat mendeteksi perubahan halus dalam gaya komunikasi e-mail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah perubahan gaya penulisan email, dari santai tiba-tiba menjadi formal, dapat menyalakan sinyal adanya kegiatan yang tidak legal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anda cenderung untuk memisahkan lebih sedikit infinitif ketika Anda berpikir FBI mungkin membaca surat Anda," kata Steve Roberts, CTO Cataphora.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan e-discovery lain di Silicon Valley, Clearwell, telah mengembangkan perangkat lunak yang menganalisis dokumen untuk menemukan konsep, lebih dari sekedar kata kunci tertentu, yang dapat mempersingkat waktu untuk menemukan materi yang relevan dalam gugatan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu, perangkat lunak Clearwell digunakan oleh konsultan hukum DLA Piper untuk mencari di antara setengah juta dokumen dalam batas waktu satu minggu yang ditetapkan pengadilan. Software Clearwell menganalisa dan mensortir 570 ribu dokumen (setiap dokumen dapat terdiri dari banyak halaman) dalam dua hari. Firma hukum Piper menggunakan hanya satu hari lagi untuk mengidentifikasi 3070 dokumen yang relevan dengan pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perangkat lunak Clearwell menggunakan analisa bahasa dan cara visual yang mewakili konsep-konsep umum dalam dokumen yang memungkinkan satu saja pengacara melakukan pekerjaan yang sebelumnya mungkin dilakukan ratusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masalahnya di sini adalah beban jumlah informasi yang berlebihan," kata Aaref A. Hilaly, CEO Clearwell. "Bagaimana caranya Anda mendalami hanya dokumen atau fakta tertentu yang relevan dengan permasalahan? Ini bukan soal pencarian, tapi ini tentang penyaringan atau skrining, dan itulah kekuatan perangkat lunak e-discovery."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Neil Fraser, seorang pengacara di Milberg, sebuah firma hukum berbasis di New York, perangkat lunak Cataphora memungkinkannya lebih memahami cara kerja internal perusahaan yang sedang ia gugat, terutama ketika para pembuat keputusan yang sebenarnya tersembunyi dari sorotan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan perangkat lunak ini memungkinkannya menemukan mantan Prajurit Wintergreens dalam suatu organisasi – sebuah sosok pegawai rendahan dalam novel "Catch-22" yang memegang kuasa yang besar karena mendistribusikan surat ke para jenderal dan mampu menahan atau mengirimkannya sesuai pertimbangannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat seperti software di atas berhutang budi kepada sumber yang mungkin tidak pantas, yaitu database email peninggalan Enron (&lt;a href="http://sgi.nu/enron/" target="_new"&gt;Enron Corpus&lt;/a&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan Oktober 2003, Andrew McCallum, seorang ilmuwan komputer di University of Massachusetts, Amherst, membaca bahwa pemerintah federal memiliki koleksi lebih dari lima juta pesan dari penuntutan Enron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia membeli satu salinan database tersebut senilai $10.000 dan membuatnya bebas tersedia untuk para peneliti akademis dan korporasi. Sejak itu, ia telah menjadi dasar ilmu pengetahuan baru – nilainya luar biasa hingga saat ini, mengingat kendala batasan privasi biasanya membuat koleksi-koleksi e-mail seperti ini tak terjangkau. "Itu membuat perbedaan besar dalam komunitas riset," kata Dr McCallum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enron Corpus telah menyebabkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana bahasa digunakan dan bagaimana jaringan sosial berfungsi, dan ia telah menyempurnakan upaya pengungkapan kelompok-kelompok sosial berdasarkan komunikasi email.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang perangkat lunak kecerdasan buatan (&lt;em&gt;artificial intelligence&lt;/em&gt;) telah mendapatkan tempatnya di meja negosiasi (dulu janji kehebatannya sudah begitu, tapi kayaknya sekarang udah mulai bener-bener terwujud - Y Pan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bulan yang lalu, Autonomy, sebuah perusahaan e-discovery yang berbasis di Inggris, bekerja sama dengan pengacara pembela dalam suatu gugatan terhadap sebuah perusahaan minyak dan gas terkenal. Para penggugat datang dalam negosiasi praperadilan dengan daftar kata yang dimaksudkan untuk membantu memilih dokumen yang akan digunakan dalam pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Para penggugat sebelumnya telah meminta 500 kata kunci untuk pencarian," kata Mike Sullivan, CEO Autonomy Protect, salah satu divisi Autonomy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tanggapan, para pembela menggunakan kata-kata itu untuk menganalisis dokumen mereka sendiri selama perundingan, dan hasilnya membantu mereka lebih efektif dalam bernegosiasi, kata Mr Sullivan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, beberapa ahli mengakui teknologi memiliki limitasi. "Dokumen-dokumen yang disaring keluar masih harus dibaca oleh seseorang," kata Herbert L. Roitblat dari OrcaTec, sebuah perusahaan konsultan di Atlanta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit untuk mengkuantifikasi dampak dari penggunaan teknologi baru ini. Mike Lynch, pendiri Autonomy, percaya bahwa "bidang hukum adalah sektor yang mungkin bakal lebih sedikit mempekerjakan orang di Amerika Serikat di masa depan." Dia memperkirakan bahwa pergeseran dari penemuan dokumen secara manual ke penemuan otomatis (e-discovery) akan menyebabkan pengurangan tenaga kerja di mana satu pengacara saja akan cukup untuk pekerjaan yang sebelumnya memerlukan 500. Bahkan generasi terbaru perangkat lunak e-discovery yang dapat mendeteksi duplikasi dan menemukan pengelompokan dokumen-dokumen penting tentang topik tertentu, dapat mengurangi 50 persen tenaga kerja lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komputer tampaknya menunjukkan kinerja baik dalam pekerjaan ini. Mr Herr, pengacara perusahaan kimia yang diceritakan di awal artikel ini, menggunakan perangkat lunak e-discovery untuk menganalisis ulang pekerjaan pengacara perusahaan tersebut di tahun 1980-an dan 90-an. Ternyata koleganya (sebagai manusia) hanya 60 persen akurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bayangkan berapa banyak uang yang telah dibelanjakan untuk menjadi sedikit lebih baik daripada sekedar melempar koin (50 persen akurat – Y Pan)," katanya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-230152981457911165?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/230152981457911165/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=230152981457911165' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/230152981457911165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/230152981457911165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2011/03/pasukan-pengacara-digantikan-software.html' title='Pasukan Pengacara Digantikan Software'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-8306967945249399086</id><published>2011-02-02T21:20:00.001+07:00</published><updated>2011-02-02T21:20:01.294+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lebih personal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahasa-matematika'/><title type='text'>Black to Play</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/TUlhbyM2cgI/AAAAAAAAAco/m3vmv_QoAtk/s1600/02022011760.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/TUlhbyM2cgI/AAAAAAAAAco/m3vmv_QoAtk/s400/02022011760.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5569089544180363778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The game has reached this extraordinary position, as if the game were played by Tal and Kasparov. Black has a significant advantage in the king's side, while white has a dominant position in center and in the queen's side. Both white's and black's kings are in desperate situations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On our final analysis, the outrageous battle is concluded by a slight tempo advantage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trying a sharp counter attack, white makes a very threatening move, i.e. d5xe6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What is the best move for black to conclude the game?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-8306967945249399086?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/8306967945249399086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=8306967945249399086' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/8306967945249399086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/8306967945249399086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2011/02/black-to-play.html' title='Black to Play'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/TUlhbyM2cgI/AAAAAAAAAco/m3vmv_QoAtk/s72-c/02022011760.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-468140733055680715</id><published>2011-01-31T21:50:00.001+07:00</published><updated>2011-01-31T21:50:25.201+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekonomi-bisnis'/><title type='text'>Mitos Daya Saing</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mungkin kita menganggap Amerika sama saja: kapitalis. Sebenarnya di sana terdapat dua ideologi yang bertolak belakang, walaupun bisa dikatakan keduanya masih di dalam kapitalisme. Setidaknya kita bisa belajar bahwa tidak semua ekonom Amerika pro 100% terhadap pasar bebas, sebagaimana pendapat Paul Krugman di bawah ini yang saya terjemahkan dari &lt;a href="http://www.nytimes.com/2011/01/24/opinion/24krugman.html?_r=1&amp;ref=paulkrugman" target="_new"&gt;kolom beliau di NYTimes&lt;/a&gt; 23 Januari 2011. Barangkali Indonesia tidak perlu malu-malu untuk tidak selalu mengikuti kebijakan ekonomi Amerika, termasuk kebijakan pasar bebas itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pidato tahunan di depan Congress, Presiden Obama telah mengirimkan pesan utamanya, yaitu daya saing. Dewan Penasihat Presiden untuk Pemulihan Ekonomi telah berganti nama menjadi Dewan Presiden untuk Lapangan Kerja dan Daya Saing. Dalam pidato radio beliau pada hari Sabtu (22/1), Presiden Obama menyatakan bahwa Amerika tidak dapat disaingi oleh negara mana pun. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini mungkin saja politik yang cerdik. Dapat diduga, Mr. Obama menggunakan ungkapan klise untuk tujuan yang baik, sebagai suatu cara untuk menjual wacana kenaikan investasi publik kepada masyarakat yang keseluruhannya telah diindoktrinasi bahwa pengeluaran pemerintah selalu bersifat buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mari kita tidak membodohi diri sendiri: berbicara tentang daya saing sebagai suatu tujuan sebenarnya menipu. Kalaupun ada kebaikan di situ, ia minimal merupakan suatu diagnosis yang salah terhadap masalah kita (masalah US maksudnya - Y Pan). Pahit-pahitnya, ia dapat menggiring kebijakan-kebijakan berdasarkan ide yang keliru bahwa apa yang baik untuk korporasi selalu baik untuk Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang diagnosis yang salah itu: apa logikanya bahwa masalah yang kita hadapi saat ini berasal dari kurangnya daya saing?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar kita akan lebih banyak menciptakan lapangan kerja jika kita lebih banyak mengekspor dan lebih sedikit mengimpor. Tapi kasusnya sama saja untuk Eropa dan Jepang, yang sedang mengalami depresi juga. Dan kita tidak dapat sama sekali mengekspor lebih banyak ketika kita lebih sedikit mengimpor, kecuali jika kita dapat menjual produk kita ke planet lain. Ya, kita dapat menuntut Cina mengurangi surplus perdagangannya - tapi jika Presiden Obama bermaksud menghadapi Cina, seharusnya ia dapat mengungkapkannya tanpa tedeng aling-aling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh lagi, meskipun Amerika mengalami defisit perdagangan, defisit tersebut masih lebih kecil dibandingkan defisit sebelum Resesi Besar sebelum perang. Akan membantu jika kita dapat membuatnya lebih kecil lagi. Apapun, ujungnya, kita berada pada kekacauan ini karena krisis finansial, bukan karena perusahaan-perusahaan Amerika kehilangan daya saingnya terhadap kompetitor asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah, paling tidak, ada gunanya berpikir tentang negara ini sebagai Amerika Inc, yang berkompetisi di pasar global? Jawabanya tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya: Seorang pemimpin korporasi yang menaikkan profit dengan mengurangi pegawai dianggap sukses. Hm, memang inilah yang kurang lebih terjadi saat ini di Amerika: angka pengangguran naik, tapi profit menyentuh rekor baru. Siapa yang berani mengatakan ini suatu keberhasilan ekonomi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, Anda dapat mengatakan bahwa berbicara mengenai daya saing membantu Mr Obama membungkam klaim bahwa ia anti-bisnis. Itu nggak masalah, selama ia menyadari bahwa kepentingan korporasi Amerika dan kepentingan negara, yang nggak pernah ketemu, semakin lebar kesenjangannya dari sebelum-sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil kasus GE, yang CEO-nya, Jeffrey Immelt, baru saja ditunjuk menjadi ketua dewan penasihat yang baru ganti nama. Saya tidak punya masalah dengan GE atau Mr Immelt, tapi dengan kurang dari setengah pegawainya berbasis di US dan kurang dari setengah pendapatannya berasal dari operasi di US, kesuksesan GE tidak ada kaitannya dengan kesejahteraan Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong, sebagian kalangan memuji penunjukan Mr Immelt setidaknya sebagai perwakilan suatu perusahaan yang benar-benar membuat produk nyata, dan bukan penjudi finansial. Mohon maaf, hari-hari ini GE mendapatkan revenue lebih banyak dari kegiatan finansialnya daripada manufaktur - bahkan GE Capital, yang mendapatkan jaminan pemerintah untuk hutang-hutangnya, merupakan salah satu penerima utama bailout yang dilakukan pemerintah terhadap Wall Street.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi apa yang ingin diajukan oleh pemerintah dari retorika daya saing terhadap kebijakan ekonomi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran yang positif, sebagaimana saya ungkapkan, adalah ini semua merupakan kemasan untuk suatu strategi ekonomi yang berpusat pada investasi publik, investasi tentang menciptakan lapangan kerja dalam jangka pendek sembari mendorong pertumbuhan jangka panjang. Penafsiran negatif adalah bahwa Presiden Obama dan para penasihatnya betul-betul percaya bahwa permasalahan ekonomi US terjadi karena pemerintah terlalu keras pada bisnis (korporasi), dan bahwa Amerika membutuhkan pemotongan pajak korporasi dan deregulasi di semua sektor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan saya adalah ini semua merupakan kemasan saja, dan jika presiden benar-benar mengajukan kenaikan yang signifikan pada pengeluaran infrastruktur dan pendidikan, saya akan cukup puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, meskipun ia membawa kebijakan yang baik, fakta bahwa Mr Obama membungkus kebijakan ini dengan metafora yang buruk adalah suatu yang patut disayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis keuangan 2008 merupakan momen pelajaran, suatu pelajaran mengenai bahaya percaya bahwa ekonomi pasar sepenuhnya dapat mengatur dirinya sendiri. Jangan pula kita lupakan bahwa ekonomi yang lebih diregulasi, seperti Jerman, dapat menjawab krisis dengan lebih baik daripada kita. Entah alasannya, sepertinya momen pelajaran itu belum juga terpahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mr Obama sendiri kelihatan baik-baik saja. Rating sokongan terhadap beliau naik, ekonomi menunjukkan tanda-tanda kehidupan, dan peluangnya untuk dipilih kembali cukup bagus. Sedihnya, ideologi yang membawa bencana ekonomi 2008 kembali naik daun, bahkan kembali ke puncak - dan kelihatannya akan tetap berada di sana hingga ia kembali membawa bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koreksi: 25 Januari 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kolom di atas, Paul Krugman mengatakan GE mendapatkan lebih dari setengah revenue-nya dari jasa finansial. Walaupun benar demikian sebelum krisis, segmen tersebut mengalami penurunan tingkat kepentingan sejak krisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat juga:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/10/kebijakan-berbalik-arah.html"&gt;Kebijakan Berbalik Arah&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-468140733055680715?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/468140733055680715/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=468140733055680715' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/468140733055680715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/468140733055680715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2011/01/mitos-daya-saing.html' title='Mitos Daya Saing'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-6173669061856778738</id><published>2010-12-31T21:35:00.002+07:00</published><updated>2010-12-31T21:37:18.292+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lebih personal'/><title type='text'>Tahun 2010 dan 2011</title><content type='html'>Sebentar lagi 2010 berlalu. &lt;br /&gt;Ia akan segera menjadi masa lalu. &lt;br /&gt;Seberapa banyak rencana kita terwujud? &lt;br /&gt;Seberapa akurat  prediksi kita? &lt;br /&gt;Saatnya menilai... &lt;br /&gt;Untuk menjadi lebih arif menatap masa depan. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa sering kita menyanyikan, "Ku yakin hari ini pasti menang..." &lt;br /&gt;Hanya untuk menyadari keyakinan itu sering hanyalah harapan belaka. &lt;br /&gt;Bahkan dengan memanipulasi doa, seorang mubaligh yakin... &lt;br /&gt;Tim Garuda akan menang besar... &lt;br /&gt;Hanya untuk menyadari Allah tidak dapat dipaksa dengan doa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BMG pernah mengatakan April musim kemarau akan datang. &lt;br /&gt;Tidak lama BMG mengkoreksinya menjadi bulan Juli. &lt;br /&gt;Hujan tetap tak berhenti menimbulkan... &lt;br /&gt;Istilah kemarau basah. &lt;br /&gt;Kembali kita harus menyadari prediksi tetaplah hanya prediksi... &lt;br /&gt;Karena Dia hanya mengungkap sedikit sekali ilmu-Nya untuk kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sadarilah hanya Allah yang Maha Tahu. &lt;br /&gt;Milikilah sedikit kerendahan hati. &lt;br /&gt;Waspadalah terhadap ramalan... &lt;br /&gt;Apalagi ramalan bintang, ramalan ekonomi, dan ramalan politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika harus membuat rencana untuk 2011 dan seterusnya... &lt;br /&gt;Buatlah dengan rendah hati. &lt;br /&gt;Sandarkan optimisme hanya kepada-Nya... &lt;br /&gt;Karena kepada-Nya kita akan kembali. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-6173669061856778738?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/6173669061856778738/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=6173669061856778738' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/6173669061856778738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/6173669061856778738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2010/12/tahun-2010-dan-2011.html' title='Tahun 2010 dan 2011'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-4441596042896709525</id><published>2010-11-16T12:57:00.008+07:00</published><updated>2010-11-26T11:10:04.600+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekonomi-bisnis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><title type='text'>Pencari Sensasi dan Ahli Kubur</title><content type='html'>Bagi kita yang masih hidup, kebanyakan para pencari sensasi lebih sering kita perhatikan daripada kebanyakan ahli kubur. Memang ada ahli kubur tertentu yang sampai hari ini kita sebut-sebut namanya karena prestasi mereka yang luarbiasa, tapi umumnya kita lebih sering terpikat oleh pencari sensasi. Buktinya, acara info seleb lebih laku di TV.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu ada film &lt;em&gt;Accidental Hero&lt;/em&gt;. Sebuah pesawat nahas mengalami kecelakaan. Banyak penumpang tidak selamat. Kemudian muncul seorang misterius yang membantu para penumpang yang selamat. Dia kehilangan sebelah sepatunya selagi proses penyelamatan. Berdasarkan cerita mereka yang selamat, media kemudian mencari-cari siapa sih sang pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari cerita film itu, sang pahlawan, Bernie, sebenarnya seorang kriminal. Karena profesinya, ia menghilang dari lampu sorot wartawan, tapi temannya, John, mengambil kesempatan dalam kesempitan. Dengan bekal sebagai seorang veteran dan sebelah sepatu Bernie, dia berhasil mengelabui publik, tentunya dengan bantuan media yang senang dengan kisah inspiratif. Di sini, sebetulnya ada kesalahan fatal, tapi karena cerita yang sensasional, kebenaran tertutupi dari publik. Bernie adalah pahlawan yang sebenarnya, walaupun itu kebetulan juga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba bayangkan di antara penumpang yang tewas, adakah seseorang yang benar-benar mengambil tindakan heroik untuk penyelamatan tapi kemudian gugur tanpa ketahuan jasanya? Boleh jadi figur itu memang ada, tetapi karena dia keburu jadi ahli kubur, nggak ada cerita yang menghiasi koran nasional. Demikian juga, pahlawan-pahlawan tak dikenal yang gugur melawan penjajah! Nama mereka tidak pernah menghiasi buku-buku sejarah. Boleh jadi, buku sejarah malah diisi pahlawan seperti John yang kebetulan masih bisa menuturkan cerita-cerita heroik meskipun palsu. Mungkin sekali pahlawan di buku-buku sejarah mempunyai kontribusi yang tidak lebih baik dari pahlawan tak dikenal yang keburu gugur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda pasti tahu GT, pegawai pemerintah yang ketahuan memiliki aset yang tidak sesuai gajinya, kan? Baru-baru ini dia bahkan bikin berita besar lagi setelah seseorang yang mirip dirinya diketahui berada di Den Pasar ketika dia sendiri masih mendekam di tahanan Brimob Kelapa Dua. Melihat besaran korupsinya kita sudah geleng-geleng kepala. Ck ck ck! Semakin dibesarkan sensasinya, semakin terlena kita dari kasus-kasus yang jauh lebih besar di kuburan. Kasus-kasus di kuburan itu tidak akan pernah buka suara dan membuat Anda mungkin berpikir mereka tidak pernah ada. Begitulah perbedaan sensasi dan kuburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi yang lebih ilmiah dapat Anda baca di buku The Black Swan karya Dr Nassim Nicholas Taleb. Salah satunya mengenai bayi yang jatuh ke sumur di Italia pada akhir 1970-an. Karena kesulitan mengeluarkannya dari sumur, jadilah kisahnya suatu yang amat dramatis. Negeri Lebanon yang kala itu sedang mengalami perang saudara yang dahsyat bahkan heboh oleh tragedi bayi dari Italia itu sembari melupakan betapa banyak korban perang di rumah sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kegandrungan kita pada berita yang sensasional membuat kita justru melupakan fakta yang relevan yang ada di kuburan. Ini adalah kelemahan bawaan yang tertanam dalam otak kita yang sekaligus menjadi kekuatannya (baca juga &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2010/11/hebatnya-pikiran.html" target="_new"&gt;Hebatnya Pikiran&lt;/a&gt; - Y Pan). Yang jadi soal tambahan adalah faktor eksternal yang suka mengekploitasi kelemahan kita, dengan tidak sengaja atau lebih parah lagi dengan sengaja. Untuk itu, nggak ada salahnya kita berhati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di wilayah extremistan (baca juga &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/12/yang-belum-kebaca.html" target="_new"&gt;Yang Belum Kebaca&lt;/a&gt;) - Y Pan), tempat bercokol kebanyakan masalah sosial, sikap hati-hati itu mesti lebih ditingkatkan lagi. Mengapa? Teman-teman kita mungkin suka mengolok-olok keyakinan kita dengan ganas, sampai kita keluar dari keyakinan itu dan akhirnya mengikuti jejak GT. Sanak kita mungkin menyalahkan profesi yang selama ini kita tekuni bergelimang dengan buku, percobaan, dan penelitian, tapi seret uang dan ketenaran. Karena tidak tahan, kita bisa saja keluar dari lembaga penelitian yang sudah membiayai sekolah kita sampai S3 ke luar negeri. Kita lalu lebih memilih bekerja di bank atau jadi pialang atau jadi pengamat yang dengannya sanak saudara tidak akan pernah memandang rendah lagi. Karena kita begitu menghargai imbalan segera, pihak eksternal dapat dengan mudah menjerumuskan kita ke kekeliruan yang kita sesali kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan imbalan surga dapat dihadirkan ke dunia ini, tentunya kita akan siap sedia mengalami kerugian-kerugian kecil sepanjang waktu dan mengabaikan begitu saja olok-olok teman dan pandangan merendahkan sanak saudara. Kenapa? Karena kita yakin pada saatnya semua kerugian kecil itu tidak akan ada artinya di hadapan imbalan surga. Demikian pula, kita tentu tidak keberatan menunda keuntungan-keuntungan kecil sepanjang waktu mengingat keuntungan-keuntungan kecil itu tidak berarti apa-apa di hadapan neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya kita dapat mengerti bagaimana inginnya sosok seperti Khalid bin Walid tewas dalam peperangan yang diikutinya. Beliau bersusah payah mengikuti semua perang itu dengan luka-luka yang menggerogoti badan. Sungguh suatu ironi, semua perang itu dimenangkannya, tapi harapannya untuk syahid dalam perang tidak tercapai, hingga beliau meninggal di tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini satu ilustrasi lagi dari Dr Taleb. Misalkan sebuah obat menyelamatkan banyak orang dari penyakit berpotensi membahayakan. Sebaik-baik obat itu, ada risiko ia dapat menewaskan beberapa orang. Secara obyektif &amp;quot;berat bersih&amp;quot; untuk masyarakat positif banget. Apakah dokter mau meresepkannya? Rasanya tidak, karena pengacara para korban akan memburu sang dokter dan menggebukinya seperti anjing, sementara fakta bahwa banyak orang yang terselamatkan tidak akan membelanya sedikitpun. Nyawa yang terselamatkan adalah statistik (kuburan), sedangkan beberapa korban efek samping adalah anekdot yang gampang diceritakan dan disebarkan (sensasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dr Taleb, fenomena ahli kubur yang diilustrasikan di atas merupakan manifestasi bukti yang tidak bicara. Tugas kita adalah menghindari terjebak pada apa yang kita lihat (sensasi) saja, tetapi mencari apa-apa yang tidak kelihatan (kuburan). Seyogyanya dua-duanya sama-sama kita perhatikan dengan sungguh-sungguh. Bahkan kalau kita dapat mengidentifikasi suatu sensasi tidak relevan, kita sepatutnya segera mengabaikannya saja. Kalau tidak seperti itu, kita akan terjebak pada sensasi. Malangnya sensasi itu ternyata sering seperti John dalam &lt;em&gt;Accidental Hero&lt;/em&gt; di atas, sementara bukti sebenarnya justru tidak bicara, diam seribu bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mari kita kembali ke sekolah. Teori dan ruang kelas sudah mengajarkan kita banyak hal dan sudah membawa peradaban manusia berkembang hingga saat ini. Namun demikian, teori dan ruang kelas seperti sudah dibuktikan secara konsisten dalam sejarah tidak lebih adalah sensasi itu sendiri. Apa yang kita pahami saat ini berdasarkan teori dari ruang kelas yang kita hadiri kemarin mengungkung pikiran kita dalam kotak teori itu sendiri. Padahal kenyataan lebih rumit dari teori itu. Di luar kotak teori itu bersemayam bukti yang tidak bicara. Dr Taleb memberikan ilustrasi yang sangat menawan yang telah mencerahkan banyak orang sekaligus membingungkan banyak orang lain. Saya harus cari-cari bahan dulu di internet dalam bahasa aslinya sampai bisa mengkoreksi terjemahan yang terlanjur saya baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tony yang Gemuk (Fat Tony) adalah seorang jalanan asal Brooklyn yang sangat sukses, sementara John yang Bukan Orang Brooklyn (Dr John) adalah seorang ahli yang berlatar akademis. Sungguh ilustrasi ini bukan untuk mengejek orang jalanan yang sukses ataupun seorang akademisi yang terlalu teoritis. Banyak akademisi yang menguasai jalanan dan tidak terlalu teoritis. Ada juga orang jalanan yang belajar sendiri banyak teori dan menguasasi banyak bahasa. Yang menyebalkan adalah orang jalanan yang sok teoritis. Perumpamaan Fat Tony dan Dr John hanya untuk menggugah pemahaman saja. Berikut ini percakapan antara Dr Nassim Nicholas Taleb (NNT) dengan keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;NNT: Andaikan ada sebuah koin yang sempurna imbang (&lt;em&gt;terjemahan The Black Swan menggunakan istilah &amp;quot;koin yang adil&amp;quot; yang kelewat harfiah, hehehe - Y Pan&lt;/em&gt;), yang memiliki kesempatan yang sama (50:50) untuk muncul sisi depan atau sisi belakang (&lt;em&gt;dalam istilah Bahasa Inggris &lt;em&gt;head or tail&lt;/em&gt; yang males saya terjemahkan sebagai kepala atau ekor - Y Pan&lt;/em&gt;) sewaktu diundi. Saya sudah melontarnya sembilan puluh sembilan kali dan selalu mendapatkan sisi depan. Bagaimana peluang saya mendapat sisi belakang pada lemparan berikutnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr John: Pertanyaan gampang. Separo, tentu saja, karena Anda mengasumsikan peluang 50 persen untuk masing-masing sisi dan lontaran yang satu tidak terkait dengan lontaran yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NNT: Bagaimana pendapat Anda, Tony?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fat Tony:  Hemat saya tidak lebih dari 1 persen, tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NNT: Kenapa begitu? Saya telah memberimu asumsi awal bahwa koinnya betul-betul imbang, yang berarti peluang tiap sisi tepat 50 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fat Tony: Anda entah bodoh sekali atau murni seorang pecundang bila menerima pandangan &amp;quot;50 pehcent&amp;quot; (mungkin logat Brooklyn - Y Pan) itu. Koinnya pasti sudah disetel (&lt;em&gt;versi asilnya &lt;em&gt;loaded&lt;/em&gt;, tapi buku terjemahan menggunakan istilah &amp;quot;koin berhantu&amp;quot; yang bikin pembaca kayak saya bingung dan keburu merendahkan Fat Tony - Y Pan&lt;/em&gt;). Nggak mungkin imbang! (Maksudnya setelah diterjemahkan Dr Taleb yang lebih sekolahan: Mungkin sekali asumsi bahwa koin itu imbang merupakan asumsi yang salah dibandingkan kenyataan setelah 99 pelemparan selalu muncul sisi depan.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NNT: Tapi Dr John mengatakan 50 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fat Tony (berbisik di telinga NNT): Saya tahu orang macam ini dengan contoh-contoh aneh dulu waktu saya kerja di bank. Mereka berpikir terlalu lambat. Terlalu pasaran.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya butuh beberapa kali membaca dialog di atas dan akhirnya memutuskan mencari sumbernya di internet. Dr Taleb menyediakan PDF yang bisa diunduh dari &lt;a href="http://www.fooledbyrandomness.com/LudicFallacy.pdf" target="_new"&gt;http://www.fooledbyrandomness.com/LudicFallacy.pdf&lt;/a&gt;. Saya pelajari tulisan aslinya hingga saya merasa memahaminya. Dr John berpikir sepenuhnya di dalam kotak, sementara Fat Tony sepenuhnya di luar kotak. Saya pikir keduanya bukan sosok ideal. Saya lebih senang sosok yang menguasai dalam dan luar kotak. Dalam definisi Dr Taleb, luar kotak adalah lipatan plato (&lt;em&gt;platonic fold&lt;/em&gt;), suatu daerah yang belum dipahami (&lt;em&gt;non-platonic&lt;/em&gt;) dan sering kita abaikan karena kita nggak nyaman dengan faktor yang misterius. Alih-alih mengekplorasi area di luar kotak dengan skeptis, kita sering memuaskan diri dengan apa yang sudah kita ketahui saja (&lt;em&gt;platonic&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus Fat Tony dan Dr John, walaupun keduanya bukan sosok yang ideal, saya menyimpulkan bahwa Fat Tony lebih baik dari Dr John. Kehidupan sehari-hari lebih sering mengandung banyak hal di luar kotak teori yang tidak steril dari ketidakpastian yang sesungguhnya. Mungkin banyak pembaca The Black Swan mendebat bahwa tidak mungkin ahli statistik seperti Dr John berlaku sangat lugu dan steril seperti itu. Dia pasti akan menguji dulu asumsi bahwa koinnya imbang dengan data empiris bahwa dalam 99 lemparan selalu muncul sisi depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang selayaknya orang sekolahan tetap skeptis dengan apa yang &amp;quot;telah&amp;quot; diketahuinya dan melakukan pengujian empiris untuk mengeksplorasi area yang &amp;quot;belum&amp;quot; diketahuinya, tapi kenyataannya ada (untuk tidak mengatakan banyak - Y Pan) orang sekolahan yang gagal menggunakan prinsip-prinsip ilmiah dalam kehidupan sehari-hari. Kita sering terjebak menggunakan intuisi saja untuk suatu yang mestinya dipikirkan secara mendalam. Dengan &lt;em&gt;instinct&lt;/em&gt;, kita sering menggunakan jalan pintas mungkin karena ingin cepat kabur dari buruan binatang buas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan yang dilakukan Dr John, disebut kesalahan spontan (&lt;em&gt;ludic fallacy&lt;/em&gt;), ternyata dilakukan juga oleh kasino-kasino. Mungkin kita berpikir kasino, apalagi di Amerika, sangat ahli di bidang peluang dan ketidakpastian. Koq bisa kasino dengan lugunya mengatakan koinnya imbang? Di dalam permainan memang koinnya imbang. Dengan koin yang imbang, saking semuanya sudah terhitung akurat, nggak mungkin sebuah kasino rugi dari bisnis judi ini. Yang nggak cerdas adalah para pengunjung kasino! Memang ada orang yang memiliki kemampuan, didukung alat ataupun tidak, untuk mencari keuntungan yang bersifat bukan untung-untungan dari judi di kasino. Orang-orang seperti itu, yang disebut curang, akan diamati dan ditangani sendiri oleh kasino. Pernah lihat kan adegannya di film-film?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu di mana letak kesalahan spontan yang dilakukan kasino? Dr Taleb menuliskan dari pengakuan pengusaha kasino sendiri bahwa sumber kerugian kasino bukan dari permainan itu, tapi berasal dari luar yang mereka tidak antisipasi. Contohnya? Pertama, pawang harimau untuk atraksi di kasino diterkam oleh harimaunya sendiri. Kedua, seorang kontraktor kecewa terhadap kasino dan berencana meledakkan kasino itu. Ketiga, pegawai kasino lalai menyampaikan formulir-formulir pajak ke kantor pajak yang mengakibatkan denda yang luarbiasa besar. Keempat, putri pemilik kasino diculik untuk tebusan sejumlah besar uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh-contoh mengenai kerugian kasino di atas kelihatannya mendorong Dr Taleb dengan sinis mengatakan kasino berjudi dengan dadu yang salah! Artinya permasalahan dalam kehidupan tidak dapat disterilkan seperti ruangan kasino itu sendiri. Menurut Dr Taleb, peluang berjudi di dalam permainan-permainan kasino sih gampang dihitung. JUSTRU ANGSA HITAM BERSEMAYAM DI LUAR KOTAK permainan kasino itu sendiri. Dia ada di kuburan dan tidak terlihat sensasional!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;* Setelah membaca artikel ini, ada baiknya jika berkenan, Anda baca sendiri buku The Black Swan agar Anda dapat mengidentifikasi konsep asli Dr Taleb dari kata-kata yang saya tambahkan sendiri dan dari kata-kata yang saya tidak suka masukkan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diinspirasi oleh The Black Swan: Bab 7: Hidup di Beranda Sebuah Harapan (Living in the Antechamber of Hope), Bab 8: Giacomo Casanova yang Terus Beruntung: Masalah Bukti yang Tidak Bicara (Giacomo Casanova's Unfailing Luck: The Problem of Silent Evidence), Bab 9: Kesalahan Spontan, atau Ketidakpastian Si Kutu Buku (The Ludic Fallacy, or The Uncertainty of The Nerd)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca artikel terkait sebelumnya: &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2010/11/hebatnya-pikiran.html"&gt;Hebatnya Pikiran&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-4441596042896709525?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/4441596042896709525/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=4441596042896709525' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/4441596042896709525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/4441596042896709525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2010/11/pencari-sensasi-dan-ahli-kubur.html' title='Pencari Sensasi dan Ahli Kubur'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-4721790910695303267</id><published>2010-11-13T06:25:00.001+07:00</published><updated>2010-11-13T06:28:05.871+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><title type='text'>Hanya Khutbah Biasa</title><content type='html'>Shalat Jum’at kemarin, seperti biasa kalau nggak dinas atau libur, saya ikuti di masjid kantor. Khotibnya Ustadz Muchlis Abdi. Walaupun belum pernah berguru langsung kepada beliau, saya menganggap beliau salah satu guru saya (beliau belum tentu mengakui saya sebagai murid sih, tapi nggak apa – Y Pan). Karena mendekati hari Arafah, topik khutbah seperti biasa penjelasan mengenai keluarga Ibrahim AS. Sudah berkali-kali mendengar khutbah seperti itu, saya pun berpikir ini akan menjadi suatu khutbah biasa.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menceritakan kisah keluarga Ibrahim, Ustadz Muchlis memaparkan bahwa ibadah haji adalah satu-satunya ibadah yang bersifat internasional dan terikat dengan tempat tertentu. Beliau menyampaikan bahwa Allah mendesain ibadah haji seperti itu antara lain untuk menjadi contoh nyata bagi seluruh umat manusia perihal akibat yang baik bagi orang-orang yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda membaca artikel saya sebelumnya, &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/12/yang-belum-kebaca.html" target="_new"&gt;Yang Belum Kebaca&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2010/11/hebatnya-pikiran.html" target="_new"&gt;Hebatnya Pikiran&lt;/a&gt;, yang terinspirasi the Black Swan agar kita skeptis terhadap narasi sebab akibat, mohon jangan menganggap saya tidak yakin dengan ajaran agama saya sendiri. Berbeda mungkin dengan Dr Taleb, saya skeptis dengan perkataan siapa saja, tapi tidak jika ia bersumber dari RasululLah SAW, al-Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kembali ke khutbah, Ustadz Muchlis menjelaskan lebih lanjut dengan menapaktilasi teladan keluarga Ibrahim, para peragu yang mengatakan ajaran al-Qur’an hanya teoritis dan hanya bagus dalam lembaran-lembaran tulisannya ditantang dengan bukti-bukti nyata di depan mata. Pergilah kamu ke Mekkah, maka kamu akan melihat bukti-bukti agung itu. Memang sih, kita masih tetap bisa menolak., tapi itu nggak masalah. Tidak ada paksaan dalam agama (keyakinan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kisah dimulai. Ternyata tidak seperti khutbah biasa mengenai keluarga Ibrahim, khutbah ini benar-benar membawaku ke suasana penghayatan. Entah karena cara bertuturnya atau karena latar belakang akademisnya atau karena memang tingkat ruhiyah sang penyampai pesan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam usia yang sudah senja. Rumah tangga Ibrahim belum juga dapat tertawa lepas bersama kehadiran anak-anak yang dicintai. Bukan karena anak-anak itu akan membuktikan kenormalan beliau sebagai laki-laki, tetapi karena anak-anak itu diharapkan dapat melanjutkan perjuangan. Dengan persetujuan istrinya yang pertama, Nabi Ibrahim menikahi seorang perempuan lagi yang masih muda. Karena kehendak Allah jua, setelah itu hamil keduanya. Betapa senang hati beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba saatnya, istri pertama Nabi Ibrahim melahirkan seorang anak laki-laki. Anak yang dinanti-nanti. Anak yang membuat keluarga ini dapat tertawa senang. Karena itu, ia diberi nama Ishak. Menyusul berikutnya, istri kedua melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ismail, yang bermakna doa yang dipenuhi. Situasi kemudian berubah. Terjadilah ketegangan di dalam keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapatkan instruksi dari Allah, Nabi Ibrahim membawa istri keduanya dan putranya Ismail pergi dari rumah di Kanaa, Palestina bagian selatan, menuju ke arah selatan. Berjalan berbulan-bulan, akhirnya beliau mendapat wahyu agar berhenti di suatu tempat bernama Bakkah, yang bermakna tempat penuh duka. Di tempat itu tidak ada air sedikitpun. Tidak ada tanda kehidupan sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Muchlis tidak menceritakan detil mengenai dialog panjang penuh kesedihan dan perpisahan Ibrahim dengan keluarganya di Bakkah, tetapi tetap saja kata-katanya membuat sulit linangan air mata. Hanya ketika istrinya memahami bahwa ini wahyu Allah Swt, perpisahan tersebut bagaimanapun beratnya terjadi juga. Ustadz tidak menceritakan bagaimana akhirnya sumur Zam Zam muncul di kaki Ismail, tapi cukuplah di benak saya sudah ada cerita itu dan menambah kepedihan perasaan ditinggal di lembah duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh tahun berlalu. Nabi Ibrahim tidak turut membesarkan Ismail, tapi pada saat itu diterimalah wahyu untuk mengunjungi keluarganya di Bakkah. Di pihak lain, karena tidak mungkin hanya mengandalkan air Zam Zam untuk bertahan hidup. Ismail kecil dan ibunya telah terbiasa beredar di kawasan sekitar Bakkah, sekarang Mekkah. Hingga mereka biasa berada di Arafah. Di sinilah Nabi Ibrahim bertemu kembali dengan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa bahagia keluarga ini bersatu kembali Tanpa mengikuti tumbuh kembang anaknya, Nabi Ibrahim mendapati anaknya sudah remaja dan berperilaku sholeh. Sungguh suatu ni’mat luar biasa dari Tuhannya. Namun tiba-tiba di Muzdalifah, Nabi Ibrahim mendapat wahyu untuk menyembelih anaknya. Kalau kita disuruh melakukan hal seperti ini, bisa dibayangkan betapa banyak deraian air mata mengalir! Alternatifnya, betapa dahsyat perseteruan dalam keluarga! Berbeda dengan kita, Ibrahim adalah seorang RasululLah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Ibrahim mendekati anaknya dan menceritakan di dalam mimpinya ia menyembelih anaknya itu. Nabi Ibrahim tentu sudah siap menerima jawaban penolakan dari anaknya, karena ini memang sangat berat. Tanpa disangka, Ismail menjawab, ”Lakukanlah Ayah apa yang diperintahkan itu, insya Allah engkau dapati aku termasuk orang-orang yang sabar.” SubhanalLah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdua, mereka kemudian mengajukan hal ini ke Ibunda Ismail. Kali ini Nabi Ibrahim pun telah siap menerima jawaban penolakan dari istrinya. Wong dia nggak merasakan suka duka membesarkan anak ini. Tanpa disangka, Ibunda Ismail juga membenarkan Nabi Ibrahim. Begitulah seorang Rasul dan keluarganya. Ismail mengajukan tiga permintaan terakhir. Ibundanya juga mengajukan satu permintaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ismail meminta agar pedang yang digunakan untuk menyembelih benar-benar diasah setajamnya agar tidak terlalu sakit, walaupun tetap sakit. Kemudian, yang kedua, ia meminta matanya ditutup agar sang ayah tidak merasa iba dan ragu. Yang terakhir, baju yang dikenakan yang akan berlumuran darah dimintanya untuk diserahkan ke Ibundanya sebagai kenang-kenangan. Oh, betapa mengharukan! Sementara itu, Ibunda Ismail meminta diri untuk tidak mengikuti prosesi penyembelihan. Maka tinggallah ia di Muzdalifah. Di dalam manasik, kita mabit di sini sebelum ke Mina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Ibrahim dan Ismail (yang kemudian menjadi salah seorang RasululLah juga dan kemudian melahirkan Nabi Muhammad SAW) pergi mencari tempat pelaksanaan penyembelihan. Di jalan mereka menemui hambatan dari setan yang kemudian mereka hadapi secara fisik dengan melemparinya. Tempat kejadian itu sampai sekarang menjadi situs jamarat, tempat jemaah haji melempari setan! Akhirnya ditemukan juga lokasi yang sesuai di Mina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Ismail sudah ditutup, pedang sudah dibuka dari sarungnya, pelipis Ismail telah diletakkan di tanah... oh... Nabi Ibrahim meletakkan pedangnya di tempat yang paling tepat agar darah deras mengucur yang akan menyebabkan kematian Ismail... oh... Nabi Ibrahim menggerakkan tangannya dan mengucur deraslah darah... oh... Nabi Ibrahim masih memejamkan matanya karena tidak tega... oh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kalau saya yang disuruh melakukan ini terhadap anak yang dinanti-nanti? Ya Allah, jadikanlah aku mencintai anak-anakku karena Engkau, bukan hanya karena mencintai mereka saja. Ya Allah, jadikanlah aku tidak terlalu mencintai anak-anakku sehingga melampaui cintaku pada-Mu. Padahal aku sangat mencintai mereka... Dan tiap kali aku melihat wajahnya dan rasa cinta itu membuncah, aku bersyukur dan berdo’a agar cinta itu membawa kami ke surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Nabi Ibrahim mendengar suara gaib yang menjadi klimaks yang mengharukan. Ternyata yang disembelihnya adalah seekor Qibas yang gemuk, sementara Ismail berdiri di depannya tanpa kurang suatu apapun. Allahu akbar wa lilLahi l-hamd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heran... walaupun sudah berulangkali mendengar kisah ini, selalu saja keharuan tidak dapat ditahan. Bahkan kali ini, seperti yang saya katakan di atas, entah karena cara bertuturnya atau karena latar belakang akademiknya atau karena tingkat ruhiyah sang penyampai pesan, keharuan kali ini lebih mendalam. Ya Allah selamatkanlah keluargaku dan masukkanlah kami ke dalam surga-Mu, amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kondisi ruhiyah yang sangat kondusif, tidak sulit sama sekali untuk menerima suatu pelajaran yang dieksplisitkan oleh Ustadz Muchlis Abdi di akhir khutbah pertamanya. Dalam situasi negeri yang sangat memprihatinkan, kita hendaknya meneladani keluarga Ibrahim. Kalau tidak dapat memperbaiki, minimal jangan membuat kerusakan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangkat negeri dari krisis yang tidak habis-habis dapat menjadi kontribusi dan upaya kita, tapi kita tidak dapat melakukannya kalau kita masih berada di tataran materi alias kita masih materialistis atau matrek. Kita bisa ikut berkontribusi dalam perbaikan masyarakat hanya jika kita sudah berada di tataran spiritual, seperti keluarga Ibrahim!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;* Sebagaimana biasa, setelah shalat, dilakukan pendalaman materi khutbah. Sebenarnya menarik. Ada tiga pertanyaan. Salah satunya mengenai kontroversi penentuan Hari Raya, tapi tulisan ini sudah terlalu panjang...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca juga cerita:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2010/07/kekuatan-cerita.html"&gt;Kekuatan Cerita&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/11/qurban-memaknai-syukur.html"&gt;Qurban Memaknai Syukur&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/09/cerita-jenaka.html"&gt;Cerita Jenaka&lt;/a&gt; dari kyai yang sedang mendapatkan ujian karena wanita (kita doakan agar masalah beliau segera selesai)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-4721790910695303267?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/4721790910695303267/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=4721790910695303267' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/4721790910695303267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/4721790910695303267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2010/11/hanya-khutbah-biasa.html' title='Hanya Khutbah Biasa'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-7060697865651301865</id><published>2010-11-07T15:30:00.001+07:00</published><updated>2010-11-11T11:31:42.755+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><title type='text'>Hebatnya Pikiran</title><content type='html'>Pernah nggak kita sekilas melihat teman kita di balik tikungan? Baru hidungnya yang kelihatan, kita udah tahu itu si fulan. Kemampuan ini sangat canggih, sampai-sampai komputer paling canggih yang memiliki kemampuan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;image processing&lt;/span&gt; paling canggih di dunia iri sekali.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan mengenali pola katanya berada di bagian kiri otak kita. Saya sendiri tidak terlalu peduli dengan kategori otak kiri, otak kanan, bahkan belakangan ini otak tengah. Yang jelas manusia, alhamdulillah, diberi karunia yang luarbiasa. Kalau nggak seperti itu, mungkin pas kita berpapasan dengan anak atau istri kita, kita butuh beberapa menit atau malah satu jam lebih untuk mengenalinya. Hehehe, dengan kondisi seperti itu, umur kita yang rata-rata di sekitar 60 tahun nggak akan cukup untuk menambah nilai dan memberi manfaat bagi sesama karena sibuk mengenali penampakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking efisiennya cara kerja pikiran kita, bukan perkara yang sulit bagi kita untuk membedakan berbagai spesies binatang dan tumbuhan. Untuk kita orang awam, mungkin sudah cukup mengenali perbedaan kucing dan jaguar, ulat dan ular, kadal dan komodo, lalat dan lebah, dan seterusnya. Untuk para ahli, tingkatnya sampai membedakan hal yang sangat detil, misalnya perbedaan dalam bentuk taringnya atau cara bertelurnya atau bunyi khasnya, hehehe.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan pengenalan pola tidak hanya terbatas pada perkara fisik saja, tapi juga kita gunakan untuk perkara-perkara yang lebih abstrak dan tidak fisik sifatnya. Misalnya waktu tes psikologi, kita disuruh menebak angka apa yang muncul berikutnya setelah kita diberikan sederet angka. Bukan cuma angka, malah ada juga tes pola gambar tertentu, misalnya setelah garis, segi tiga, dan segi empat, kita diminta menebak yang berikutnya. Ada juga pola kata-kata, apakah itu analogi, lawan kata, ataupun sinonim. Nah, kemampuan mengenali dan memahami ini kemudian dijadikan salah satu indikator tingkat kecerdasan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melanjutkan contoh-contoh di atas, tanggapan kita kepada fenomena alam juga sangat didukung oleh kemampuan kita dalam mengenali pola berdasarkan pengalaman. Kalau mendung di langit Jakarta sudah berat banget, ditambah angin yang bertiup tak henti-henti, pertanda banjir... eh salah... genangan air akan menyebabkan macet di mana-mana. Contoh lain? Status Merapi dari waspada, siaga, menjadi awas, dan kemudian diikuti perluasan area berbahaya juga sepenuhnya perkara pengenalan pola yang membuat antisipasi bencana menjadi lebih baik, walaupun ada sebagian kalangan yang mengikuti kategori bahaya dari juru kunci, bukan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita terus menambah cakupan dan kompleksitas masalah, misalnya yang berhubungan dengan interaksi sosial, otak kita tetap saja bekerja dengan efisien. Sampai-sampai kita dapat segera mengenali aliran atau mazhab seseorang dari cara bicaranya, atau cara shalatnya, atau posting-posting yang dikirimnya ke milis, atau bahkan komentarnya terhadap posting tertentu.&lt;span class="fullpost"&gt;  Di tim kami, kalau ada dokumen penting yang tidak berada di tempat yang seharusnya, perhatian langsung mengarah kepada sosok yang sudah dicap suka, lebih tepatnya pernah, meminjam arsip tanpa mengembalikan, padahal belum tentu beliau yang salah, hehehe (maaf Mas, cuma buat ilustrasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu ilustrasi lagi mari kita ambil dari tanah Paman Sam. Di Amerika, opini atau tulisan yang berpihak ke Republik dan yang ke Demokrat cukup mudah dibedakan. Yang agak sulit dibedakan mungkin sikap moderat yang ngambang di tengah. Porsi kelompok moderat yang bisa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;swing&lt;/span&gt; ke Demokrat maupun Republik menurut laporan justru lebih besar daripada porsi orang Amerika yang secara definitif mencap diri sendiri sebagai konservatif (cenderung ke Republik) maupun liberal (cenderung ke Demokrat), tapi publik hanya tahu dua partai saja (memang ada yang lain, tapi sungguh tidak signifikan – Y Pan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pemahaman saya, liberal lebih ke kiri (lebih sosialis) dalam ideologi, sedangkan konservatif lebih ke kanan (sangat ekstrem pro pasar dalam kebijakan ekonomi yang kurang percaya pada redistribusi kekayaan melalui pajak). Saya mengira publik Amerika sudah muak dengan ideologi ultra liberal dalam ekonomi yang sangat menguntungkan orang-orang yang super kaya yang jumlahnya di bawah 1%, seperti ditunjukkan Bush dalam dua periode kepemimpinannya. Saya kaget ternyata hanya butuh dua tahun, di pemilu sela 2010, partai Presiden Obama mengalami kekalahan telak di DPR (House), walaupun masih mendominasi DPD (Senat). Rupanya ada yang keliru! Kenyataan terlalu rumit untuk dijelaskan dengan teori atau cerita sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sedikit contoh di sini, kita sudah dapat melihat bahwa pengenalan pola yang kita lakukan bisa salah. Lebih parah lagi, dalam kasus tertentu, sikap yang kaku menambah faktor risiko. Akibatnya bisa fatal, seperti kesalahan dalam menanggapi bahaya Gunung Merapi. Akibat lain, misalnya, seseorang atau suatu kaum kita perlakukan tidak adil, karena kebencian yang sangat dan karena cap yang sudah kita berikan secara serampangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Nassim Nicholas Taleb, kesalahan seperti ini disebut kesalahan naratif (lihat juga artikel sebelumnya &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/12/yang-belum-kebaca.html" target="_new"&gt;Yang Belum Kebaca&lt;/a&gt;). Saya sih lebih senang menamakannya kesalahan dalam berteori. Ini disebabkan kita kurang peka membedakan proses memahami dengan proses menjelaskan. Sekali kita berteori atau membangun cerita yang masuk akal, seketika itu pula pemahaman kita bias mengikuti kecenderungan kita dalam membuat penjelasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini di koran saya menemukan satu contoh cara belajar induktif yang menggelikan dari Bang Foke. Beliau menyatakan fenomena curah hujan akhir-akhir ini tidak dapat diprediksi, karena tahun lalu rata-rata curah hujan bulan-bulan ini di Jakarta 0... ya NOL mm. Hihihi, sebelum mengambil kesimpulan itu, baiknya Bang Foke menambah dulu sampelnya, dengan data sepuluh tahun kek atau malah data curah hujan seabad ke belakang. Kalau perlu, beliau dapat menambahkan faktor atau dimensi lain, misalnya apakah ada badai tropis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang prediksi tetap tidak dapat sepenuhnya akurat walau dengan variabel dan sampel yang lebih banyak, tapi penjelasan Bang Foke kesannya terlalu lugu. Kayaknya Dr Nassim Taleb harus datang sendiri ke Jakarta untuk meluruskan pola berpikir beliau. Kita berharap beliau suatu saat tidak lagi berkata bahwa tidak ada tuh angsa hitam karena tahun lalu sama sekali tidak ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya adalah mengapa Bang Foke dan kita semua, termasuk saya, gampang sekali terjebak dalam kesalahan berpikir seperti ini. Seperti disinggung di atas, otak kita secara biologis membutuhkan pola untuk mengingat lebih banyak informasi. Artinya pikiran kita senang mendapatkan suatu yang terpola. Di sini jebakannya. Alih-alih mendapatkan pola dari kenyataan yang sebenarnya, pikiran kita sering tertipu oleh sesuatu yang seolah terpola, padahal tidak. Nah, cerita atau teori terhadap bias berpikir seperti bensin terhadap api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam salah satu bagian bukunya, Dr Taleb mengutip novelis E. M. Forster perihal kisah wafatnya Raja dan Ratu. Coba telaah dua narasi berikut. Pertama: Raja wafat dan Ratu pun wafat. Kedua: Raja wafat, dan belakangan Ratu meninggal karena berduka. Pikiran kita cenderung lebih tertarik dengan yang kedua, karena ia “lebih bercerita” dari yang pertama. Ia mengandung pola sebab akibat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah dengan narasi kedua adalah walaupun narasinya mengandung lebih banyak kata-kata (informasi), sesungguhnya narasi ini telah tereduksi. Seolah-olah Ratu memang wafat karena berduka, padahal bisa saja ada faktor atau dimensi lain. Sama seperti Bang Foke, seolah-olah curah hujan hanya ditentukan curah hujan tahun lalu di bulan-bulan yang sama. Malangnya, karena ceritanya lebih mudah dijejalkan ke otak kita, penjelasan yang bias seperti ini justru mudah dijual. Wartawan yang katanya sangat kritis pun ikut menjual alasan Bang Foke atas ketidaksiapannya mengantisipasi banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masak sih Bang Foke demikian lugunya? Begitu mungkin Anda membelanya. Kan dia itu doktor dan penyandang titel kesarjanaan lainnya? Ya begitulah. Bahkan profesor internasional yang ditemui Dr Taleb pada suatu konferensi estetika di Roma tahun 2004 dengan mudah terjebak oleh kesalahan naratif ini. Ketika itu, sang profesor memuji-muji wawasan Dr Taleb tentang ketidakpastian. Seketika kemudian sang profesor menunjukkan sebab mengapa Dr Taleb dapat berwawasan seperti itu: karena ia dibesarkan di Timur Tengah yang ortodoks dibandingkan komunitas Protestan yang mengajarkan sebab-akibat antara usaha dan ganjaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe, banyak contoh yang dituliskan Dr Taleb dalam bukunya The Black Swan mengenai kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh banyak orang terdidik, termasuk ahli statistik yang sama sekali melupakan prinsip-prinsip statistik ketika berhadapan dengan persoalan sehari-hari. Jadi Bang Foke nggak perlu malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan cuma Bang Foke. Wartawan juga nggak perlu malu. Dr Taleb mengungkap Bloomberg News suatu hari di bulan Desember 2003 mengaitkan naiknya US Treasuries dengan sebab tertangkapnya Saddam Hussein. Suatu yang sensasional! Setengah jam kemudian Bloomberg News mengaitkan turunnya US Treasuries dengan musabab tertangkapnya Saddam. Koq bisa? Begitulah manusia, bahkan yang mengaku ahli. Kita bisa membuat kesalahan yang lebih parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa otak kita menyukai narasi walaupun bias? Ketika kita sudah menyusun teori atau narasi – dan itu secara biologis cenderung kita lakukan bahkan tanpa sadar – kita kemudian dapat mengingat lebih jelas fakta-fakta yang cocok dengan narasi itu sembari melupakan sama sekali fakta lain yang tidak cocok. Ini memberi kita keyakinan yang bikin nyaman! Sayangnya keyakinan itu kadang keliru. Untuk menghindari jebakan kesalahan naratif ini, dalam proses berpikir kognitif, kita wajib waspada terhadap intuisi yang sering tanpa sadar kita gunakan, terutama ketika masalahnya di wilayah Extremistan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intuisi memang sangat efisien, cepat, dan kadang sensasional (baca juga salah satu buku favorit saya, Blink oleh Malcolm Gladwell, dan saya suka menggunakan intuisi – Y Pan), seperti ketika melihat hidung si fulan di balik tikungan. Seperti juga ketika seorang polisi terlibat dalam situasi tembak menembak yang kritis dengan penjahat yang membuatnya hanya melihat obyek penjahat saja dan “buta” dari yang lainnya. Seperti ketika kita langsung ingat bahwa Ratu wafat karena berduka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, lain kali ketika hendak menyimpulkan sesuatu, jangan mudah terjebak dengan narasi. Ketika hendak mengatakan semua kekacauan ini disebabkan oleh Inggris, introspeksi dulu. Ketika hendak mencap seseorang sebagai penganut aliran tertentu dan kemudian hendak mencap aliran tertentu itu sangat berbahaya, coba ambil wudlu, duduk, dan berhenti mengambil kesimpulan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;* Setelah membaca artikel ini, ada baiknya jika berkenan, Anda baca sendiri buku The Black Swan agar Anda dapat mengidentifikasi konsep asli Dr Taleb dari kata-kata yang saya tambahkan sendiri dan dari kata-kata yang saya tidak suka masukkan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diinspirasi oleh The Black Swan: Bab 4: Seribu Satu Hari, atau Bagaimana Supaya Tidak Mudah Tertipu (One Thousand and One Days, or How Not to Be a Sucker), Bab 5: Konfirmasi Informasi (Confirmation Shmonfirmation!), Bab 6: Kesalahan Naratif (The Narrative Fallacy)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca artikel terkait sebelumnya: &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/12/yang-belum-kebaca.html"&gt;Yang Belum Kebaca&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-7060697865651301865?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/7060697865651301865/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=7060697865651301865' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/7060697865651301865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/7060697865651301865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2010/11/hebatnya-pikiran.html' title='Hebatnya Pikiran'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-8613878647638027861</id><published>2010-10-25T15:51:00.001+07:00</published><updated>2010-10-25T16:04:03.506+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekonomi-bisnis'/><title type='text'>Masalah Ekonomi Dunia</title><content type='html'>Satu dekade lalu, masalah krisis ekonomi pasti mengarahkan perhatian seluruh dunia ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia dan negara-negara di Asia Tenggara lainnya. Saat ini, kalau bicara mengenai masalah ekonomi, perhatian justru mengarah ke negara-negara maju, terutama AS dan negara-negara Eropa. Pemulihan ekonomi yang terjadi katanya berjalan lambat di negara-negara maju, sementara di negara-negara berkembang, terutama Asia, lebih cepat. Para ekonom konon khabarnya sedang berdiskusi hangat mengenai kebijakan baru untuk menyeimbangkan kembali ekonomi yang gonjang-ganjing terkena tsunami yang berpusat di AS.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan baru yang sangat bertolak belakang dengan sebelumnya harus bersifat multilateral dan butuh koordinasi antar negara dan wilayah. Katanya untuk mencegah &lt;em&gt;regulation arbitrage&lt;/em&gt;. Hehehe, jangankan melangkah bersama, dulu ekonom berpikir bahwa tidak perlu upaya bersama yang terkoordinasi . Pasar pasti akan mengkoreksi ketidakseimbangan. Bahkan intervensi harus seminimal mungkin. Rupanya perkembangan ekonomi dan sistem keuangan dunia akhir-akhir ini sepenuhnya di luar perkiraan para ekonom dan ahli keuangan pada masa itu. Kemungkinan besar sih sudah ada yang sadar, tapi entah kenapa, mungkin karena faktor ideologi, kegilaan dibiarkan sedemikian parah. Para penari di sektor keuangan tidak akan berhenti menari sepanjang musiknya masih hidup. Tariannya semakin dan semakin liar dan akhirnya sampai juga pada suatu titik musiknya mesti dimatikan. Titik. Suka atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekonom senior Indonesia yang lama malang melintang di AS (saya nggak berani mengutip namanya karena tulisan ini nggak level untuk beliau, walaupun saya sangat bangga dengan beliau) di suatu konferensi internasional yang diselenggarakan bank sentral baru-baru ini, menyatakan kini saatnya para ekonom dengan rendah hati mengakui keterbatasan konsep-konsep mereka selama ini. Beliau menjelaskan dengan gamblang masalah aliran dana yang bersifat “&lt;em&gt;round tripping&lt;/em&gt;” yang bikin proses intermediasi antar wilayah surplus dengan wilayah defisit menjadi tidak efisien. Semuanya mesti terkumpul dulu di AS untuk kemudian kembali lagi ke wilayah asal. Nah, konon ceritanya instrumen keuangan yang ada sangat tidak memadai untuk mendorong investasi yang lebih efisien di sektor riil. Jadi, nggak heran kemudian kalau ada tuntutan untuk mereformasi sistem keuangan, sampai ke instrumen-instrumennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, masak sih? Coba kita lihat lagi prestasi sektor keuangan global selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah para praktisi perbankan dan sistem keuangan secara umum telah begitu sukses menghadirkan pertumbuhan yang luar biasa? Karenanya mereka menikmati juga berbagai insentif dari prestasi tersebut, baik insentif dari penguasa maupun dari pasar itu sendiri. Krisis keuangan global yang ditandai dengan runtuhnya raksasa keuangan dunia membuka mata semua orang bahwa dinamika sektor keuangan lebih dipicu oleh perilaku pengambilan risiko yang kian berisiko. Judi! Pasar memang menghargai perilaku spekulasi tersebut. Ironisnya pihak yang berwenang membiarkannya dan justru mendorongnya lebih jauh, melalui mekanisme pengamanan yang bersifat fatamorgana, seperti sekedar &lt;em&gt;deposit insurance&lt;/em&gt;. Belum lagi di sektor keuangan terdapat mentalitas &lt;em&gt;too big to fail&lt;/em&gt;. Yang paling parah, pihak berwenang seolah tidak mau kelihatan bodoh dengan mempertanyakan inovasi-inovasi di sektor keuangan yang makin rumit dan tidak jelas. Alasannya pasar pasti dapat menilai suatu produk keuangan. Ternyata pasar salah menilai!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, masak sih? Kayaknya masih sulit dipercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba deh perhatikan tingkat keuntungan industri keuangan dan industri sektor riil. Dapat dipastikan tingkat keuntungan (&lt;em&gt;return&lt;/em&gt;) di sektor keuangan jauh lebih tinggi. Lebih dari itu, dalam setengah abad terakhir, pertumbuhan sektor keuangan jauh melampaui pertumbuhan sektor riil. Sebelum itu, menurut statistik yang saya perhatikan sambil lalu di seminar, pertumbuhan sektor keuangan seiring sejalan dengan pertumbuhan sektor riil. Kesimpulannya, dulu sektor keuangan layak disebut industri jasa (&lt;em&gt;service industry&lt;/em&gt;) karena bermanfaat untuk pelanggannya, yaitu sektor riil, namun sekarang sektor keuangan lebih cocok disebut industri yang melayani diri sendiri (&lt;em&gt;self-serving industry&lt;/em&gt;). Ini yang disebut-sebut sebagai tipuan sektor keuangan (&lt;em&gt;financial sector fallacy&lt;/em&gt;). Hehehe pilihan kata terjemahannya berat ya? Tapi begitulah adanya. Nah, untuk itulah diperlukan apa yang disebut regulasi prudensial secara makro, untuk melengkapi regulasi prudensial secara mikro yang sudah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau di Indonesia, regulasi secara mikro saat ini dilakukan oleh Bapepam dan Bank Indonesia. Menurut UU, regulasi mikro ini akan diselenggarakan oleh lembaga baru yang disebut Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Di semua negara, regulasi prudensial makro, berbeda dengan kebijakan ekonomi makro baik fiskal maupun moneter, belum merupakan praktik yang ajeg. Sebetulnya, prinsipnya sederhana, yaitu untuk mencegah perilaku pengambilan risiko yang berlebihan. Kalau di jalanan kota-kota di Indonesia, nama kerennya polisi tidur atau &lt;em&gt;speed bump&lt;/em&gt;. Siapa yang berwenang? Kalau bicara jalanan, harusnya polisi atau dishub. Kenyataannya, hampir setiap orang bisa bikin polisi tidur. Aneh! Hehehe, balik ke masalah di sektor keuangan, tentunya perlu juga lembaga pengatur polisi tidur sektor keuangan. Pemerintah? Bank sentral kayaknya lebih tepat! Dan harus terkoordinasi secara global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pribadi melihat perkembangan sistem ekonomi dan keuangan akhir-akhir ini cukup menggembirakan. Bukan karena krisisnya, tapi karena tanggapan ekonom dan ahli keuangan yang cenderung membalikkan arah “kebijakan” selama ini. Pasti tetap ada yang kaya dan ada yang miskin. Itu sunatullah. Bahkan di teritori ekstremistan menurut Nassem N Thaleb, orang yang berhasil seperti Bill Gates dan Steve Jobs cenderung super kaya banget. &lt;em&gt;The winners take all&lt;/em&gt;. Jumlah mereka sangat sedikit dengan sebagian besar profit dan kekayaan. Cocok kan dengan sektor keuangan? Salah! Kalau di sektor keuangan, &lt;em&gt;the winners take all and more&lt;/em&gt;. Orang lain, pembayar pajak misalnya, rugi menanggung kelakukan spekulatif mereka. Dengan konsep dan kebijakan yang berbalik arah, wilayah ekstremistan di sektor keuangan haram hukumnya melebihi dinamika ekstremistan di sektor riil. Malah mungkin harus lebih konservatif, mengarah ke mediokristan sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caranya gimana? Ya belum tahu... Ekonom dan ahli keuangan, baik praktisi maupun akademisi, saja belum bisa menjawab semuanya. Konferensi internasional yang saya singgung di atas, menurut pengakuan salah seorang moderatornya, merupakan tempat mendiskusikan masalah dan wacana. Solusinya masih harus dipikirkan setelah pulang ke rumah! Artinya apa nih? Ya, reformasi sektor keuangan dan regulasi prudensial secara makro, baik institusi maupun instrumennya, masih perlu dipikirkan lagi lebih mendalam, terlebih lagi katanya diperlukan kesepakatan internasional, Basel III atau Basel IV, hmm. Wah, susah juga ya. Kalau geraknya nggak cepat, &lt;em&gt;status quo&lt;/em&gt; akan tetap bertahan dalam waktu yang cukup lama, takutnya krisis berikutnya terlanjur terjadi! Wow, kalau yang kemarin disebut &lt;em&gt;melting down&lt;/em&gt;, yang berikutnya bisa-bisa &lt;em&gt;bursting up&lt;/em&gt;... ih ngeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saatnya nih ekonom dan ahli keuangan syariah menunjukkan jalan pencerahan. Sayangnya di konferensi yang saya sebut di atas, nggak ada tokohnya baik dari timur maupun barat yang hadir. Nggak diundang kali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca cerita lain:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/03/bankir.html"&gt;Bankir&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/12/dunia-perlu-di-restart.html"&gt;Dunia Perlu Di-Restart&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/10/kebijakan-berbalik-arah.html"&gt;Kebijakan Berbalik Arah&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/10/menggugat-warisan-greenspan-1.html"&gt;Menggugat Warisan Greenspan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-8613878647638027861?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/8613878647638027861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=8613878647638027861' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/8613878647638027861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/8613878647638027861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2010/10/masalah-ekonomi-dunia.html' title='Masalah Ekonomi Dunia'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-5815391579028985341</id><published>2010-09-28T05:58:00.000+07:00</published><updated>2011-02-02T21:18:23.962+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lebih personal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><title type='text'>Maafkan Dulu</title><content type='html'>Kadang-kadang saat kita capek, anak-anak yang kita sayangi malah bikin gara-gara. Pertama, dia mungkin hanya menunjukkan manjanya. Karena tidak mendapat cukup perhatian, kemudian dia mengeskalasi aksinya. Darah mulai panas dan makin panas. Akhirnya dia bikin darah kita mendidih. Anak ini harus diperbaiki. Caranya? Penalti atau sanksi!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu waktu belum pengalaman mendidik dan belum cukup pengetahuan, penalti berupa pukulan walaupun ringan sering jadi senjata pertama. Sungguh menyesal rasanya begitu mudah menyakiti buah hati sendiri. Sejak memahami hukuman berupa time-out, anak kedua kami sampai yang kelima sekarang nyaris bebas dari pukulan fisik. Hukuman duduk di pojok, duduk di kursi lengket, atau kurungan kamar terasa cukup efektif sebagai sarana pengendalian. Sesekali hukuman fisik saya terapkan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, suatu saat anak kelima kami yang masih balita bikin ulah. Entah gara-gara apa, dia akhirnya didiamkan oleh istri saya. Memang anak bungsu kami ini termasuk jarang terkena time-out. Sebagiannya mungkin karena dia lebih anteng dari kakaknya. Sebagian lain mungkin kami terkena sindrom memanjakan anak bungsu. Karena didiamkan terus oleh ibunya, akhirnya dia masuk ke modus akhir, yaitu nangis sekeras-kerasnya dan nggak putus-putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe, rasanya kesal banget waktu itu. &amp;quot;Ayolah Dik, penuhilah apa maunya anak ini.&amp;quot; Demikian saya coba bujuk istri, soalnya si anak nggak mau deal sama siapa-siapa, kecuali ibunya. Akhirnya terungkap juga. Rupanya anak ini sempat menyakiti ibunya. &amp;quot;Dia harus minta maaf dulu,&amp;quot; demikian kata istri saya. Ah, rupanya sanksi yang diterapkan istri adalah kewajiban Ahmad untuk minta maaf dulu. Ya, memang kita harus menanamkan nilai-nilai penghormatan kepada orangtua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, suasana belum reda juga. Anak bungsu kami rupanya sudah mengunci modusnya, nangis keras-keras. Akhirnya ibu mertua saya yang kebetulan sudah beberapa hari di rumah kami berkata ke istri saya, &amp;quot;Maafkanlah. Maafkan dulu.&amp;quot; Setelah istri saya melepaskan kekesalannya dengan memaafkan, meskipun mungkin baru sebagian, si anak akhirnya bisa dibuat berhenti menangis. Koreksi kemudian baru mungkin dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita di atas terjadi kurang lebih setahun lalu. Berbulan-bulan kemudian, tepatnya hari ke-29 Ramadhan lalu, saya mengikuti kuliah dzuhur di masjid kantor. Kata ustadz, kita bisa membalas perlakuan buruk orang lain dengan yang setara, tapi akhlak yang lebih baik adalah jika kita memaafkan. Yang lebih baik lagi adalah jika setelah memaafkan kita melakukan perbaikan. Misalnya, kalau mobil kita diserempet, kita maafkan saja, lalu kita ingatkan besok-besok jangan begitu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya contoh itu nggak terasa mengacu ke kejadian serempetan antar alumni perguruan tinggi terkemuka di Jakarta dengan alumni perguruan tinggi terkenal di Bandung. Waktu dengerin ceramah, saya nggak langsung sadar, mungkin sebagian karena lapar. Setelah saya ingat-ingat isi kuliah dzuhur itu di rumah, ngertilah saya sang ustadz dengan cara yang sangat halus menyindir banyak atau bahkan sebagian besar pengguna jalan yang bermaksud memperbaiki kelakuan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering kesal di jalan ketika pengendara lain berperilaku seenaknya. Rasanya ingin sekali memperbaiki kesalahan itu. Saya juga sering kesal kalau di kantor ada rekan yang seolah ingin bikin masalah terus. Ingin rasanya mengkoreksinya. Di rumah juga begitu. Di toko, di restoran, di antrian bank, di kantor layanan pemerintah, di masjid dekat rumah, di sekitar rumah, dan seterusnya dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesal mungkin kosakata yang negatif untuk Anda. Sebaiknya saya ganti dengan kata peduli. Peduli kemudian menimbulkan aspirasi untuk perbaikan. Namun demikian, ketika tindakan koreksi diambil tanpa memaafkan terlebih dulu, betapapun positif kata peduli itu, lebih sering malah timbul masalah baru. Justru orang yang mau kita tuntut tanggung jawabnya itu serta merta menuntut balik ke kita, bahkan menyalahkan dan mencela kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siklus saling mencela itu mudah sekali kita lihat di sekitar kita. Aliran atau mazhab yang satu mencela aliran yang lain. Itu dibalas dengan celaan lagi. Eskalasi sertamerta terjadi. Salah-salah malah jadi adu tonjok, seperti yang dialami dua pengemudi yang serempetan itu. Malah eskalasinya menyebar ke milis alumni. Untung masalahnya tidak berkepanjangan. Karena apa? Karena ada maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalau kita bicara lebih spesifik mengenai perselisihan khilafiah antar mazhab Islam, rindu sekali kita akan suatu diskusi yang santun. Miris rasanya kita menyaksikan aksi saling hujat. Bahkan saling hujat ulama masing-masing, padahal ulama-ulama yang dihujat itu telah berijtihad dan bekerja. Yang lebih sedih lagi, perselisihan ini mudah sekali menimbulkan kesan negatif terhadap Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah indahnya ketika dialog atau bantahan yang dilakukan benar-benar dilakukan dengan cara yang baik. Jika ada yang tidak bisa diselesaikan lewat dialog, biarlah jalur yang disediakan pihak berwenang yang menjadi saluran utama penyelesaiannya, tentu dengan kelapangan dada menerima perbedaan yang belum dapat disatukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kita tetap perlu menyadari bahwa usaha perbaikan dalam banyak hal tidak langsung efektif hanya dengan satu-dua tindakan. Makanya dibutuhkan banyak sekali kesabaran. Satu truk nggak cukup! Untuk itu, mudah memaafkan mesti jadi bagian karakter kita. Seperti akhlak Nabi Muhammad SAW -lah. Walaupun sikap mudah memaafkan pihak lain dapat dimanfaatkan atau dimanipulasi oleh pihak lain tersebut, jelas ia jauh lebih baik dibandingkan sikap mudah menyalahkan dan mencela!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-5815391579028985341?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/5815391579028985341/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=5815391579028985341' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/5815391579028985341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/5815391579028985341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2010/09/maafkan-dulu.html' title='Maafkan Dulu'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-7539871063418026618</id><published>2010-09-25T05:32:00.001+07:00</published><updated>2010-09-28T05:52:55.434+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahasa-matematika'/><title type='text'>Di Luar atau Diluar</title><content type='html'>Seorang pengunjung blog ini, Mas Fajar mengajukan mana yang betul...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di luar atau diluar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang belum pernah membahas masalah ini yang menurut saya memang tidak bisa hitam-putih begitu saja. Sementara, saya menganggap dua-duanya dapat digunakan. Lho koq pragmatis banget? Ya, kesannya pragmatis, tapi sebetulnya alasannya tidak pragmatis. Begini alasan saya...&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata dasar luar sesungguhnya menunjukkan tempat, sebagaimana dalam, atas, bawah, depan, belakang, samping, kiri, dan kanan. Aslinya begitu, tapi penggunaannya terkadang agak samar. Misalnya, kita sering mengatakan, &amp;quot;Di samping itu, ada masalah yang lebih penting.&amp;quot; Nah, kata samping dalam kalimat ini bernuansa tempat, walau agak samar. Maksudnya bukan tempat secara fisik, tapi &amp;quot;tempat&amp;quot; dalam tataran ide yang lebih abstrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, mengikuti argumen di atas, bisa disimpulkan bahwa penggunaan frasa-frasa di bawah ini tul-betul-betul belaka.&lt;br /&gt;di dalam&lt;br /&gt;di atas&lt;br /&gt;di bawah&lt;br /&gt;di depan&lt;br /&gt;di belakang&lt;br /&gt;di samping&lt;br /&gt;di kiri&lt;br /&gt;di kanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah aturan aslinya, dan dalam hal ini, &amp;quot;di&amp;quot; adalah kata depan. Kalau begitu, diluar keliru dong. Ok, menurut aturan asli memang keliru, tapi pernah mungkin kita bertanya-tanya apakah kata &amp;quot;into&amp;quot; dan &amp;quot;onto&amp;quot; dalam Bahasa Inggris aslinya memang begitu. Ternyata tidak! Mereka berasal dari &amp;quot;in to&amp;quot; dan &amp;quot;on to&amp;quot; yang kemudian digabung. Penggabungan kata seperti ini dikenal juga dalam tata bahasa kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh penggabungan dua kata... Dua kata &amp;quot;orang tua&amp;quot; menjadi &amp;quot;orangtua&amp;quot; yang artinya bukan sekedar orang yang sudah tua, tapi ayah atau ibu atau pendahulu kita. Dua kata &amp;quot;ke luar&amp;quot; menjadi &amp;quot;keluar&amp;quot; yang bukan hanya berarti ke arah luar, tapi suatu aktivitas atau kerja. Bahasa Arabnya khoroja dan Bahasa Inggrisnya exit. Malah turunannya ada lagi, seperti mengeluarkan dan dikeluarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus &amp;quot;di luar&amp;quot; menjadi &amp;quot;diluar&amp;quot; mirip kasusnya dengan &amp;quot;out side&amp;quot; menjadi &amp;quot;outside&amp;quot; ya nggak? Tapi diluar bukan dibentuk dari awalan di- dan suatu kata kerja, karena luar bukan kata kerja sama sekali meskipun bisa aja kemudian diikuti kata kerja atau kata-kata yang bernuansa aktivitas. &amp;quot;Di&amp;quot; tetap saja asalnya adalah kata depan yang digabung dengan &amp;quot;luar&amp;quot; yang merupakan kata bernuansa tempat. &amp;quot;Diluar&amp;quot; seperti &amp;quot;outside&amp;quot; menjadi satu kata sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jebakannya di sini. Tidak semua pasangan dua kata, khususnya yang menggunakan kata depan, dapat digabungkan. Lho emang kenapa? Ya, karena memang begitu. Yang berikut ini mungkin bisa jadi ilustrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dikantor tetap salah, mestinya di kantor&lt;br /&gt;dijakarta tetap salah, mestinya di Jakarta&lt;br /&gt;dikiri tetap salah, mestinya di kiri&lt;br /&gt;... dan seterusnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang boleh digabung dan kemudian membentuk kata baru: keluar, kemana, kesana, kemari, diluar, dimana, tapi tetap saja ada dorongan untuk menggabung semuanya, hehehe, walaupun kurang tepat, seperti yang ini: diatas, dibawah, disini. Yah, begitulah bahasa memang apa yang digunakan, sedangkan penggunaan apapun oleh makhluk yang bernama manusia selalu ada pengecualian yang keluar dari aturan asal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, akhirnya, kita tidak perlu banyak mengeluarkan energi untuk debat yang sifatnya seperti kasus belakangan ini. Khilafiah! Kita serahkan ke yang (tentunya aneh kalau kita gabung jadi keyang) berwenang aja. Artinya... Lihat kamus dong. Sayangnya Kamus Besar Bahasa Indonesia terkesan masih sulit diakses. PR pemerintah dan Lembaga Bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-7539871063418026618?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/7539871063418026618/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=7539871063418026618' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/7539871063418026618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/7539871063418026618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2010/09/di-luar-atau-diluar.html' title='Di Luar atau Diluar'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-8130922524116391770</id><published>2010-09-17T14:40:00.001+07:00</published><updated>2010-09-17T14:55:31.845+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><title type='text'>Seputar Ramadhan</title><content type='html'>Seorang teman berjalan di koridor kantor menuju masjid. Saya baru kembali dari masjid menuju kantor. Sedikit menggoda, saya bilang, &amp;quot;Wah ketinggalan nih.&amp;quot; Setelah kasih alasan, dia balik menggoda, &amp;quot;Lho, koq nggak dengerin ceramah dzuhur?&amp;quot;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekenanya saya jawab kurang lebih, &amp;quot;Ibadah ramadhan bukan hanya denger ceramah.&amp;quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;quot;Kalau gitu, apa artinya Ramadhan syahrut tarbiyah (bulan pendidikan)?&amp;quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih agak bercanda, saya jawab, &amp;quot;Artinya bulan latihan. Bukan hanya sekedar mengumpulkan materi. Ntar jadi materialistis.&amp;quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;quot;Oh...&amp;quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe, dialog di atas memang terkesan nggak serius, tapi sebenarnya materinya cukup berat dan cukup berdasar juga. Beberapa hari sebelumnya, saya mendapat email perihal ceramah tarawih. Menurut seorang ulama dari Saudi, ceramah tarawih memiliki sisi negatif. Pertama, bisa terkena hukum bid&amp;#39;ah, jika pengurus masjid merasa kurang afdhol tanpa ceramah tarawih. Kedua, ceramah tsb membuat sebagian jamaah pulang lebih awal, tanpa ikut shalat witir, karena alasan ceramahnya bikin lama. Hal ini membuat sebagian orang tersebut tidak mendapat ganjaran penuh dari Allah, sebagaimana seorang yang shalat semalam suntuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, isi email itu punya poin juga, tapi saya ngerti banget sikap para pengurus masjid dan mubaligh. Ramadhan dijadikan momentum super sebagai upaya menyebar pencerahan bagi jamaah. Yah, selama niatnya bener, mudah-mudahan Allah memaafkan dan mengampuni kita semua dengan segala sisi ketidaksempurnaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nada yang kurang lebih sama saya dapati ketika mengikuti kuliah subuh dengan materi fikh i&amp;#39;tikaf. Menurut sang ustadz, kegiatan i&amp;#39;tikaf kita kebanyakan dilakukan secara kolektif. Itu kurang sesuai sebetulnya dengan makna i&amp;#39;tikaf itu sendiri, yaitu ketika kita mengkhususkan diri berduaan dengan Allah saja. Lagi-lagi saya paham mengapa pengurus masjid tetap menggelar shalat malam berjamaah pada malam-malam i&amp;#39;tikaf. Saya juga paham ketika ada peserta i&amp;#39;tikaf membaca Al-Qur&amp;#39;an dengan suara keras atau ada yang berdiskusi materi tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat-saat itu, antara jam satu hingga jam empat dini hari menurut saya duduk atau berdiri-ruku-sujud dalam sunyi lebih utama. Kalaupun ada bacaan dan doa yang kita lafadzkan, cukuplah telinga kita sendiri yang mendengar. Kenyataannya aktivitas di malam-malam i&amp;#39;tikaf itu sering tidak sesunyi yang saya rindukan. Nggak apalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala aktivitas kolektif itu bagian dari syiar dan pembiasaan. Bagaimanapun, alangkah indahnya ketika tiap muslim punya kapasitas yang memadai untuk melaksanakan latihan-latihan di bulan Ramadhan, termasuk i&amp;#39;tikaf, secara individual ketika memang seharusnya lebih tepat untuk dilakukan sendiri-sendiri. Sebagai suatu proses, lagi-lagi kita mesti berusaha saling memahami segala keterbatasan. Dan kepada Allah jua kita memohon ampun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ngomong-ngomong mengenai realitas yang kurang ideal, saya jadi teringat ungkapan bahwa keindahan Islam tertutup oleh kaum muslimin itu sendiri, tentunya termasuk saya, yang bertanggung jawab membuat non-muslim sering salah paham terhadap Islam. Ah, ini cerita lain. Mungkin setelah kembali dari Solo, saya insya Allah akan menulis mengenainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peace!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-8130922524116391770?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/8130922524116391770/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=8130922524116391770' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/8130922524116391770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/8130922524116391770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2010/09/seputar-ramadhan.html' title='Seputar Ramadhan'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-8950239688192927947</id><published>2010-08-30T20:33:00.001+07:00</published><updated>2010-08-30T20:33:00.864+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='demokrasi-politik'/><title type='text'>Dia Bukan Pilihanku Lagi</title><content type='html'>Waktu berangkat remaja, saya sering sengaja memandang rendah anak pejabat publik yang tidak tahu diri. Ya mungkin saya terjangkit perasaan iri terhadap berbagai fasilitasnya. Entahlah! Yang jelas saya tidak suka saja. Nah, waktu suatu orde menjadi-jadi dan cenderung menjadi dinasti, perasaan itu makin menjadi. Ketika BJH memberikan banyak bintang penghargaan ke kerabat dan teman dekatnya, perasaan yang sama sedikit banyak muncul. Ah, sayang.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon menurut cerita, khalifah Umar bin Abdul Aziz kedatangan tamu di ruang kerjanya. Ternyata itu putranya sendiri. Setelah mengklarifikasi maksud kedatangan putranya, dengan santai Sang Khalifah mematikan lampu penerangan yang dibiayai oleh negara. Wow, ektrem kata sebagian orang. Ya benar juga, tapi itu pilihan yang indah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita lain, konon sebagaimana orang-orang lain, putra penguasa memiliki ternak yang digembalakan di tanah milik publik. Herannya ternak yang bersangkutan terlihat lebih gemuk dari milik orang-orang lain. Penguasa yang merupakan salah seorang sahabat mulia merasa gerah. Jangan-jangan publik sengaja memberi jatah lebih ke ternak-ternak milik putranya merumput di situ. Segera beliau mengambil tindakan untuk menghindari fitnah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah teladan lainnya, suatu saat putra khalifah melakukan kunjungan ke salah satu provinsi. Dalam kunjungan ke bawahan ayahandanya tersebut, sang putra melakukan transaksi jual beli yang menguntungkan. Ketika kembali dan melaporkan perjalanannya ke khalifah, terkejutlah sang putra karena khalifah tidak berkenan dengan transaksi tersebut. Sebagian besar keuntungan diambil untuk negara karena khalifah kuatir keuntungan besar timbul karena putranya adalah pihak yang terafiliasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri khalifah gimana? Ya ada juga contohnya. Sang istri banyak menerima hadiah dari istri kepala negara lain. Setelah tahu, khalifah mengambilnya untuk perbendaharaan negara. Memang hal seperti ini serta contoh-contoh di atas sering dianggap terlalu indah, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;too good to be true&lt;/span&gt;, tapi demikianlah kisah-kisah teladan itu pernah terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, hari-hari ini kita rindu pada sosok pemimpin yang bisa meletakkan dunia dan kekuasaan di tangannya, bukan di hatinya, apalagi di hati-hati keluarga, kerabat, dan pengikutnya. Pembelaan bahwa semua orang boleh menitipkan souvenir ke istana untuk dibagi-bagikan ke rakyat pada upacara kenegaraan terasa jauh dari nuansa kejernihan. Pembelaan bahwa penjara akan terbebani jika grasi tidak dikeluarkan mencerminkan kegalauan hati pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari ini sungguh penuh krisis. Harapan yang dibangun kenapa harus dipadamkan lagi? Oh, memang demikianlah, dia bukan pilihanku lagi!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-8950239688192927947?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/8950239688192927947/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=8950239688192927947' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/8950239688192927947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/8950239688192927947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2010/08/dia-bukan-pilihanku-lagi.html' title='Dia Bukan Pilihanku Lagi'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-2994689536197144235</id><published>2010-08-04T12:05:00.004+07:00</published><updated>2010-08-04T12:18:11.766+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahasa-matematika'/><title type='text'>Bentuk Kata Kerja Aktif</title><content type='html'>Ayo &lt;em&gt;makan&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pergi&lt;/em&gt; sana!&lt;br /&gt;Dia sedang &lt;em&gt;makan&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Dia baru saja &lt;em&gt;pergi&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Pada saat itu sang pawang &lt;em&gt;bepergian&lt;/em&gt; ke kota.&lt;br /&gt;Singa itu &lt;em&gt;memakan&lt;/em&gt; mangsanya.&lt;span class='fullpost'&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat-kalimat di atas adalah beberapa contoh penggunaan berbagai bentuk kata kerja aktif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak &lt;em&gt;berlarian&lt;/em&gt; ke sana ke mari. &lt;br /&gt;Atlet itu &lt;em&gt;berlari&lt;/em&gt; cepat sekali. &lt;br /&gt;Pelatih segera &lt;em&gt;melarikan&lt;/em&gt; Badu ke rumah sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka &lt;em&gt;melempar&lt;/em&gt; batu.&lt;br /&gt;Mereka &lt;em&gt;melempar&lt;/em&gt; jumroh.&lt;br /&gt;Mereka &lt;em&gt;melempari&lt;/em&gt; jumroh dengan kerikil.&lt;br /&gt;Mereka &lt;em&gt;melemparkan&lt;/em&gt; kerikil ke jumroh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalau kita perhatikan baik-baik berbagai penggunaan kata kerja di atas, dengan mengkombinasikan kata kerja dasar dengan awalan dan akhiran, kita dapat membuat pola seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;lt;kata kerja dasar&amp;gt;&lt;br /&gt;ber-&amp;lt;kata kerja dasar&amp;gt;&lt;br /&gt;ber-&amp;lt;kata kerja dasar&amp;gt;-an&lt;br /&gt;me-&amp;lt;kata kerja dasar&amp;gt;&lt;br /&gt;me-&amp;lt;kata kerja dasar&amp;gt;-kan&lt;br /&gt;me-&amp;lt;kata kerja dasar&amp;gt;-i&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, kita juga tahu nggak semua kata kerja dasar dapat dikembangkan dan digunakan menurut semua kombinasi pola di atas. Maksud saya, kita tidak dapat menggunakan &lt;em&gt;mengerja&lt;/em&gt; tetapi harus &lt;em&gt;mengerjakan&lt;/em&gt;. Sama juga kasusnya, kita tidak dapat menggunakan &lt;em&gt;bermakan&lt;/em&gt;, kecuali untuk kasus sangat khusus &lt;em&gt;bermakan&lt;/em&gt; ria, &lt;em&gt;berjoget&lt;/em&gt; ria, &lt;em&gt;berdangdut&lt;/em&gt; ria, &lt;em&gt;berpesta&lt;/em&gt; ria, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini contoh bentukan kata kerja yang nggak pernah atau sangat-sangat jarang digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;berlempar&lt;/em&gt; (bisa juga berlemparan)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;melari&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;melarii&lt;/em&gt; (hehehe kombinasi dengan me- dan -i)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;menasehat&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;menasehatkan&lt;/em&gt; (bisa sih digunakan, tapi...)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;mengkonsumsikan&lt;/em&gt; (paling banter mengkonsumsi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya kenapa saya tidak suka menggunakan &lt;em&gt;mengonsumsi&lt;/em&gt; ada di artikel yang lain: &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/05/memesona-atau-mempesona.html" target="_new"&gt;Memesona atau Mempesona&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita penasaran, ada nggak kata kerja yang bisa dibentuk mengikuti semua pola di atas. Nih, coba...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;kerja&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;bekerja&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;bekerjaan&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;bekerja-kerjaan&lt;/em&gt; (agak aneh tapi masih ok)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;mengerja&lt;/em&gt; (nah jelas nggak bisa)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;mengerjakan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;mengerjai&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Eh ada satu lagi: &lt;em&gt;mempekerjakan&lt;/em&gt; (wah pola satu lagi nih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba lagi yang ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;dukung&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;berdukung&lt;/em&gt; (hm kayaknya nggak deh)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;berdukungan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;mendukung&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;mendukungkan&lt;/em&gt; (aneh tapi masih ok)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;mendukungi&lt;/em&gt; (aneh ini tapi mungkin penggunaannya seperti ini: orang yang &lt;em&gt;didukung&lt;/em&gt; &lt;em&gt;mendukungi&lt;/em&gt; yang &lt;em&gt;mendukung&lt;/em&gt;, hehehe)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, saya belum menemukan juga. Ntar deh kapan-kapan. Yang jelas saya belajar bahwa semakin banyak imbuhan yang digunakan, bentukan kata kerjanya semakin bernuansa rumit dan spesifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya &lt;em&gt;belajar&lt;/em&gt;. (ya begitu aja sudah jadi kalimat sempurna)&lt;br /&gt;Saya &lt;em&gt;mempelajari&lt;/em&gt;. (kalimatnya belum sempurna, seharusnya ada obyek)&lt;br /&gt;Saya &lt;em&gt;mempelajari&lt;/em&gt; sejarah. (ini baru ok)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, makin kompleks polanya, obyek dan keterangan yang menyertai kata kerja bisa makin banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden &lt;em&gt;mengandalkan&lt;/em&gt; kabinetnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sebetulnya sudah cukup, tapi terdapat sesuatu yang implisit, yang bisa ditanyakan: untuk apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden &lt;em&gt;mengandalkan&lt;/em&gt; kabinetnya untuk mewujudkan janji-janji kampanye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ekstrim 'saya &lt;em&gt;belajar&lt;/em&gt;' bisa aja dibuat kompleks dengan menambahkan obyek dan keterangan, tapi ia sudah cukup dengan sendirinya karena nggak wajib disertai obyek dan nggak mesti cenderung mengandung muatan implisit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah yang terakhir, saya mendapat pertanyaan dari pengunjung blog saya di artikel &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/04/akhiran-kan-dan-akhiran.html" target="_new"&gt;Akhiran -kan dan Akhiran -an&lt;/a&gt;. Kasusnya begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;memberi&lt;/em&gt; yang terbaik&lt;/strong&gt; ATAU &lt;strong&gt;&lt;em&gt;memberikan&lt;/em&gt; yang terbaik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita kaji dulu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;beri&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;berberi&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;beberi&lt;/em&gt; (nggak deh)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;berberian&lt;/em&gt; (wah apa lagi ini)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;memberi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;memberikan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;memberii&lt;/em&gt; (hehehe nggak ada penggunaan ini)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;memperberikan&lt;/em&gt; (hehehe nggak juga deh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi yang paling tinggi dengan nuansa yang paling rumit dan paling spesifik adalah &lt;em&gt;memberikan&lt;/em&gt;. Harus ada subyek dan harus ada obyek. Kalau mengikuti rasa bahasa saya, masih ada yang implisit. Tambahan keterangan akan melengkapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia &lt;em&gt;memberikan&lt;/em&gt; uangnya (kepada pengemis itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh, masih ada konotasi lain bahwa obyek yang diberikan bukan miliknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia &lt;em&gt;memberikan&lt;/em&gt; uang (sumbangan warga) (kepada pengemis itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, klop sudah, tapi bagaimana dengan &lt;em&gt;memberi&lt;/em&gt;? Tidak harus ada obyek yang mengikutinya, tapi lebih baik kedengarannya kalau diikuti obyek. Apakah ada juga kecenderungan adanya keterangan yang implisit? Fifty-fifty menurut saya. Tambahan keterangan bukan suatu kecenderungan, tapi boleh aja ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia &lt;em&gt;memberi&lt;/em&gt; (makan) (anak-anaknya) (dari belas kasihan orang lain).  (wow dua obyek)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata baik &lt;em&gt;memberi&lt;/em&gt; maupun &lt;em&gt;memberikan&lt;/em&gt; merupakan bentukan kata kerja yang dapat bernuansa rumit dan spesifik, tapi &lt;em&gt;memberi&lt;/em&gt; bisa lebih lebih sederhana karena 'dia &lt;em&gt;memberi&lt;/em&gt;' sudah cukup dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke dua pilihan '&lt;em&gt;memberi&lt;/em&gt; yang terbaik' ATAU '&lt;em&gt;memberikan&lt;/em&gt; yang terbaik', saya rasa (ya benar-benar rasa bahasa saya yang banyak dipengaruhi bagaimana kedengarannya suatu kata atau kalimat) keduanya dapat digunakan. Namun demikian, menurut hemat saya '&lt;em&gt;memberikan&lt;/em&gt; yang terbaik' adalah yang terbaik. Frasa '&lt;em&gt;memberikan&lt;/em&gt; yang terbaik' lebih menyiratkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) ada obyek lain yang menerima pemberian,&lt;br /&gt;(2) bahwa yang diberikan bukanlah mutlak milik sang pemberi,&lt;br /&gt;(3) bahwa ada kontribusi pihak lain dalam obyek yang diberikan, dan&lt;br /&gt;(4) bahwa &lt;em&gt;memberikan&lt;/em&gt; LEBIH AKTIF dari sekedar &lt;em&gt;memberi&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya untuk dua pilihan tersebut: '&lt;em&gt;memberikan&lt;/em&gt; yang terbaik' jauh lebih dahsyat secara kontekstual, baik dilihat dari pihak-pihak yang terlibat maupun prosesnya itu sendiri. Wallahu a'lam!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-2994689536197144235?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/2994689536197144235/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=2994689536197144235' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/2994689536197144235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/2994689536197144235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2010/08/bentuk-kata-kerja-aktif.html' title='Bentuk Kata Kerja Aktif'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-7300745304888976412</id><published>2010-07-07T06:48:00.003+07:00</published><updated>2010-07-07T08:43:46.576+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sistem informasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><title type='text'>Taksir, Taksir, Taksir</title><content type='html'>Sangat sering dalam manajemen proyek, kita menaksir atau memperkirakan jadwal dan biaya suatu proyek pada awalnya (ketika kita masih sedikit sekali tahu) dan kemudian tidak pernah melihat kembali taksiran tersebut selama jalannya proyek (ketika kita sudah tahu lebih banyak dibandingkan pada awalnya). Lebih buruk lagi, kita sama sekali tidak pernah membandingkan taksiran mula-mula dengan hasil aktual untuk mengasah keahlian kita ke depan.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktik yang berlaku pada organisasi saya (Richard Sheridan di Ann Arbor sebagai penulis artikel asli – Y Pan) berbeda. Kami menaksir seminggu sekali untuk tiap proyek. Bahkan untuk kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya tapi belum dikerjakan, kami menaksirnya lagi. Mengapa? Alasannya sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Kami makin baik dalam memperkirakan kalau kami makin sering melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Kadang-kadang kami kemudian tahu hal baru dan itu membantu perkiraan selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Kadang-kadang kami baru sadar bahwa kami tidak tahu seperti yang kami duga dan itu membantu perkiraan selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Seringkali ketika proyek kami melibatkan teknologi baru, taksiran awal mengandung ”ketakutan” &lt;em&gt;built-in&lt;/em&gt;; seiring kami belajar lebih banyak tentang teknologi baru dimaksud, faktor ”ketakutan” akan berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Pembuatan estimasi adalah suatu diskusi yang penting di tempat kami, karena kami melakukannya sebagai aktivitas kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara terbaik untuk mengasah kemampuan memperkirakan atau menaksir adalah dengan mencatat dan mengikuti kejadian aktual sehingga tim yang terlibat mendapatkan masukan seberapa bagus prakiraan sebelumnya. Sedikit peringatan: Anda tidak dapat menggunakan informasi ini untuk menghukum tim yang terlibat! Akuntabilitas yang hakiki dalam menaksir bukan berarti tim Anda harus mencapai perkiraan, tapi lebih kepada mereka menginformasikan segera jika diketahui perkiraan akan meleset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini suatu permainan sederhana untuk melatih kemampuan dalam menaksir dan mendapatkan &lt;em&gt;feedback&lt;/em&gt;. Ambil tiga botol kosong yang ukurannya mulai dari kecil ke sedang ke besar dan isi ketiganya dengan butiran agar-agar. Catat seberapa banyak butiran untuk memenuhi tiap botol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumpulkan kelompok Anda yang berminat belajar estimasi. Lalu mintalah semua anggota menaksir jumlah butiran agar-agar di botol kecil. Bagus juga sih kalau Anda meminta mereka melakukannya berpasang-pasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berilah mereka waktu yang sangat singkat untuk menghasilkan suatu taksiran dan mintalah mereka menuliskannya. Kumpulkan data dengan meminta setiap pasang menyebutkan secara lantang perkiraan masing-masing. Tuliskan taksiran-taksiran di &lt;em&gt;whiteboard&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;flipchart&lt;/em&gt;. Lakukan hal yang sama untuk botol kedua dan ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, sampaikan kepada kelompok bahwa ini adalah cara yang cukup baik untuk mengestimasi. Jangan lupa berterima kasih atas input mereka dan undanglah anggota kelompok untuk mengajukan pertanyaan sebelum kegiatan dilanjutkan. Nah, seseorang akan (belum pernah gagal di pengalaman saya) bertanya sebetulnya berapa butir agar-agar yang ada di tiap botol. Mereka ingin tahu! Biarkan mereka menduga-duga sebentar kemudian katakan betapa lucunya mereka. Bagaimanapun, &lt;em&gt;it’s just a jar of jelly beans&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Anda sudah membuat mereka berada di posisi yang Anda inginkan. Tanyakan pada mereka berapa kali mereka mendapatkan data sebagai umpan balik kepada tim mereka pada topik yang jauh lebih penting dan mereka mencemooh dan menganggapnya tidak penting (maksudnya kalee: kalau untuk permainan sederhana di atas mereka sangat ingin mendapatkan umpan balik, seharusnya untuk umpan balik proyek lebih serius lagi – Y Pan). Mengabaikan umpan balik tak akan terjadi lagi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Terjemahan bebas dari ”Estimate, Estimate, Estimate” oleh Richard Sheridan, Ann Arbor, Michigan, US, di buku “97 Things Every Project Manager Should Know”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-7300745304888976412?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/7300745304888976412/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=7300745304888976412' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/7300745304888976412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/7300745304888976412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2010/07/taksir-taksir-taksir.html' title='Taksir, Taksir, Taksir'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-4198696876554743281</id><published>2010-07-06T15:35:00.001+07:00</published><updated>2010-07-23T13:37:40.847+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahasa-matematika'/><title type='text'>Kekuatan Cerita</title><content type='html'>Cerita merupakan alat perubahan yang sangat &lt;em&gt;powerful&lt;/em&gt;. Semua penda&amp;#39;wah menggunakannya. Guru-guru yang cerdas juga selalu menyampaikan kisah penuh hikmah agar pesan benar-benar meresap ke dalam hati para murid. Hanya orangtua yang belum berpengalaman yang tidak suka bercerita kepada anak-anaknya. Bisa dikatakan bahkan semua buku, artikel, dokumen, berita koran, iklan komersial, iklan layanan masyarakat, dan pidato adalah cerita. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh membosankan membaca buku atau mendengar nasihat atau mengikuti argumen yang kering dari tuturan cerita. Bagi kebanyakan orang angka statistik, persamaan matematika, dan kalimat normatif adalah jejalan informasi yang sangat tidak menarik, tetapi begitu ceritanya diketahui barulah perhatian mengikuti. Nah, andai kita suatu waktu bertugas memimpin workshop, seminar, atau pertemuan apapun, kita mesti persiapkan kumpulan cerita yang bagus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ada di mana-mana. Ketika kita duduk mengamati sekitar, cerita sudah menanti untuk dituturkan. Asal kita tidak tidur... eh bahkan bunga tidur sekalipun selalu siap dituliskan. Lalu mengapa sering kita tidak mau bercerita? Banyak sih faktornya. Mungkin terlalu capek. Mungkin juga tidak ada tema atau tujuan. Dalam kondisi terakhir, cerita yang dipaksa keluar menjadi kurang bermakna. Mungkin juga kita sangat jarang mendengar dan membaca cerita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari saya duduk mengikuti kuliah zuhur di masjid kantor. Penceramahnya sudah saya anggap sebagai salah satu guru besar saya. Beliau memang profesor. Doktornya dari Al Azhar. Hari itu inti ceramahnya dimulai dengan satu kisah ketika RasululLah ditagih hutang oleh seorang yahudi. RasululLah sedang memberikan ceramah (tentu di dalamnya banyak tuturan kisah) kepada sahabat-sahabat beliau yang utama. Tiba-tiba datanglah seorang yahudi menghardik sambil mencengkeram kerah RasululLah. &amp;quot;Hai Muhammad bayarlah hutangmu!&amp;quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yahudi memang terkenal sangat bermusuhan dengan kaum muslimin sampai hari ini. Tetapi hardikan kepada RasululLah ketika sedang berceramah tentu sangat kelewatan. Wajar jika kemudian Umar ra yang naik pitam meminta izin RasululLah untuk menghukum orang itu. Namun, akhlak RasululLah sungguh teramat mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun banyak yahudi memusuhi beliau karena da&amp;#39;wahnya, beliau tetap bermuamalah dengan mereka dengan cara yang baik. Tidak heran kalau terjadi transaksi dagang antara beliau dengan orang-orang yahudi. Dengan orang yang menagih itu, beliau melakukan transaksi non-tunai. Pembayaran yang dijanjikan belumlah jatuh tempo. Entah mengapa si yahudi menyegerakan penagihan. Tanpa etika pula! Jika kita di posisi RasululLah, wajar kita langsung mengizinkan Umar ra memenggal lehernya. Namun, tidak demikian akhlak seorang nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RasululLah tetap santun dan lembut. Ketika ditanya dengan baik, orang tersebut berkata kurang lebih, &amp;quot;Aku telah mempelajari ciri-ciri engkau, hai Muhammad. Semuanya cocok dengan ciri-ciri seorang nabi. Hanya satu yang belum kuketahui, tapi hari ini aku mendapati engkau tetap lembut ketika layak marah kepadaku. Saksikanlah tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah RasululLah.&amp;quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceramah lalu dilanjutkan dengan satu kisah lain. Di kota Madinah memang banyak orang yahudi. Mereka sebenarnya mencari-cari nabi akhir zaman di kota yang teduh ini. Sayangnya ketika ternyata Muhammad seorang arab yang mendapat wahyu, banyak yahudi Madinah yang tidak mau mengakuinya. Salah satunya adalah seorang pengemis buta. Setiap waktu dia berkata, &amp;quot;Jangan ikuti Muhammad karena dia itu jahat.&amp;quot; RasululLah tetap menyantuni si pengemis, walaupun dihina seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau memberi roti kepadanya. Ah rupanya karena sudah uzur roti keras tidak nyaman baginya. RasululLah segera tahu hal itu. Beliau melembutkan roti itu dengan mencelupnya ke susu sebelum disuapkan kepadanya. Pengemis itu seperti biasa berkata, &amp;quot;Jangan ikuti Muhammad karena dia itu jahat.&amp;quot; Ini kemudian menjadi rutinitas, hingga akhirnya RasululLah wafat. Pengganti beliau, khalifah Abubakar ra berupaya sekeras tenaga untuk mengikuti kebiasaan Nabi Muhammad. Ada yang diketahuinya. Ada yang tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking inginnya mengikuti RasululLah, Abubakar ra bertanya kepada putrinya Aisyah ra yang juga istri RasululLah, kira-kira apalagi kebiasaan beliau yang belum diikuti. Aisyah memberitahu ayahandanya mengenai si pengemis yahudi. Abubakar kemudian menemuinya dan memberikan roti sebagaimana RasululLah, tapi ia tidak tahu persis bagaimana caranya. Ketika hal itu terjadi, si pengemis menggamit tangan Abubakar ra dan berkata, &amp;quot;Ini bukanlah orang yang biasa memberikan roti ini untukku. Dia biasanya melembutkan roti terlebih dahulu dengan susu. Di mana dia?&amp;quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abubakar menjelaskan bahwa orang yang biasa memberi roti ke pengemis itu telah wafat. Ia bertanya siapa orang itu sebenarnya. Dijelaskan bahwa orang itu adalah Muhammad RasululLah. Seketika pengemis yang selalu mencela RasululLah itu bersaksi tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad itu RasululLah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah dua kisah yang sangat &lt;em&gt;powerful&lt;/em&gt;. Pesan apa yang ingin disampaikan dalam dua cerita ini? RasululLah sungguh memiliki sifat ihsan yang luar biasa. Ah, ceramah selanjutnya jadi lebih mudah. Cerita sudah masuk ke hati. Dengan dorongan sedikit demi sedikit, pendengar ceramah pertama akan makin cinta kepada RasululLah dan kedua akan mencoba semakin mendekati jejak nabi untuk memberikan yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kembali ke kekuatan cerita, dapat dikatakan cerita sudah mengubah peradaban manusia! Apalagi hanya suatu organisasi!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-4198696876554743281?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/4198696876554743281/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=4198696876554743281' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/4198696876554743281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/4198696876554743281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2010/07/kekuatan-cerita.html' title='Kekuatan Cerita'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-8724532206896060841</id><published>2010-05-26T07:32:00.002+07:00</published><updated>2010-05-26T07:35:54.449+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='demokrasi-politik'/><title type='text'>Turki-Brasil Kagetkan Barat</title><content type='html'>Laporan wartawan Rakaryan Sukarjaputra&lt;br /&gt;Rabu, 26 Mei 2010 | 06:16 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOMPAS.com - Ketika memutuskan pergi ke Teheran untuk menembus kebuntuan program nuklir Iran, Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva mendapat cemoohan. Dia dituding sekadar mencari popularitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya, Lula bersama pemimpin Turki bisa menghasilkan kesepakatan dengan Iran. Inti kesepakatan 17 Mei itu relatif sama dengan yang pernah diusulkan mantan Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Mohammed ElBaradei. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesepakatan itu berupa kesediaan Iran mengirimkan 1.200 kilogram uranium dengan kadar pengayaan rendah ke Turki. Setelah setahun Iran akan menerima kiriman uranium kadar pengayaan tinggi untuk bahan bakar reaktor nuklir di Teheran. Usulan IAEA dukungan Barat, negara yang ditunjuk untuk menerima ”titipan” uranium Iran antara lain Rusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muncul komentar menihilkan kesepakatan Brasil-Turki-Iran. Namun, AS dan Barat tertampar dengan hasil diplomasi Lula. China dan Rusia, sama-sama anggota tetap Dewan Keamanan (DK) PBB, menyambut kompromi Iran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi AS dan Barat bisa ditebak. Kubu ini langsung menyebarkan rancangan resolusi mengenai sanksi-sanksi baru lebih keras terhadap Iran, tidak peduli dengan upaya Brasil dan Turki, sama-sama anggota tidak tetap DK PBB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lula, dalam sebuah pidato di Brasilia, ibu kota Brasil, Rabu (19/5), menuduh Barat memiliki sikap ingin menang sendiri soal nuklir Iran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang dilakukan Lula menjadi pelajaran diplomasi yang sangat berharga. Sebagai negara yang serius ingin melakukan perubahan di PBB, terutama reformasi DK PBB, terobosan Lula mendukung cita-cita Brasil untuk menjadi anggota tetap DK PBB. Diplomasi Lula juga mencerminkan bagaimana Brasil mengoptimalkan posisinya di DK PBB, berani mengambil risiko berseberangan dengan adidaya tanpa tendensi bermusuhan dengan adidaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Peran Rusia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diplomasi Lula tidak terlepas dari peran Presiden Rusia Dmitry Medvedev yang mengusulkan pendekatan baru pada pertemuan dengan Lula di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi BRIC (Brasil, Rusia, India, China) April lalu. Medvedev mempertajam misinya dengan berkunjung ke Turki dan Suriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terobosan Medvedev itu, seperti ditulis The Hindu, lolos dari perhatian AS dan Barat yang terlalu sibuk meyakinkan Rusia dan China mengenai resolusi sanksi baru untuk Iran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui diplomasinya, Lula sebenarnya juga hendak menelanjangi sikap curang AS dan sekutunya soal nuklir Iran. Bagi Barat, tujuan mereka hanya satu, jangan sampai Iran menguasai teknologi nuklir. Penegasan Iran bahwa pengembangan teknologi nuklir bertujuan damai tidak bermakna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden AS Barack Obama menelepon langsung Perdana Menteri Turki Recep Erdogan. Obama mengatakan, kompromi terbaru Teheran itu ”tidak menumbuhkan kepercayaan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lula geram. ”Ada sejumlah orang yang tidak tahu bagaimana berpolitik tanpa musuh,” tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusia pun memperingatkan, pengenaan sanksi sepihak oleh AS dan sekutunya kepada Iran bertentangan dengan prinsip supremasi hukum internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, sebagaimana terjadi dengan Iran, negara yang boleh memanfaatkan teknologi nuklir sangat ditentukan oleh AS dan sekutunya. Rusia dan China menolak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lula semakin membuka mata dunia atas ketidakadilan Barat. Hal itu menonjolkan ketidakberesan dalam sistem politik internasional. Hadirnya kekuatan pengimbang sangat diperlukan pada saat China dan Rusia sering bimbang untuk berperan sebagai pengimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dari kesepakatan Brasil-Iran-Turki, kita melihat peran menonjol Rusia. Peran penting Rusia dan China sebagai pengimbang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan meski tidak selalu harus dengan terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Lula berhasil memanfaatkan masalah nuklir Iran untuk mengangkat tinggi citra diplomasi Brasil, Indonesia bisa melakukan hal serupa. Yang diperlukan adalah para pemikir yang siap memanfaatkan permasalahan dunia menjadi peluang diplomasi. Pada saat hard-power bukanlah menjadi keunggulan, kekuatan soft-power (diplomasi) harus dimaksimalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://internasional.kompas.com/read/2010/05/26/06164149/Turki-Brasil.Kagetkan.Barat-7"&gt;http://internasional.kompas.com/read/2010/05/26/06164149/Turki-Brasil.Kagetkan.Barat-7&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-8724532206896060841?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/8724532206896060841/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=8724532206896060841' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/8724532206896060841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/8724532206896060841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2010/05/turki-brasil-kagetkan-barat.html' title='Turki-Brasil Kagetkan Barat'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-1484216638903996500</id><published>2010-04-27T08:20:00.001+07:00</published><updated>2010-04-27T08:32:06.695+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sistem informasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekonomi-bisnis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><title type='text'>Cara Baru Melaporkan SPT</title><content type='html'>&lt;em&gt;Pernah merasakan ribetnya melaporkan SPT Anda? Pasti Anda merasakannya, tapi bagi Kantor Pajak lebih ribet lagi bagaimana mengolah dokumen SPT yang berjibun. Ah, kan pasti sudah pakai IT. Benar! Dugaan saya pun begitu, tapi kelihatannya ada cara baru yang bakal mengurangi keribetan di sisi Anda dan di sisi Kantor Pajak. Apakah cara pelaporan SPT saja yang mungkin berubah ke depannya. Nggaklah, banyak yang mungkin berubah, seperti pelaporan ke pengawas bursa, pengawas bank, bea cukai, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saya menemukan sebuah dokumen dari Ernst &amp; Young yang saya terjemahkan bagian awalnya berikut ini. Sebagai catatan saja, di banyak negara lain, cara menyampaikan laporan ke pihak berwenang sudah menggunakan cara baru ini lho. Kapan ya di kita?&lt;/em&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah regulator terkemuka sedang semangat-semangatnya menjual standard teknologi baru – eXtensible Business Reporting Language (XBRL) – sebagai suatu cara untuk mempermudah otomasi pelaporan informasi keuangan, yang diyakini bermanfaat bagi seluruh &lt;em&gt;stakeholder&lt;/em&gt; pasar keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan-perusahaan di US, UK, Cina, Jepang, Prancis, Singapura, dan banyak negara lainnya sudah melaporkan informasi ke lembaga regulator atau bursa efek dengan XBRL. Setelah BAPEPAM Amerika dan Kantor Pajak dan Bea Cukai Inggris meliriknya, momentum penerapan XBRL makin bergerak cepat secara global dan ada indikasi kuat bahwa semakin banyak regulator akan mewajibkan penggunaan XBRL untuk pelaporan regulatoris dalam waktu yang tidak terlalu lama. Jelas, XBRL memiliki potensi menjadi standard teknologi global untuk pelaporan informasi keuangan maupun operasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring upaya Anda untuk menguatkan fondasi pelaporan perusahaan Anda dengan XBRL, sebaiknya Anda tidak menganggap remeh pentingnya tahap persiapan. Seperti inovasi apapun, pasti terdapat ketidakpastian, terutama terhadap pendekatan awal pelaporan XBRL. Kebutuhan pelapor akan jasa konsultansi dan upaya memastikan keberhasilan tidak 100 persen jelas. Agak burem dikitlah. Beberapa rintangan sudah menanti di depan, termasuk ketakutan akan persyaratan yang demikian ketat dan persepsi bahwa XBRL hanyalah fenomena bertepuk-sebelah-tangan para regulator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam publikasi ini, kami menyoroti sepuluh tantangan kesiapan bagi pelapor, mulai dari membangun kesadaran (&lt;em&gt;awareness&lt;/em&gt;) dan menginisiasi proyek hingga implementasi dan realisasi. Kami berharap para pembaca akan memahami bahwa pelaporan XBRL sesungguhnya lebih rumit daripada yang mungkin dipahami oleh para pendukung atau lembaga yang mewajibkannya. Kami yakin dengan pemahaman dan kesadaran yang benar, melalui persiapan dan perencanaan yang matang, upaya untuk mengikuti standard pelaporan XBRL akan lebih hemat dalam jangka menengah-panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti standard XBRL dengan mantap dan percaya diri serta membangun kemampuan yang dibutuhkan dengan tepat akan lebih menyiapkan pelapor dalam menyongsong perubahan sistem pelaporan yang masih akan terus berkembang ke depannya. Kami (EY, yaitu penerbit artikel yang saya terjemahkan sebebas-bebasnya ini – Y Pan) berharap dapat bekerja sama dengan para pelapor untuk membantu mereka menyongsong sistem pelaporan yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengenalan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;XBRL adalah standard pelaporan informasi keuangan dan operasional bisnis berbasis Extensible Markup Languange (XML), yang bebas lisensi dan terbuka. Standard ini digunakan untuk pertukaran informasi bisnis secara elektronis. XML adalah sebuah bahasa deskriptif mengenai data yang bersifat universal dan digunakan untuk mendeskripsikan wadah, pengolahan, dan pertukaran data melalui internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide dasar di belakang XBRL sangat sederhana. XBRL menyediakan penjelasan (dengan &lt;em&gt;tag&lt;/em&gt; atau disebut juga metadata) untuk setiap item data yang dilaporkan. Tanda penjelasan tersebut dapat dibaca oleh komputer dan memungkinkan informasi digunakan secara interaktif. Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan sebelumnya yang cenderung menggunakan formulir isian, baik tercetak (manual) atau melalui sistem on-line.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;XBRL memungkinkan pertukaran dan analisis data bisnis melalui penyandian informasi atau penandaan yang lebih mempunyai arti buat komputer (karena ada penjelasan atau metadatanya). Oleh karenanya, aplikasi komputer dapat mengolah data XBRL secara ”cerdas” dengan mengenali informasi di suatu dokumen XBRL. Selanjutnya, dengan logik tertentu, aplikasi dapat memilih, menganalisa, menyimpan, dan mempertukarkan data XBRL dengan komputer atau sistem lain serta selanjutnya menyajikan datanya dalam berbagai bentuk kepada pengguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelapor-pelapor yang berhasil mengikuti tuntutan standard XBRL dari lembaga regulator melakukan persiapan matang jauh hari dalam menghadapi proses perubahan untuk mengikuti standard XBRL. Mengapa demikian? Secara umum, pelaksanaan strategi TI apapun membutuhkan pengetahuan, wawasan, dan perencanaan yang hati-hati. XBRL bukan pengecualian. Lalu bagaimana pelapor memulai kegiatan yang memakan waktu untuk persiapan melaporkan data yang diminta regulator? Padahal argo persiapan tersebut berjalan jauh hari sebelum kegiatan pelaporannya terjadi dan kemudian tetap akan berlangsung seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami yakin artikel ini dapat membantu Anda menjawab tantangan di atas dan dapat memberikan gagasan yang berguna mengenai XBRL, termasuk beberapa permasalahan pokok dan pertimbangan-pertimbangan terkait dengan penerapan XBRL dalam pelaporan informasi keuangan. Walaupun isu dan pertimbangan yang perlu dipikirkan sebetulnya banyak sekali, kami yakin isu-isu dan pertimbangan yang kami tulis di bawah ini merupakan yang paling mewakili tantangan kesiapan para pelapor; dan jika isu-isu dimaksud dihadapi dengan tepat, tentu hasilnya adalah laporan XBRL yang berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CFO dan para eksekutif keuangan senior akan sangat berperan dalam menentukan keseimbangan transisi pelaporan XBRL dari pelaporan sebelumnya. Dalam menjalani perubahannya, mereka akan menghadapi berbagai tantangan teknologi yang akan menguji kesiapan mereka dalam pelaporan XBRL. Oleh karena itu, pertanyaan utama buat CFO dan para eksekutif tersebut adalah, ”Apakah kita benar-benar siap?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sepuluh Tantangan Kesiapan XBRL&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;1. Membangun kesadaran (raising awareness)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; – Sejumlah besar eksekutif keuangan masih belum paham apakah XBRL itu, bagaimana cara kerjanya, dan problem apa yang dapat diselesaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;2. Memilih saat yang tepat (getting the timing right)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; – Menyerahkan laporan XBRL secara sukarela atau membuat suatu bentuk ujicoba sebelum XBRL benar-benar diwajibkan terbukti merupakan praktik yang sangat bermanfaat. Para pelapor menemui fakta bahwa semakin meningkat pengalaman dengan XBRL, semakin cepat dan akurat proses pelaporannya. Pada kasus BAPEPAM Amerika, pelaporan XBRL sukarela sebelum diwajibkan dapat menekan risiko yang selanjutnya membuat penerapan pelaporan XBRL berlangsung lebih aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;3. Mempertimbangkan pilihan implementasi (considering implementation options)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; – Terdapat beberapa pilihan bagi pelapor untuk mempesiapkan pelaporan XBRL. Waktu yang diinvestasikan di muka untuk edukasi, peningkatan kesadaran, persiapan, dan perencanaan dapat menghemat biaya dan waktu di belakang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;4. Membentuk tim yang tepat (building the right team)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; – Pelaporan XBRL membutuhkan kerjasama dan koordinasi lintas fungsi teknologi, akunting, dan keuangan dalam suatu perusahaan. Biasanya bagian keuangan (&lt;em&gt;finance&lt;/em&gt;) adalah fungsi yang bertugas (&lt;em&gt;in charge&lt;/em&gt;) mengelola prosesnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;5. Memilih software (selecting software)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; – XBRL adalah teknologi yang terus berkembang. Saat ini (sesuai waktu penerbitan artikel oleh EY – Y Pan), belum ada solusi lengkap untuk pelaporan XBRL. Dalam kasus ini, waktu dan biaya pelaporan XBRL sering melampaui antisipasi lembaga regulator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;6. Mengantisipasi kebutuhan pemeliharaan (anticipating manintenance needs)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; – Pemeliharaan data dan metadata sering terlewat atau sangat dianggap enteng, padahal proses ini adalah kegiatan XBRL yang paling sulit dan mungkin paling penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;7. Memetakan data (mapping data) – Penandaan (tagging)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, terutama yang sangat unik bagi suatu laporan keuangan suatu perusahaan, menghabiskan waktu untuk dieksekusi. Pemetaan data ke taksonomi XBRL merupakan suatu yang bersifat &lt;em&gt;”art”&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;”science”&lt;/em&gt; sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;8. Mengelola ekstensibilitas (addressing extensibility)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; – Para pelapor cenderung melewatkan fakta bahwa di bawah berbagai regim regulator, mereka juga perlu mengetahui bagaimana mengembangkan (&lt;em&gt;extend&lt;/em&gt;) taksonomi pelaporan. Saat ini, masih terdapat ketidakpastian mengenai teknik perluasan (&lt;em&gt;extension&lt;/em&gt;) taksonomi XBRL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;9. Menampilkan data (visualizing the data)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; – Badan regulator yang berbeda mungkin menetapkan mekanisme teknis yang berbeda-beda untuk menampilkan data ke bentuk yang dapat dimengerti manusia sebagai user akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;10. Memastikan kualitas (ensuring quality)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; – Kegiatan terakhir sebelum pelaporan itu sendiri adalah suatu tinjauan menyeluruh terhadap dokumen-dokumen XBRL yang dihasilkan. Proses tinjauan dimaksud melampaui kebutuhan untuk mengindentifikasi tanda-tanda (&lt;em&gt;tags&lt;/em&gt;) yang paling tepat. Tinjauan dimaksud harus lebih luas cakupannya, meliputi akurasi, kelengkapan, penampilan data, dan struktur data di dalam XBRL.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-1484216638903996500?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/1484216638903996500/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=1484216638903996500' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/1484216638903996500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/1484216638903996500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2010/04/cara-baru-melaporkan-spt.html' title='Cara Baru Melaporkan SPT'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-3280582081897885502</id><published>2010-04-20T07:21:00.002+07:00</published><updated>2010-04-20T07:28:53.626+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lebih personal'/><title type='text'>Guru SMA Kami</title><content type='html'>Kemarin malam HP saya berdering dari nomor tak dikenal. Saya agak sungkan menerimanya, tapi istri memberi nasihat. Siapa tahu penting. Setelah memastikan saya adalah yang dimaksudnya, si penelpon memperkenalkan sebagai teman SMA. Namanya Safaruddin. Agak limbung di awal, saya tiba-tiba diingatkan istri bahwa itu adik Pak Ali Idrus. Seketika ingatan saya kembali. Masya Allah, betapa tumpul ingatan saya mengenai kenangan dua puluh dua tahun silam. Maklum, sudah lama sekali tidak saling kontak.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami kemudian bicara banyak, termasuk kerjanya di MUBA, SUMSEL. Nggak semuanya bisa diceritakan kembali di sini, tapi satu topik hangat adalah mengenai rencana reuni akbar. Ya reuni SMA Negeri 11 Palembang untuk semua angkatan. Kebetulan kami generasi pertama. Kalau mau, silakan Anda baca satu fragmen kisah sekolah kami di &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2010/01/sekolah.html" target="_new"&gt;link ini&lt;/a&gt;. Nah, setelah pembicaraan telpon itu, terbetik dalam hati saya alangkah indahnya kalau dalam reuni kami ketemu lagi dengan para guru generasi awal. Saya berjuang keras untuk memanggil ingatan saya. Akhirnya, inilah daftar nama mereka dengan posisinya waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pak Asmawi, kepala sekolah&lt;br /&gt;Pak Ali Idrus, wakil kepala sekolah sekaligus guru PMP&lt;br /&gt;Bu Nur Jasiyah, guru ekonomi dan sosiologi&lt;br /&gt;Pak Nazlimi, guru bahasa Indonesia&lt;br /&gt;Pak Najib, guru bahasa Ingris&lt;br /&gt;Bu Isnaeni Palupi, guru matematika&lt;br /&gt;Bu Nelly Jamilah, guru fisika&lt;br /&gt;Pak Samson, guru biologi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, ternyata susah juga mengingat semuanya. Yang masih di ujung lidah adalah guru agama, guru kimia, dan guru olahraga. Padahal dengan guru agama dan olahraga masih jelas terpampang beberapa momen di mata saya. Misalnya saya gelagapan disuruh baca Al Qur&amp;#39;an oleh guru agama. Waktu disuruh membacakan hafalan surat pendek juga payah. Akhirnya beliau dengan becanda memukul paha saya. Suatu pukulan di hati sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan guru olahraga, yang terbayang jelas adalah ketika beliau memberi aba-aba pada kami di jalan sepi untuk mengurangi kecepatan. Saya sebagai komandan regu gerak jalan langsung paham. Hasilnya kami juara dua se-kotamadya. Dengan guru-guru yang saya ingat namanya, banyak juga kenangan. Misalnya, saya sering disuruh memeriksa tugas kelas bawah oleh Bu Nelly Jamilah. Waktu saya kuliah di Bandung, kami pernah ketemu sekali. Pak Najib pernah mau menceramahi saya panjang lebar mengenai akhlak saya, eh kepotong karena ada berita sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, udah dulu. Kayaknya pengen langsung reuni aja. Jadi nama guru-guru yang belum saya ingat bakal kembali lagi. Paling asyik kalau bisa ketemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca sepenggal kisah sekolah kami di:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2010/01/sekolah.html"&gt;http://ypanca.blogspot.com/2010/01/sekolah.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-3280582081897885502?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/3280582081897885502/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=3280582081897885502' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/3280582081897885502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/3280582081897885502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2010/04/guru-sma-kami.html' title='Guru SMA Kami'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-6953339412018988931</id><published>2010-03-29T16:00:00.002+07:00</published><updated>2010-03-29T16:04:38.835+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekonomi-bisnis'/><title type='text'>Obama Akan Batasi Aktivitas Investasi Perbankan AS</title><content type='html'>Dikutip dari &lt;a href="http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/01/25/08445132/Obama.Akan.Batasi.Aktivitas.Investasi.Perbankan.AS" target="_new"&gt;http://bisniskeuangan.kompas.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 25 Januari 2010 | 08:44 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WASHINGTON, KOMPAS.com — Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama akan mengajukan proposal aturan untuk membatasi kegiatan usaha perbankan di negara itu. Terutama, Obama ingin membatasi kegiatan investasi bank berupa pembelian aset atau saham untuk meraup keuntungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kegiatan itu tidak ada hubungannya dengan kepentingan nasabah," ungkap Obama dalam wawancara dengan ABC, seperti dikutip Bloomberg, pekan lalu. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transaksi yang biasa disebut proprietary trading ini menjadi penyebab praktik spekulasi di pasar properti AS yang menjadi penyebab krisis pada tahun 2008. Makanya, lanjut Obama, pembatasan ukuran dan kegiatan lembaga keuangan penting untuk mengurangi risiko yang berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usulan ini akan menjadi bagian dari perombakan regulasi keuangan yang akan mengatur pelakunya berperilaku wajar. "Sistem regulasi keuangan AS saat ini tidak cukup mampu mengawasi risiko-risiko ekstra dan perilaku pemain yang tidak bertanggung jawab," ujar Obama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tutup bisnis "private equity"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usulan itu bakal memaksa perbankan raksasa AS, seperti JP Morgan, Goldman Sachs, dan Morgan Stanley, menjual unit bisnis private equity mereka. Tak bisa dimungkiri, bank-bank besar seperti Goldman bakal kehilangan banyak pemasukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklum, dari bisnis-bisnis tadi, pada tahun lalu Goldman menjadi bank paling menguntungkan dalam sejarah Wall Street. Lebih dari 90 persen pendapatan sebelum pajak Goldman Sachs berasal dari unit private equity tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Utama Goldman Sachs Lloyd Blankfein menyatakan, perusahaannya harus menghasilkan keuntungan sendiri agar bisa menutup kerugian yang terjadi akibat krisis pada 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana pemerintah Negeri Uwak Sam ini sebenarnya tak berbeda jauh dengan yang dilakukan Pemerintah Inggris. Sebulan lalu, otoritas jasa keuangan di Inggris mengumumkan rencana membatasi proprietary trading di perbankan. Akibat aturan itu, industri perbankan negara itu harus menyisihkan cadangan modal hingga 47 miliar dollar AS untuk menutupi potensi kerugian dari bisnis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aturan ini bukan tidak mendapat kritik. Bruce Ettelson, konsultan hukum di Kirkland &amp; Ellis LLP, bilang, ini akan berdampak pada perubahan aturan di Wall Street dan banyak perjanjian bisnis yang sebelumnya telah disepakati. "Aturan ini juga makin menciutkan sumber pendanaan bagi equity private dan hedge fund," cetusnya. (Sopia Siregar/Kontan)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-6953339412018988931?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/6953339412018988931/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=6953339412018988931' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/6953339412018988931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/6953339412018988931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2010/03/obama-akan-batasi-aktivitas-investasi.html' title='Obama Akan Batasi Aktivitas Investasi Perbankan AS'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-3552274854439894326</id><published>2010-03-10T12:53:00.003+07:00</published><updated>2010-03-10T13:13:13.989+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekonomi-bisnis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><title type='text'>Stasiun Rawa Buntu</title><content type='html'>Baru-baru ini pengguna KRL yang tinggal di sekitar stasiun Rawa Buntu mendapat khabar gembira. KRL Ekspres dari Serpong menuju Tanah Abang akhirnya singgah juga di Rawa Buntu, setelah demikian lama para pelanggan mengajukan permohonan. Malahan saya pernah dengar para pelanggan membuat petisi untuk itu. Entahlah pujian atau kritik yang pantas diberikan ke PT KA.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari lambatnya tanggapan PT KA, alhamdulillah berhentinya KRL Ekspres dari Serpong menuju Tanah Abang di stasiun kami tetap merupakan berkah. Manfaat pertama sih sederhana saja. Pelanggan memiliki satu pilihan tambahan. Kedua, pengguna yang &lt;em&gt;high profile&lt;/em&gt; tidak perlu lagi memaksakan diri ke Serpong atau Sudimara untuk naik KRL Ekspres. Saya pernah sih menjalaninya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya bisa naik Ekspres, saya harus naik ojek dari rumah ke Serpong yang jaraknya tiga kali lebih jauh. Pernah juga saya naik KRL ekonomi atau kereta ekonomi Rangkas dari Rawabuntu ke Sudimara, lalu buru-buru turun untuk antri beli tiket Ekspres. Tapi itu semua sudah jadi sejarah. Saya sekarang bisa naik Ekspres langsung dari Rawa Buntu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang dua manfaat yang langsung saya nikmati terasa sepele, tapi bagi saya cukup berarti. Jika manfaat tiap individu dikumpulkan, bukan mustahil manfaat keseluruhan untuk masyarakat cukup memadai untuk mengurangi biaya sosial yang hingga hari ini masih di bawah tekanan faktor korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda pembenahan lain yang dilakukan PT KA terlihat dari penampilan fisik stasiun. Foto berikut ini buktinya. Stasiun Rawa Buntu hanyalah satu dari sekian banyak stasiun yang dibenahi. Belajar dari pengalaman NYC (lihat &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/02/tipping-point-4.html" target="_new"&gt;artikel terkait&lt;/a&gt;), stasiun yang bersih dan rapi, dengan penerangan yang cukup, mampu menekan risiko timbulnya kriminalitas. Apalagi kalau kereta-keretanya juga OK. Lagi-lagi PT KA bisa menanam jasa mengurangi ongkos sosial warga yang sebagiannya sampai hari ini masih dihantui kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup deh puji-pujian. Kenyataannya masih banyak yang harus dibenahi. Keterlambatan kereta dan gangguan sinyal hanyalah sedikit dari sekian banyak contoh. Yang paling bikin kecele adalah ketika kereta berangkat lebih awal dari jadwal. Bagaimanapun, kritik atau pujian untuk PT KA rasanya tidak pantas menurunkan kinerjanya. Justru keduanya harus jadi motivator untuk terus berbenah. Ayo Pak Ignasius Jonan dkk, Anda bisa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca juga kisah lainnya:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/06/granada-square.html"&gt;Granada Square&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/01/stasiun-senen.html"&gt;Stasiun Senen&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/11/iklan-di-krl.html"&gt;Iklan di KRL&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/07/pelayanan-krl-membaik-nggak.html"&gt;Pelayanan KRL: Membaik Nggak?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/06/roker-bekasi-nelangsa.html"&gt;Roker Bekasi Nelangsa&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-3552274854439894326?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/3552274854439894326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=3552274854439894326' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/3552274854439894326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/3552274854439894326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2010/03/stasiun-rawa-buntu.html' title='Stasiun Rawa Buntu'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-222841917715806286</id><published>2010-02-22T16:37:00.003+07:00</published><updated>2010-03-03T07:31:33.220+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><title type='text'>Seminar Korupsi di InHar</title><content type='html'>Minggu kemarin saya mengikuti seminar mengenai korupsi di kawasan Puspitek Serpong. Acara diselenggarakan oleh SMPIT Insan Harapan (InHar) yang dipimpin oleh Ibu Rita Fadhilah. Anak kami yang kedua, namanya Rita juga, sekolah di situ. Saat ini ia duduk di kelas 7-1. Lho koq bisa seminar korupsi diadakan oleh SMP? Bisalah. Menurut penasihat KPK yang menjadi salah satu pembicara, kegiatan seperti ini bagian dari pelaksanaan tugas KPK di bidang pencegahan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mencari Gedung DRN, tempat seminar, saya cukup terkagum-kagum dengan penataan kawasan. Kawasan Puspitek memang apik, serasa di tempat lain. Saya bilang ke istri, &amp;quot;Kapan-kapan kita piknik yuk di sini sama anak-anak buat nostalgia,&amp;quot; tapi sayangnya waktu pulang satpam bilang kawasan nggak terbuka untuk umum. Fasilitas riset ini ternyata digagas oleh Prof Soemitro. Memang pelaksanaan pembangunan dimulai oleh Prof Habibie dan selesai pada masa AS Hikam menjabat Menristek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicara seminar ada dua, Kak Seto dan Pak Abdullah Hehamahua, penasihat KPK. Dibuka oleh pejabat pemerintah Tangerang Selatan yang mewakili Pak Wali dan dimoderatori oleh Kepala MAN Insan Cendikia, Pak Ahmad Hidayatullah, seminar berlangsung menarik. Baik Kak Seto maupun Pak Abdullah sama-sama punya kapasitas yang jauh melebihi syarat minimal mengisi seminar. Candaan moderator juga berperan penting membuat suasana tidak angker, padahal ini seminar mengenai korupsi lho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presentasi Kak Seto yang hanya beberapa menit, karena tekanan jadwal beliau selanjutnya, cukup membuat meriah suasana. Banyak materi Komnas Perlindungan Anak sih... misalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tuhan kirimkanlah aku&lt;br /&gt;Ayah ibu yang baik hati&lt;br /&gt;Yang mencintai aku&lt;br /&gt;Apa adanya...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontan aja Rita, anak kedua kami, yang baru saja saya marah-marahin dua hari sebelumnya seolah mendapat angin. Saya jelaskan sih ke Rita bahwa pesan Kak Seto banyak benarnya, tapi ada hal yang menuntut ketegasan dalam mendidik anak. Saya ambil hadits Nabi Muhammad SAW mengenai memukul anak sebagai contoh. Tentu akhlak Nabi tidaklah tercela. Yang pasti ada saatnya lemah lembut dan ada saatnya tegas dan keras. Yah... mudah-mudahan Rita paham maksud Kak Seto yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait korupsi akhirnya Kak Seto sampai juga pada poin yang tegas dan terang benderang. Jangan mencontek dan curang (yah... begitulah kurang lebih) karena itulah awal dari korupsi. Nggak ada tanya jawab dengan Kak Seto karena beliau harus segera pergi, tapi pasti beliau telah memberi kesan mendalam kepada anak-anak dan orangtua yang hadir. Selanjutnya materi dari Pak Abdullah. Walaupun beliau mengatakan presentasinya disiapkan untuk anak-anak, tetap aja cukup serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penasihat KPK itu bahkan tidak banyak berharap dari orangtua. Kalau mau tobat nasuha, alhamdulillah. Kalau nggak, juga nggak apa-apa buat bahan bakar neraka. Kesannya generasi berikutnyalah yang hanya bisa diharapkan mengatasi korupsi. Nggak tahu deh apakah anak-anak SMP IT Insan Harapan paham betul apa yang beliau maksud, tapi kalau mendengar beberapa pertanyaan yang mereka ajukan dalam seminar, nggak salah kita berharap banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat Pak Hehamahua, dan tentunya kita-kita juga, harapan yang besar kepada anak muda mungkin bisa berfungsi sebagai katup untuk menghindari putus asa. Generasi baru! Semangat baru! Ruhul jadid! Berikut ini ekspresi mereka yang amat sangat nian anti korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/S42sxWlVZII/AAAAAAAAAbo/W5ziDnr4Ksw/s1600-h/21022010689.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/S42sxWlVZII/AAAAAAAAAbo/W5ziDnr4Ksw/s320/21022010689.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5444197488436536450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/S42sx7yERKI/AAAAAAAAAbw/oKPz1vyztWQ/s1600-h/21022010690.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/S42sx7yERKI/AAAAAAAAAbw/oKPz1vyztWQ/s320/21022010690.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5444197498422052002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/S42sySqMkkI/AAAAAAAAAb4/aE05-oxvHYs/s1600-h/21022010692.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/S42sySqMkkI/AAAAAAAAAb4/aE05-oxvHYs/s320/21022010692.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5444197504563057218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/S42tIqfDhyI/AAAAAAAAAcA/1IO-IkTwP8c/s1600-h/21022010693.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/S42tIqfDhyI/AAAAAAAAAcA/1IO-IkTwP8c/s320/21022010693.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5444197888915900194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/S42tJBnu9CI/AAAAAAAAAcI/K65xDfHTN_s/s1600-h/21022010694.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/S42tJBnu9CI/AAAAAAAAAcI/K65xDfHTN_s/s320/21022010694.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5444197895126316066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/S42tJpI5XGI/AAAAAAAAAcQ/4YH1c-ncM7E/s1600-h/21022010695.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/S42tJpI5XGI/AAAAAAAAAcQ/4YH1c-ncM7E/s320/21022010695.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5444197905734392930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-222841917715806286?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/222841917715806286/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=222841917715806286' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/222841917715806286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/222841917715806286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2010/02/seminar-korupsi-di-inhar.html' title='Seminar Korupsi di InHar'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/S42sxWlVZII/AAAAAAAAAbo/W5ziDnr4Ksw/s72-c/21022010689.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-5967523974698160007</id><published>2010-01-29T11:22:00.001+07:00</published><updated>2010-01-29T14:05:10.762+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lebih personal'/><title type='text'>Sekolah</title><content type='html'>Ikal dan Arai beruntung pernah diajar seorang guru sejarah sekaliber Pak Julian. Kata-kata beliau yang menginspirasi berhasil gemilang mewujudkan cita-cita kedua pemimpi dari Belitung itu. Sekolahnya sendiri? Ya, seperti rata-rata sekolah negeri di daerah. Tidak kenal les tambahan. Tidak ada ekstrakurikuler drum band. Tidak ada kemewahan yang mudah dijumpai di sekolah negeri favorit di Jakarta, apalagi yang swasta! Begitu juga SMA tempat ku sekolah dulu. SMA Negeri 11 Palembang...&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masuk tahun 1985 setelah lulus dari SMP Negeri 3. Biasanya lulusan SMP 3 masuk ke SMA 3 yang cukup favorit. Entah kenapa giliran saya lulus dari situ, rayonnya ke SMA baru yang gedungnya belum berdiri. Setelah menumpang beberapa bulan di SMA 1 di tiga ruangan kelas yang jendelanya biasa digunakan teman-teman untuk keluar-masuk kelas, akhirnya kami pindah ke gedung baru. Lokasinya di Pakjo Ujung, yang walaupun hanya beberapa kilometer dari rumah terasa jauh waktu itu. Maklumlah namanya Ujung benar-benar secara harfiah ujung... mentok! Nggak ada jalan lagi, kecuali jalan tikus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih melekat lagi adalah ingatan jalan becek di sekitar Bulan Desember. Tanah merah terjal yang licin menuju sekolah dari ujung jalan aspal jadi lebih licin karena kami suka membungkus kaki dengan plastik. Sebetulnya nggak terlalu jauh, tapi itu cukup membuat kami berlumuran tanah. Belum lagi kalau terpeleset. Eit... Saya dan teman perempuan yang telah memberi saya lima orang anak sering ke sumur di samping sekolah untuk bersih-bersih. Kenangan yang luar biasa! Dan saya tidak termotivasi sama sekali untuk pindah seperti teman-teman yang lain. Ah, hubungan saya dengannya adalah cerita lain yang butuh perpustakaan sendiri untuk menampungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita cerita mengenai sekolah &lt;em&gt;bae&lt;/em&gt;. Wakil Kepala Sekolah kami, Pak Ali Idrus, benar-benar beruntung ketemu dengan Pak Samson, guru biologi yang baru lulus dari FKIP. Dari Pak Samson, Pak Ali Idrus mampu dalam waktu singkat membangun tim untuk menjalankan fungsi sekolahan. Jadilah dewan guru kami terdiri dari dua guru tetap dan guru-guru honorer, yaitu Pak Samson dan kawan-kawan. Waktu itu, kami belajar di ruang kelas pinjaman seadanya di SMA 1. Butuh waktu beberapa bulan akhirnya Kepala Sekolah kami hadir. Dewan guru akhirnya makin kuat dengan tambahan guru tetap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu kelas dua. saya masuk kelas A1, Fisika. Ya, memang dari kecil saya pengen jadi ilmuwan, cita-cita yang sudah berubah sama sekali setelah saya mulai ngerti uang. Bagaimana laboratoriumnya? Jelas nggak ada lah. Bahkan tabung-tabung reaksi dan peralatan eksperimen lainnya dipinjam entah dari mana oleh guru Fisika kami yang cukup tinggi langsing dan berparas menarik. Beruntung pelajaran Matematika tidak mutlak membutuhkan alat peraga. Bu Isnaeni Palupi bisa mengajar tanpa hambatan berarti. Jadilah Matematika, Fisika, dan Kimia adalah tiga pelajaran favorit saya, walaupun dengan fasilitas seadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran yang lain gimana? Hmm, seingat saya semuanya rata-rata serba terbatas. Perpustakaan sekalipun. Oya, Olahraga adalah pelajaran yang mengasyikkan juga. Kami bisa main bola sesukanya di lapangan. Kalau lagi serius, kami disuruh lari berkeliling sekolah atau keluar kompleks. Awalnya saya nggak suka, tapi setelah saya serius menjalankan program lari hampir tiap hari, berpedoman pada buku Aerobic karangan Dr. Kenneth Cooper, tugas lari jadi ringan. Ada senangnya juga ketika saya berkali-kali menyusul teman yang ketinggalan beberapa putaran, sambil menggoda, "duluan ya..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan modal kebugaran itu, saya bisa mengomandani pasukan gerak jalan 28 KM tanpa lelah sedikitpun dalam lomba se-kotamadya. Senangnya lagi kami meraih tempat kedua terbaik. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Pada hari pengumuman hasil lomba itu, setelah mendapat ceramah singkat dari Pak Najib mengenai perilaku saya yang perlu diperbaiki, berita duka datang dari rumah teman perempuanku. Ayahnya meninggal pada 28 Oktober 1986. Aku dan Ibunda (almh) pergi melayat. Ah... itupun bagian cerita yang butuh satu perpustakaan tadi untuk menampungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sebetulnya cerita yang bisa diingat-ingat kembali, tapi rasanya cukuplah cerita kenangan di sekolah ini sampai di sini. Toh nggak semuanya indah, baik, dan benar, misalnya waktu itu saya belum bisa ngaji. Oh, disuruh baca Al-Qur'an oleh guru Agama kami, terbata. Disuruh mengulang hafalan surat pendek, nggak sempurna. Alhamdulillah kekurangan seperti itu sudah banyak berubah saat ini, setelah saya ketemu teman-teman aktivis pengajian waktu sekolah di Amrik. Yang baik-baik waktu SMA itu? Banyak! Gurunya, temannya, lingkungannya, sekolah itu sendiri, dan kesempatan yang diberinya untuk belajar memimpin! Semuanya sudah membantu membentuk diriku seperti apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya Allah, berilah kami pahala-Mu yang mulia atas upaya dan kebaikan kami. Ya Allah, ampunilah semua dosa kami.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Selamat REUNI untuk seluruh keluarga besar alumni SMA Negeri 11 Palembang. Semoga silaturahmi yang terjalin membawa lebih banyak berkah, amin...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca cerita lainnya:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/01/nama.html"&gt;Nama&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/01/pondok-ku-rumah-baru.html"&gt;Pondok Ku, Rumah Baru&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/01/kucing-kami.html"&gt;Kucing Kami&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca berita mengenai reuni SMA 11:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.sripoku.com/view/25174/reuni_perdana_sma_11_palembang" target="_new"&gt;http://www.sripoku.com/view/25174/reuni_perdana_sma_11_palembang&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/group.php?gid=222269690763&amp;ref=share " target="_new"&gt;http://www.facebook.com/group.php?gid=222269690763&amp;ref=share&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-5967523974698160007?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/5967523974698160007/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=5967523974698160007' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/5967523974698160007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/5967523974698160007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2010/01/sekolah.html' title='Sekolah'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-8459508341488776374</id><published>2010-01-20T16:25:00.000+07:00</published><updated>2010-01-20T16:26:18.587+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahasa-matematika'/><title type='text'>Kenaikkan atau Kenaikan</title><content type='html'>Sebetulnya pilihan judul di atas tiada sulit sama sekali. Saya pernah menulis artikel serupa, yakni &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/01/penunjukkan-atau-penunjukan.html" target="_new"&gt;Penunjukkan atau Penunjukan&lt;/a&gt;. Saya tiada pula lupa pernah menulis artikel &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/04/akhiran-kan-dan-akhiran.html" target="_new"&gt;Akhiran -kan dan Akhiran -an&lt;/a&gt;. Dua artikel itu sudah cukup lama deh nangkring di blog ini. Sayangnya saya masih sering melihat penggunaan akhiran -kan yang tidak tepat. Malangnya penggunaan yang kurang pas tersebut saya temui di sekitar saya yang notabene komunitas penulis dan pembicara ulung. Bahkan di publikasi resmi. Wah...&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini beberapa contohnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kenaikkan&lt;/em&gt; harga barang-barang ini pun memicu... dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, situasi ini menyeret &lt;em&gt;kenaikkan&lt;/em&gt; tingkat bunga... dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... sebagai dasar &lt;em&gt;menaikan&lt;/em&gt; nilai simpanan... dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... bahwa terdapat &lt;em&gt;lonjakkan&lt;/em&gt; NPL... dst.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-8459508341488776374?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/8459508341488776374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=8459508341488776374' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/8459508341488776374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/8459508341488776374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2010/01/kenaikkan-atau-kenaikan.html' title='Kenaikkan atau Kenaikan'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-2227786605126105595</id><published>2009-12-30T13:14:00.004+07:00</published><updated>2010-11-07T15:55:07.405+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><title type='text'>Yang Belum Kebaca</title><content type='html'>Akhirnya buku ini mulai saya baca juga, di antara tumpukan antrian buku yang mesti dibaca. Di antaranya kebanyakan audiobook dan satu buku yang dipinjamkan Pak  Ronald. Bukannya saya nggak baca buku sama sekali sejak menamatkan Predictably Irrational, yang menginspirasi saya menulis beberapa artikel, semisal &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/03/expensive-yet-effective-placebo.html" target="_new"&gt;Expensive yet Effective Placebo&lt;/a&gt;. Saya menamatkan beberapa buku terkait manajemen dan sistem keuangan. Salah  satunya buku George Soros yang cukup filosofis, The New Paradigm for Financial Markets (baca &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/06/timbal-balik-kebaikan-dan-kejahatan.html" target="_new"&gt;artikel terkait&lt;/a&gt;). Nah, istimewanya buku yang mulai saya baca ini juga filosofis dan &amp;#8211; ini yg lebih menarik &amp;#8211; berupa buku pinjaman. Dari pengarang yang sama, saya pernah mencoba mengikuti gaya bertuturnya di Fooled by Randomness versi audiobook. Rasanya mual dan pusing. Begitu juga ketika mulai membaca buku yang ini, The Black Swan.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang Nassim Nicholas Taleb lebih pantas dikategorikan sebagai novelis sastra. Mungkin ia terinspirasi oleh novelis di bab kedua bukunya, Yevgenia, yang digambarkan  sebagai novelis yang &amp;#8220;setia, tekun, tahan uji, dan sangat mandiri&amp;#8221; padahal sebelumnya dianggap kebanyakan penerbit sebagai &amp;#8220;egomaniak tanpa sisi baik sedikit pun, keras kepala, dan sulit diajak berunding.&amp;#8221; Hehehe, tentu Pak Taleb tak akan setuju dengan pendapat  saya ini, minimal mungkin karena satu hal. Seperti kebanyakan orang, saya ahli dalam mencocok-cocokkan setelah semua fakta tersedia, padahal kenyataan empirik sesungguhnya berbeda. Hal ini yang disebutnya sebagai distorsi retrospektif. Sederhananya, ini seperti  seorang yang merasa sudah dipersiapkan oleh ibundanya beberapa tahun lalu sebelum beliau meninggal untuk mengurus perjodohan ayahandanya dengan wanita lain. Tanda-tanda dan pesan-pesan dari ibundanya seolah semuanya cocok setelah pernikahan terjadi, dengan  segala lika-likunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Distorsi retrospektif yang saya singgung di atas hanyalah satu dari tiga hal yang membuat sejarah &amp;#8211; yaitu ingatan dan penjelasan mengenai kejadian-kejadian di  masa lalu &amp;#8211; menjadi serba kabur. Kabur? Iya, maksudnya sejarah itu justru tidak menjelaskan kenyataan yang sesungguhnya, tapi terasa sangat masuk akal, bahkan cerdas sekali. Satu penyebab lainnya adalah ilusi pemahaman. Bisa jadi, ini tidak bisa dilepaskan  begitu saja dari distorsi retrospektif, cuma yang satu ini lebih menekankan kepada rasa PD yang terlalu berlebihan bahwa saya atau kita paham mengenai apa yang sedang terjadi. Padahal pemahaman itu sekedar sebuah ilusi. Lho? Ya iyalah, kenyataan yang sedang  terjadi sungguh betul-betul rumit untuk dijejalkan ke dalam pola pikir &amp;#8220;sederhana&amp;#8221; yang telah terbentuk mengikuti pengelompokan-pengelompokan tertentu. Jadi, menurut Dr Taleb, persepsi yang bercokol di pikiran saya dan kita tidaklah mewakili kenyataan yang  sesungguhnya. Ilusi terjadi ketika kita terlalu PD untuk tidak menyadari kelemahan cara kerja pikiran kita, yang oleh Edward de Bono dijelaskan sebagai &lt;em&gt;self-organizing&lt;/em&gt;, bisa mengatur dirinya sendiri, berdasarkan pola yang telah terbentuk sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah cermati dua cerita berikut ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita A: Seorang pria baru pulang kerja. Ia segera mandi. Pakaiannya biasa diperiksa oleh istrinya untuk keperluan pencucian keesokan harinya.  Selagi ia mandi, istrinya menemukan beberapa hal ganjil. Pertama, ada bekas &lt;em&gt;lipstick&lt;/em&gt; di kerah baju. Selanjutnya, di kantong celana sebelah kiri, ditemukan sapu tangan wanita, padahal biasanya sang suami meletakkan sapu tangan di kantong kanan. Sang istri mulai  naik pitam. Terakhir ia menemukan sepucuk surat yang dimulai dengan kata-kata mesra. Kontan saja, begitu sang suami keluar dari kamar mandi, terjadi perang bintang di ruangan yang tidak lebih luas dari sebuah garasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita B: Seorang pria baru pulang kerja. Ia mengeluarkan sepucuk surat dan memperlihatkan kepada istrinya. Surat dimulai dengan kata-kata mesra, membuat  istrinya berbunga-bunga, bahkan tanpa menyelesaikannya sekalipun. &amp;#8221;Ntar, untuk nanti,&amp;#8221; kata sang istri. Kemudian, sang suami menyerahkan sepucuk sapu tangan yang langsung dikenali sang istri sebagai miliknya sendiri. Mungkin tadi pagi sang suami nggak sengaja  mengambil sapu tangan sang istri gara-gara buru-buru takut ketinggalan kereta. Ah, bekas &lt;em&gt;lipstick&lt;/em&gt; itu jadi nggak relevan lagi diceritakan. Sang istri kemudian mengingatkan suaminya agar bangun lebih pagi dan nggak kelamaan mandi, supaya nggak ketinggalan kereta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, dua cerita di atas belum saya pikirkan seserius-seriusnya, jadinya kurang dramatis deh, tapi mudah-mudahan yang ingin saya sampaikan bisa keterima.  Ternyata fakta-fakta yang sama bisa dipahami berbeda, meskipun hanya dengan mengubah urutan datangnya fakta. OK-lah, cerita di atas mungkin bukan cerita yang paling bagus untuk mengilustrasikan betapa kita sering tertipu oleh pemahaman. Namun demikian, saya  yakin Anda bisa mengambil contoh dari pengalaman sendiri yang bikin Anda malu karena tertipu oleh &amp;#8221;fakta-fakta&amp;#8221; yang Anda dapati. Dan contohnya nggak harus terkait dengan hubungan suami-istri lho, bisa aja istri-suami... eh ngawur, itu sih sama aja. Kalau  nggak dapet juga, mungkin Anda perlu membaca buku The Seven Habits of Highly Effective People yang membahas mengenai wanita muda cantik atau nenek sihir yang buruk rupa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, begitulah dua penyebab kaburnya sejarah. Emang cuma itu? Tidak lah yaw, yang ketiga adalah kecenderungan kita menilai informasi faktual dan para  intelektual terlalu berlebihan. Kalau pikiran kita sebelumnya membentuk pola dan menentukan cara berpikir kita selanjutnya, maka para intelektual menciptakan pola-pola yang &amp;#8221;membatasi&amp;#8221; cara berpikir masyarakat. Padahal pola-pola yang diciptakan para intelektual  melalui pengelompokan masalah ke dalam kategori-kategori tertentu langsung mereduksi kenyataan yang sebenarnya. Apalagi kalau kategorinya nggak bagus. Wah ini mah masalah taksonomi (pastinya kata teman-teman di kantor). Artinya bahwa pengetahuan yang sudah dikembangkan sejauh ini oleh para pemikir dan ilmuwan  justru bisa merupakan kelemahan untuk mengetahui hakikat. Wah... emang sulit membaca buku ini! Secara emosional, saya pribadi agak bimbang dengan argumentasi  Dr Taleb, tapi sifat skeptis sekaligus spiritual membuat saya menerima kemungkinan kebenaran beliau, dengan filosofinya yang njelimet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya, menurut hemat saya, sebenarnya tiga hal penyebab &amp;#8221;kaburnya sejarah&amp;#8221; yang disebutnya sebagai &lt;em&gt;triplet of opacity&lt;/em&gt; ini tidak semata-mata negatif.  Saya lebih senang menerima bahwa kekuatan pengetahuan manusia, baik yang ilmiah apalagi yang tidak, ada batasnya. Ini sesuai dengan filosofi George Soros, guru, dan kawan-kawannya dengan konsep &lt;em&gt;open society&lt;/em&gt;. Manusia tidak pernah mengetahui secara absolut.  Selalu terdapat ruang ketidaktahuan. Batas atau wilayah-wilayah yang tidak diketahui itu di dalam buku Dr Taleb disebut lipatan plato atau platonic fold. Di wilayah ini, segala sesuatu menjadi tidak normal padahal sering sekali diabaikan karena nggak sesuai dengan pengetahuan yang tersedia sebelumnya. Di wilayah ini pula, ketidakpastian menjadi begitu tinggi. Manusia yang takut akan ketidakpastian dan takut akan hal yang tidak diketahui, alih-alih mendekati wilayah ini dengan rasa ingin tahu, langsung saja mengabaikannya karena bikin nggak nyaman dan lebih parah lagi tidak mempersiapkan diri sama sekali untuk menghadapinya jikalau suatu saat ia harus berhadapan dengannya. Wilayah itu di luar &lt;em&gt;comfort zone&lt;/em&gt; pengetahuan manusia, baik sebagai individu maupun sebagai komunitas! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun kedengaran angkuh, Dr Taleb hanya ingin membuat kita sadar bahwa pengetahuan memiliki sisi negatif. Pengetahuan tentu sudah begitu banyak  berjasa membawa peradaban manusia ke keadaan mutakhir saat ini. Dia hanya ingin kita semua sadar bahwa wallahu a&amp;#8217;lam, sebagaimana perkataan Mikhail supir pribadi kakeknya di akhir jawabannya tiap kali ditanya mengenai suatu persoalan. Kesadaran itu memungkinkan  kita siap sedia menghadapi lompatan sejarah. Suatu kejadian aneh yang tiba-tiba mengubah segalanya yang terasa begitu normal menjadi berbeda sama sekali. Seperti kondisi negeri yang disebut Lebanon yang pada masa kanak-kanak Dr Taleb begitu saja dilanda perang  setelah berabad-abad warganya yang sangat heterogen hidup damai dan tenteram. Seperti kondisi ketika jazirah arab tiba-tiba memimpin dunia dalam tempo singkat sekali setelah Muhammad bin Abdullah mengajak sahabat-sahabatnya beriman bahwasanya tidak ada tuhan  selain Allah dan Muhammad adalah utusannya. Seperti kondisi yang dialami novelis Yevgenia setelah meng-upload karya-karya anehnya ke internet dan tiba-tiba ia berubah menjadi ikon novelis baru. SEPERTI KONDISI HADIRNYA ANGSA HITAM, &lt;em&gt;BLACK SWAN&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapkah kita menghadapi fenomena &lt;em&gt;black swan&lt;/em&gt;? Peristiwa yang lain dari yang lain, tetapi memiliki dampak yang sangat besar dan seolah-olah wajar saja  setelah kejadian. Dengan kesadaran dan kerendahan hati bahwa pengetahuan kita bukan segalanya, boleh jadi kita siap. Dengan memperhatikan wilayah-wilayah yang tidak diketahui dan tidak dapat diprediksi, kemungkinan besar kita siap menghadapi risikonya yang  teramat besar. Seperti seorang &lt;em&gt;software engineer&lt;/em&gt; yang memerintahkan stafnya untuk menguji software di &amp;#8221;pojok-pojok ruangan&amp;#8221; tempat bersemayam para kotoran atau &lt;em&gt;bugs&lt;/em&gt;. Dengan mementingkan buku-buku yang belum kebaca, kita insya Allah siap menghindar dari &lt;em&gt;triplet  of opacity&lt;/em&gt;, terutama ilusi pengetahuan. Dengan kalimat Allah Mahatahu, besar kesempatan kita untuk dapat bersiap-siap memasuki wilayah extremistan, kecuali kita menjadi angkuh setelah rendah hati karena tidak tahan dengan keangkuhan filsafat seorang Nassim  Nicholas Taleb. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;em&gt;Setelah membaca artikel ini, ada baiknya jika berkenan, Anda baca sendiri buku The Black Swan agar Anda tidak kehilangan rincian kisah hidup seorang  Nassim Nicholas Taleb di bab-bab awalnya yang menurut saya sangat berkesan. Satu lagi alasan Anda harus baca sendiri bukunya... agar Anda dapat mengidentifikasi konsep asli Dr Taleb dari kata-kata yang saya tambahkan sendiri dan dari kata-kata yang saya tidak  suka masukkan di sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diadaptasi dari The Black Swan: Prolog, Bab 1: Magang bagi Orang Skeptik yang Empirik (The Apprenticeship of Empirical Sceptic), Bab 2: Black Swan bagi Yevgenia (Yevgenia&amp;#8217;s Black Swan), Bab 3: Spekulator dan Pelacur (The Speculator and The Prostitute)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca artikel terkait berikutnya: &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2010/11/hebatnya-pikiran.html"&gt;Hebatnya Pikiran&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-2227786605126105595?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/2227786605126105595/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=2227786605126105595' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/2227786605126105595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/2227786605126105595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/12/yang-belum-kebaca.html' title='Yang Belum Kebaca'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-4677722262780510196</id><published>2009-12-21T08:00:00.001+07:00</published><updated>2009-12-21T08:09:58.501+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lebih personal'/><title type='text'>Lupa</title><content type='html'>Lupa artinya tidak ingat. Tidak ingat apa? Bisa saja tidak ingat masa lalu. Ya iyalah, masa tidak ingat masa depan? Masa depan kan belum terjadi? Betul, tapi ada sesuatu tentang masa depan yang bisa kita ingat-ingat atau lupakan, misalnya rencana dan ramalan. Baik rencana maupun ramalan sama-sama berorientasi ke masa depan. Bagaimanapun orientasinya, tetap saja rencana dan ramalan terjadi di masa lalu. Waduh, koq mbulet gini?&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya gambaran mengenai kiamat. Kiamat terjadi di masa depan, tapi gambarannya sudah disampaikan di masa lalu, lewat berita dari para nabi. Atau bisa juga diramalkan oleh teori &amp;#39;ilmiah&amp;#39; yang artinya jauh dari akurasi kepastian. Ilmu fisika, misalnya, menerangkan dunia ini terus menerus mengembang, seperti balon yang ditiup. Ilmu fisika juga menerangkan bahwa dari sebelah atas kita senantiasa diserang oleh benda-benda angkasa yang menabrak bumi, sementara dari sebelah bawah kita diancam pergerakan lempeng bumi dan dahsyatnya magma. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita atau teori mengenai masa depan itu bisa saja tidak kita yakini. Bisa juga kita yakini. Bisa juga kita yakini sebagiannya. Bisa juga ragu-ragu. Kalau lagi nggak ada masalah, seolah ancaman kiamat tidak kita anggap sama sekali. Sebaliknya, kalau disingkapkan sedikit bencana ke depan muka kita, hati tiba-tiba berteriak... jangan-jangan... Ya begitulah manusia tempatnya lupa. Kalau seseorang nggak ada lupanya mungkin dia bukan jenis manusia, tapi sejenis mesin pencatat atau entahlah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, emangnya lupa melulu bersifat jahat? Coba bayangkan kalau kita tidak bisa melupakan mimpi buruk atau suatu pengalaman buruk. Untung, untung, untung kita bisa melupakan banyak hal, karena kalau tidak demikian, perasaan kita jadi selalu campur aduk berbentuk spektrum, mulai dari sedih banget, marah banget, bete, sampai rasa gembira luar biasa dan berani menjurus nekad. Semuanya campur aduk dalam satu saat. Alhamdulillah, perasaan kita tidak seperti itu, pastinya karena banyak lupa, sehingga pengendalian diri tidak luar biasa sulit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di titik ini kita menyadari manfaat lupa. Kita bahkan ternyata dapat mengendalikan sampai tingkat tertentu (pasti ga semuanya) mana yang mau kita ingat dan mana yang kita mau lupakan. Proses belajar, merenung, mendengar, membaca, menulis, menerangkan, dan melakukan adalah sarana-sarana untuk menguatkan ingatan dalam memori kita. Sementara proses mengabaikan dengan berbagai variasinya adalah sarana untuk melupakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kenyataan bahwa kita punya ruang untuk melupakan dan tidak melupakan sesuatu, masalah sebenarnya adalah apa sih yang mesti diingat terus dan apa yang wajib dilupakan. Tanpa kesadaran ini, kita akan melupakan apa yang pihak lain ingin kita melupakannya, dan kita akan mengingat hal-hal yang disodori pihak lain. Lha, kalau banyak pihak ingin merencanakan atau mengagendakan sesuatu untuk kita, mana yang akan kita ikuti. Secara tak sadar, kita akan mengikuti pihak yang paling lihay memasarkan sesuatu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakalah kita! Pihak yang paling lihay merencanakan hidup kita belum tentu di pihak yang benar. Untuk menghadapinya, kita harus tahu: mana yang diingat-ingat dan mana yang dilupakan aja. Untuk menghemat kata-kata, saya langsung ke kalimat suci syahadah, sesuai keyakinan saya: tiada tuhan selain Allah. Bagi saya, inilah puncaknya. Yang mesti diingat pertama kali adalah Dia. Selanjutnya, yang harus diingat adalah apa-apa yang Allah ingin kita mengingat-ingatnya. Sebaliknya, kita wajib melupakan apa yang Allah ingin kita melupakannya. Ajakan setan adalah contohnya, betapapun menarik dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ilustrasi sederhana, dalam kehidupan sehari-hari, lupa anak, istri, dan orangtua terkadang menjadi suatu yang utama. Lho koq bisa? Ya bisa aja jikalau anak dan istri atau orangtua justru menghalangi kita dari Allah. Masih ingat kisah hidup Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim kan? Cuma, normalnya lupa anak dan istri apalagi orangtua adalah suatu yang dibenci Allah. Dalam Islam dan kayaknya budaya manapun, anak dan istri serta orangtua juga saudara kandung adalah pihak terdekat kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk panduan secara umum, lihatlah contoh-contoh akhlak yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Secara khusus, lihatlah hukum waris. Lihat juga hukum perwalian dalam nikah. Nah, jika demikian, masihkah kita bingung menentukan untuk melupakan sesuatu atau mengingat-ingat suatu yang lain? Mudah-mudahan nggak, sehingga kita bisa menyikapi hal-hal berikut ini dengan benar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lupa diri (&lt;em&gt;nggak nyadar&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;Lupa ingatan (&lt;em&gt;amnesia&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;Lupa-lupa ingat (&lt;em&gt;kayak lagu aja&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;Lupa daratan (&lt;em&gt;mabok laut&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;Lupa anak-istri (&lt;em&gt;madu tiga&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;Lupa janji (&lt;em&gt;awas!&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;Lupa kalau lupa (&lt;em&gt;gawat&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;Lupa Allah (&lt;em&gt;naudzubilLah&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-4677722262780510196?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/4677722262780510196/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=4677722262780510196' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/4677722262780510196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/4677722262780510196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/12/lupa.html' title='Lupa'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-5662974928118920535</id><published>2009-11-26T07:57:00.000+07:00</published><updated>2009-11-26T07:57:59.318+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sistem informasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><title type='text'>XBRL atau MDM</title><content type='html'>Suatu ketika Mas Tony, rekan kantor, mengirimi saya artikel mengenai XBRL dan MDM. Wah apa itu? Eh... jangan buru-buru gitu, yang jelas ini terkait dengan kerjaan kantor. Saya buru-buru baca dan mendapati artikelnya bagus, minimal untuk menambah pemahaman saya mengenai XBRL dan MDM serta hubungan antara keduanya. Karena merasa artikel ini bagus, saya terus buru-buru menerjemahkannya. Siapa tahu ada rekan yang juga membutuhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dia...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;XBRL atau Master Data Management?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kadang pilihannya jelas, kadang tidak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Robert D. Kugel (diterjemahkan oleh Y Pan)&lt;br /&gt;12 September 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Asli: &lt;a href="http://intelligent-enterprise.informationweek.com/showArticle.jhtml;jsessionid=B1VKDZBZQC5VLQE1GHRSKH4ATMY32JVN?articleID=192701772" target="_new"&gt;http://intelligent-enterprise.informationweek.com/showArticle.jhtml;jsessionid=B1VKDZBZQC5VLQE1GHRSKH4ATMY32JVN?articleID=192701772&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ringkasan&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;Master Data Management (MDM) dan eXtensible Business Reporting Language (XBRL) merupakan dua teknologi penting yang menjanjikan penyelesaian beberapa masalah-masalah utama manajemen informasi. Ventana Research yakin keduanya akan membuat perusahaan-perusahaan mampu menurunkan biaya, waktu, dan upaya yang diperlukan untuk mengumpulkan, menganalisa, dan menggunakan informasi, baik untuk tuntutan transparansi, pendukung keputusan, atau bahkan pelaksanaan proses bisnis. Sebagian pengamat menilai keduanya saling bersaing, tapi pada praktiknya masing-masing memiliki kemampuan di bidang tertentu yang paling cocok dan tidak di bidang lainnya. Bahkan di area persinggungan antara keduanya, XBRL dan MDM tidak bersifat murni eksklusif satu sama lain. Kami menyarankan perusahaan-perusahaan untuk mulai meneliti XBRL dan MDM dan mengembangkan keahlian terkait untuk menggunakan keduanya.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pandangan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Satu tantangan manajemen informasi yang akan dihadapi organisasi-organisasi di tahun-tahun mendatang adalah persoalan kapan harus menggunakan XBRL dan kapan MDM. Ventana Research berpendapat untuk kasus tertentu pilihannya demikian jelas (bahkan jikapun ada beberapa pengecualian) dan untuk kasus-kasus tertentu lainnya baik XBRL maupun MDM dua-duanya dapat dijadikan solusi. Kami &lt;em&gt;sih&lt;/em&gt; tidak percaya situasi akan tetap statis karena pilihan-pilihan teknologi, teknik, perangkat, dan aplikasi akan terus menerus berkembang. Sementara kami memandang pendukung masing-masing mengkampanyekan keunggulan satu atas yang lainnya, proses seleksi akan menghasilkan yang terbaik. Sebagai contoh, pada banyak kasus, perusahaan akan menggunakan MDM untuk menfasilitasi proses penandaan (&lt;em&gt;tagging&lt;/em&gt;) XBRL terhadap data. Sebaliknya, XBRL mempunyai "master data" -nya sendiri dalam bentuk ”tanda-tanda” (&lt;em&gt;tags&lt;/em&gt;). Perluasan XBRL yang spesifik untuk satu perusahaan tentunya harus dikelola sebagaimana item master data lainnya, khususnya karena MDM memainkan fungsi utama dalam mengelola berbagai hirarki data dan struktur bisnis lainnya. Nah, menurut kami, organisasi-organisasi perlu mengembangkan kemampuan pada dua teknologi ini. Lebih cepat, lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi, kami meyakini XBRL adalah pilihan yang jelas bilamana data harus di-&lt;em&gt;shared&lt;/em&gt; dengan pihak luar organisasi dan tujuannya adalah untuk mengeliminasi (atau mengurangi semaksimal mungkin) kerja atau upaya terkait dengan pengambil data eksternal kemudian penggunaannya untuk suatu keperluan proses bisnis. Tanda-tanda data (&lt;em&gt;data tags&lt;/em&gt;) memastikan sistem komputer memahami konteks dari informasi secara jelas dan konsisten, apapun tujuan penggunaan data itu. Jika tanda-tanda (&lt;em&gt;tags&lt;/em&gt;) itu sesuai dengan standard eksternal tertentu (misalnya berlaku nasional atau bahkan internasional – Y Pan), konteks data akan bersifat universal dan persisten. XBRL biasanya dikaitkan dengan data finansial karena saat ini kebanyakan proyek terlihat berada di area pelaporan keuangan (&lt;em&gt;financial reporting&lt;/em&gt;) perusahaan untuk memenuhi kewajiban regulatoris tertentu. Namun demikian, data yang telah ditandai secara XBRL (mungkin dalam Bahasa Indonesia sebaiknya disebut “data XBRL” saja – Y Pan) dapat digunakan untuk proses bisnis apapun yang membutuhkan pertukaran atau &lt;em&gt;sharing&lt;/em&gt; informasi. Kemampuan &lt;em&gt;sharing&lt;/em&gt; tersebut sangat bernilai jika data yang terlibat sangat besar dan reguler, ketika data harus dipertukarkan antara banyak partisipan dalam suatu proses bersama (seperti pada proyek rekayasa atau konstruksi), atau ketika diperlukan &lt;em&gt;straight-through processing&lt;/em&gt;. Pendek kata, penerapan XBRL yang paling mungkin di luar pelaporan keuangan adalah pada area &lt;em&gt;electronic data interchange&lt;/em&gt; (EDI), karena XBRL dapat langsung memenuhi kebutuhan dan struktur data terkait EDI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, informasi yang sangat granular (detil – Y Pan) yang digunakan hanya di dalam suatu perusahaan lebih sesuai dan lebih efisien dikelola dengan MDM. Pembuatan dan pemeliharaan (terutama pemeliharaan) daftar item data yang konsisten lintas waktu dan lintas unit kerja suatu organisasi besar (misalnya data pelanggan tertentu, produk individual tertentu, tiap-tiap komponen CoA, dll) akan lebih mudah dikelola dengan MDM. Contoh, sebagian data harus dikelola pada level sangat detil, sementara XBRL tidak mudah memastikan eliminasi duplikasinya. Perusahaan-perusahaan cenderung memilih pengelolaan struktur akun di GL yang mereka miliki sehingga pentotalan dan pengelompokan mengikuti suatu standard internal tertentu (contoh, metode spesifik untuk mengelola hirarki data pelanggan) atau standard eksternal tertentu (seperti level detil yang paling rendah pada laporan keuangan berbasis XBRL). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukuran perusahaan agaknya akan memiliki dampak terhadap pilihan antara XBRL dan MDM. Perusahaan kecil – mungkin yang memiliki kurang dari 10.000 pegawai dan pastinya yang memiliki kurang dari 2.500 pegawai – kemungkinan tidak memiliki sumber daya yang cukup atau tidak memiliki kebutuhan MDM. Perusahaan-perusahaan kecil tersebut kemungkinan memiliki lingkungan manajemen informasi yang lebih sederhana dan akan lebih fokus pada pengembangan sumber daya dan keahlian terkait XBRL untuk keperluan pelaporan internal, pelaporan eksternal, dan eksekusi proses. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penilaian&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;Ventana Research menilai semua perusahaan, terutama korporasi Global 2000, harus mulai mengembangkan kemampuan XBRL dan MDM di dalam unit kerja keuangan (&lt;em&gt;finance&lt;/em&gt;) dan TI-nya. Manajemen informasi merupakan satu persoalan dari persoalan-persoalan yang menekan organisasi / unit TI pada saat ini (2006 dan kemungkinan besar masih sampai hari ini – Y Pan). Kesulitan dalam pengelolaan konsistensi data intra- dan inter- unit kerja dan organisasi mendorong naiknya biaya, menyebabkan lambatnya pelaporan internal dan eksternal, dan menghambat penerapan proses bisnis yang lebih efektif dan efisien. Pada saat ini, keahlian XBRL dan MDM kelihatannya baru sebagai suatu yang &lt;em&gt;nice to have&lt;/em&gt;, tapi kami menduga adopsi XBRL dan MDM oleh perusahaan-perusahaan akan segera bertambah cepat, seiring dengan pemahaman yang lebih baik mengenai nilai bisnis sebenarnya dari kedua teknologi ini. Kami menyarankan perusahaan-perusahaan untuk segera memulai &lt;em&gt;pilot programs&lt;/em&gt; / &lt;em&gt;projects&lt;/em&gt; dengan sasaran yang moderat sekaligus cukup berarti bagi perusahaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat juga artikel terkait:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/09/master-data-management.html"&gt;Master Data Management&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/04/arsitektur-sistem-informasi-1.html"&gt;Arsitektur Sistem Informasi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-5662974928118920535?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/5662974928118920535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=5662974928118920535' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/5662974928118920535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/5662974928118920535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/11/xbrl-atau-mdm.html' title='XBRL atau MDM'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-349172797217370638</id><published>2009-11-22T11:14:00.002+07:00</published><updated>2009-11-22T11:28:55.056+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lebih personal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><title type='text'>Monster Kecil</title><content type='html'>Kupu-kupu adalah makhluk kecil yang indah. Warnanya sering memukau. Coraknya apa lagi. Ia laksana batik yang digoreskan oleh kebijaksanaan alam. Proses metamorfosalah yang paling bertanggung jawab melahirkan makhluk cantik dari seekor ulat yang buruk rupa. Hikmah apa yang mau diajarkan Allah pada kita? Banyak, tapi bukan itu yang mau kita bahas... Sebaliknya, tema kita adalah makhluk kecil yang cantik tiba-tiba dianggap sebagai monster paling berbahaya. Lho, di mana? Di film SpongeBob!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, Sandy Tupai kedatangan dua sahabatnya, SpongeBob dan Patrick Bintang Laut. Rupanya hari itu, dia membawa beberapa makhluk darat ke rumah kapsulnya di BikiniBottom. Salah satunya seekor ulat kecil. Setelah perkenalan, walaupun buruk rupa, si ulat terlihat lucu bagi SpongeBob dan Patrick. Karena itu, mereka berdua sama sekali tidak keberatan menjaga si ulat, selama Sandy pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeninggal Sandy, SpongeBob dan Patrict mengajak si ulat bermain. Asyik sekali. Malahan terlalu asyik, sehingga mereka berdua sepakat hari itu adalah hari terindah yang pernah mereka alami. Setibanya waktu malam, Sandy tak kunjung pulang, mau nggak mau SpongeBob dan teman gemuknya pulang meninggalkan si ulat di rumah kapsul Sandy. Di dalam botol selai sih. Pasti aman. Begitu pikir keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, pagi-pagi sekali SpongeBob dan Patrick pergi ke rumah Sandy untuk bermain lagi. Tak dinyana, si ulat sudah tidak ada lagi. Yang ada di dalam botol selai adalah seekor kupu-kupu cantik. Sayang mereka berdua tidak mengetahui proses metamorfosa yang terjadi dalam semalam. Sandy pun lupa menginformasikannya. Ketika si kupu-kupu kecil mengajak bermain seperti hari sebelumnya, baik SpongeBob maupun Patrick ketakutan setengah mati. Mungkin karena antenanya atau matanya atau entahlah. Mereka belum pernah melihat makhluk itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik dari kisah ini adalah teror yang dialami SpongeBob dan Patrick secara individual sebetulnya hanya permulaan dari kerusakan masif di BikiniBottom. Jika makhluk tak dikenal itu berada di botol selai tempat si ulat tidur malam sebelumnya, sementara si ulat sudah tidak ada, KESIMPULAN yang dapat diambil adalah makhluk aneh itu sudah membinasakan si ulat. Telah ketakutan sebelumnya, SpongeBob dan Patrick mengambil kesimpulan lanjutan bahwa kupu-kupu itu adalah monster.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, bukan perkara sulit buat SpongeBob dan Patrick untuk membuat seluruh isi BikiniBottom panik. Kemudian, kepanikan masal itu lebih mudah lagi menyebabkan kerusakan masif. Sebetulnya kerusakan itu dibuat sendiri oleh penduduk BikiniBottom. Si monster kecil hanya perlu menampakkan diri untuk men-trigger kepanikan di alam pikiran, kemudian di alam nyata, dan selanjutnya di alam kerusuhan dan kerusakan. Tidak seorang pun warga BikiniBottom berani melumpuhkan si monster kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Sandy kembali dari daratan ke BikiniBottom. Ia cemas melihat kerusakan BikiniBottom. Ia heran melihat semua orang lari tunggang langgang, menyebabkan kerusakan, dan kemudian ngumpet. Ketika ia melihat kupu-kupu cantik di dalam gelembung, betapa senangnya ia mengetahui ulatnya sudah mewujud menjadi makhluk cantik. Ia kemudian memasukkannya ke dalam botol selai untuk dibawa pulang ke rumah kapsul. Tercenganglah ia ketika seluruh warga menyambutnya bak pahlawan super...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kisah SpongeBob di atas tetaplah cerita anak-anak, tapi coba renungkan. Pernahkah kita mengalaminya? Karena ketidaktahuan, kita memproduksi phobia. Mulanya individual dan kecil, tapi kemudian membesar dan selanjutnya terkadang merusak. Pernahkah? Di rumah? Di komunitas? Di kantor? Atau bahkan di level negara dan dunia? Saya...... pernah! Makanya ketika nggak sengaja nonton cerita ini bersama anak-anak, saya terpingkal-pingkal sendiri, mentertawakan diri. Anak-anak nggak ngerti, sementara istri menegur seperti biasa: &amp;quot;Ayah, ayah. Anak-anak aja ga ketawa!&amp;quot;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-349172797217370638?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/349172797217370638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=349172797217370638' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/349172797217370638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/349172797217370638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/11/monster-kecil.html' title='Monster Kecil'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-6749582557395448991</id><published>2009-11-17T14:17:00.001+07:00</published><updated>2009-11-18T06:48:43.574+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><title type='text'>Qurban Memaknai Syukur</title><content type='html'>Asal kata syukur adalah syakaro. Kiasannya adalah rumput atau ternak yang tumbuh subur atau gemuk dengan air yang seadanya atau kondisi apa adanya. Di dalam surat al kautsar, digambarkan bahwa Allah memberikan ni&amp;#39;mat yang sedikit (a&amp;#39;to) di sisi Allah tetapi bagi manusia sangat banyak (kautsar). Untuk perbandingan saja, kautsar jauh lebih banyak dari kastiir yang artinya sudah sangat banyak lho.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud a&amp;#39;to (sedikit) di sisi Allah sebagaimana gambaran setetes air laut yang jatuh dari satu jari yang baru dicelup di lautan. Yang sedikit tersebut lebih sering diburu manusia di dunia, padahal ni&amp;#39;mat yang jauh lebih banyak adalah seluas dan sedalam lautan dibandingkan setetes airnya. Ni'mat seluas dan sedalam lautan itu diberikan Allah untuk penduduk surga. Maksud kautsar (hampir tak terbatas) memang banyak sekali hingga tak dapat dihitung, bahkan jika seluruh manusia bekerja sama menghitungnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan bahwa manusia terkaya, yaitu Nabi Sulaiman, suatu hari ingin menyediakan makanan untuk seluruh makhluk di bumi, untuk satu hari saja. Beliau mengerahkan seluruh pasukannya dari golongan manusia dan golongan lainnya untuk menghitung kebutuhan seluruh makhluk. Tibalah saatnya niatan beliau dilaksanakan. Ternyata masih ada ikan nun yang belum tersurvey. Satu kali buka mulut, ikan nun mengkonsumsi berton-ton makanan. Ikan itupun mengeluh kepada Allah, &amp;quot;Mengapa rizkiku hari ini sedikit banget?&amp;quot; Tersungkurlah Nabi Sulaiman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mensyukuri ni&amp;#39;mat Allah yang tak terhitung itu, di dalam surat al kautsar kita diperintahkan mendirikan shalat dan berqurban. Artinya menjaga hubungan vertikal dengan Allah dan hubungan horizontal dengan sesama. Karena disandingkan dengan shalat, qurban pasti memiliki arti yang luar biasa. Dengan makna luhur itu, qurban itu mesti dilakukan dengan cara terbaik. Hewan qurbannya pun harus yang terbaik, antara lain cukup umur dan sehat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat-syarat hewan qurban dan tatacara melaksanakan qurban itu sendiri diatur demikian lengkap sesuai dengan spiritnya. Misalnya seorang yang bermaksud berqurban dilarang memotong rambut dan kuku sejak hilal dzul-hijjah hingga qurban terlaksana. Selain itu, persiapan harus sangat matang. Tempat penyembelihan harus dibedakan dari tempat menguliti dan memotong-motong. Wow, indahnya, hewan qurban intinya harus disayang-sayang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu hadist, diberitakan Rasulullah mencela seseorang yang mengasah goloknya di depan hewan qurban. Kita harus berempati jangan sampai hewan qurban itu memiliki perasaan disembelih berkali-kali. Menyembelih hewan qurban di depan hewan qurban yang lain juga dilarang. Oh, bukannya hewan tidak berperasaan. Tidak! Hewan qurban itu punya perasaan juga yang harus dijaga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara filosofis, ibadah qurban sangat tinggi nilainya sebagaimana kita ketahui dari teladan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Wajar saja jika tatacaranya diatur demikian istimewa. Dibalik aturan fiqh yang demikian istimewa itu terdapat nilai luhur berqurban yang sesungguhnya. Kita harus senantiasa menghilangkan sifat-sifat rendah, seperti egois, rakus, nggak tahu diri, dan lain-lain. Demi apa? Ya... demi cinta kepada Allah yang Maha Tinggi. Nah, dalam pengertian ini, berqurban dapat dilakukan kapan saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasinya, kalau ada keinginan membeli mobil baru, sementara tetangga sedang sakit keras, dan di tangan ada uang 100 juta. Dengan spirit berqurban, keinginan mobil baru di-qurban-kan untuk memenuhi kebutuhan mengatasi sakit parah. Kan, pada orang-orang yang sakit, apalagi sakit parah, Allah 'menunggu' kita untuk menjenguk-Nya. Memang sih, masih banyak contoh-contoh lain yang bisa diceritakan, namun rasanya cukuplah bahasan ini sampai di sini. Kalau belum puas, silakan hubungi Ustadz Habiburrahman*.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;* Artikel ini diadaptasi dari materi pengajian warga di tempat kami hari ahad lalu yang disampaikan Ustadz Habiburahman. Beliau sedang menyusun disertasinya untuk gelar doktor di UIN.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-6749582557395448991?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/6749582557395448991/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=6749582557395448991' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/6749582557395448991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/6749582557395448991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/11/qurban-memaknai-syukur.html' title='Qurban Memaknai Syukur'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-1562119019363641898</id><published>2009-10-26T06:59:00.003+07:00</published><updated>2009-10-26T07:10:44.935+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sistem informasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><title type='text'>Komunikasi Lancar Informasi Benar</title><content type='html'>Segera setelah dilantik, Menkominfo yang baru menyampaikan kepada publik slogan "komunikasi lancar, informasi benar" yang diusung oleh beliau. Nggak banyak pejabat eksekutif, apalagi menteri, yang fasih berpantun, seperti yang satu ini. Karena kemahirannya berpantun itu, nggak heran kalau beliau cepat banget mengeluarkan slogan terkait kementerian yang dipimpinnya.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sih maksud beliau dengan komunikasi lancar? Kemudian informasi benar? Terlebih lagi komunikasi lancar, informasi benar? Apa maksudnya jika komunikasi lancar, maka informasi benar? Banyak pertanyaan yang dapat diajukan. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul justru menunjukkan keberhasilan awal dari slogan itu, yaitu &lt;em&gt;awareness&lt;/em&gt;. Nggak cukup di situ. Agar benar-benar berhasil, slogan itu (anggaplah ia sebagai visi) harus dijabarkan lebih lanjut melalui komunikasi misi, strategi, dan program-program kerja nyata yang konsisten. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering ada kritik agar substansi lebih dikedepankan daripada simbol. Bener sih, tapi dari pengalaman pribadi, saya menyimpulkan simbol dapat digunakan sebagai sarana komunikasi yang sangat efektif. Ambillah contoh rambu-rambu lalu lintas. Semuanya simbol. Anak-anak sering bertanya apa sih S yang dicoret, P yang dicoret, P aja, dan lain-lain. Nggak cukup sekali ngejelasinnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu simbol sudah terinternalisasi, wow betapa efektifnya dia. Bahkan tanda lampu yang menyala, sudah cukup membuat anjing Pavlov memproduksi liur, karena mengira makanan segera diberikan. Di kantor, terasa banget manfaat simbol dalam perkara komunikasi. Kami menggunakan jargon KISS (&lt;em&gt;keep it simple Sir&lt;/em&gt;, atau orang lain lebih senang menerjemahkannya &lt;em&gt;keep it simple stupid&lt;/em&gt;) dalam upaya perbaikan sistem-sistem informasi agar lebih efektif dan efisien. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memlesetkan KISS (yang juga berarti koordinasi-integrasi-sinergi-simplifikasi dalam strategi komunikasi massa yang saya pelajari dari Effendi Gazali di TV) menjadi KSS: koordinasi-sinergi-simplifikasi. Tujuan akhirnya tentu simplifikasi pada waktunya, setelah kondisi lebih kondusif sebagai hasil garapan strategi koordinasi dan sinergi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke slogan "komunikasi lancar, informasi benar" saya kira Menkominfo perlu mengerjakan PR agar simbol ini efektif. Strategi yang sempat dijelaskan di media massa akhirnya perlu dijabarkan menjadi program-program kerja nyata yang didukung kebijakan yang jelas dan dapat diterima publik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, &lt;em&gt;komunikasi lancar&lt;/em&gt; mensyaratkan upaya menghilangkan hambatan-hambatan komunikasi. Bila perlu, saluran-saluran baru mesti diciptakan. Program komputerisasi desa perlu dilanjutkan dan diperluas. Secara umum, untuk menekan biaya, para operator terkait harus didorong untuk bekerja sama dalam membangun dan menggunakan infrastruktur bersama. Biaya ICT yang makin murah dan terjangkau, apalagi lewat media &lt;em&gt;mobile&lt;/em&gt;, akan memastikan slogan &lt;em&gt;komunikasi lancar&lt;/em&gt; terwujud nyata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, &lt;em&gt;informasi benar&lt;/em&gt; mensyaratkan kesiapan kultur, di samping kesiapan regulasi. Pertanyaan mengenai siapa yang dapat mengklaim bahwa suatu informasi benar atau salah perlu disikapi dengan bijak. Nggak mesti dengan jawaban hitam putih. Pendekatan otoriter agaknya semakin sulit diterapkan, walaupun kita masih melihat praktiknya di negara tertentu. Saya pribadi menilai ada area yang perlu regulasi keras dan ada yang tidak perlu regulasi keras - tepatnya mungkin tidak bisa diregulasi sehingga nggak perlu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slogan &lt;em&gt;informasi benar&lt;/em&gt; ini memang lebih rumit dibandingkan &lt;em&gt;komunikasi lancar&lt;/em&gt;. Problem budaya lebih efektif didekati dengan edukasi. Ini nggak berarti hasilnya baru kelihatan setelah lama sekali. Kunci jawabannya ada pada program-program kerja edukasi yang sistematis di satu sisi dan agresif di sisi yang lain. Butuh dana? Iyalah, sama seperti solusi untuk slogan komunikasi lancar. Kata dosen saya dulu di Bandung (ungkapan rada sombong sih - Y Pan), seorang insinyur harus memecahkan masalah dengan sumber daya yang terbatas. Kalau menggunakan sumber daya nggak terbatas, nggak usah insinyur juga bisa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih terkait &lt;em&gt;informasi benar&lt;/em&gt;, di area yang harus diregulasi, pemerintah HARUS membuat aturan riil yang efektif. Edukasi bagus dalam hal ini, tapi nggak cukup. Ambillah contoh perusahaan yang telah &lt;em&gt;go public&lt;/em&gt;. Apa iya, pemerintah nggak ambil pusing jika perusahaan mengeluarkan informasi ke publik seenak-udelnya? Apa iya CEO-nya dibiarkan cuci tangan jika ternyata informasi itu terbukti salah? Untuk perusahaan-perusahaan yang risikonya tinggi, misalnya lembaga-lembaga keuangan, urgensi regulasi ini ikut tinggi juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lembaga publik, gimana? Perlu regulasi nggak? Tentu... Alasannya mirip dengan di atas. Intinya adalah lembaga-lembaga, baik publik maupun swasta, yang berurusan dengan kepentingan orang banyak harus dipastikan transparan dan akuntabel dalam mengeluarkan informasi ke publik. Masyarakat berhak mendapatkan yang terbaik! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat bertugas Pak Tif. Semoga Anda berhasil menebar sebanyak-banyak manfaat buat negeri tercinta di bidang tugas kementerian Anda, amin.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-1562119019363641898?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/1562119019363641898/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=1562119019363641898' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/1562119019363641898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/1562119019363641898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/10/komunikasi-lancar-informasi-benar.html' title='Komunikasi Lancar Informasi Benar'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-5629286501986445375</id><published>2009-10-12T17:29:00.004+07:00</published><updated>2009-10-12T20:50:05.739+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lebih personal'/><title type='text'>Masalah Air</title><content type='html'>Bangun sebelum subuh nggak mudah. Hanya orang tertentu saja yang mampu melakukannya secara konsisten. Pagi tadi, saya mulai terjaga jam 4.00. Wah bakal nggak sempat shalat malam nih. Begitu saya pikir. Masih ada niat. Sementara badan saya tetap ngajak tidur, sampai kedengaran adzan subuh. Pada saat yang sama, istri saya teriak dari kamar mandi, “Ayah ada masalah air lagi!” Masya Allah masalah air lagi. Spontan saya bangun dan ngecek pompa sedot, bak penampungan, dan pompa dorong.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/StMxCUSBhaI/AAAAAAAAAbc/5jtnY3F_OBw/s1600-h/12102009653.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/StMxCUSBhaI/AAAAAAAAAbc/5jtnY3F_OBw/s320/12102009653.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391707094766421410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua pompa masih hidup. Buru-buru saya matiin. Syukurlah. Kalau nggak, bisa-bisa mesti diservis lagi. Masalahnya pompa sedot air sumur sama sekali tidak menghisap air. Akibatnya penampungan di atas kosong karena mungkin dari kemarin sore air dipake terus. Di samping bocor tentu saja! Karena kami nggak pake bak mandi, terpaksa saya gunakan segalon air mineral Vit untuk memancing air dari sumur. Habis segalon, air nggak kehisap juga. Akhirnya buru-buru saya ke tempat Mbak Ika, buat shalat subuh terus minta air ledeng sebanyak empat galon untuk mancing lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sibuk deh pokoknya. Nggak berhasil lagi. Bahkan setelah coba mancing lagi dengan tambahan empat galon air. Anak-anak mulai panik dan diarahkan untuk mandi di rumah budenya. Alhamdulillah tinggal deket saudara banyak untungnya. Waktu sudah jam 6.30 dan anak-anak mulai berangkat sekolah, saya sadar jatah cuti harus kepake lagi untuk &lt;em&gt;emergency&lt;/em&gt; ini, huhuhu… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menenangkan diri dan mengelap keringat yang bercucuran, saya mulai memutar akal. Pertama, saya telepon Pak Wawan, tukang pompa yang memasang bak penampungan kami dan pernah membantu menyelesaikan masalah pompa dorong kami. Karena baik nggak ketulungan, Pak Wawan memberikan konsultasi yang sangat berharga. Kemungkinan kelep di dalam sumur nggak berfungsi. Begitu penjelasannya. Rupanya kesimpulan itu diambilnya dari keterangan saya yang nggak penuh-penuh ngisi air pancingan. Dua kali empat galon. Lagi! Eh, ditambah air Vit di awal jadi total sembilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Wawan juga berjanji akan mengupayakan temannya di “toko” untuk datang. Setelah agak tenang, saya baru telepon ke kantor. Lewat Mas Tony, saya minta izin. Saya juga menitipkan beberapa agenda pekerjaan hari ini. Sebelumnya, waktu nelpon Pak Mika, Koordinator Tim kami, beliau nggak ngangkat. Siangan dikit, Pak Mika nelpon ke saya dan saya minta maaf karena memutuskan nggak masuk padahal sudah banyak agenda dengan beliau. Ya iya lah, ini kan menyangkut hajat hidup orang banyak. Begitu komentar Emma, teman di facebook. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian mandi di rumah ayahanda tercinta. “Wah, ada kelemahannya juga ya,” komentar beliau mengenai sistem “pengairan” di rumah kami. Diskusi merembet ke alternatif pake air PAM. Di BSD sih bagus, tapi harganya itu loh. Diskusi juga merembet ke wilayah pribadi. Kelihatannya semua baik-baik saja, kecuali masalah air kami. Setelah itu, istri saya giliran mandi di tempat Mbak Ika. Teteh yang biasa nyuci nggak bisa nyuci dan bantuin beres-beres aja. Terus dia minta ijin pulang. Lalu kami sarapan soto mie di Pasar Modern BSD. Lumayan… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nungguin Pak Wawan lama juga. Beberapa kali saya telepon. Rupanya lagi pada sibuk. Jam 12 seperti yang dikatakannya lewat begitu saja. Akhirnya setengah satu, saya telepon lagi. Juga ke toko tempat ia bekerja. Ternyata tukang pompa dan sumur di toko Pak Joni lagi sibuk ke pelanggan yang lain. Saya memutuskan untuk cari alternatif lain. Kebetulan, alhamdulillah, sehari sebelumnya ada brosur iklan di pagar dari Mulya Technical Service, melayani berbagai servis, seperti kulkas, AC, pompa, dll, dll. Kata orang bijak sih nggak ada yang kebetulan. Mungkin sudah saatnya saya kenalan dengan Pak Mulya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pembicaraan telepon Pak Mul memberikan analisa yang sama dengan Pak Wawan. Ia berjanji datang jam 1.30 siang. Segera bekerja. Ia periksa pompa sedot dan coba memancing. Ah, ternyata memang mesti dibongkar. “Di mana titiknya, Pak?” tanyanya. Saya tunjukkan satu titik di antara pintu dapur dan pintu gudang. Titik itu sudah saya tanyakan informasinya pagi tadi ke Pak Rifky, arsitek rumah kami, dan juga Pak Gimin, tukang besi pembangunan rumah kami. Sebetulnya yang paling tahu adalah Pak Oman, mandor tukang dulu, tapi beliau udah pulang ke Bandung dan belum balik lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak, keramiknya mesti dihancurin,” katanya. Apa boleh buat. Dengan mantap, saya minta beliau mulai bekerja. Setelah dua biji keramik dihancurin, pipa mulai diangkat keluar. Kurang lebih dua puluh meter ke bawah. Bisa dibayangin kalau saya yang ngerjain sendiri. Mungkin seminggu gak kelar-kelar. Belum tentu berhasil lagi. Di tangan profesional yang berpengalaman, pekerjaan selesai efektif dan efisien. Wah, kalau pekerja dan pejabat di sektor publik dan privat semuanya kayak Pak Mul, betapa hebatnya negeri ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saatnya mencoba hasil kerja Pak Mul. Mudah-mudahan beres… &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-5629286501986445375?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/5629286501986445375/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=5629286501986445375' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/5629286501986445375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/5629286501986445375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/10/masalah-air.html' title='Masalah Air'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/StMxCUSBhaI/AAAAAAAAAbc/5jtnY3F_OBw/s72-c/12102009653.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-6123727781676568054</id><published>2009-09-28T09:13:00.002+07:00</published><updated>2009-09-28T09:27:47.020+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lebih personal'/><title type='text'>Umang-umang</title><content type='html'>Seneng deh punya binatang piaraan. Tergantung keuangan dan budaya masing-masing, biasanya orang seneng ikan, kucing, anjing, kelinci, dan burung. Jenis lainnya masih banyak, tapi nggak sepopuler ikan dkk. Kami di rumah punya kucing. Yang dulu namanya Cingi, masih sering dikenang, walaupun sudah nggak ada. Baca deh ceritanya di artikel &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/01/kucing-kami.html" target="_new"&gt;Kucing Kami&lt;/a&gt;. Penggantinya Cing-cing, kucing betina mirip dengan Cingi. Mungkin emak si Cingi. Selain Cing-cing, kami juga punya beberapa umang-umang. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahu &lt;a href="http://ms.wikipedia.org/wiki/Umang-umang" target="_new"&gt;umang-umang&lt;/a&gt; nggak? Pak Bahari temen kantor yang orang Jawa Barat menamakannya kumang. Ada juga yang menamakannya klomang. Bahasa Inggris untuk hewan ini adalah &lt;em&gt;hermit crab&lt;/em&gt;. Awalnya waktu pindahan dari Bekasi ke BSD, saya suatu hari ke ITC bersama anak-anak. Terus lewat di lapak-lapak penjual tanaman dan hewan peliharaan. Umang-umang langsung mengingatkan masa kecilku dulu. Bedanya, yang di ITC, cangkangnya dihias dan dicat biar menarik. Katanya ngambilnya di Papua. Ukurannya bermacam, dari yang kecil, sedang, sampai yang besar. Hiasan cangkangnya juga sangat bervariasi. Umang-umangnya sendiri ada yang berwarna merah (strowberi), hitam, abu-abu, dan yang paling unik ungu. Sekalian yang ungu itu paling mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali beli tiga ekor jenis strowberi. Anak-anak menamakannya Petir, Bola, dan Pohon, sesuai corak hiasan cengkerangnya. Karena belum tahu cara miaranya, akhirnya si Petir dan si Bola mati. Terus saya beli lagi dua ekor jenis strowberi. Anak-anak nggak beri nama, tapi warnanya pink dan biru. Terus yang biru dan si Pohon mati. Setelah itu, saya beli beberapa lagi, sehingga sekarang jumlahnya sembilan. Waktu beli, saya nanya kenapa mudah mati. Katanya umang-umang nggak tahan panas, padahal makannya gampang. Pepaya, semangka, melon, nanas, kotoran kucing (ups maaf), semut, rumputan, dan daun-daunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umang-umang suka masuk ke dalam pasir. Pernah si Pohon dan yang warnanya pink hilang lama, tapi tiba-tiba muncul. Waktu itu nggak sadar kalau mereka masuk ke pasir. Mungkin dia masuk ke pasir karena kepanasan. Sekarang saya selalu sempatkan menyiram bak pasir kami supaya pasir tetap lembab dan nggak terlalu panas di siang hari. Umang-umang juga suka memanjat dan bersosialisasi. Makanya kalau miara umang-umang, jangan cuma satu. Bisa stres dia. Satu lagi yang unik, yaitu mengenai rumahnya. Rumah umang-umang sebenarnya dari hewan lain. Baru-baru ini kami mendapati satu umang-umang kecil kami pindah rumah ke cangkang yang lebih gede (rumah si Pohon yang sudah mati).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa fotonya. Lucu kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Berlindung di balik pot...&lt;/em&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SrN4q1JDhII/AAAAAAAAAbU/Vegar1kCsxA/s1600-h/18092009629.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382778656852771970" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SrN4q1JDhII/AAAAAAAAAbU/Vegar1kCsxA/s320/18092009629.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah sembunyi di dalam pasir, koq masih ketahuan juga sih...&lt;/em&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SrN4qVtQf_I/AAAAAAAAAbM/nLM8sRruR7U/s1600-h/18092009627.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382778648414683122" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SrN4qVtQf_I/AAAAAAAAAbM/nLM8sRruR7U/s320/18092009627.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Menjelajah dulu ah...&lt;/em&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SrN27MDtFhI/AAAAAAAAAbE/hn0MtnBs_GQ/s1600-h/17092009625.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382776738858997266" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SrN27MDtFhI/AAAAAAAAAbE/hn0MtnBs_GQ/s320/17092009625.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Asyik tinggi...&lt;/em&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SrN2DQcVYbI/AAAAAAAAAa8/3MOst7hA-HE/s1600-h/17092009621.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382775777963368882" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SrN2DQcVYbI/AAAAAAAAAa8/3MOst7hA-HE/s320/17092009621.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Asyik juga...&lt;/em&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SrNlboRIwoI/AAAAAAAAAa0/H4h621s-nkI/s1600-h/17092009619.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382757504978043522" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SrNlboRIwoI/AAAAAAAAAa0/H4h621s-nkI/s320/17092009619.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca juga artikel berikut:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/1785144-tips-singkat-memelihara-umang-umang/"&gt;http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/1785144-tips-singkat-memelihara-umang-umang/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-6123727781676568054?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/6123727781676568054/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=6123727781676568054' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/6123727781676568054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/6123727781676568054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/09/umang-umang.html' title='Umang-umang'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SrN4q1JDhII/AAAAAAAAAbU/Vegar1kCsxA/s72-c/18092009629.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-2023985024470202962</id><published>2009-09-20T20:09:00.000+07:00</published><updated>2009-09-20T20:09:00.480+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lebih personal'/><title type='text'>Selamat Iedul Fitri 1430H</title><content type='html'>&lt;em&gt;TaqobbalalLahu minna wa minkum&lt;br /&gt;Taqobbal ya Karim&lt;br /&gt;Kullu am wa antum bikhoirin&lt;br /&gt;Minal aidin wal faizin&lt;br /&gt;Ied mubarok&lt;br /&gt;Selamat iedul fitri&lt;br /&gt;Mohon maaf lahir dan batin&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-2023985024470202962?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/2023985024470202962/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=2023985024470202962' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/2023985024470202962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/2023985024470202962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/09/selamat-iedul-fitri-1430h.html' title='Selamat Iedul Fitri 1430H'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-4819934430140582051</id><published>2009-09-17T06:58:00.002+07:00</published><updated>2009-09-17T07:02:37.805+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><title type='text'>HDE - Sindiran atau Renungan</title><content type='html'>Di penghujung Ramadhan, merenungi lagi catatan dari sahabat Julian di bawah ini, yang saya ambil bulet-bulet dari note di akun facebook-nya (sesudah dapet izin tentunya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pernahkah kamu merasa ragu terhadap nilai-nilai yang saat ini kamu pegang? Pernahkah kamu berpikir tidak ada gunanya lagi mempertahankan nilai-nilai tersebut karena kamu lihat setiap orang malah melakukan sebaliknya? Hati-hati, mungkin kamu terkena Harvey Dent Effect (HDE).&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah kamu merasa ragu terhadap nilai-nilai yang saat ini kamu pegang? Pernahkah kamu berpikir tidak ada gunanya lagi mempertahankan nilai-nilai tersebut karena kamu lihat setiap orang malah melakukan sebaliknya? Hati-hati, mungkin kamu terkena Harvey Dent Effect (HDE). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin malam aku diskusi dengan Husni, teman dekatku di Asrama Salman, tentang hal ini. Istilah HDE sendiri aku tahu dari Husni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harvey Dent adalah tokoh protagonis dalam salah satu kisah Batman, yang kemudian menjadi penjahat bernama Two Face gara-gara dihasut oleh Joker. Kisah ini bisa dilihat di film The Dark Knight. Joker memang berniat sekali melakukan hal ini karena punya satu tujuan: membuat orang tidak percaya lagi pada penegakan hukum di Gotham City. Joker bukan hanya ingin menebarkan kejahatan di Gotham City. Ia menginginkan lebih. Ia ingin setiap orang tidak percaya lagi akan adanya kebenaran. Dasar orang gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harvey Dent adalah orang yang sangat terkenal di Gotham City. Sebagai seorang jaksa yang berkali-kali menjebloskan para penjahat ke penjara, ia bisa disebut sebagai ikon perlawanan terhadap kriminalitas di Gotham City. Apa jadinya kalau orang seperti Harvey Dent malah melakukan kejahatan yang dikutuk oleh publik? Orang-orang baik akan kecewa dan putus asa. Inilah target Joker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya Joker hampir berhasil, namun akhirnya digagalkan oleh Batman. Batman bersedia menanggung semua kesalahan Harvey Dent, sehingga nama Harvey Dent tetap dikenang sebagai pahlawan, sementara dirinya dianggap sebagai penjahat. Kepercayaan penduduk Gotham City terhadap para penegak hukum pun terselamatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What is the moral of this story?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita mulai dengan mengambil contoh dari kehidupan kita sehari-hari. Apa yang kamu pikirkan kalau kamu melihat hal-hal seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. juara kelas di kampus kamu ketahuan mencontek,&lt;br /&gt;2. boss kamu bolos, atau&lt;br /&gt;3. dosen kamu merokok :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu pasti sangat kecewa. Mungkin marah. Bagaimana kalau hal ini terjadi pada lingkup yang lebih luas? Kota, misalnya, seperti kisah Harvey Dent. Atau bahkan negara. Kita bisa kehilangan figur yang kita teladani dan kehilangan arah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun kamu menganggap diri kamu cuma orang biasa, bukan berarti kamu terhindar sepenuhnya dari kemungkinan menjangkiti orang-orang terdekat kamu dengan HDE, lho, khususnya pada orang-orang yang menjadikan dirimu sebagai teladan. Mungkin adikmu, adik kelasmu, atau orang yang kamu pimpin dalam lingkup sekecil apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mmm...kuncinya adalah sadar akan peran sosial yang sedang kamu mainkan. Tidak semudah seperti mengatakannya, sih. Tapi selalu mungkin :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, what to do know?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just be yourself. Keep your value and trust yourself. At least there will be someone who keep your value. You.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That's all from me and I would be very thankful if you add another things to do after reading this note :)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-4819934430140582051?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/4819934430140582051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=4819934430140582051' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/4819934430140582051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/4819934430140582051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/09/di-penghujung-ramadhan-merenungi-lagi.html' title='HDE - Sindiran atau Renungan'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-5972678263721973742</id><published>2009-09-16T16:22:00.001+07:00</published><updated>2009-09-16T16:22:00.147+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sistem informasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><title type='text'>Master Data Management</title><content type='html'>Pengetahuan sangat menentukan bagi keberhasilan suatu organisasi, profit maupun nonprofit. Pengetahuan bahkan boleh jadi merupakan sumber daya yang lebih menentukan daripada sumber daya lain, termasuk kapital. Contoh: negara maju tidak selalu kaya sumber daya alam, sebaliknya negara yang kaya sumber daya alam banyak yang masih berkembang. Pengetahuan eksplisit yang bisa disebarkan melalui berbagai media disebut informasi yang di bawahnya didukung oleh data. Sederhananya, kualitas data dan informasi menentukan kualitas pengetahuan dan akhirnya kualitas organisasi.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu permasalahan yang dihadapi banyak organisasi adalah data dikelola sendiri-sendiri oleh berbagai unit fungsional dan struktural di dalam suatu organisasi. Pengelolaan yang bersifat &lt;em&gt;enterprise-wide&lt;/em&gt; belum menjadi praktik yang matang. Ini dapat menyebabkan perusahaan tidak memiliki data yang akurat mengenai pelanggan, produk, dan akunnya, di samping data lain. Contoh: seorang pelanggan berhubungan dengan berbagai divisi penjualan suatu perusahaan. Pada unit A, misalnya dia direkam sebagai Muhammad Arif, Jl Abdul Muis, Gang Masjid I, RT 01/01, No 389, Jakarta. Pada unit penjualan B, misalnya dia direkam sebagai M. Arief, Jl Abd Muis, Gg Masjid I, RT 01/01, No 389. Umpamakan ybs merupakan pelanggan rutin dengan pembelian cukup besar. Karena dianggap sebagai orang yang berbeda, perlakuan terhadap ybs bisa jadi tidak semestinya, yang menyebabkan penjualan ke ybs tidak optimal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kasus dunia perbankan, contoh Informasi Debitur sepertinya cukup mengena. Karena satu orang debitur dapat direkam di dalam sistem sebagai orang-orang yang berbeda, perlakuan terhadap ybs boleh jadi tidak tepat. Ketika masalah ini serius di skala mikro dan masif di skala makro, risiko bagi organisasi atau perusahaan boleh jadi sangat tinggi. Oleh karena itu, inisiatif kualitas data / informasi sudah menjadi perhatian perusahaan-perusahaan di Amerika dan di dunia dalam beberapa tahun terakhir, akan tetapi hasil inisiatif tersebut kelihatannya masih belum maksimal karena problem utama berupa pengelolaan (&lt;em&gt;governance&lt;/em&gt;) master data yang bersifat silo, tidak terintegrasi dengan baik secara &lt;em&gt;enterprise-wide&lt;/em&gt;, bahkan di Amerika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran umum ke depan adalah aspek teknis Master Data Management (MDM) tidak dapat dipisahkan dari aspek &lt;em&gt;governance&lt;/em&gt; yang meliputi kebijakan, &lt;em&gt;leadership&lt;/em&gt;, proses, dan budaya. Salah satu tantangan pada aspek budaya adalah bagaimana melakukan &lt;em&gt;paradigm shift from data ownership to data stewardship&lt;/em&gt;. Artinya personil yang menangani data dan informasi akan memberikan nilai yang jauh lebih besar ketika orientasinya tidak pada memiliki data dan informasi yang dikelolanya tetapi lebih pada melayani &lt;em&gt;stakeholder&lt;/em&gt; dalam rangka memberikan kualitas data dan informasi terbaik. Tentu dengan catatan data dan informasi hanya diberikan kepada &lt;em&gt;stakeholder&lt;/em&gt; yang berhak mendapat akses. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa prediksi ke depan terkait perkembangan MDM adalah sebagai berikut. Pertama, &lt;em&gt;data governance&lt;/em&gt; akan menjadi kewajiban regulatoris di beberapa negara. Oleh karena itu, kemampuan organisasi dalam &lt;em&gt;data governance&lt;/em&gt; akan menjadi obyek audit, dan ini terjadi terlebih pada lembaga-lembaga keuangan yang secara natural memiliki risiko yang tinggi (contoh: kasus Madoff). Kemampuan perusahaan dalam mengelola data &lt;em&gt;stakeholder&lt;/em&gt; dan data akun yang berkualitas tinggi dapat mengurangi risiko terjadinya kasus seperti itu. Kedua, data akan diperlakukan sebagai aset di neraca perusahan sebagai &lt;em&gt;intagible&lt;/em&gt;. Semakin tinggi kualitas data, semakin tinggi nilainya sebagai aset di neraca. Ketiga, kalkulasi risiko akan lebih banyak diotomasi. Keempat, peranan CIO akan lebih banyak pada akuntabilitas terhadap kualitas data dan informasi. Kelima, personil akan mempunyai tanggung jawab yang lebih banyak dalam proses &lt;em&gt;governance&lt;/em&gt; yang bersifat &lt;em&gt;enterprise&lt;/em&gt;. Kurang lebih demikianlah prediksi IBM. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait penerapan MDM di organisasi-organisasi, tingkat kematangannya berbeda-beda. Menurut MDM Institute, pada tingkatan awal (&lt;em&gt;anarchy&lt;/em&gt; / &lt;em&gt;basic&lt;/em&gt;), master data dikelola mengikuti aplikasi tertentu sesuai proyek-proyeknya masing-masing. Pada tingkatan kedua (&lt;em&gt;feudalism&lt;/em&gt; / &lt;em&gt;foundational&lt;/em&gt;), master data dikelola mengikuti standard dan metode tertentu serta menggunakan perangkat dan prosedur yang bersifat lintas proyek dan aplikasi. Pada tingkatan ketiga (&lt;em&gt;monarchy&lt;/em&gt; / &lt;em&gt;advanced&lt;/em&gt;), pengelolaan master data di-&lt;em&gt;drive&lt;/em&gt; oleh bisnis sementara data dan metadata di-&lt;em&gt;share&lt;/em&gt; bersama lintas sumber. Tingkatan terakhir (&lt;em&gt;federalism&lt;/em&gt; / &lt;em&gt;distinctive&lt;/em&gt;), master data dikelola secara moduler mengikuti aturan &lt;em&gt;compliance&lt;/em&gt; tertentu dengan &lt;em&gt;roles&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;responsibilities&lt;/em&gt; yang jelas secara &lt;em&gt;organization-wide&lt;/em&gt;. Model tingkat kematangan alternatif mengikuti model SMM Carnegie-Mellon (&lt;em&gt;Initial&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Managed&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Defined&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Quantitatively Managed&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Optimized&lt;/em&gt;), tetapi intinya sama dan tantangannya adalah bagaimana mengoptimalkan pengelolaan master data ke tingkat terbaik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika suatu organisasi ingin meningkatkan pengelolaan MDM-nya, faktor yang menentukan selain isu-isu &lt;em&gt;governance&lt;/em&gt; di atas adalah kualitas konsultan yang direkrut. Pertama, konsultan tersebut harus memiliki metodologi &lt;em&gt;data governance&lt;/em&gt;. Kemudian, ia harus memiliki model data yang sesuai dengan industri atau organisasi. Selanjutnya, konsultan ybs harus memiliki pengalaman SOA (&lt;em&gt;service-oriented architecture&lt;/em&gt;). Terakhir, yang tidak kalah pentingnya, pengalaman konsultan ybs menggunakan produk MDM yang ada di pasar dan pengalaman mengerjakan proyek MDM itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi teknis infrastruktur, produk MDM yang tersedia di pasar sangat beragam. Pada satu ekstrem, solusi registri banyak diminati karena lebih mudah diimplementasikan dengan tingkat resistensi yang lebih rendah. Pada ekstrem yang lain, solusi operasional atau transaksional merupakan solusi paling ideal, walaupun lebih sulit diterapkan. Di antara keduanya, ada solusi-solusi kombinasi yang boleh jadi cocok untuk kasus-kasus tertentu. Di antara solusi-solusi yang baik, masih terdapat rentang antara solusi miopik dan jangka panjang. Pada solusi miopik, master data yang dikelola masih bersifat sangat spesifik entitas tertentu saja, misalnya pelanggan saja atau produk saja atau akun saja. Pada solusi jangka panjang, master data yang dikelola sudah bersifat multi-entitas dan multi-domain, mencakup pelanggan, produk, akun, dan lain-lain (mencakup hampir semua parti). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, MDM akan menjadi salah satu penentu kualitas data dan informasi di suatu lembaga. Keberhasilan penerapan MDM tergantung sekali pada faktor &lt;em&gt;leadership&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;governance&lt;/em&gt;, di samping faktor pengalaman konsultan dan produk MDM yang dipilih. Nah, jika MDM telah berjalan baik di suatu perusahaan atau lembaga, dapat dikatakan perusahaan atau lembaga tersebut telah memiliki perangkat yang efektif untuk memastikan kualitas data dan informasi yang menjadi asetnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat artikel terkait:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/04/arsitektur-sistem-informasi-1.html"&gt;Arsitektur Sistem Informasi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-5972678263721973742?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/5972678263721973742/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=5972678263721973742' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/5972678263721973742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/5972678263721973742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/09/master-data-management.html' title='Master Data Management'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-8369715095575663325</id><published>2009-09-07T16:15:00.001+07:00</published><updated>2009-09-07T16:15:00.344+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><title type='text'>Cerita Jenaka</title><content type='html'>1. Suatu ketika terjadi kecelakaan di jalan. Kelihatannya jatuh korban. Serius! Masyarakat sekitar mulai berkerumun untuk melihat. Seorang wartawan datang. Dengan sedikit tipu muslihat, dia berhasil menerobos kerumunan. Caranya? Dia mengaku bapak korban. Spontan massa memberi jalan. Sesampainya di depan korban, pucat pasilah dia. &lt;span class="fullpost"&gt;Korban ternyata seekor anak monyet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Masyarakat mengidap penyakit. Lho penyakit apa? Penyakit daun kering! Wah, jenis penyakit apa itu? Mudah dikumpulkan, sulit diikat, berisik, dan mudah dibakar! O-o. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Seorang pemuda mengendarai motor tengah malam. Di perempatan, lampu merah menunggu. Kadung! Ia terobos aja, sementara polisi bersiap menyetopnya. SIM? Ada Pak! STNK? Ada Pak! Lalu kenapa Saudara melanggar lampu merah? Maaf Pak, saya nggak tahu ada Bapak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Negara ibarat kapal besar. Salah satu penumpang ngebolongi kapal. Nggak tahu deh kenapa. Mungkin itu jalan singkat mendapatkan air. Harusnya penumpang yang lain mencegahnya. Kebetulan temennya lewat deket situ, lalu bertanya. Kamu lagi ngebolongi kapal ya? Iya! Kayaknya saya bisa ikutan nih. Begitulah negara ini... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pulang umumnya menyenangkan. Habis jalan-jalan, capek, kemudian pulang. Senang! Setelah bekerja setengah mati, kemudian pulang ke rumah. Senang! Masyarakat juga punya tradisi mudik lebaran. Senang! Tapi waktu ditanya senang nggak pulang ke Rahmatullah, biasanya kita nggak langsung jawab. Takut kecepetan! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah beberapa cerita jenaka yang disampaikan KH Zainuddin MZ di masjid kantor dalam rangka peringatan Nuzulul Qur'an hari ini. Setelah sekian lama nggak muncul di mimbar masjid kami, mungkin karena kesibukannya di dunia politik, kehadiran beliau disambut cukup hangat. Ustadz-ustadz kondang lain yang diundang belakangan ini di antaranya KH Abdullah Gymnastiar (sayang waktu itu pas saya keluar kota) dan KH Anwar Sanusi. Wah, &lt;em&gt;charging&lt;/em&gt;-nya lumayan alhamdulillah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balik ke KH Zainuddin MZ, kesan saya gaya &lt;em&gt;entertaining&lt;/em&gt; beliau belum berubah. Memang ada risiko pesan komprehensif da'wah malah nggak nyampe. Bahkan walau kerangka utuh khotbahnya cukup kuat, tetep nggak lengket karena ada risiko guyonan justru lebih atraktif buat audiens. Bagi saya ceramah tadi cukup mengena. Mudah-mudahan audiens yang lain kena juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir ceramah kiai sejuta umat ini, memasukkan pesan utama pentingnya keyakinan dan orientasi akhirat. Dengan teratasinya KUMAN (kurang iman), penyakit bangsa berupa KUDIS (kurang disiplin), KURAP (kurang rapi), dan KUTIL (kurang teliti) insya Allah akan teratasi. Nah, sebagai perantau di dunia ini, niscaya kita akan pulang. Selama merantau, kita ambil yang perlu dan kita nikmati yang boleh. Nggak berlebihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita-cerita itu? Ya, fungsinya memang sebagai pelumas ceramah, biar lebih &lt;em&gt;smooth&lt;/em&gt;. Hanya itu? Nggak! Lebih dari itu, banyak hikmah yang dapat dicerna melalui simbol dan perumpamaan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-8369715095575663325?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/8369715095575663325/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=8369715095575663325' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/8369715095575663325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/8369715095575663325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/09/cerita-jenaka.html' title='Cerita Jenaka'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-3490762109316585764</id><published>2009-09-04T08:15:00.003+07:00</published><updated>2009-09-04T08:22:28.949+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><title type='text'>KD dan AA'</title><content type='html'>Kemarin kita menyaksikan fenomena alam yang cukup menegangkan. Ketika dua lempeng bumi beradu di kedalaman bumi, goncangannya beberapa saat terasa di permukaan. Kita yang mengalaminya, terutama yang sedang berada di struktur rentan gempa seperti gedung-gedung tinggi, berlarian bak anai-anai panik berusaha menyelamatkan diri. Memang ada kejadian alam yang lebih mengerikan, tapi gempa kemarin itu sudah cukup membuat kita pucat pasi. Sendirinya begitu, saya kemudian menelepon ke rumah di kawasan Serpong dan mendengarkan kecemasan yang sama saat-saat goncangan. Bisa sangat tragis, seperti gempa besar di San Francisco dan tsunami di Aceh, kejadian alam kemarin sepertinya masih jauh lebih kecil ukurannya dalam Skala Richter dibandingkan gempa sosial dalam keluarga KD dan Anang. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho, koq? Iya lah, dibandingkan liputan gempa yang berpusat di Tasik, liputan peristiwa tragis dalam keluarga KD dan Anang dijamin lebih banyak. Memang problem keluarga itu sebelumnya pernah terdengar di permukaan publik, namun dasar saya jarang mengikuti berita selibritis, saya nggak pernah serius mengikutinya. Sampai Selasa pagi yang lalu. Beberapa koran dan tabloid yang dijajakan di Stasiun Rawabuntu menebar headline kata CERAI dengan huruf-huruf besar dan warna merah mencolok. Layar TV dan ruang dengar kita pun dijejali beribu kata CERAI yang dikelilingi kata-kata bernuansa ketidaksetiaan di sana sini. Oh, memang kebanyakan (atau semua – mungkin lebih tepatnya) kita nggak pernah tahu kejadian yang sebenarnya. Untuk mendapatkan ”kebenaran” yang dapat diterima, kita masih perlu waktu. Kebenaran sejati hanya dapat diketahui di Hari Pembalasan tentunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melayangkan ingatan ke paras mukanya yang hampir selalu senyum di layar kaca, saya terenyuh menghadapi kenyataan mengenai Aa’ Gym dan gempa sosial yang menimpa keluarganya, yang hingga sekarang masih terasa goncangannya di masyarakat luas. Terus terang saya termasuk penggemar beliau. Ketika ia berusaha keras menjelaskan &lt;em&gt;what’s going on with his family&lt;/em&gt;, saya nggak terlalu ambil pusing juga. Mungkin banyak ibu-ibu penggemar beliau pernah terlanjur memendam persepsi kalau ia tidak akan melakukan poligami berdasarkan ceramah-ceramah sebelumnya. Bagi saya, selama yang dilakukannya tidak bertentangan dengan hukum agama dan negara, pendapat umum OK-lah dianggap sebagai &lt;em&gt;feedback&lt;/em&gt;. Sayang, seribu kali! Ia mesti berhadapan langsung dengan hukuman sosial yang level dan intensitasnya mungkin kurang layak. Sampai-sampai seluruh stasiun TV melakukan boikot terhadapnya, dengan atau tanpa instruksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalau kita bandingkan tiga peristiwa ini, apa sih pelajaran yang bisa kita petik. Pertama, kayaknya gempa sosial bisa lebih dahsyat efeknya dibandingkan gempa bumi. Korban gempa sosial, walaupun nggak langsung berdarah-darah, bisa lebih banyak. Pelan-pelan tapi serius. Dalam jangka panjang, mungkin bisa juga berdarah-darah. Untuk kasus tertentu sampai ke perang saudara. Kembali ke tiga kasus tadi, minimal para pedagang yang biasa mangkal di DT terpaksa beroperasi di tempat lain, dengan penjualan yang seret. Betapa banyak pegawai yang mencangkul di lingkaran DT terpaksa diistirahatkan? Memang... di setiap kesulitan ada kemudahan. Misalnya, ketika tsunami kecil terjadi di Situ Gintung, banyak pihak justru kegiatan ekonominya berputar lebih kenceng. Contoh lain, lengsernya Aa’ dari layar kaca memberi kesempatan kepada da’i-da’i baru untuk muncul. Lainnya, perang di Iraq dan Afghanistan memberikan demikian banyak lapangan kerja di negeri Paman Sam. Dst. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus apa lagi pelajarannya? Ini ni yang mungkin lebih menarik... Hukuman sosial tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kesalahannnya. Kalau Aa’ Gym melakukan poligami, ”dihukum berat” oleh masyarakat, akankah kita mendapati KD ”dihukum lebih berat” oleh masyarakat karena adanya pria lain ketika Anang masih menjadi suaminya yang sah? Misalnya, akankah kita melihat boikot dilakukan oleh media masa, elektronik maupun cetak, terhadapnya? Akankah seseorang di atas sana mengistruksikan media untuk melakukan boikot? Akankah para EO menghindari KD? Akankah ...? Masih banyak lagi deh deretan pertanyaannya. Bisa-bisa kalau diteruskan, sampe kelupaan gempa Tasik sudah makan korban nyawa lima puluhan!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-3490762109316585764?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/3490762109316585764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=3490762109316585764' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/3490762109316585764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/3490762109316585764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/09/kd-dan-aa.html' title='KD dan AA&apos;'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-2421834218401900763</id><published>2009-08-25T21:43:00.002+07:00</published><updated>2009-08-25T21:56:56.768+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lebih personal'/><title type='text'>Kenangan Lama</title><content type='html'>Setiap orang punya kenangan. Kalau nggak, mungkin dia sedang sakit. Amnesia. Kenangan kita tentu berbeda-beda. Ada yang didominasi kenangan manis. Tidak sedikit yang sebaliknya. Nah, kalau ditanya apa kenangan termanis Anda, banyak yang akan menjawab ibu. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari saya sendirian kedinginan di balik selimut. Walaupun matahari sudah tinggi, udara dingin menusuk tetap nggak mau pergi. Sebenarnya di luar sana begitu banyak kesibukan kota. Ada yang belajar. Ada yang jualan. Ada yang bersenang-senang. Ada juga yang cuma menghabiskan waktu yang membeku, sambil menunggu belas kasih sesama. Karena sudah bosan keliling-keliling di tengah kebisingan, saya mencoba menghangatkan diri di kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau sudah mencoba berdzikir terus, mata nggak menemukan juga tempat istirahatnya. Biasanya saya akan teruskan saja berdzikir dengan harapan besar menemukan ketenangan dan kasih sayang-Nya. Tiba-tiba keadaan berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh sekali. Perasaan nggak aman mencekam kesadaran. Was-was akan jatuh dari tepi jurang. Was-was terhadap ancaman ular besar yang menyelinap ke kamar. Situasi benar-benar aneh. Sulit dilukiskan dengan kata-kata. Ular itu bisa saja jin lewat. Jurang di depan mata bisa saja risiko-risiko yang mengendap mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin... Mungkin kenangan rasa aman di dalam rahimnya membuatku memanggil-manggil dia. Dan dia datang memberi rasa aman. Sudah lama sekali tidak bersua dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah pertemukanlah kami di dalam surga-Mu, amin.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-2421834218401900763?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/2421834218401900763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=2421834218401900763' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/2421834218401900763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/2421834218401900763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/08/kenangan-lama.html' title='Kenangan Lama'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-7988370945586150903</id><published>2009-07-28T07:25:00.006+07:00</published><updated>2009-07-28T08:09:47.170+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekonomi-bisnis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><title type='text'>Allahu Akbar</title><content type='html'>Saya berkendara menuju rumah ayahanda tercinta untuk mengantarkan makanan. Kebetulan hari itu, ada arisan di rumah, sehingga makanannya cukup spesial. Sehabis melintas di depan masjid Al Hakim, saya belok kiri. Pas di pojok kanan saya lihat dua grup pekerja. Yang pertama adalah grup penggali tanah untuk jalur kabel &lt;em&gt;fiber optic&lt;/em&gt;. Yang satunya lagi kelihatannya adalah grup pekerja yang merapikan trotoar di depan rumah pemberi kerja. Hati saya berdesir, takut terjadi konflik antara dua kelompok pekerja keras tersebut karena lokasi mereka sangat berdekatan. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari sebelumnya, saya sudah memperhatikan grup penggali tanah itu. Mereka menggunakan teknik mengebor tanah secara mendatar. Pada satu blok perumahan, galian hanya dilakukan pada titik-titik yang berjarak kurang lebih lima meter satu sama lain. Pengeboran dilakukan mendatar dari satu titik galian ke titik berikutnya. Dugaan saya, jalur yang dibor kemudian dipasangi casing. Soalnya di lokasi kerja sering saya amati ada pipa-pipa peralon seukuran kabel jumbo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sm5K9A_A_eI/AAAAAAAAAac/nIm7yizgA60/s1600-h/26072009609.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: undefinedpx; height: undefinedpx;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sm5K9A_A_eI/AAAAAAAAAac/nIm7yizgA60/s320/26072009609.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5363306618341621218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pekerja bor mendatar ini sangat rajin. Setiap saya jalan kaki ke masjid untuk shalat Isya, mereka kedapatan masih bekerja dengan rajin. Gimana shalatnya? Gitu saya pikir. Apalagi peralatan mereka sangat minim. Kalau di Amerika pekerja seperti ini dilengkapi sepatu &lt;em&gt;boot&lt;/em&gt;, pakaian kerja lengkap, sarung tangan, dan helm, para pekerja bor datar ini hanya menggunakan celana pendek, tanpa alas kaki. Dengan segala kekuatan fisik dan kesabaran, mereka bekerja dengan sangat tekun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sm5O3BJ2EpI/AAAAAAAAAak/6jdZibtnS_A/s1600-h/26072009608.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: undefinedpx; height: undefinedpx;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sm5O3BJ2EpI/AAAAAAAAAak/6jdZibtnS_A/s320/26072009608.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5363310913354338962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberepa meter dari pengkolan, saya tiba di rumah ayahanda. Pintunya terbuka, tapi pintu terali besi plus kawat nyamuk terkunci. Saya memberi ucapan salam, tapi tidak terdengar jawaban. Saya mulai ragu, jangan-jangan beliau tidak di rumah. Wah bagaimana ini makan siangnya. Saya coba telepon, tapi nggak diangkat. Pada saat yang sama, saya mendengar keributan dari arah pekerja-pekerja tadi. Sepertinya ada suara teriakan-teriakan. Wah jangan-jangan ada yang berkelahi. Saya menahan diri. Dalam hitungan detik, teriakan-teriakan berubah menjadi Allahu Akbar. Berkali-kali. Bahkan kemudian disusul dengan la ilaha illalLah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menghentikan percobaan nelepon. Saya lalu mengintip sekilas dari balik pagar. Beberapa orang menuju lokasi keributan, termasuk satpam di pos yang tidak jauh dari situ. Pekerja-pekerja bor datar nampak berusaha menarik rekannya dari lubang galian. Inna lilLahi. Saya pikir rekan mereka kejepit sesuatu. Selang beberapa saat, dari dalam rumah di pojokan seseorang membawa kantong plastik dan menyerahkannya ke pekerja. Ada plastik lagi. Saya merasa kasihan banget dengan yang kejepit. Teriakan frustasi berkali-kali terdengar sampai mereka berhasil mengeluarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian baru saya sadar kejadian sesungguhnya. Seorang saksi yang lebih dulu di lokasi menjelaskan bahwa salah seorang pekerja kena sengatan listrik dan tidak bisa dikeluarkan dari lubang. Tubuh hitam berlumpur itu dibaringkan di tanah. Rekannya yang juga berbaju lumpur berusaha membuatnya sadar. Tubuhnya digoncangkan. Kepalanya digelengkan. Dadanya ditekan-tekan. Namanya dipanggil-panggil. Tangisan mulai terdengar. Sedih. Pedih. Perih. Menyesal!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sm5O3Ybqd_I/AAAAAAAAAas/ZpORohchwK4/s1600-h/26072009607.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: undefinedpx; height: undefinedpx;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sm5O3Ybqd_I/AAAAAAAAAas/ZpORohchwK4/s320/26072009607.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5363310919603091442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya hati ini ikut menangis. Oh Allah, alangkah berat cobaan yang Engkau timpakan pada hambaMu. Oh Allah, ampunilah dia yang mungkin banyak melewatkan waktu shalat selama bekerja keras untuk diri dan keluarganya. Oh Allah, terutama ampunilah kami! Oh Allah, pimpinlah kami untuk memperbaiki keadaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel terkait:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/07/karakter-pemimpin.html"&gt;Karakter Pemimpin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-7988370945586150903?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/7988370945586150903/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=7988370945586150903' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/7988370945586150903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/7988370945586150903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/07/allahu-akbar.html' title='Allahu Akbar'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sm5K9A_A_eI/AAAAAAAAAac/nIm7yizgA60/s72-c/26072009609.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-8329467468597056610</id><published>2009-07-13T17:10:00.004+07:00</published><updated>2009-07-13T20:25:32.858+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><title type='text'>Para Pendosa Jalanan</title><content type='html'>Untunglah ada masa depan dan akhirat. Untunglah hidup tidak hanya satu titik saat ini saja. Untunglah hidup berupa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;series of events&lt;/span&gt;. Ketika pada satu kejadian kita belum beruntung, masih ada harapan masa depan kan berbalik membela. Terlebih lagi situasi dilematis sering mendorong orang berbuat curang. Kalau hidup hanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;a one-shot fortune&lt;/span&gt;, niscaya pada situasi dilematis semua orang berbuat curang, seperti dicontohkan pada kasus &lt;span style="font-style:italic;"&gt;the prisoners&amp;#39; dilemma&lt;/span&gt;. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadilan Tuhan... Itulah harapan setiap insan. Syaratnya adalah keyakinan yang teguh. Kalau ragu akan adanya balasan Tuhan, kembalilah kita ke suatu kehidupan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;one-shot fortune&lt;/span&gt;. Seolah-olah kepentingan kita hanya di sini dan pada saat ini juga. Pemuasan kepentingan sempit jangka pendek sesaat ini sungguh menjadi satu-satunya kepentingan. Mudah-mudahan kita terhindar dari lemahnya keyakinan yang membuat kita mudah berbuat pelanggaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh sederhana adalah perampasan hak di jalan raya. Hampir sebulan silam, saya berkendara ke arah Puncak, dalam rangka mengikuti acara rihlah lulusan Generasi X SDIT Thariq bin Ziyad Bekasi di Wisma Mulyasari. Dari sekolahan, kami berangkat sekitar jam 8.30, tiba jam11.30. Tol Jagorawi dapat dinikmati, tapi begitu mau keluar di Gadog, terasa banget suasana padat dan macet. Sekolahan pada bikin acara di Puncak. Sekedar tip, ke Puncak pada awal musim liburan, walaupun hari kerja, perlu dihindari ATAU sabar perlu dikarungi sebanyak-banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho di mana cerita perampasan haknya? Sabar... ini baru mau dimulai. Mungkin Anda sudah tahu, kalau lagi rame, lalulintas di area Puncak diatur buka-tutup searah dari atas dan bawah bergantian. Masalahnya kadang mengambil ruas kanan jalan dilakukan tanpa aba-aba petugas. Memang enak sih. Jika sudah ada yang mimpin duluan ngambil ruas kanan ketika lagi macet, para pendosa jalanan lainnya dipastikan akan ikutan. Daripada ngantri. Begitu jalan berpikirnya. Akibatnya ya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;deadlock&lt;/span&gt; kayak di foto-foto berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SlsvWHIz8pI/AAAAAAAAAZ8/0ybQtLHoWoo/s1600-h/22062009565.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: undefinedpx; height: undefinedpx;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SlsvWHIz8pI/AAAAAAAAAZ8/0ybQtLHoWoo/s320/22062009565.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357928238606971538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SlsvVOel4uI/AAAAAAAAAZs/NwrSTlq8-ak/s1600-h/22062009563.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: undefinedpx; height: undefinedpx;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SlsvVOel4uI/AAAAAAAAAZs/NwrSTlq8-ak/s320/22062009563.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357928223397503714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SlsvVjmJcHI/AAAAAAAAAZ0/wA-dehMovTw/s1600-h/22062009564.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: undefinedpx; height: undefinedpx;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SlsvVjmJcHI/AAAAAAAAAZ0/wA-dehMovTw/s320/22062009564.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357928229066338418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa kejadian &lt;span style="font-style:italic;"&gt;deadlock&lt;/span&gt; pada foto di atas hanya beberapa puluh meter dari Polsek Cisarua! Kami tertahan sejam hanya di sini. Gimana solusinya? Kelihatannya petugas mengurai masalah dengan mengosongkan terlebih dahulu ruas kanan jalan, sehingga arus dari arah berlawanan akhirnya bisa berangsur jalan. Itupun harus dibantu tukang ojek dan anggota masyarakat sekitar. Nah, siapa yang paling dirugikan? Para pengantri di ruas yang seharusnya! Yang paling diuntungkan? Para pendosa jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SlsvWXWBGSI/AAAAAAAAAaE/HHGSC1CpW64/s1600-h/22062009566.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: undefinedpx; height: undefinedpx;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SlsvWXWBGSI/AAAAAAAAAaE/HHGSC1CpW64/s320/22062009566.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357928242957326626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira apa yang akan terjadi pada kesempatan lain? Para pendosa akan mengulangi pelanggarannya, sementara yang tadinya ngantri dengan baik cenderung murtad dan menjadi pendosa jalanan juga. Soalnya perilaku yang salah malah mendapat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;reward&lt;/span&gt;. Perilaku yang baik malah dikasih hukuman, harus ngantri jauh lebih lama daripada para pendosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah ada akhirat. Orang yang punya keyakinan mantap tidak akan terpengaruh. Keadilan Tuhan akan tegak! Demikian jalan pikirannya. Ya, insya Allah! Hanya saja seharusnya Keadilan Tuhan harus ditegakkan juga oleh pihak berwenang di dunia ini. Itu kalau kita mau maju. Itu kalau pihak berwenang risih dengan merosotnya perilaku berlalulintas. Para pendosa itu harus ditilang semuanya. Gimana caranya? Ah itu masalah teknis. Banyak jalan menuju Roma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa ada untungnya buat pihak berwenang menegakkan aturan? Wah, koq jadi nanya begitu? Kan itu sudah kewajibannya bikin masyarakat tertib dan saling menghormati! Kalau suasana kacau lebih menguntungkan petugas, gimana? Ah masak sih. Nggak jujur itu. Kalaupun demikian, kita nggak usah kuatir. Toh Keadilan Tuhan akan tegak juga pada akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca cerita terkait lainnya:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/07/karakter-pemimpin.html"&gt;Karakter Pemimpin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/06/musim-libur-tiba.html"&gt;Musim Libur Tiba&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/07/batman-ksatria-hitam.html"&gt;Batman Ksatria Hitam&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-8329467468597056610?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/8329467468597056610/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=8329467468597056610' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/8329467468597056610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/8329467468597056610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/07/para-pendosa-jalanan.html' title='Para Pendosa Jalanan'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SlsvWHIz8pI/AAAAAAAAAZ8/0ybQtLHoWoo/s72-c/22062009565.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-6562837141885292382</id><published>2009-07-12T10:18:00.000+07:00</published><updated>2009-07-12T10:18:41.747+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lebih personal'/><title type='text'>Liburan Usai</title><content type='html'>Musim liburan kali ini bener-bener bikin kami sibuk. Pindahan adalah kegiatan utama kami. Selain mindahin barang-barang, tentu kami harus mindahin sekolahan anak-anak. Beruntung satu orang di pesantren, jadi hanya empat yang mesti menyesuaikan diri dengan lingkungan bakal sekolah baru. Lebih beruntung lagi, tiga anak kami memang pas masuk SMP, SD, dan TK. Hanya satu yang putus di tengah: Aisyah dari kelas 3 ke kelas 4 SD. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, musim liburan ini paling &lt;em&gt;exciting&lt;/em&gt; sekaligus paling bikin capek dan paling menguras sumber daya. Nggak apalah. Saya pernah dapet nasihat, perubahan besar hanya dapat terjadi kalau kita mau &lt;em&gt;strecth the limit&lt;/em&gt;. Momentum ini sekalian merupakan kesempatan untuk belajar membentuk kebiasaan baru dan belajar meninggalkan kebiasaan buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kemarin kami mengantar Hanif ke sekolah untuk pengenalan dan orientasi. Mulai Senin besok, empat anak kami masuk sekolah. Semuanya pada seneng dan semangat. Alhamdulillah. Karena banyak yang mesti diurus, Kepala Urusan Rumah Tangga kami khusus meminta saya meninggalkan pekerjaan barang sehari, hari Senin ini, buat sedikit ngeringanin kerepotan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh cuma sehari? Cukup? Insya Allah cukup. Lagian, hari Kamis dan Jum'atnya saya ijin cuti lagi, nganterin Rani ke pesantrennya di Solo. Insya Allah, di kelas dua nanti dia masuk kelas internasional dengan penguatan Bahasa Inggris, Bahasa Arab, dan Sains. O, betapa banyak ni'mat yang dilimpahkan Allah pada kami. Semestinya kami terus belajar pandai bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, liburan usai, padahal nggak liburan kemana-mana. Ah nggak juga. Waktu itu, kami &lt;em&gt;full team&lt;/em&gt; jalan ke arah Puncak, nginep di Wisma Mulyasari, naik lagi ke Cilember, terus main air. Pekan lalu kami, jalan-jalan ke Taman Mini, sekalian sama sepupu-sepupu dan bude-budenya anak-anak, malahan sama Alif dan Desi yang datang dari Yogya buat ngeramein liburan. Terus pas hari pilpres, anak-anak perempuan diajak budenya ke Lippo Super Mall, bersama sepupu-sepupu mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, masih dikit banget! Ah, nggak juga. Di sekitar tempat tinggal kami yang baru, tinggallah yai dan dua keluarga bude anak-anak. Meskipun nggak pergi jalan-jalan, anak-anak asyik bermain di lingkungan baru bersama kerabat, anak-anak tetangga, dan kucing kami 'Emak Cingi' yang kami bawa dari Bekasi. Enaknya lagi, rumah kami menghadap taman yang lalu lintasnya nggak rame. Jadi kalau bosen ngubek-ngubek di dalam rumah atau main pasir di halaman belakang, anak-anak main sepeda mengelilingi taman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, walaupun liburan mau usai, bolehlah tetap mengharap liburan kali ini penuh manfaat, hikmah, dan berkah buat anak-anak. Ya Allah, berkahilah hidup kami dalam senang maupun susah, dan masukkanlah kami ke surgaMu bersama orang-orang yang baik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-6562837141885292382?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/6562837141885292382/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=6562837141885292382' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/6562837141885292382'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/6562837141885292382'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/07/liburan-usai.html' title='Liburan Usai'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-6229518226286465105</id><published>2009-07-09T18:59:00.001+07:00</published><updated>2009-07-09T19:03:35.077+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><title type='text'>Karakter Pemimpin</title><content type='html'>Hari Selasa, 30 Juni, saya berdiam sebentar di masjid kantor setelah shalat zuhur. Kebetulan ada ceramah oleh Ustadz Ahmad Yani dari Khairu Ummah. Tema ceramahnya adalah karakter pemimpin yang baik. Sumber dalilnya adalah pidato inagurasi Abubakar Ash-Shiddieq, sepeninggal Rasulullah. Karena menarik, saya catat isi ceramahnya, dan mungkin ada gunanya kalau saya bagi di sini. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, tawadhu. Pemimpin yang baik tidak merasa sebagai yang terbaik. Pemimpin sombong, seperti Firaun, senantiasa takut muncul orang lain yang lebih baik dan pantas menjadi pemimpin. Firaun bahkan melakukan rekayasa untuk membunuh calon-calon pemimpin. Tentunya kita pasti ingat kisah Nabi Musa. Orang yang tawadhu tidak akan bertambah apapun baginya kecuali derajat (hadits).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, siap bekerjasama dengan siapapun. Pemimpin yang baik tolong menolong dengan yang siapa saja dalam kebaikan, tidak dalam dosa. Kerjasama merupakan keniscayaan karena pemimpin, bahkan setiap orang, tidak dapat bekerja sendirian. Nah, semangat kerjasama seperti ini terkait erat dengan sifat tawadhu sang pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, mengharap kritik dan saran. Bila salah, koreksilah aku. Demikian kata Abubakar, yang ditimpali oleh Umar seraya mengacungkan pedang. Abubakar tidak marah diancam dikoreksi dengan pedang karena Umar adalah sosok yang sangat dikenalnya. Makanya terkait dengan karakter siap menerima kritik dan saran, pemimpin harus berusaha mengenal kaumnya agar siap menerima koreksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, harus jujur (amanah). Pemimpin jujur menyelesaikan masalah dengan cepat. Sebaliknya, pemimpin pendusta justru membuat masalah berlarut-larut. Saya jadi ingat buku The Speed of Trust karya Stephen MR Covey. Baca artikel saya sebelumnya, The Speed of Trust.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, menunaikan hak rakyat yang lemah. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang pro rakyat kecil! Rakyat kecil dirampas haknya oleh Si Kuat yg Zholim. Oleh karena, pemimpin wajib mengintervensi. Ini berbeda 180 derajat dari pemimpin yang pro pasar tok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, memberantas kezholiman rakyat yang kuat. Pemimpin yang baik berkewajiban mengambil hak yang sudah dirampas oleh Si Kuat dan mengembalikannya ke Si Lemah. Untuk melakukan ini perlu keberanian pemimpin. Contoh akibat sifat pengecut adalah ketika pihak berwajib justru takut sama preman pasar. Preman pasar melindungi pedagang yang berdagang bukan di tempatnya, bahkan sampai menutup sebagian besar badan jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, pemimpin yang baik harus menunjukkan ketaatan. Hanya pemimpin yang taat yang pantas ditaati oleh rakyat. Ada hadits yang menyatakan tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada kholik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, mari bercermin apakah pemimpin kita benar-benar memiliki ketujuh karakter di atas, seperti Abubakar, sahabat terpercaya. Kalau belum, berarti kita harus berupaya melahirkan pemimpin berkarakter. Lima tahun lagi atau sepuluh atau lima belas. Akan tetapi, pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah kita sendiri memilikinya, karena tiap-tiap kita hakikatnya adalah pemimpin, minimal buat keluarga dan diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-6229518226286465105?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/6229518226286465105/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=6229518226286465105' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/6229518226286465105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/6229518226286465105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/07/karakter-pemimpin.html' title='Karakter Pemimpin'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-2135075047597132993</id><published>2009-06-22T18:35:00.000+07:00</published><updated>2009-06-22T18:38:05.836+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lebih personal'/><title type='text'>Musim Libur Tiba</title><content type='html'>Libur tlah tiba. Libur tlah tiba. Hore, hore, hore... Kayaknya anak sekolah pada jalan semua. Dari TK sampe SMA sampe Perguruan Tinggi. Bahkan bimbingan belajar dan kursus Bahasa Inggris ngadain rekreasi atau rihlah bareng. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang duit atau waktunya pas-pasan, perginya deket-deket aja, misalnya ke Taman Mini atau Ancol atau Ragunan. Yang punya waktu dan duit agak lebih, perginya jauhan dikit, misalnya ke Puncak atau Anyer. Yang duit dan waktunya banyak, perginya ke Singapura atau Malaysia atau Umroh sekalian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, Puncak rupanya masih merupakan tujuan wisata utama. Buktinya hari ini, kami berangkat dari Bekasi jam 8.15 dan tiba di Mulya Sari di Jalan Raya Cipayung menuju Puncak jam 11.15, padahal normalnya mungkin sejam lebih dikit. Mulai dari keluar tol di Gadog, macet udah terasa. Makin ke atas makin macet dan berhentinya makin lama. Kaki ini rasanya mau copot dan nagih minta dipijet. Sayangnya yang biasa disuruh mijet sibuk juga dengan kegiatan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak main sampe puas. Ibunya sibuk kumpul dengan ibu-ibu panitia lainnya ngebantu guru ngurusin acara. Di Curug Cilember, Rita dan kawan-kawannya kelas 6 SDIT Thoriq bin Ziyad main air sampe puas. Kami sekeluarga yang ikutan rombongan rihlah juga kecipak kecipuk. Aisyah malah bener-bener nyebur. Ini dia, belum sempet kaki ngasoh setelah nginjek-nginjek pedal kopling, rem, dan gas, pegelnya ditambah lagi naik turun medan Curug 7 Cilember. Biar capek, seneng rasanya lihat anak-anak puas bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, malem ini Rita dan kawan-kawan akan mendapatkan surat cinta dari sekolah. Lulus? Mudah-mudahan seratus persen. Dan mudah-mudahan program mabit (bermalam - Y Pan) terakhir buat anak-anak kelas 6 dengan guru-guru dan staf SDIT Thariq bin Ziyad ini penuh kesan dan hikmah buat semua. Hm... memang berpisah selalu diiringi kesedihan. Sedih berpisah dari teman-teman yang baik!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-2135075047597132993?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/2135075047597132993/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=2135075047597132993' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/2135075047597132993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/2135075047597132993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/06/musim-libur-tiba.html' title='Musim Libur Tiba'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-1300614541819877885</id><published>2009-06-19T11:15:00.006+07:00</published><updated>2009-06-19T11:15:30.228+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lebih personal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><title type='text'>Granada Square</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sjr1sb-iCdI/AAAAAAAAAZk/VMBTFk2Wvag/s1600-h/14062009560.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sjr1sb-iCdI/AAAAAAAAAZk/VMBTFk2Wvag/s200/14062009560.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348857651228969426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lokasinya di Kencana Loka, Sektor XII, BSD. Susunan tokonya tidak seperti susunan toko lainnya di BSD. Pertama, ukurannya lebih kecil, cenderung seperti ukuran kios. Kedua, tidak semua kios atau toko menghadap langsung ke jalan. Ada yang cuma menghadap pelataran. Ketiga, pelatarannya dibuat agak luas, sehingga bisa digunakan buat jualan kaki lima. Yang jualan di pelataran macem-macem. Ada lontong sayur, zuppa soup, roti jala, aneka jus, pakaian, keperluan sekolah, dan lain-lain. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan keluarga sering melewatinya karena di dekat situ tinggallah ayahanda tercinta dan keluarga-keluarga kakak saya. Nah, kalau sedang melewatinya, saya merasakan atmosfir mediterania karena namanya. Tampak depan bangunannya gimana ya? Berbau latin sedikit (maksa mode ON). Wajar toh karena Granada aslinya nama ibukota bangsa Moor di Andalusia-Spanyol di era keemasan. Untuk tulisan ini, yang penting standard BSD City di kawasan ini sama dengan kawasan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sjr0N0UmoiI/AAAAAAAAAZM/XUHH-y5I1_8/s1600-h/14062009557.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sjr0N0UmoiI/AAAAAAAAAZM/XUHH-y5I1_8/s320/14062009557.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348856025676423714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drainase bagus. Bahkan orang dewasa normal bisa aja menelusuri jaringannya. Parkir memadai. Penerangan OK banget. Toilet umum ada. Pohon dan tanaman OK juga. Ya pokoknya, infrastrukturnya bagus dan memadai untuk pasar kecil di tepian Laut Tengah yang seolah bikin nyaman buat menikmati pemandangan indah di sekitarnya hingga ke Negeri Maghribi di Afrika Utara jika saja mata bisa menembus berpuluh-puluh mil pekatnya udara laut. Bedanya, Granada Square hanya mengenal dua musim, bukan empat musim seperti di Andalusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2001, kami beli kavling dekat Granada Square. Itu karena desakan Mbak Ika. Bertahun-tahun digunakan buat anak-anak tetangga main bola, baru tahun lalu kavling mulai dibangun karena saya dapet utangan yang lumayan. Cukup? Ya, tepatnya mepet! Nah, empat pekan lalu, kami memulai proses pindahan. Mulai dua pekan lalu, kami mencoba nginep Sabtu malam. Paginya, kami coba menyusuri jalan-jalan sekitar, termasuk jajan di Granada Square itu. Roti jala kare kambing... muantap banget. Anak-anak lebih suka Zuppa soup, kecuali Hanif. Dia memang dari dulu suka kambing, bahkan sejak dalam kandungan, hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keasyikan ini memang patut disyukuri. Tinggal berdekatan dengan keluarga besar, itu alasan pertama. Kemudian, lingkungannya asri. Terus alternatif transportasi banyak, khususnya KRL yang paling asyik. Stasiun Rawabuntu nggak jauh, kayaknya bisa ditempuh nggak sampe setengah jam jalan kaki dari rumah. Masjid Al-Hakim juga deket, bisa ditempuh paling sepuluh menit jalan kaki. Semuanya indah. Ya, semuanya... Sungguh? Ah, nggak juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Granada Square, tempat ini beberapa waktu lalu sangat rame tiap akhir pekan karena dijadikan Flohmarkt Market, pasar kecil akhir pekan, meniru Flohmarkt di daratan Eropa, khususnya sekitar Jerman. Sekarang, obyek wisata Flohmarkt di Granada Square ditutup. Khabarnya ada warga sekitar yang keberatan, karena pasar &lt;em&gt;kalangan&lt;/em&gt; itu bikin kotor. Bahkan aroma kotoran kuda biasa merebak. Bukan cuma itu, risiko keamanan khabarnya meningkat. Ini dia, ternyata di BSD City sekalipun budaya bersih belum sepenuhnya bisa dikondisikan lewat lingkungan yang asri. Kenapa ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sjr0NDq4V3I/AAAAAAAAAY8/jzfnqeHLxhk/s1600-h/14062009555.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sjr0NDq4V3I/AAAAAAAAAY8/jzfnqeHLxhk/s320/14062009555.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348856012616521586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sjr0NfV_UGI/AAAAAAAAAZE/bSSB5St-Csc/s1600-h/14062009556.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sjr0NfV_UGI/AAAAAAAAAZE/bSSB5St-Csc/s320/14062009556.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348856020045090914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau area Taman Monas kotor, terutama hari Senin setelah warga berekreasi di situ Sabtu dan Ahad, saya rasa masih bisa dimaklumi. Areanya sangat luas. Pengunjungnya padet dari berbagai lapisan masyarakat. Sementara itu, Pemerintah DKI tahu sendiri kan sudah menghadapi bejibun masalah, walaupun ini sebenernya nggak boleh dijadikan alasan (lihat artikel saya sebelumnya &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/05/kebersihan-di-area-publik.html" target="_new"&gt;Kebersihan di Area Publik&lt;/a&gt; - Y Pan). Granada Square yang jauh lebih kecil harusnya bisa dikelola dengan baik, terutama aspek kebersihan dan keamanannya. Memang kebersihan dan keamanan berjalan seiring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di NYC, dulu sistem KRL-nya menyeramkan. Kotor dan nggak aman, sampai terjadi insiden Bernie Goetz. Lalu penanggung jawab keamanan stasiun dan kereta mulai kampanye kebersihan. Setiap kereta yang 'dirusak' dengan grafiti selalu dicat ulang, walaupun baru kemarin dicat. Bersih dan rapi membantu meningkatkan keamanan. Lihat deh artikel saya sebelumnya berupa ringkasan dari &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/02/tipping-point-4.html" target="_new"&gt;Bab 4 The Tipping Point&lt;/a&gt; karya Malcolm Gladwell. Menurut hemat saya, pengelola Granada Square mesti kayak gitu juga, tapi... oh jangan-jangan nggak ada pengelola yang bertanggung jawab. Gimana nih BSD?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sjr0OP_1hHI/AAAAAAAAAZU/8GxUt7OTu70/s1600-h/14062009558.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sjr0OP_1hHI/AAAAAAAAAZU/8GxUt7OTu70/s320/14062009558.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348856033105511538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sjr0OYZqL4I/AAAAAAAAAZc/KXFOi85J2SE/s1600-h/14062009559.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sjr0OYZqL4I/AAAAAAAAAZc/KXFOi85J2SE/s320/14062009559.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348856035361304450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-1300614541819877885?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/1300614541819877885/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=1300614541819877885' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/1300614541819877885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/1300614541819877885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/06/granada-square.html' title='Granada Square'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sjr1sb-iCdI/AAAAAAAAAZk/VMBTFk2Wvag/s72-c/14062009560.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-5376368741865790303</id><published>2009-06-11T09:02:00.002+07:00</published><updated>2009-06-11T10:55:29.116+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekonomi-bisnis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='demokrasi-politik'/><title type='text'>Apakah Pak Boed Neolib?</title><content type='html'>Akhir-akhir ini, banyak pengunjung blog saya masuk lantaran kata kunci Boediono atau Budiono. Terakhir saya menulis mengenai beliau ketika posisi Gubernur BI lowong ditinggal Pak Burhan. Waktu itu, saya buat polling kecil-kecilan siapa yang paling pantas menjadi Gubernur BI. Jawaban di polling waktu itu yang jauh dari ilmiah adalah Pak Boediono. Kebetulan bersamaan jumlah voternya dengan Pak Muliaman Hadad. Saya berspekulasi Pak Boed yang terpilih dan kebetulan beliau terpilih menjadi orang nomor satu BI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan menegaskan ketokohannya, Pak Boediono kembali menjadi sorotan publik setelah dipilih PD untuk mendampingi Pak SBY mengikuti pilpres 2009. Saya menduga-duga dalam hati bahwa yang paling dicari orang adalah informasi mengenai ideologi ekonomi beliau. Apakah beliau bener-bener pendukung neoliberalisme? Tentu saja di antara informasi lain terkait dengan pribadi dan keluarganya. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu acara TV, hadirlah Pak Fuad Bawazir, anggota tim sukses JK-Win, yang sekaligus menjadi pengkritik SBY Berbudi nomor wahid. Karena mantan Menkeu, Pak Fuad tentunya memiliki latar belakang yang cukup untuk berdebat mengenai ideologi ekonomi. Singkatnya, beliau menuding Pak Boediono sebagai seorang neolib. Serta merta pembawa acara memberi giliran ke pengurus teras PD yang mengikuti acara itu. Tentu pengurus teras PD ini menyanggahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara sanggahan disampaikan? Dengan tenang dan mantap tokoh satu ini mengatakan Pak Boediono bukan neolib, tapi seorang monetaris. Beliau merujuk ke suatu buku yang menulis mengenai Pak Boed. Nah, sebagaimana banyak orang berdebat mengenai neoliberalisme tanpa tahu maknanya, adalah ironi besar bahwa sanggahan diberikan nyata-nyata tanpa pengetahuan yang cukup.  Jadi, baik pendemo di jalanan maupun pengurus teras partai sebenernya nggak ngerti persis bahan perdebatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, yang nggak peduli langsung ganti saluran. Yang menelan perdebatan mungkin banyak yang bingung mana yang bener. Singkatnya begini, ideologi ekonomi bisa dijajarkan berbaris. Paling kiri berdiri ideologi sosialisme yang ekstremnya percaya segala hal harus diatur oleh negara, bahkan kawin sama siapa dan beranak sekalipun. Di sebelah paling kanan berdiri ideologi liberalisme yang ekstremnya setiap individu bebas melakukan apa saja. Kebebasan individu mengejar kepentingannya masing-masing diyakini menghasilkan kebaikan untuk masyarakat secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam praktik, hampir nggak pernah kita jumpai yang totalitas ekstrem. Artinya, yang bisa dikatakan sebenarnya adalah ideologi A lebih kiri dari ideologi B. Artinya juga kalau ke kiri lagi, masuk jurang. Nah, istilah neoliberalisme dan monetarisme tentu perlu kita pahami posisinya dalam barisan ideologi-ideologi tadi. Di kanan? Di kiri? Atau di tengah? Menurut teori, neoliberalisme adalah penjelmaan baru dari liberalisme ala Adam Smith. Di kanan dia pro kebebasan individu atau bisa dikatakan pro pasar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monetarisme? Ini adalah aliran ekonomi Milton Friedman yang mengatakan ekonomi dapat dikendalikan dengan baik semata-mata dengan mengendalikan suplai uang atau uang beredar. Pengendalian lain nggak perlu, begitulah aslinya ideologi Milton Friedman, yang didukung penuh pemerintahan Reagan dan Thatcher. Artinya seorang monetaris aslinya adalah seorang liberal (kalau di Amerika disebut konservatif, diwakili Partai Republik; malah di Amerika seorang liberal agak ke kiri; istilah memang sering bikin bingung - Y Pan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah menurut teori, klaim pejabat teras PD di atas ketika berdebat dengan Pak Fuad Bawazir bisa menjadi bahan tertawaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apakah bener Pak Boediono seorang neolib? Tentu saingan politik SBY Berbudi mati-matian mengatakannya. Wajar dalam kompetisi politik. Sebaliknya, kubu Pak Boed tentu ingin mendudukkan persoalan lebih proporsional. Sederhananya jangan sampai kesan bahwa Pak Boed hanya pro pasar atau lebih pro ke pasar daripada pro ke rakyat bener-bener jadi opini publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubu Pak Boed pastinya ingin mengatakan tuduhan para pengkritiknya terlalu berlebihan, walaupun sebagian pendukung beliau - para ekonom arus utama di kampus-kampus dan lembaga lain - merasa nggak ada yang salah dengan neoliberalisme. Kearifan Pak Boediono sebagai ekonom senior sangat terasa, terutama ketika kita bandingkan dengan fundamentalisme para ekonom arus utama yang sensi banget melihat fenomena berbaliknya arah kebijakan. Pernyataan beliau bahwa ekonomi syariah opsi serius (&lt;a href="http://republika.pressmart.com/RP/RP/2009/06/09/INDEX.SHTML" target="_new"&gt;Republika 9 Juni 2009&lt;/a&gt;) kembali menegaskannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, apakah Pak Boed seorang neolib? Kalau dari klaim di buku bahwa beliau seorang monetaris, jawabnya YA. Sebaliknya, saya lebih senang mengamati kiprah beliau di berbagai posisi, antara lain Menkeu, Menko Perekonomian, Ketua Bappenas yang menghasilkan kebijakan yang tidak semata-mata pro pasar. Juga kiprah beliau di BI yang ramah kepada ekonomi dan perbankan syariah. Anda? Terserah deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca kisah lainnya:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/06/timbal-balik-kebaikan-dan-kejahatan.html"&gt;Timbal Balik Kebaikan dan Kejahatan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/05/emas-putih-dan-hitam.html"&gt;Emas Putih dan Hitam&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/05/kelemahan-uang.html"&gt;Kelemahan Uang&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/03/irrationality-and-improvement.html"&gt;Irrationality and Improvement&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/12/mencegah-krisis.html"&gt;Mencegah Krisis&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/10/kebijakan-berbalik-arah.html"&gt;Kebijakan Berbalik Arah&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-5376368741865790303?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/5376368741865790303/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=5376368741865790303' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/5376368741865790303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/5376368741865790303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/06/apakah-pak-boed-neolib.html' title='Apakah Pak Boed Neolib?'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-611537512196707536</id><published>2009-06-04T22:57:00.002+07:00</published><updated>2009-06-05T08:42:23.638+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekonomi-bisnis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='demokrasi-politik'/><title type='text'>Timbal Balik Kebaikan dan Kejahatan</title><content type='html'>Kita pasti pernah musuhan sama seseorang, terutama ketika kecil atau remaja. Tindakan kita sering ditentukan oleh persepsi kita mengenai musuh kita itu, dan selanjutnya tindakan kita dipersepsi oleh musuh kita yang kemudian menentukan tindakan dia berikutnya. Begitu seterusnya. Main catur sama juga. Langkah kita sebagian ditentukan oleh langkah lawan kita sebelumnya, dan selanjutnya langkah kita menentukan langkah dia berikutnya. Mbulet ya? Iya lah, namanya juga hubungan timbal balik.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua fenomena kehidupan terkena kutukan timbal balik ini. Ketika kita mencari penyebab sesuatu, kita tidak pernah sampai pada kesimpulan final. Selalu tentatif. Coba deh kasus ini. Apa yang bikin perusahaan sukses? Apakah uang dan emas yang dimilikinya atau pengetahuan dan kompetensi orang-orangnya atau nilai-nilai yang diyakini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menjawab nilai-nilai. Kemudian jawaban itu ditimpali dengan kenyataan nilai-nilai lahir dan terinternalisasi lewat pengetahuan. Ada lagi jawaban lain. Untuk perusahaan yang masih baru, uang dan emas sangat menentukan, sementara untuk perusahaan mapan, justru pengetahuan dan kemampuan yang menentukan kesuksesan selanjutnya. Pertanyaan berikutnya yang mengusik dari fenomena ayam-telor seperti ini adalah dari ketiganya mana yang jadi faktor terpenting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering berdebat dengan teman mengenai sifat pasar keuangan. Apakah ia deterministik yang ditentukan persamaan-persamaan matematis yang diusung para &lt;span style="font-style:italic;"&gt;financial engineers&lt;/span&gt;? Ataukah ia tidak deterministik? Saya berada di kubu non deterministik, seraya mengutip pernyataan besar tokoh Alan Grant dalam film Jurassic Park: kehidupan akan mencari jalannya. Dalam film itu, pernyataan tersebut terbukti dengan meyakinkan. Kehidupan dinosaurus yang dikendalikan oleh sistem yang canggih akhirnya lepas kendali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film Jurassic Park tidak bicara eksplisit mengenai hubungan timbal balik. Ia semata-mata mencoba mendemonstrasikan bahwa keinginan makhluk hidup bernama dinosaurus (apalagi manusia) bikin sejarah tidak dapat ditentukan jalannya. Analogi Jurassic Park ini cukup membuat saya bebal dalam diskusi dengan meyakini pasar keuangan tidak akan pernah mencapai titik keseimbangan sesuai teori yang diusung ekonom arus utama. Teori ini berlaku menurut hemat saya hanya di tataran konsep yang jauh dari realita yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Predictably Irrational (baca &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/03/irrationality-and-improvement.html" target="_new"&gt;artikel saya sebelumnya&lt;/a&gt; mengenai buku ini) terlebih menguatkan keyakinan saya bahwa kekurangan manusia membuat teori ekonomi arus utama tidak berlaku sepenuhnya dalam kehidupan nyata. Kemudian saya membaca pemikiran &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Karl_Popper" target="_new"&gt;Karl Popper&lt;/a&gt; yang senada bahwasanya manusia tidak pernah menguasai pengetahuan yang sempurna (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;perfect knowledge&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;perfect information&lt;/span&gt;). Positifnya adalah baik &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Dan_Ariely" target="_new"&gt;Dan Ariely&lt;/a&gt; maupun Karl Popper mengatakan kelemahan manusia itu justru membuka peluang perbaikan terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, keterbatasan manusia adalah ladang amal buat masing-masing kita. Begitulah bahasa da&amp;#39;wahnya. Terkait dengan keterbatasan manusia dan peluang perbaikan, Popper mengajukan konsep &lt;span style="font-style:italic;"&gt;open society&lt;/span&gt; di mana pengetahuan manusia saat ini yang terbatas dalam mewakili realita akan diperbaiki dari waktu ke waktu, dengan asumsi anggota &lt;span style="font-style:italic;"&gt;open society&lt;/span&gt; memang bener-bener berniat mencari kebenaran. Dalam hal ini, Popper cukup rendah hati mengakui keterbatasan manusia dan sekaligus optimistis terhadap upaya pencarian kebenaran. Perbaikan pengetahuan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya? Kerendahan hati Popper belum cukup jauh (atau dekat) mewakili kenyataan. Dasarnya adalah fenomena sosial timbal balik antara upaya memahami (kognitif) dengan fungsi mempengaruhi (manipulatif). Fungsi kognitif menghasilkan teori atau pengetahuan, walaupun tidak sempurna. Teori yang terbentuk mengubah perilaku manusia, dan sengaja atau tidak sengaja ia mengubah realita sehingga teori semula justru makin nggak akurat. Inilah yang disebut &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/George_Soros" target="_new"&gt;George Soros&lt;/a&gt; di dalam bukunya The Alchemy of Finance dan The New Paradigm for Financial Markets sebagai &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Reflexivity_(social_theory)" target="_new"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;reflexivity&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, fenomena timbal balik antara fungsi kognitif dan fungsi manipulatif manusia masih cukup kondusif dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;open society&lt;/span&gt; mencari kebenaran, seandainya anggota masyarakat semuanya berniat mencari kebenaran. Fungsi kognitif merupakan jalan untuk mengkoreksi teori dari waktu ke waktu. Namun, ada sifat setan dalam diri manusia, sehingga manusia dapat sengaja memanipulasi realita melalui teori-teori yang palsu. Belum sempat teori itu terbukti kebenarannya, oknum setan dalam diri manusia memanipulasi realita melalui teori-teori palsu lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh sederhana dari penggunaan sengaja fenomena timbal balik fungsi kognitif dan fungsi manipulatif mudah dilihat ketika sebuah lembaga survey mengeluarkan prediksi perolehan suara tiap-tiap kandidat dalam pemilu. Apalagi ketika lembaga survey dimaksud terkait dengan salah satu kandidat. Contoh lain adalah fitnah yang dikemas sebagai teori ilmiah ataupun laporan intelijen. Figur atau sesuatu yang difitnah akan dipersepsi tidak sesuai dengan kenyataannya. Persepsi yang salah kemudian mempengaruhi perilaku massa terhadap figur tersebut. Realita berubah dan bisa menguatkan persepsi yang salah. Demikian seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, apakah kesengajaan memanipulasi realita dengan teori palsu selalu jahat dan selalu bersumber dari sifat setan? Entahlah. Mungkin ada yang memiliki tujuan halal menempuh jalan haram. Mungkin juga ada yang memiliki tujuan halal tapi nggak sadar kalau jalan yang diambil haram. Mungkin ada juga yang nggak tahu apakah tujuannya halal atau tidak. Mungkin juga, nah ini paling parah, memang niatnya nggak bener dari awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir nih, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;reflexivity&lt;/span&gt; pastinya dapat terjadi pada kebaikan maupun kejahatan. Ketika kebaikan dan kejahatan disandingkan, faktor apa yang membedakan keduanya? Uang dan emas? Pengetahuan? Atau nilai-nilai dan keyakinan? Biarlah kita jawab di dalam hati masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fabiayyi hadiitsin ba'dahuu yu'minuun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah lain:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/05/emas-putih-dan-hitam.html"&gt;Emas Putih dan Hitam&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/05/kelemahan-uang.html"&gt;Kelemahan Uang&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/05/kekuatan-uang.html"&gt;Kekuatan Uang&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-611537512196707536?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/611537512196707536/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=611537512196707536' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/611537512196707536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/611537512196707536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/06/timbal-balik-kebaikan-dan-kejahatan.html' title='Timbal Balik Kebaikan dan Kejahatan'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-4151357261002146064</id><published>2009-05-27T21:43:00.002+07:00</published><updated>2009-05-27T22:03:28.121+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekonomi-bisnis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><title type='text'>Emas Putih dan Hitam</title><content type='html'>Dalam neraca perusahaan, selalu ada sisi kiri dan kanan. Sisi kiri untuk aset, sementara sisi kanan untuk beban dan modal (tepatnya ekuitas). Kalau aset tumbuh lebih tinggi dari beban, dapat dipastikan modal perusahaan terus berkembang. Artinya untung! Di sisi kiri, aset diurutkan dari yang nggak berisiko sampai dengan yang berisiko tinggi. Bisa juga urutannya dilihat berdasarkan likuiditas, tapi istilah ini terlalu teknis buat tulisan ini.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, semakin ke bawah urutan suatu aset, semakin tidak menentu kualitasnya dalam mendukung peruntungan. Aset yang dinilai paling menunjang peruntungan adalah uang kas. Dekat dengan kategori kas adalah emas. Dengan emas atau uang kas, perusahaan bisa belanja aset lain untuk mengungkit peruntungannya. Soalnya kalau uang atau emas tidak diputar, nggak akan ada yang tumbuh. Segitu-gitu aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan belanja aset produktif, peruntungan perusahaan bisa meningkat. Pasti? Nggak juga. Karena itu, belanja aset bisa jadi mimpi buruk. Bukan untung, malah buntung. Aset yang dibeli ternyata bisa jadi hampa atau bahkan jadi beban dalam semalam atau bahkan dalam hitungan detik. Lihat saja gelembung kredit global yang tadinya ditulis di sisi kiri sebagai aset. Gelembung itu tiba-tiba pecah dan bahkan melahirkan beban buat lembaga-lembaga keuangan, kemudian negara, kemudian masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, di dalam masyarakat, apresiasi terhadap emas selalu tinggi. Nggak puas dengan emas kuning, orang berhias dengan emas putih. Dalam film animasi anak-anak, serial MRICO, dijelaskan bagaimana emas mendapatkan penilaian yang tinggi seperti itu. Saya nggak akan mengelaborasinya di sini. Realitanya, emas memang tetap dinilai tinggi. Apapun itu, emas adalah bahan mineral dari dalam bumi pemberian Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, dalam masyarakat modern, banyak yang meramalkan bahwa nilai kekayaan bakal tidak menggunakan emas lagi sebagai standard. Ini sinkron dengan penerapan uang fiat sebagai alat pembayaran. Uang fiat adalah uang kertas yang tidak dijamin sama sekali dengan emas. Kerabat saya di kampung sering heran, lho dari mana kertas itu mendapatkan nilainya. Tentu saja jawaban gampangnya dari kepercayaan. Secara nasional, kepercayaan itu tumbuh dari seberapa produktif suatu negara. Penurunan nilai tukar uang, misalnya rupiah terhadap dollar atau yen, menunjukkan negara penerbit rupiah kalah produktif dari negara penerbit dollar maupun yen, dan yang nggak produktif itu adalah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan lanjutannya adalah dari mana produktivitas tumbuh. Seperti tadi, emas atau uang kas yang didiamkan tidak akan pernah tumbuh. Kalau ia diputar, peruntungan bisa punya kans. Nah, untuk memutarnya itu perlu pengetahuan dan keahlian. Kalau kita jago dagang, kita bisa membeli murah dan menjual mahal. Itulah peruntungannya. Kalau kita jago membuat sesuatu, kita pun bisa menambah peruntungan. Menanam karet? Hmm... Bahkan dengan hanya kenal orang yang tepat atau dengan senyuman sekalipun, peruntungan bisa diangkat. Semuanya itu perlu ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi nggak salah dong dikatakan bahwa peruntungan lebih ditentukan pengetahuan dan keahlian daripada kepemilikan terhadap uang atau emas atau warisan sumber daya alam. Orang yang bener-bener jago bisa menggunakan uang orang lain untuk peruntungannya. Sistem keuangan modern lebih-lebih sangat memungkinkan itu. Nah, di sini letak jebakannya. Terlalu mengagungkan pengetahuan dan kemampuan ada bahayanya. Suatu yang nggak nyata (&lt;em&gt;intangible&lt;/em&gt;), seperti pengetahuan, bisa bernilai positif atau negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho, koq ada pengetahuan yang bernilai negatif? Bisa dong. Manusia tidak pernah dapat mencapai pengetahuan dan kemampuan sempurna. Di situ justru letak serunya. Dengan kekurangan, ada peluang perbaikan terus menerus. Yang ketahuan negatif secara ilmiah (atau praktis pragmatis, supaya lebih longgar - Y Pan) bisa dikoreksi menjadi positif. Agak serius dikit, secara filosofis, kemustahilan adanya pengetahuan sempurna mudah ditunjukkan. Lihat deh pemikiran filsuf &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Karl_Popper" target="_new"&gt;Popper&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/George_Soros" target="_new"&gt;Soros&lt;/a&gt;... ya &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/George_Soros" target="_new"&gt;George Soros&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi agama, seperti Islam yang saya ketahui, sudah wanti-wanti bahwa Allah hanya menurunkan sedikit sekali ilmu kepada manusia. &lt;em&gt;Negative intangibles&lt;/em&gt; artinya bisa terjadi. Ini belum memasukkan faktor negatif sifat setan dalam diri manusia, yang bisa sengaja curang. Maksudnya? Ya, bukan mustahil ada pihak jahat yang sengaja memproduksi dan menyebarluaskan pengetahuan yang salah. Ketika pengetahuan itu mendominasi, pihak jahat tersebut bisa mengambil keuntungan sendiri darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buru-buru loncat ke kesimpulan (karena tulisan udah kepanjangan - Y Pan), aset-aset nyata (&lt;em&gt;tangibles&lt;/em&gt;) tetap penting. Apalagi emas sebagai aset yang paling lancar. Penguasaan terhadap emas, secanggih apapun pengetahuan yang dikuasai, tetap utama. Kesimpulan ini setidaknya benar hingga saat ini. Lihat aja sepak terjang saudara emas putih. Harganya kembali merangkak naik, eh meroket lagi. Pengetahuan belum mampu menciptakan energi alternatif yang lebih murah daripada emas hitam itu. Alternatif lain, seperti energi nuklir, masih tergantung sumber daya alam yang dianugerahkan Allah kepada negeri-negeri yang beruntung. Kita pun menjadi saksi bagaimana perang dikobarkan untuk menguasainya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca juga:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/05/kekuatan-uang.html"&gt;Kekuatan Uang&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/05/kelemahan-uang.html"&gt;Kelemahan Uang&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-4151357261002146064?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/4151357261002146064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=4151357261002146064' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/4151357261002146064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/4151357261002146064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/05/emas-putih-dan-hitam.html' title='Emas Putih dan Hitam'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-2570197754110688889</id><published>2009-05-20T07:09:00.005+07:00</published><updated>2009-05-20T12:12:40.253+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><title type='text'>Oh Ustadz</title><content type='html'>Kemarin siang, alhamdulillah, bisa dengerin kuliah zuhur di masjid kantor. Pemberi kuliah adalah Ustadz Miftah Farid. Beliau menyampaikan materi mengenai masjid. Ada masjid kuba, masjid dua kiblat, masjid jin, masjid dirar, dll. Sambil membaca catatan Mas Shiddieq mengenai Kazakhstan, saya mencermati kuliahnya yang disampaikan dengan gaya yang sama sejak dulu zaman saya kuliah di Bandung. Memangnya nggak ada yang beda?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu terus terang saya menganggap gaya beliau serius. Sekarang juga begitu, tapi ada perasaan lain. Apa dulu hati ini susah disentuh ya? Sekarang, dengan cara yang sama, bahasa hati beliau mampu menarik perhatian hatiku. Ya... mungkin ini semua proses. Materi-materi ruhani yang disampaikan dengan konsisten kemungkinan sedikit demi sedikit terakumulasi, sehingga materi dan gaya yang sama lebih mudah dicerna dan diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu ini bukan prestasi beliau semata. Terima kasih kepada semua guru, ustadz, sahabat, dan keluarga yang nggak capek-capek menjalankan, mengajak, dan mendorong proses perbaikan. Mudah-mudahan amal yang dilakukan mendapatkan balasan yang berlipat ganda dari Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balik ke Kiai Miftah, ada lagi yang lain dari beliau. Dengan seriusnya, beliau menyelipkan canda segar di dalam ceramah. Saya nggak tahu bagaimana dengan jamaah lain yang mengikuti, tapi buat saya candanya sungguh serius lucu! Berikut kutipannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Nama masjid hendaknya menunjukkan tempat yang dinamai memang masjid. Walaupun dari Al Qur'an, nama Al Baqoroh jangan dong dijadikan nama masjid. Masak ada Masjid Sapi Betina. Mungkin pernah ada ya masjid bernama demikian. Bukan di Arab pasti. Kenapa nggak Al Fatihah, surat pembuka? Atau kalau pewakafnya bernama Imron, dinamai Masjid Ali Imron. Kalau masjid tersebut untuk perempuan, bolehlah dinamai An Nisa. Boleh juga nama-nama dengan awal Al lainnya, kecuali nama seperti Al Kohol dan Al Pukat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya menara nggak ada di zaman Nabi. Tapi karena Bilal, muadzin Nabi, dan muadzin-muadzin setelahnya selalu naik ke tempat yang tinggi, akhirnya dibuatlah menara agar jangkauan panggilan bisa lebih jauh. Kalau dulu Bilal selalu menghadapkan panggilannya ke segala arah, kini cukup ke arah kiblat saja, karena sudah ada speaker yang diarahkan ke segala penjuru. Terus mengenai pahala muadzin, Kiai Miftah menyindir masjid yang muadzinnya tidur terus. Soalnya pake kaset. Ya, begitulah yang dapet pahala adalah kasetnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus kegiatan apa yang dilakukan di masjid. Semuanya boleh, kecuali yang dilarang. Pertama, transaksi bisnis. Lobi bisnis? Boleh, tapi transaksinya di luar. Kedua, junub. Makanya di masjid nggak boleh ada kamar yang disediakan khusus untuk manten, hehehe. Orang junub hanya boleh lewat saja, misalnya karena nggak ada jalan lain, kecuali harus lewat masjid. Kalau kegiatan seni? Boleh, asal nggak mengganggu kegiatan yang mestinya dilakukan di situ.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Ustadz Miftah Farid. Masih banyak canda serius tapi segar dari beliau dalam kuliah zuhur kemarin itu, tapi cukuplah beberapa kutipan di atas sebagai penggoda agar Anda lain kali hadir sendiri di majelis beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, koq bisa ya para ustadz ceramah sambil melucu? Mungkin para ustadz seperti Pak Miftah berusaha menjalankan contoh Nabi untuk berlaku lembut. Sekiranya hati para ustadz keras, tentu jamaah pada kabur. Kalau kita cermati lagi, Pak Miftah dan ustadz lainnya nampak berusaha berinteraksi secara seimbang. Nggak serius mulu. Kemudian, beliau memprioritaskan nasihat yg penting dan sederhana dalam menyampaikannya. Selain itu, beliau mengapresiasi kecerdasan pendengarnya, jadi bahasa yang dipake nyambung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah apalagi ya yang bisa dipetik dari kuliah Pak Miftah? Oh, mungkin sikap santun! Beliau terlihat menghindari menantang jamaah. Misalnya, ayo siapa yang berani bertaruh...? Eh apaan ini? Nggak mungkin lah. Kritik dan masukan? Ada itu, di situ justru inti dari ceramah, tapi beliau tidak terlalu langsung menyampaikannya dan tidak terlalu pedas mengkritiknya. Nggak kayak kita ya? Kalau ngelihat anggota jamaah salah dikit aja, ngomongnya sampai ke seberang lautan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, Ustadz, mudah-mudahan kami bisa meneladani Anda!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-2570197754110688889?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/2570197754110688889/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=2570197754110688889' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/2570197754110688889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/2570197754110688889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/05/oh-ustadz.html' title='Oh Ustadz'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-2439317370429185707</id><published>2009-05-14T12:45:00.003+07:00</published><updated>2009-05-15T10:32:38.927+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekonomi-bisnis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><title type='text'>Kelemahan Uang</title><content type='html'>Kaka pernah menolak tawaran City untuk hengkang dari AC Milan. Padahal iming-iming uang yang bakal diterimanya luar biasa besar. Toh dia tetap memilih di Milan. Ini satu contoh ketika uang tiba-tiba lumpuh di hadapan kita. Ada juga ungkapan dari the Beatles: &lt;em&gt;(you) can't buy me looove.. ove!&lt;/em&gt; Iya ya, masak cinta bisa dibeli dengan uang.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lainnya lagi terjadi pada seorang sahabat nabi. Tawaran menggiurkan dari penguasa pasar untuk menjual seluruh barang dagangannya dengan harga luar biasa tinggi ditolaknya mentah-mentah. Pada saat paceklik itu, bisa saja ia mengikuti kehendak sebagian pelaku pasar tamak yang menyimpan motif menimbun sehingga barang-barang makin langka. Ternyata..? Ya, uang sama sekali nggak ada artinya dibandingkan balasan yang diharapkan beliau dari Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita juga pernah memiliki pengalaman serupa, meskipun tingkatnya masih rendahan. Di hadapan kita tergeletak sekarung uang. Entah dari mana. Saya yakin kita nggak serta merta menginginkannya, karena kita tahu itu bukan hak kita. Keyakinan terhadap nilai-nilai tertentu membuat uang kembali tidak berdaya. Yah, walaupun banyak juga yang kepleset, pasti ada di antara kita yang nggak mau menggadaikan keyakinan hanya sekedar untuk uang. Uang bisa tidak berarti. Itulah kelemahannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan sistem keuangan dunia? Apakah di konteks ini bisa juga kita demonstrasikan kelemahan inheren dari uang? Nah sebelum cakupan diskusi kita terlalu luas, mari cermati temuan peneliti, Kathleen Vohs bersama rekan-rekannya. Perilaku manusia cenderung berubah ketika sedang berpikir mengenai uang. Lebih individualis dan menolak bantuan, apalagi memberi bantuan. Lihat artikel sebelumnya, &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/09/ongkos-uang-yang-tersembunyi.html" target="_new"&gt;Ongkos Uang Yang Tersembunyi&lt;/a&gt;. Lho, bukannya ini berarti uang punya kekuatan dahsyat dalam mengubah perilaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru itu! Kekuatan seseorang atau sesuatu bisa menjadi sumber kelemahannya, walaupun nggak selalu. Ah, masak? Ya sudah kalau nggak setuju, tapi ceritanya begini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan uang bener-bener bebas nilai. Penggunaannya oleh manusia lah yang bikin masalah atau memberi manfaat. Andaikan manusia betul-betul rasional dan mulia. Pasti penggunaan uang betul-betul dalam rangka memberi nilai tambah. Positif! Jika ada yang nyeleneh, anggaplah manusia secara keseluruhan akan memberikan koreksi, sehingga bisa dikatakan tidak akan ada  penyimpangan sistematis. Penggunaan uang jadi nggak perlu terlalu dikendalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi tanpa kendali? Ya itu yang diciptakan Greenspan. Ia menampik begitu saja (lihat artikel sebelumnya, &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/10/menggugat-warisan-greenspan-1.html" target="_new"&gt;Menggugat Warisan Greenspan&lt;/a&gt;) pengendalian derivatif yang punya potensi penggandaan uang secara nggak wajar. Beliau yakin sekali akan kekuatan &lt;em&gt;invisible hand&lt;/em&gt; lewat mekanisme pasar dalam mengkoreksi perilaku buruk penggunaan uang. Hasilnya sudah sama-sama kita ketahui (lihat artikel sebelumnya &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/04/krisis-ekonomi-as-dan-global.html" target="_new"&gt;Krisis Ekonomi AS dan Global&lt;/a&gt;). Lho apa yang salah? Ini dia, mungkin di sini kita bisa merasakan lagi kelemahan uang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dibiarkan tanpa kendali, uang akan tumbuh terus menerus secara sistematis, lewat proses penggelembungan. Analogi meniup atau menggelembungkan balon kayaknya cukup pas. Sebaliknya, dulu waktu emas menjadi standard, sebelum maupun sesudah Bretton Woods (lihat artikel &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/05/kekuatan-uang.html" target="_new"&gt;Kekuatan Uang&lt;/a&gt;), suplai uang bener-bener terkendali, bahkan terkekang. Balon ekonomi nggak bisa cepat besar. Sebentar menggembung, sebentar kempes. Begitu seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian pemimpin negara-negara di dunia nggak sreg dengan keterbatasan laju penggelembungan balonnya masing-masing. Wah, apa pasal? Rakyatnya yang terus tumbuh karena beranak pinak akan kena dampak dari kempesnya ekonomi. Banyak yang nganggur dan nggak makan. Bahkan, seandainya balon ekonomi nggak tumbuh, populasi rakyat tetap tumbuh dan menambah masalah sosial. Pemimpin negara kemudian kena batunya. Oh gitu, tapi pertanyaan kritis yang bisa diajukan mungkin sbb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, apakah pengekangan suplai uang lewat cadangan emas memang selalu buruk dan selalu tidak mampu mengejar pertumbuhan populasi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, apakah pelonggaran suplai uang yang menjadi karakter inflasioner dari &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bretton_Woods_system" target="_new"&gt;Bretton Woods System&lt;/a&gt; saat ini tidak punya risiko kebablasan akibat kecurangan-kecurangan, sampai balon ekonomi meletus... eh meledak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, mungkin jawaban terhadap dua pertanyaan ini bisa mengantar kita kepada 'pembuktian' perasaan adanya kelemahan uang. Nggak peduli Poundsterling, Dollar, apalagi Rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat artikel terkait:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/05/kekuatan-uang.html" target="_new"&gt;Kekuatan Uang&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-2439317370429185707?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/2439317370429185707/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=2439317370429185707' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/2439317370429185707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/2439317370429185707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/05/kelemahan-uang.html' title='Kelemahan Uang'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-142965387457543912</id><published>2009-05-08T13:24:00.001+07:00</published><updated>2009-05-15T10:30:16.487+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekonomi-bisnis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><title type='text'>Kekuatan Uang</title><content type='html'>Nggak ada uang, abang ditendang. Sebaliknya, punya uang, abang disayang. Bener kan? Hehehe... Nggak semua perempuan (dan laki-laki) begitu sih. Contohnya kamuuuu... mau mencintaiku apa adanya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, uang memang punya kekuatan. Suka atau tidak. Waktu Ketua RW kami masih hidup, dia sungguh punya pengaruh kuat di lingkungan. Tanpa uang aja, Ketua RW sudah cukup disegani. Apalagi duitnya banyak. Beliau sempat membangun beberapa kios di dekat pendopo. Katanya, masing-masing kios diserahkan pengelolaannya ke masing-masing RT. Wah, ada apa ini? Waktu itu, RT kami jadi curiga. Lagian posisi kios merugikan sebagian warga. Nah, walaupun sudah diprotes, tetep aja pembangunan jalan. Di sebelahnya, malahan dijadikan tempat cucian mobil. Sumber uangnya? Jangan tanya deh. Nggak tahu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau cerita level dunia, di abad modern ini, Inggris secara alamiah pernah menjadi pusat keuangan dunia. Sterling pernah menjadi alat tukar antar negara di kawasan Eropa. Lho koq bisa? Ya itu tadi, Sterling sebagai uang punya kekuatan dan dibandingkan uang negara-negara tetangganya ia sangat dominan. Asal kekuatan itu dari mana? Ya asalnya dari penguasaan Inggris Raya atas sumber-sumber ekonomi yang waktu itu diwakili oleh gunungan emas. Karena kekuatan itu pula, Inggris mempunyai hak istimewa untuk memberikan utang ke negara-negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa repot Denmark, misalnya, mengkonversi mata uangnya ke Sterling? Pertama, untuk perdagangan antar negara. Kan duit yang digunakan mesti bisa ditukar antar mata uang yang berbeda. Pegangannya ya itu... Sterling. Alternatif lain, pegangannya emas! Setiap negara memiliki cadangan emas yang mem-&lt;em&gt;backup&lt;/em&gt; mata uangnya dengan &lt;em&gt;rate&lt;/em&gt; atau tarif tertentu. Nah, dengan kemampuan konversi seperti itu, apakah lewat emas atau lewat Sterling, Denmark bisa berdagang dengan negara-negara Eropa lainnya. Kedua, konversi mata uang diperlukan untuk memungkinkan investasi lintas negara. Penjelasannya masih senada sih dengan yang pertama. Dagang dan investasi mirip banget. Investasi bisa dibilang dagang juga. Yang ketiga dan terakhir, mirip dengan yang kedua, alasan perlunya konversi adalah adanya hutang piutang antar negara, sebagaimana si abang juga suka ngutangin atau ngutang ke tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Inggris. Ia negara kuat secara ekonomi dan militer. Namun demikian, kehidupan selalu berubah tak terduga. Karena perang, Inggris bukannya menumpuk emas sehingga punya dua gunung emas, tapi malah menumpuk hutang ke... siapa lagi kalau bukan Amerika Serikat, rivalnya sejak masa kolonisasi benua kaum Indian. Sterling kehilangan kekuatannya setelah Perang Dunia II. Giliran abang ini untuk ditendang? Ya, begitulah sejarah membuktikan. Dampaknya apa? Weleh, perdagangan dan investasi antar negara terganggu. Inggris nggak mampu lagi menjadi cukong dunia! Balik ke emas dong. Nggak bisa lagi karena negara-negara nggak mau mengkerut atau mengecil ekonominya, walaupun ketika tekor terus: banyak impor (konsumsi) tapi sedikit ekspor (produksi). Kalau nggak pake emas, pertumbuhan bisa ditiup terus. Dengan hati-hati tapi. Kalau nggak, bisa meletus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui lobi-lobi yang melelahkan, di konferensi Bretton Woods, para delegasi Inggris dan AS akhirnya sepakat dengan suatu jalan keluar. Harus ada pengganti Poundsterling sebagai mata uang dunia. Walaupun Inggris, dari ide John Maynard Keynes, mengusulkan &lt;em&gt;bancor&lt;/em&gt; sebagai mata uang dunia dengan satu bank sentral dunia tunggal yang mengatur suplainya, AS nggak ambil pusing, karena nilai tawar AS dibanding Inggris lebih tinggi. Dollar akhirnya dijadikan pengganti Pound Inggris, dengan persetujuan negara-negara pengekor. Konsekuensinya AS menjadi pusat keuangan dunia baru!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatur sistem baru yang disebut &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bretton_Woods_system" target="_new"&gt;Bretton Woods System&lt;/a&gt;, dibentuklah IMF dan IBRD (sekarang WB atau Bank Dunia). IMF mempunyai otoritas menjaga nilai tukar antar mata uang yang semuanya berpegang ke Dollar. Perubahan nilai tukar boleh dilakukan menurut aturan tertentu dan untuk kasus tertentu lewat persetujuan IMF. Sementara WB berfungsi memberikan pinjaman pembangunan ke negara-negara yang tertinggal. Cita-cita sistem ini mulia banget. Bahasa gaulnya: yok semuanya kita jalan dan maju bareng! Jadilah sistem ini, dengan beberapa perubahan sepanjang beberapa dekade, berlaku hingga sekarang. Sungguh? &lt;em&gt;Yes, to some extent.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, jadi kepanjangan deh. OK, nantikan aja artikel berikutnya &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/05/kelemahan-uang.html"&gt;Kelemahan Uang&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-142965387457543912?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/142965387457543912/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=142965387457543912' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/142965387457543912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/142965387457543912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/05/kekuatan-uang.html' title='Kekuatan Uang'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-5789541066629282664</id><published>2009-05-05T15:18:00.003+07:00</published><updated>2009-05-05T15:31:21.386+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><title type='text'>Temuan Hari Ini</title><content type='html'>Masih inget sama Yuyun, temen saya, kan? Kalau sudah lupa, coba kunjungi artikel sebelumnya, &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/05/relawan-jalanan.html" target="_new"&gt;Relawan Jalanan&lt;/a&gt;.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, tiba-tiba, dia memburu ke arah saya dengan membawa sesuatu di tangannya. Temen-temen berkumpul... terheran-heran... dan menyaksikan ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sf_5Hedz40I/AAAAAAAAAY0/KYouwh-s6tY/s1600-h/05052009545.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sf_5Hedz40I/AAAAAAAAAY0/KYouwh-s6tY/s400/05052009545.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5332254390662456130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-5789541066629282664?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/5789541066629282664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=5789541066629282664' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/5789541066629282664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/5789541066629282664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/05/temuan-hari-ini.html' title='Temuan Hari Ini'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sf_5Hedz40I/AAAAAAAAAY0/KYouwh-s6tY/s72-c/05052009545.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-7995083388814105231</id><published>2009-05-02T10:13:00.004+07:00</published><updated>2009-05-02T18:53:49.844+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><title type='text'>Relawan Jalanan</title><content type='html'>Temenku Yuyun namanya. Dia seorang yang punya motivasi aktualisasi luar biasa. Buktinya ke kantor suka naik sepeda. Lho apa hubungannya? Nggak ada kali. Tapi menurutku sih begitu, dan itu nggak perlu bukti lebih jauh. Pokoknya begitu deh, walaupun Yuyun sendiri bisa nggak setuju, hehehe.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jum'at pagi kemarin di kantor dia semangat sekali menunjukkan temuannya persis di depan ASMI. Apa sih? Tunggu dulu. Pernah dua kali sepeda motornya jadi korban di situ. Sepedanya sekali. Rupanya pengalaman buruk menjadi korban menghimpun tekadnya mulai May Day untuk menjadi relawan jalanan. Rencananya dia akan lakukan aksi hingga akhir Mei. Kemudian dia akan bikin perhitungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking semangatnya dia bercerita, saya yang tadinya sedang ngobrol dengan teman lain agak jauh dari situ tertarik juga untuk melakukan wawancara investigasi. Yuyun sih seneng aja diwawancarai, apalagi pas difoto. Ini dia fotonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SfwziWf545I/AAAAAAAAAYk/hTxUAb7pfl0/s1600-h/Yuyun+Relawan+Jalanan.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SfwziWf545I/AAAAAAAAAYk/hTxUAb7pfl0/s320/Yuyun+Relawan+Jalanan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331192724147790738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SfwziifBfNI/AAAAAAAAAYs/OZGtc69jDhI/s1600-h/Paku+di+depan+ASMI.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 166px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SfwziifBfNI/AAAAAAAAAYs/OZGtc69jDhI/s320/Paku+di+depan+ASMI.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331192727365319890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu ditanya mau diapain paku-paku yang terkumpul. Sambil bercanda dia bilang mau diloakin aja! Wah, hitungannya untung atau rugi ya? Jelas untung dong secara spirtual. Insya Allah seorang yang menyingkirkan duri dari jalan akan mendapatkan pahala. Pengorbanannya? Ah, nggak seberapa. Kan dia cuma fokus di depan ASMI. Itulah tempat paling rawan yang selalu dilewatinya. Tempat lain yang dilewati orang lain gimana? Yah... masak harus Yuyun juga. Itu ladang amal masing-masing. Kecuali kalau Bang Foke mau ngerjainnya. Semua pemilihnya bahkan yang nggak memilihnya tapi menerima kekalahan Pak Adang akan kebagian pahala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat Yuyun: TERUSKAN (atau LANJUTKAN  kata jargon kampanye, walau dengan pasangan yang berbeda)!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-7995083388814105231?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/7995083388814105231/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=7995083388814105231' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/7995083388814105231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/7995083388814105231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/05/relawan-jalanan.html' title='Relawan Jalanan'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SfwziWf545I/AAAAAAAAAYk/hTxUAb7pfl0/s72-c/Yuyun+Relawan+Jalanan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-245649166172786905</id><published>2009-04-27T13:15:00.003+07:00</published><updated>2009-04-27T16:02:59.985+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sistem informasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekonomi-bisnis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><title type='text'>Menunggu tanpa Informasi</title><content type='html'>Hari ini saya ke bank lagi. Ada tagihan yang mesti dibayar. Ah, seandainya nggak ada tagihan mendadak, nggak perlulah saya ngantri lama. Teringat Jum&amp;#39;at yang barusan berlalu. Saya berniat melunasi hutang dan membayar pendaftaran sekolah buat Rita. Saya berangkat sebelum jam 11 setelah minta izin meninggalkan rapat. Sesampainya di bank yang cuma beberapa menit jalan kaki dari kantor, saya dapati antrian teramat panjang seperti hari ini.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedanya Jum&amp;#39;at itu, waktu mepet banget menjelang khutbah Jum&amp;#39;at. Satu per satu pelanggan dilayani. Langkahnya pelan tapi pasti. Ah pasti keburu nih. Tapi begitu antrian tinggal dua orang lagi di muka, proses pelayanan seolah berhenti. Lima menit berlalu. Sepuluh menit pun berlalu, sementara jarum jam makin cepat menyuruh muadzin mengumandangkan adzan. Lima belas menit berlalu. Satu konter &lt;em&gt;teller&lt;/em&gt; tutup. Kayaknya petugasnya siap-siap shalat Jum&amp;#39;at. Antrian nggak maju-maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelnya, nggak ada informasi. &lt;em&gt;What&amp;#39;s going on?&lt;/em&gt; Sabar sih bisa, tapi yang ini di bank yang tampangnya profesional, sifat sabar nggak bisa dijadikan alasan bagi manajemen untuk mengecewakan pelanggan. Informasi ada? Tetep nggak ada! Kayak di stasiun dan KRL aja, sering kita nggak tahu kapan penantian akan berakhir. Oh... Lihat &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/10/greget-informasi-di-stasiun.html" target="_new"&gt;Greget Informasi di Stasiun&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang antrian seolah berhenti, wajar dong kalau ada pengumuman ke antrian pelanggan yang panjang. Mungkin penjelasannya kurang lebih begini. Tanggal-tanggal segini memang transaksinya banyak-banyak. Wah, kalau diberitahu dari tadi kan lumayan. Ada kepastian. Terus, kalau memang sudah tahu transaksi Jum&amp;#39;at sekitar tanggal 24-25 jam 11-12 selalu menggunung, mengapa nggak diatur &lt;em&gt;teller&lt;/em&gt; perempuan lebih banyak yang bertugas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini lumayan. Pelayanan antrian nggak mandek. Nggak ada juga desakan panggilan dari muadzin. Ah, sebenarnya saya ingin pelayanan bank saya ini selalu prima. Mungkin kesadaran mengenai pentingnya informasi perlu ditingkatkan. Bahkan di bank nasional!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-245649166172786905?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/245649166172786905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=245649166172786905' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/245649166172786905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/245649166172786905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/04/menunggu-tanpa-informasi.html' title='Menunggu tanpa Informasi'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-7103082028072914655</id><published>2009-04-22T12:30:00.004+07:00</published><updated>2009-04-23T08:35:52.793+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahasa-matematika'/><title type='text'>Akhiran -kan dan Akhiran -an</title><content type='html'>Apa sih bedanya akhiran -an dan akhiran -kan? Ah gampang. Misalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;bedakan&lt;br /&gt;samakan&lt;br /&gt;sempurnakan&lt;br /&gt;membedakan&lt;br /&gt;menyamakan&lt;br /&gt;menyempurnakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perbedaan&lt;br /&gt;persamaan&lt;br /&gt;kesempurnaan&lt;/em&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, kayaknya akhiran -kan membentuk kata kerja, sementara akhiran -an membentuk kata benda. Emang nggak ada akhiran -kan yang membentuk kata benda? Jawabnya IYA besar. Terus, emang nggak ada akhiran -an yang membentuk kata kerja? Hm... Ini lebih sulit. Bagaimana dengan contoh-contoh berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;bersamaan, berlawanan, bersilangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bepergian, berakhiran, berawalan&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe, ada toh akhiran -an yang membentuk kata kerja, tapi kelihatan selalu berpasangan dengan awalan ber- dan tidak pernah berpasangan dengan awalan me- yang bikin kita tidak pernah menjumpai:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;menyamaan, melawanan, menyilangan, memergian, mengakhiran, mengawalan&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kita jumpai:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;menyamakan, melawankan, menyilangkan, memergikan, mengakhirkan, mengawalkan&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, gampang banget ya? La iya lah. Cuma saya sering melihat kekeliruan ketika kata dasar yang digunakan berakhir dengan huruf k, misalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;tunjuk, sejuk, peluk, gemuk, masuk, untuk, keduk, beruk&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana contoh bentukannya dengan akhiran -an? Begini kali...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;tunjukan&lt;/em&gt; (alat untuk menunjuk), &lt;em&gt;penunjukan&lt;/em&gt; (peristiwa atau kejadian menunjuk), &lt;em&gt;kesejukan&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;pelukan&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;berpelukan&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;kegemukan&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;masukan&lt;/em&gt; (input), &lt;em&gt;kemasukan&lt;/em&gt; (peristiwa sesuatu masuk tanpa disadari atau diharapkan), &lt;em&gt;pemasukan&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;peruntukan&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;kedukan&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;berukan&lt;/em&gt; (hehehe).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bener nggak kata-kata yang mungkin kita temui ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;tunjukkan, penunjukkan, kesejukkan, pelukkan, berpelukkan, kegemukkan, masukkan, kemasukkan, pemasukkan, peruntukkan, kedukkan&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya, menurut saya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;tunjukkan&lt;/em&gt; (benar - kata perintah agar seseorang menunjukkan sesuatu), &lt;em&gt;penunjukkan&lt;/em&gt; (salah), &lt;em&gt;kesejukkan&lt;/em&gt; (salah), &lt;em&gt;pelukkan&lt;/em&gt; (benar - kata perintah agar seseorang memelukkan sesorang yang lain dengan sesuatu... wadoh), &lt;em&gt;berpelukkan&lt;/em&gt; (salah), &lt;em&gt;kegemukkan&lt;/em&gt; (salah), &lt;em&gt;masukkan&lt;/em&gt; (benar - kata perintah kepada seseorang untuk memasukkan sesuatu), &lt;em&gt;kemasukkan&lt;/em&gt; (salah), &lt;em&gt;pemasukkan&lt;/em&gt; (salah), &lt;em&gt;peruntukkan&lt;/em&gt; (benar - kata perintah untuk memperuntukkan sesuatu kepada seseorang atau sesuatu yang lain), &lt;em&gt;kedukkan&lt;/em&gt; (benar - kata perintah agar seseorang mengedukkan tanah buat sang pembicara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Weleh weleh weleh, ternyata bisa rumit juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah berikut ini contoh bentukan kata kerja dengan menggunakan me- -kan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;menunjukkan, menyejukkan, memelukkan, menggemukkan, memasukkan, memperuntukkan, mengedukkan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan jelas deh... Tapi jangan lupa ya menghindari penggunaan yang salah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba &lt;em&gt;tunjukan&lt;/em&gt; dong perhatianmu (harusnya &lt;em&gt;tunjukkan&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Penunjukkan&lt;/em&gt; PT ABC sebagai pemenang cacat hukum (harusnya &lt;em&gt;Penunjukan&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;Tanda ini &lt;em&gt;menunjukan&lt;/em&gt; kita harus berhenti (harusnya &lt;em&gt;menunjukkan&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kekeliruan di atas bisa terjadi? Yah, mungkin kita rancu aja. Kadang kita menganggap huruf k pada akhiran -kan TERASIMILASI oleh huruf k pada kata tunjuk, sehingga yang seharusnya &lt;em&gt;menunjukkan&lt;/em&gt; kita tulis sebagai &lt;em&gt;menunjukan&lt;/em&gt;. Kerancuan yang berbeda juga terjadi ketika &lt;em&gt;penunjukan&lt;/em&gt; kita tulis sebagai &lt;em&gt;penunjukkan&lt;/em&gt;. Dalam hal ini kerancuan mungkin timbul karena ada kesan kata kerja atau adanya proses pada kata itu, sehingga akhiran -kan digunakan sebagai ganti -an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Udahan&lt;/em&gt; (atau &lt;em&gt;Udahkan&lt;/em&gt;) dulu ya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat juga artikel saya yang lain:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/01/penunjukkan-atau-penunjukan.html"&gt;Penunjukan atau Penunjukkan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-7103082028072914655?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/7103082028072914655/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=7103082028072914655' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/7103082028072914655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/7103082028072914655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/04/akhiran-kan-dan-akhiran.html' title='Akhiran -kan dan Akhiran -an'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-5165355122571672260</id><published>2009-04-20T16:38:00.003+07:00</published><updated>2009-04-21T16:50:12.301+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lebih personal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahasa-matematika'/><title type='text'>Klinik Pendidikan MIPA</title><content type='html'>Kemarin saya ke Bogor, nganterin Aisyah latihan soal-soal olimpiade matematika bersama Pak Ridwan Hasan Saputra. Berangkat jam 7.00 dari Bekasi, kami tiba di Pusdiklat Dephub yang lokasinya sudah deket Parung sekitar jam 8.30. Sudah telat. Latihannya sendiri berakhir sekitar jam 12.00. Capek juga tuh anak-anak. Apalagi Aisyah dari dulu susah banget sarapan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari nungguin anak-anak mengerjakan soal, Pak Ridwan mengambil kesempatan untuk melakukan briefing ke para orangtua. Intinya, beliau menyampaikan prinsip-prinsipnya dalam menjalankan Klinik Pendidikan MIPA dan rencana-rencana ke depan. Selain itu, beliau juga menyampaikan perlunya murid dan orangtua murid 'patuh' pada guru. Patuh pada guru merupakan kunci keberhasilan anak. Ilmu ibarat air yang dituangkan dari ceret (guru) ke gelas (murid). Air nggak bakalan pindah ke gelas, kalau gelas lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah sendiri yang saat ini hampir sembilan tahun dan masih duduk di kelas tiga tergabung dalam kelas berbakat Pak Ridwan di Al Azhar, Kemang Pratama, melalui seleksi pada awal tahun ajaran 2008-2009. Wakil-wakil dari sekolah Aisyah, SDIT Thariq bin Ziyad, Pondok Hijau, Bekasi, diundang oleh Pak Ridwan setelah acara pelatihan untuk orangtua dan guru tengah tahun 2008 yang lalu (lihat foto-fotonya di link &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/08/belajar-matematika-asyik-menyenangkan.html" target="_new"&gt;Belajar Matematika Asyik Menyenangkan&lt;/a&gt;). Selama hampir satu tahun ajaran, alhamdulillah Aisyah masih bertahan. Ujian eliminasi berikutnya sudah menanti Sabtu ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan berhasil Aisyah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ridwan sedang ngobrol dengan beberapa orangtua murid...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Se2PFuoF9dI/AAAAAAAAAYE/Z3YvKjkGgok/s1600-h/19042009531.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Se2PFuoF9dI/AAAAAAAAAYE/Z3YvKjkGgok/s320/19042009531.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5327071262827476434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jualan kaos dan buku Klinik Pendidikan MIPA diserbu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Se2PFg7DD_I/AAAAAAAAAX8/6KviKOtepEk/s1600-h/19042009530.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Se2PFg7DD_I/AAAAAAAAAX8/6KviKOtepEk/s320/19042009530.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5327071259148881906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini contoh kaosnya (diperagakan oleh model, hehehe)...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Se2PGPfPylI/AAAAAAAAAYU/-FFC5knKDoQ/s1600-h/19042009536.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Se2PGPfPylI/AAAAAAAAAYU/-FFC5knKDoQ/s320/19042009536.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5327071271648741970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Se2PGNGDc4I/AAAAAAAAAYM/ccD17m6D05U/s1600-h/19042009535.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Se2PGNGDc4I/AAAAAAAAAYM/ccD17m6D05U/s320/19042009535.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5327071271006204802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah capek habis seleksi tahun 2008...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Se2Wr2joYxI/AAAAAAAAAYc/Em8Y45yARqk/s1600-h/24082008293.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Se2Wr2joYxI/AAAAAAAAAYc/Em8Y45yARqk/s320/24082008293.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5327079614372668178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-5165355122571672260?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/5165355122571672260/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=5165355122571672260' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/5165355122571672260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/5165355122571672260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/04/klinik-pendidikan-mipa.html' title='Klinik Pendidikan MIPA'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Se2PFuoF9dI/AAAAAAAAAYE/Z3YvKjkGgok/s72-c/19042009531.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-2488305753181325079</id><published>2009-04-15T16:33:00.002+07:00</published><updated>2009-04-15T16:37:57.029+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='demokrasi-politik'/><title type='text'>Politik dan Kehidupan</title><content type='html'>Udah bosen bicara politik? Kalau gitu, mari bicara kehidupan aja. Dikisahkan seorang tua yang hidup merana dari pekerjaannya sebagai tukang sampah. Beberapa hari sekali, ia lewat di depan rumah kami untuk membersihkan kotak sampah kami dan tetangga-tetangga. Sesekali ia ditugasi sebagai hansip jika ada kenduri di rumah warga. Si bapak tua, namanya Saman, sudah lama tergantikan perannya oleh tukang sampah yang lebih muda. Ia balik kampung. Herannya, keponakan beliau, yang juga berprofesi sama nggak lama kemudian tergantikan juga.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya nggak tahu persis bagaimana kisah beliau selanjutnya. Rumor yang beredar adalah sejak pergantian pengurus RW, petugas-petugas keamanan dan kebersihan juga berganti. Apa hubungannya? Nggak ada kali. Mungkin cuma kebetulan. Mungkin juga pengurus baru berpikir perlu adanya peremajaan. Wah, hebat! Posisi petugas kebersihan pun perlu peremajaan. Yang jelas, kehidupan Pak Saman memberi pelajaran buat saya: figur penguasa di level terendah sekalipun memberi dampak. Bisa baik, bisa buruk! Bisa baik untuk satu pihak, tapi buruk untuk pihak lain. Sebuah &lt;em&gt;pareto&lt;/em&gt; katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tataran filosofis, dapat dikatakan kepemimpinan merupakan masalah besar. Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Kenapa mesti begitu? Ya itu tadi, figur pemimpin memberi dampak. Semakin besar skala kepemimpinannya, semakin besar dampaknya. Kata-kata seorang presiden AS bisa bikin sengsara ribuan atau ratusan ribu orang atau bahkan jutaan karena perang yang dikobarkannya. Keputusan kongres AS bisa bikin sejumlah yang sama di belahan bumi lain nggak bisa tidur nyenyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kehidupan! Bosen bicara kehidupan? Mungkin. Bosen hidup? Mungkin juga! Di atas itu semua, harapan bisa mengobati kebosanan. Sedihnya, harapan itu justru dikubur pihak tertentu. Mudah-mudahan nggak banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah penghitungan suara pemilu 2009 mengindikasikan perolehan yang rendah, alih-alih mawas diri dan melakukan koreksi, beberapa caleg menempuh jalan putus harapan. Kemudian, fenomena putus harapan di level pemimpin ini dilihat akar rumput yang kemudian sebagian tertular virus yang sama. Bosen lihat orang bosen! Apatis melihat orang apatis! Putus asa melihat orang putus asa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bosen bicara politik? Bosen bicara kehidupan? Bosen hidup? Saatnya sadar, &lt;em&gt;we can make a difference. That is true!&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-2488305753181325079?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/2488305753181325079/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=2488305753181325079' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/2488305753181325079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/2488305753181325079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/04/politik-dan-kehidupan.html' title='Politik dan Kehidupan'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-8871956673789345458</id><published>2009-04-11T16:30:00.000+07:00</published><updated>2009-04-11T16:32:15.788+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='demokrasi-politik'/><title type='text'>Foto Penghitungan Suara</title><content type='html'>Tugas paling berat KPPS sebenarnya adalah penghitungan suara. Pemilu 2009 ini membatasi pemungutan suara sampai dengan jam 12.00 siang. Nah, setelah itu, yang berat. Dari observasi saya di TPS 7, RT 06/01, Pengasinan, Rawalumbu, perhitungan satu kotak suara yang berisi sekitar 200-an surat suara membutuhkan waktu sekitar dua jam. Totalnya, kotak suara DPR RI, DPRD I, DPRD II, dan DPD bisa sampai delapan jam. Mungkin untuk kotak suara DPD bisa lebih cepat karena jauh lebih sederhana dibanding tiga kotak suara lainnya. Nggak heran deh kalau ada TPS yang baru beres jam 8.00 atau jam 9.00 malam atau bahkan lebih. Panitia KPPS yang baik hati mungkin perlu istirahat total deh besoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut foto-foto yang saya ambil.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas membuat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tally&lt;/span&gt; perolehan suara masing-masing partai dan caleg...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SeBe-IU3dWI/AAAAAAAAAXk/0VtpfjqKCDk/s1600-h/09042009524.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SeBe-IU3dWI/AAAAAAAAAXk/0VtpfjqKCDk/s320/09042009524.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323359181031830882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat di gambar di bawah ini, untuk mempercepat proses, dari kotak suara, surat suara 'terpaksa' dibuka, ditebar, dan ditumpuk semua terlebih dahulu sebelum disaksikan pilihannya satu per satu. Sah atau tidak. Nggak tahu deh, apakah ini pelanggaran secara teknis. Yang jelas saya cek di TPS lain di RW 06, hal yang sama juga dilakukan. Kalau dari pengamatan saya, risiko rusaknya surat suara, apalagi disengaja, tidak terlalu besar. Ya... apalagi selama semua pihak, terutama saksi dan pengawas, melakukan tugasnya dengan baik. Pada dasarnya, orang-orang yang terlibat di sini jujur-jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SeBe92TbtLI/AAAAAAAAAXc/cnquJb3aOEs/s1600-h/09042009522.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SeBe92TbtLI/AAAAAAAAAXc/cnquJb3aOEs/s320/09042009522.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323359176193979570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja sampai malam di bawah cahaya seadanya. Mata perlu kerja keras agar pilihan pada surat suara tidak keliru dinilai...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SeBhm7_iEdI/AAAAAAAAAXs/95v6ZI-zE_I/s1600-h/09042009528.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SeBhm7_iEdI/AAAAAAAAAXs/95v6ZI-zE_I/s320/09042009528.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323362081119015378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia KPPS menyiapkan laporan-laporan. Banyak banget. Kasihan deh. Akibatnya, mereka mungkin melakukan kesalahan yang tidak disengaja. Apalagi saya dengar KPU tidak memberikan cukup waktu untuk melatih panitia di tingkat akar rumput ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SeBhnOlR5uI/AAAAAAAAAX0/ZqvjTqqgt14/s1600-h/09042009529.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SeBhnOlR5uI/AAAAAAAAAX0/ZqvjTqqgt14/s320/09042009529.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323362086109177570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca artikel terkait:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/04/foto-hari-pencontrengan.html"&gt;Foto Hari Pencontrengan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/04/pemilu-2009-gagal.html"&gt;Pemilu 2009 Gagal&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/04/detik-menuju-pemilu.html"&gt;Detik Menuju Pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/03/kampanye-sehat.html"&gt;Kampanye Sehat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-8871956673789345458?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/8871956673789345458/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=8871956673789345458' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/8871956673789345458'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/8871956673789345458'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/04/foto-penghitungan-suara.html' title='Foto Penghitungan Suara'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SeBe-IU3dWI/AAAAAAAAAXk/0VtpfjqKCDk/s72-c/09042009524.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-9004217756180840894</id><published>2009-04-10T17:18:00.005+07:00</published><updated>2009-04-11T08:34:09.830+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='demokrasi-politik'/><title type='text'>Foto Hari Pencontrengan</title><content type='html'>Di hari pemungutan suara, 9 April 2009, saya sempat mengambil beberapa foto di TPS 07, RT 06/01, Pengasinan, Rawalumbu. Karena pake Nokia E90, kurang tajem deh.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para calon pemilih mengamati partai dan caleg idaman. Bingung nggak ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sd8gNej0eGI/AAAAAAAAAWk/wln5khs1a6w/s1600-h/09042009516.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sd8gNej0eGI/AAAAAAAAAWk/wln5khs1a6w/s320/09042009516.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323008700488906850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sd_uqoP1nUI/AAAAAAAAAXE/JQNNNFZslP4/s1600-h/09042009520.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sd_uqoP1nUI/AAAAAAAAAXE/JQNNNFZslP4/s320/09042009520.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323235700700978498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nunggunya lama nian, rata-rata lima belas menit...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sd8gNOT8S8I/AAAAAAAAAWc/6frkCtie6og/s1600-h/09042009515.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sd8gNOT8S8I/AAAAAAAAAWc/6frkCtie6og/s320/09042009515.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323008696127343554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia KPPS yang sangat rajin...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sd8gM4mdKYI/AAAAAAAAAWU/-NOeOK2C6QY/s1600-h/09042009514.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sd8gM4mdKYI/AAAAAAAAAWU/-NOeOK2C6QY/s320/09042009514.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323008690299414914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sd_uqXD7nqI/AAAAAAAAAW0/xrOkeFG5wAY/s1600-h/09042009518.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sd_uqXD7nqI/AAAAAAAAAW0/xrOkeFG5wAY/s320/09042009518.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323235696087637666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dia di bilik suara yang kecil, pemilih berjuang memberikan suaranya. Kalau normal, paling lima menit, kertas suara sudah tercontreng dan sudah terlipat lagi dengan rapi. Sebaliknya, yang keder, bisa setengah jam. Habis gitu, ngelipet kertasnya jadi tontonan lucu. Ada lho yang terpaksa dibantu panitia - yang jujur-jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sd8gMlUI4ZI/AAAAAAAAAWM/QYIichtUfB8/s1600-h/09042009513.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sd8gMlUI4ZI/AAAAAAAAAWM/QYIichtUfB8/s320/09042009513.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323008685122314642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpose sambil nunggu giliran. Lama sih, kalau yang lagi nyontreng pada bolot, bisa setengah jam nungguin giliran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sd8gNcdO7TI/AAAAAAAAAWs/QgqBUOv1ZQ4/s1600-h/09042009517.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sd8gNcdO7TI/AAAAAAAAAWs/QgqBUOv1ZQ4/s320/09042009517.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323008699924409650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sd_uqZlC-HI/AAAAAAAAAW8/8vZf9P3tpjo/s1600-h/09042009519.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sd_uqZlC-HI/AAAAAAAAAW8/8vZf9P3tpjo/s320/09042009519.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323235696763402354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca artikel politik sebelumnya:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/04/pemilu-2009-gagal.html"&gt;Pemilu 2009 Gagal&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/04/detik-menuju-pemilu.html"&gt;Detik Menuju Pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/03/kampanye-sehat.html"&gt;Kampanye Sehat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-9004217756180840894?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/9004217756180840894/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=9004217756180840894' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/9004217756180840894'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/9004217756180840894'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/04/foto-hari-pencontrengan.html' title='Foto Hari Pencontrengan'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sd8gNej0eGI/AAAAAAAAAWk/wln5khs1a6w/s72-c/09042009516.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-6222487181547301203</id><published>2009-04-10T00:17:00.003+07:00</published><updated>2009-04-11T08:36:00.340+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='demokrasi-politik'/><title type='text'>Pemilu 2009 Gagal</title><content type='html'>Itu yang saya takutkan. Risiko besar ada pada tingginya kompleksitas dan kerancuan yang menyertainya. Di beberapa TPS yang saya amati di sekitar tempat tinggal saya, Rawalumbu, Bekasi, kekuatiran timbulnya keributan ternyata cuma paranoia kecil yang nggak ada bandingannya dengan kedewasaan masyarakat.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat dengan cerita ayahanda bahwa dari jaman dulu di dusunnya, dusun Pangkalan Lampam, Sumatera Selatan, masyarakat sudah terbiasa memilih pemimpin. Kalau di jaman pasca kemerdekaan saja, masyarakat sudah dewasa, apalagi sekarang dong. Mungkin yang paling bertanggung jawab adalah reformasi. Ia sukses besar melepas belenggu represi puluhan tahun yang terlanjur, mungkin nggak sengaja, menjerumuskan bangsa menjadi bangsa penakut kekanak-kanakan yang cuma bisa nyanyi koor yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tidak lagi. Buktinya di RW 1 RT 6 Pengasinan. Perkampungan yang didominasi pemukim betawi yang agak tersingkir dari pusat kota yang elitis. Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana seorang kakek-kakek mencoba membuka surat suara, mencentang atau mencontreng, dan kemudian melipatnya lagi. Kalau anak muda rata-rata menghabiskan 3 sampai 5 menit di bilik suara, beliau bisa sampai setengah jam. Seorang anak muda yang agak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kurang&lt;/span&gt; di lingkungan itu juga perlu menghabiskan waktu setengah jam atau lebih di bilik yang sangat sempit dibandingkan surat suara yang terlihat lebih lebar dari koran nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan-kesulitan - gara-gara sistem pemilu - yang dialami di TPS seperti di atas dengan santai aja diserap dengan tertawa bersama. Yang bikin salut adalah kemauan kerja sama dan toleransi yang tinggi. Oh, alangkah mudahnya memimpin masyarakat hebat seperti ini! Kalau pemimpin nyatanya gagal atau setidaknya mengalami banyak kesulitan ketika duduk di kursi yang tinggi itu, mungkin sekali mereka harus mulai sadar. Mungkin ada pemimpin lain yang lebih pantas! Ini juga tertuju buat KPU!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil pemilu? Ah, sudah banyak yang memberitakan. Setidaknya, perkiraan saya di artikel yang lalu, &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/04/detik-menuju-pemilu.html" target="_new"&gt;Detik Menuju Pemilu&lt;/a&gt;, cukup akurat. Baik perkiraan lima besar, maupun fenomena Gerindra dan Hanura. Di RW tempat saya tinggal, RW 6,  PKS dan Demokrat berada di puncak. Bergeser dikit ke perkampungan, tokoh lokal dari Hanura, Bpk Winoto, mencetak skor individual yang luar biasa. Saya nggak tahu seberapa merata pencapaian beliau. Yang jelas di RW 1 itu, ia menunjukkan pengaruhnya. Demokrat dan PKS juga di RW 1 ini menunjukkan kelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto-fotonya? Besok aja yah. Udah malem. Selamat kepada Bangsa Indonesia yang kembali mendemonstrasikan diri sebagai bangsa demokratis yang besar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca artikel politik terkait:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/04/detik-menuju-pemilu.html"&gt;Detik Menuju Pemilu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/03/kampanye-sehat.html"&gt;Kampanye Sehat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-6222487181547301203?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/6222487181547301203/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=6222487181547301203' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/6222487181547301203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/6222487181547301203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/04/pemilu-2009-gagal.html' title='Pemilu 2009 Gagal'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-3823734136956854953</id><published>2009-04-06T22:16:00.002+07:00</published><updated>2009-04-11T08:36:00.341+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='demokrasi-politik'/><title type='text'>Detik Menuju Pemilu</title><content type='html'>Pemilu, termasuk pilkada dan pilpres, buat saya selalu menarik. Walaupun banyak kekurangannya, terus terang saya masih belum melihat alternatif lain yang lebih efektif dan efisien. Mungkin ada sih. Cuman perlu waktu baginya untuk muncul sebagai wacana, kemudian diuji bersama oleh masyarakat ini, dan akhirnya menjadi mekanisme praktis yang dapat diterapkan. Sebelum inovasi itu muncul, mau nggak mau kita - ah mungkin saya aja, tanpa ngajak-ngajak Anda yang mungkin nggak setuju - terima pemilu sebagai salah satu perangkat sosial &lt;em&gt;de facto&lt;/em&gt; yang penting.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda bisa dong menduga kalau saya termasuk yang menyarankan siapapun untuk tidak golput. Pendapat saya, justru kalau ingin mengubah sistem mesti lewat sistem itu sendiri. Revolusi sih mungkin saja, tapi belum tentu efektif juga. Alih-alih memperbaiki kelemahan sistem, revolusi bisa membawa kita mundur beberapa dekade ke belakang. Ah, saya nggak perlu berpanjang-panjang dengan pendapat ini. Lebih menarik lho kalau kita catat aja prestasi yang telah diraih oleh sistem pemilu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, saya melihat radikalisme massa jauh berkurang agaknya karena kedewasaan masyarakat seiring meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mungkin masih terkait dengan yang pertama, insiden selama kampanye bisa dibilang nggak signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, rekrutmen politik sudah lebih transparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, komunikasi politik antara elite dengan konstituen lebih intensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, terbangun atmosfir kompetitif yang bikin penguasa nggak bisa tidur seenaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, walaupun nggak selamanya disetujui, setiap partai dan caleg menawarkan harapan baru. Perlu diingat adanya harapan adalah pembeda mutlak antara manusia hidup dan mayit. Artinya, buat saya, menjual harapan adalah fitrah dan niscaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, terdapat kesadaran baru dari pihak-pihak tertentu untuk berpartisipasi mengubah keadaan sesuai dengan aspirasi masing-masing. Munculnya selebritis sebagai caleg adalah contohnya. Cukup sulit membayangkan selebritis yang sudah tenggelam dalam kemewahan memiliki motivasi memperkaya diri dari politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelapan, silaturahmi antar warga tetap atau bahkan makin erat, walaupun partainya beda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok, saya akui catatan saya di atas bukanlah hasil pengamatan yang terukur. Ini hanya pendapat pribadi sambil lalu yang terbentuk dari pengalaman pribadi saja. Anda mungkin sekali punya pengalaman yang justru tidak mendukung catatan positif di atas. Yah... dalam masyarakat demokratis, boleh aja dong setiap orang berpendapat. Orang lain boleh menilai apakah saya cukup obyektif. Oya, sebelum Anda salah paham, perlu saya sampaikan juga beberapa hal yang bikin saya kuatir, terutama dalam menyongsong pemilu 9 April. Apakah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, tingkat golput cukup tinggi. Kalau mengacu ke pilkada-pilkada, golput bisa mencapai 40%. Ini berarti ada sebagian masyarakat yang tidak terwakili sama sekali aspirasinya. Untuk masyarakat ini, saya ingin menganjurkan agar mereka membuat partai-partai sendiri. Kendalanya mungkin saja aspirasi mereka terlarang di negeri ini, misalnya komunisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, biaya politik menjadi semakin tinggi. Walaupun ada untungnya karena dapat berfungsi seperti stimulus yang menghasilkan lapangan kerja, biaya yang kelewat tinggi jelas tetap pemborosan. Mending anggarannya buat bikin sekolah. Penghematan bisa dilakukan misalnya dengan menyederhanakan sistem pemilu dan jumlah partai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pemilu hingga saat ini belum betul-betul melahirkan para anggota legislatif yang bersih, peduli, dan profesional (meminjam iklan politik salah satu partai). Banyak aleg yang sebelumnya adalah sosok idealis berubah menjadi petualang pragmatis yang tidak memberi manfaat bagi konstituennya. Namun demikian, kita patut berharap sosok hipokrit seperti itu dihukum oleh konstituennya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, kerancuan mekanisme pencentangan atau pencontrengan atau pemberian tanda pilihan berpotensi meningkatkan suara tidak sah. Yang lebih rawan adalah potensi keributan di TPS antara panitia dan saksi dalam menentukan sahnya suara. Terus terang ini sangat mengkuatirkan. Kalau boleh menyalahkan, saya ingin menyalahkan KPU yang menciptakan kerancuan ini, mulai dari peraturannya hingga iklan dan sosialisasi yang dilakukan. Mudah-mudahan, saya sungguh berharap, tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan selama masa pemberian dan penghitungan suara, khususnya di TPS-TPS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkiraan Hasil Pemilu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sd_xs6fSBqI/AAAAAAAAAXM/i-q1jHYstCA/s1600-h/polling+pemilu+2009.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 254px; height: 290px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sd_xs6fSBqI/AAAAAAAAAXM/i-q1jHYstCA/s320/polling+pemilu+2009.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323239038492214946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya iseng-iseng bikin polling mengenai pemilu ini. Memang hasilnya tidak bisa dijadikan rujukan sama sekali (lihat &lt;em&gt;disclaimer&lt;/em&gt;). Di hasil ini, seperti dapat diduga, PKS mendapat suara terbanyak. Ini bisa dimengerti karena, berbeda dengan pemilih lainnya, para pemilih PKS tidak sungkan-sungkan memberikan suara di polling. Namun, saya belum yakin partai ini mendapatkan perolehan suara terbanyak di pemilu 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun perolehan PDIP dan PG dalam polling ini masing-masing hanya enam persen, nampaknya perolehan suara keduanya akan tetap signifikan. Selanjutnya PD, walaupun di sini dapet nol persen, saya perkirakan partai ini akan mengalami lonjakan suara yang berarti. Lagipula, ketika polling ini belum ditutup, saya pernah lihat sendiri ada yang memilih PD (tapi mungkin pemilihnya mencabut suaranya sendiri... entahlah karena bisa juga ada yang nakal mencabut suara orang lain melalui trik tertentu model &lt;em&gt;hacker&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, perkiraan saya, berdasarkan berbagai sumber dan hasil polling yang saya lakukan di blog ini, lima besar perolehan suara adalah (urutan tidak berlaku) PDIP, PG, PKS, PD, PAN. Sekali lagi urutan tidak berlaku. Jadi supaya aman, lima besar perolehan suara adalah PAN, PKS, PDIP, PD, PG atau urutan apapun yang bisa dibayangkan. Yang juga perlu dicatat, ada partai baru - Gerindra atau Hanura - yang mungkin akan melampaui perolehan partai-partai lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yuk bersiap ke TPS... &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-3823734136956854953?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/3823734136956854953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=3823734136956854953' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/3823734136956854953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/3823734136956854953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/04/detik-menuju-pemilu.html' title='Detik Menuju Pemilu'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sd_xs6fSBqI/AAAAAAAAAXM/i-q1jHYstCA/s72-c/polling+pemilu+2009.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-4331334202918218626</id><published>2009-04-04T19:00:00.003+07:00</published><updated>2009-04-04T19:04:08.345+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lebih personal'/><title type='text'>Cingi Nggak Pulang</title><content type='html'>&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/01/kucing-kami.html" target="_new"&gt;Kucing kami&lt;/a&gt;, Cingi, emang sangat disayang. Sama anak-anak, sama istri, juga sama Mbak yang bantu di rumah. Selain enak dilihat, hangat, dia juga punya IQ tinggi. Setiap buang air, selalu dia mengambil tempat di dekat got belakang. Tapi dasar lagi puber, dia nakal banget. Terutama ke saya. Kayaknya dia sama sekali nggak inget pernah saya selamatkan dari mati kering di tempat sampah.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Cingi main di luar rumah. Pintu depan kebuka dikit aja, dia langsung balapan keluar, terus loncat-loncat di pinggir jalan. Entah apa perasaannya. Bahagia kali karena bisa having fun. Nah, hari itu dia nggak balik-balik. Rita mulai nangis. Dia teringat beberapa hari sebelumnya Cingi masuk ke rumah Bu Jayen, nggak keluar-keluar. Sampai Rita dan Aisyah bertanya ke dalam. Tapi di hari kelabu itu, kasusnya nggak begitu lagi. Rita tambah nangis. Oalah, kucing ini nggak tahu sudah bikin hati susah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditunggu sampai malem, Cingi nggak muncul juga. Istri dan saya menghibur anak-anak. &amp;quot;Mudah-mudahan besok dia pulang.&amp;quot; Tapi ternyata besoknya Cingi nggak muncul juga. Aisyah mulai ikutan nangis. Saya sama istri sebenarnya sedih juga. Soalnya Cingi sudah seperti anggota keluarga aja. Kami bahkan sudah merencanakan membawanya ke BSD pas nanti pindah. Rumah kami jadi dingin oleh cucuran air mata. Dingin oleh hati yang ditinggalkan sebagian isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, di hari keempat, Ocha - temen Aisyah anak tetangga Drg Rahmat - memberi khabar Cingi sudah mati dan dikubur oleh Pak Saragih, tukang sayur deket pendopo. Betapa sedih Aisyah dan Rita. Dua putra kami yang masih di bawah enam tahun bingung kenapa dua kakak mereka sampai nangis gitu. Mereka sebenarnya sayang juga sama Cingi, tapi kelihatannya belum bisa mengapresiasi rasa kehilangan yang dirasa Rita dan Aisyah. Kalau Rani yang &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/07/mondok.html" target="_new"&gt;mondok&lt;/a&gt; di Solo ada di rumah, mungkin dia pun ikut sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari di rumah kami diwarnai duka. Saya sempat menemukan catatan kesedihan Aisyah, sekarang hampir 9 tahun. Dia memohon kepada Allah agar Cingi dikembalikan. Dia juga mengutuk orang yang bikin Cingi mati. Dan kalau benar mati, Cingi didoakannya agar bahagia di surga dengan dayang-dayang kucing. Saya nggak komentar. Istri juga nggak. Karena kasihan sama anak-anak, tiap hari istri melihat pinggiran jalan. Siapa tahu Cingi tiba-tiba muncul. Saya pun kalau nyetir, terus lihat ada kucing, tak perhatiin. Siapa tahu Cingi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri pernah nanya ke Pak Saragih. Apa betul dia sudah nguburin Cingi? Nggak katanya. Jadi kami nggak tahu sebenarnya apa yang terjadi dengannya. Akhirnya istri menemukan dua kucing kecil di dekat pendopo. Dia membawanya pulang. Dimandiin dan dikasih makan. Anak-anak terhibur. Sedihnya mulai hilang. Mulailah dua anak kucing itu jadi bagian dari keluarga. Masalahnya, dua kucing ini tidak sepintar Cingi. Makannya banyak dan jorok. Buang airnya nggak bisa dikendalikan tempatnya. Wah, repot! Mana tahan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Pekan lalu, karena sudah nggak tahan lagi, istri akhirnya memutuskan untuk membuang kedua kucing itu. Hanif protes. Nggak boleh Bu. Kasihan. Saya pikir nggak apa sih ngebuangnya. Yang nggak boleh kan mengurung atau mengikatnya terus nggak dikasih makan. Ah... Mungkin kata yang tepat adalah membebaskan keduanya hidup di luar. Rita dan Aisyah gimana? Sedih sih, tapi karena bukan Cingi nggak apalah... Begitu katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe, bahkan kucing pun bisa punya daya tarik yang beda-beda. Yang lebih lucu lagi. Istri mengatakan dua kucing ini IQ-nya jongkok... Nggak kayak Cingi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca kisah lain:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/01/kucing-kami.html"&gt;Kucing Kami&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/07/mondok.html"&gt;Mondok&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-4331334202918218626?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/4331334202918218626/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=4331334202918218626' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/4331334202918218626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/4331334202918218626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/04/cingi-nggak-pulang.html' title='Cingi Nggak Pulang'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-2485879187569291131</id><published>2009-03-29T21:20:00.000+07:00</published><updated>2009-03-29T21:27:02.005+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahasa-matematika'/><title type='text'>Boring</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Boring&lt;/span&gt; adalah kata sifat yang terbentuk dari kata kerja &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bore&lt;/span&gt;. Artinya membosankan. Yang membosankan bisa orang, situasi, pelajaran, dan lain-lain. Banyak deh. Bentukan lain dari kata kerja &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bore&lt;/span&gt; adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bored&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bored&lt;/span&gt; berarti bosan. Yang bisa bosan tentunya kita-kita ini atau mungkin binatang kayak kucing. Benda mati nggak mungkin lah yaw, kecuali dalam film kartun anak-anak. Nah, teman-teman kita sering menggunakan kata &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;boring&lt;/span&gt; untuk menggambarkan suasana membosankan, tapi kadang jadi keliru ketika menggunakan kalimat &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;I'm boring&lt;/span&gt;. Kalimat terakhir ini tentu dimaksudkan bahwa si pengucap dalam suasana bosan. Cuman seharusnya kalimat yang digunakannya adalah &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;I'm bored&lt;/span&gt;. Kalau yang tadi, arti benerannya dari Bahasa Inggris adalah si pengucap membosankan, hehehe. Kan bukan itu yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain dari kesalahan penggunaan Bahasa Inggris sangat sering kita temui. Dulu sekali ada papan ucapan selamat datang raksasa di Bandung yang berbunyi: &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Welcome in Bandung&lt;/span&gt;. Tentu yang dimaksud adalah Selamat Datang di Bandung. Cuman, lagi-lagi ungkapan itu keliru. Yang bener seharusnya: &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Welcome to Bandung&lt;/span&gt;. Emang kalau diartikan harfiah dengan lidah Sunda atau Indonesia kayak nggak nyambung. Lebih nyabung justru yang keliru tadi. Kesalahan seperti ini banyak terjadi. Beberapa hari yang lalu, saya berada di Bandung untuk urusan kerja. Pas ada perlu ke Bank Syariah Mandiri, sembari menunggu angkot, saya melayangkan pandangan pada papan iklan yang masih kosong berikut ini.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sc99L_plwlI/AAAAAAAAAV0/c3DUWCuGwso/s1600-h/25032009492.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sc99L_plwlI/AAAAAAAAAV0/c3DUWCuGwso/s320/25032009492.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5318607329965752914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Interest? Call us...&lt;/span&gt; Aneh nggak? Yang dimaksud tentunya begini. Kalau tertarik masang iklan, silakan hubungi kami. Cuman, lagi-lagi, Bahasa Inggris yang bener mengartikannya begini. Bunga bank? Hubungi kami. Atau paling jauh... Kepentingan? Hubungi kami. Lha, mestinya gimana dong? Ya... &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Interested? Call us...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung mesti berbenah. Masak kota tempat perguruan-perguruan tinggi terkemuka di Indonesia nggak belajar-belajar juga menggunakan bahasa yang benar, khususnya Bahasa Inggris. Iya deh, nggak semuanya begitu, tapi contoh-contoh di atas menunjukkan ada yang mesti dibenahi. Bandung nggak sendirian lho. Yang berikut ini dari kaos Gegana yang juga menggunakan Bahasa Inggris... tapi keliru. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;GEGANA... WE ARE PROTECT INDONESIAN FROM TERRORIST.&lt;/span&gt; Apanya yang salah? Hayo...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sc99LdBpyVI/AAAAAAAAAVs/IfDkmaeKX60/s1600-h/21112008392.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sc99LdBpyVI/AAAAAAAAAVs/IfDkmaeKX60/s320/21112008392.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5318607320671439186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-2485879187569291131?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/2485879187569291131/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=2485879187569291131' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/2485879187569291131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/2485879187569291131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/03/boring.html' title='Boring'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/Sc99L_plwlI/AAAAAAAAAV0/c3DUWCuGwso/s72-c/25032009492.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-6188986288468832442</id><published>2009-03-21T08:30:00.001+07:00</published><updated>2009-04-11T08:36:00.341+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='demokrasi-politik'/><title type='text'>Kampanye Sehat</title><content type='html'>&lt;span  class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/ScRCUV0X-BI/AAAAAAAAAU8/7O2NwZLCLTA/s1600-h/20032009489.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: undefinedpx; height: undefinedpx;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/ScRCUV0X-BI/AAAAAAAAAU8/7O2NwZLCLTA/s320/20032009489.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315446377425664018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Masa kampanye terbuka sudah dimulai. Nggak seperti pemilu sebelumnya, kali ini cenderung sepi. Partai-partai baru beralasan kekurang dana (dan kader juga kali). Hanya partai tertentu saja yang sering rame diikuti massa, termasuk anak-anak. Nah, ini yang dikritik oleh Kak Seto. Mbok ya anak nggak usah diseret-seret kampanye gitu. Lha, kalau anaknya yang minta gimana? Ya gitulah nggak semua hal mudah dijawab. Termasuk fenomena satu ini!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya saya satu partai dengan Anda, dan kita sama-sama nyaleg di daerah pemilihan yang sama. Waktu saya kampanye, mungkinkah saya ikut mengkampanyekan Anda? Observasi saya, sedikit sekali yang punya nyali besar seperti itu ketika sedang berkompetisi berebut kursi. Ini mudah dilihat dari poster-poster dan iklan-iklan yang menghiasi seluruh penjuru wilayah dan gelombang radio-TV. Biasanya yang ditonjolkan adalah dirinya sendiri. Siapa lagi yang mau promosiin kita, kalau bukan kita sendiri. Gitu kali logikanya. Paling-paling pihak lain yang disebut dan digandeng adalah tokoh sentral partainya. Seolah dengan menyandingkan foto diri sendiri dengan aura kultus tokoh itu, kemungkinan terpilih bisa meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini nih beberapa contoh yang nebeng aura figur:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bersama Bapakku dan Partaiku, Berjuang untuk Rakyat.&lt;br /&gt;Lihat Senyum Ibuku. Rasakan Merah Putih Partaiku. Maka Pilihlah Aku.&lt;br /&gt;Rajaku Bikin Rakyat Tenteram. Dan Aku Punggawanya.&lt;br /&gt;Bapakku Capresnya. Akulah Calegnya.&lt;br /&gt;Bapakku Tegas dan Berhati Bersih. Aku juga. Pilih Dong.&lt;br /&gt;Ibuku Menteri. Dia Pelindungku.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena trend umum seperti itu, saya jadi heran dengan kelakuan sebagian caleg yang beriklan sama-sama. Ada yang berdua, bertiga, bahkan bersepuluh Terlihat kebersamaannya. Kebacanya kurang lebih: &lt;em&gt;Kalau Aku Nggak Pantas, Pilihlah Rekanku&lt;/em&gt;. Dan yang penting lagi, di iklan itu tokoh sentral partai tidak ditebengi. Nggak ngaruh kali. Kebacanya: &lt;em&gt;Bapakku? Ah Dia Sendiri Lagi Sibuk di Sana&lt;/em&gt;. Bisa juga sih mereka begitu karena ingin menghemat. Kalau bisa ditanggung bersama ongkosnya, kenapa mesti sendirian? Bisa juga, tapi yang jelas fenomena ini jadi lain sendiri. Kayak oase di gurun pasir. Atau kayak nila setitik dalam sebelanga susu. Terserah sudut pandangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih bikin saya heran adalah seperti yang bisa diamati dari foto di atas yang saya ambil kemarin deket Stasiun Bekasi. Sungguh mati, saya nggak kenal dengannya. Biasanya ketika mendorong pemilih lewat iklan untuk mencontreng nama caleg, nama-nama caleg lainnya (dari satu partai lho) dibikin kosong. Hehehe. La iyalah, salah-salah udah keluar duit malah orang lain yang lebih dikenal. Kan mau promosiin diri sendiri? Tapi apa yang dilakukan caleg di foto ini. Dengan yakin ia menyertakan kompetitornya. Ia TIDAK MENGHILANGKAN nama-nama rekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SubhanalLah. Saya sungguh berharap ia terpilih! Saya juga berharap yang suka menjelekkan yang lain (&lt;em&gt;black campaign&lt;/em&gt;) justru nggak terpilih!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-6188986288468832442?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/6188986288468832442/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=6188986288468832442' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/6188986288468832442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/6188986288468832442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/03/kampanye-sehat.html' title='Kampanye Sehat'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/ScRCUV0X-BI/AAAAAAAAAU8/7O2NwZLCLTA/s72-c/20032009489.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-8275032881382493891</id><published>2009-03-18T06:59:00.004+07:00</published><updated>2009-03-19T10:26:21.125+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekonomi-bisnis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><title type='text'>Bankir</title><content type='html'>Krisis ekonomi global memang aneh. Ia membuktikan bahwa bankir selalu diuntungkan. Dalam segala kondisi. Itu semua dipertontonkan ke seluruh dunia dari pusat keuangan yang telah menjadi episentrum tsunami krisis yang menyapu seluruh benua. Kecuali antartika kali.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak? Ketika pasar lagi pesta pora, para bankir di lembaga keuangan top dunia giat-giatnya menciptakan produk-produk inovatif, yang bikin kocek mereka tambah tebal dari &lt;em&gt;easy money&lt;/em&gt; yang terkumpul. Kita mungkin maklum. La iyalah, mereka kan yang bikin bisnis bergerak dan tumbuh pesat, lewat penciptaan permintaan baru, melalui kredit. Nah, ternyata pesta pada saatnya mesti berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana keadaan para bankir top itu saat krisis seperti sekarang? Sebelum menjawab itu, mari kita cermati dulu berapa banyak pabrik yang ditutup, berapa banyak toko dan restoran ditutup, berapa banyak pemandu wisata yang nggak dapet tamu. Daftarnya bisa panjang. Yang pasti orang yang kehilangan kerja karena terpaksa dipecat buesar sekali. Di Amerika maupun di seluruh dunia. Sebagian kita mungkin menerima kondisi itu. Ketika kondisi bagus, untung. Sebaliknya rugi. Itu namanya risiko. Tapi apa yang terjadi dengan lembaga keuangan top dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru krisis yang disebabkan oleh praktik berisiko tinggi oleh para bankir top tertentu memberi berkah buat mereka sendiri. Amerika yang katanya negara kapitalis nomor wahid, tiba-tiba menjadi negara sosialis terbesar dengan dana talangan yang demikian dahsyat kepada lembaga-lembaga keuangan itu. Citi Group cuman satu contoh saja. Ironisnya adalah dana talangan yang mereka nikmati berasal dari kantong pembayar pajak Amerika, yang saat ini banyak mengalami kesulitan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koq bisa sih? Ya itu... Bikin uang dari uang, bukan dari usaha yang nyata, membuat jebakan sandera yang fatal. Ketika bank tidak dapat menyalurkan kredit, karena ternyata asset mereka terlalu banyak masalah (&lt;em&gt;nothing right on the left&lt;/em&gt;), pemerintah AS kelabakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekonomi yang dilandasi kredit, atau dari filosofi bikin uang semata dari uang, tidak dapat menanggung akibatnya ketika penyaluran kredit tiba-tiba terhenti. Pecahnya gelembung dapat menyebabkan ekonomi terkuat di dunia rontok sesaat itu juga. Oleh karena itu, pecahnya gelembung harus dicegah! Itu dimulai dengan menalangi bank-bank top dunia agar beroperasi normal. Hehehe, kalau istilahnya penanggung jawab sektor keuangan AS, lebih normal. Artinya belum normal betul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih ironis lagi, lembaga-lembaga keuangan bermasalah itu dalam kondisi sekarat masih memberikan bonus besar kepada para bankirnya. Obama pernah mencela itu, tapi mungkin sulit baginya untuk tidak menerima bahwa kita semua sudah disandera oleh para bankir busuk. Apakah para bankir dan pemegang otoritas yang punya nurani tidak tergerak hatinya untuk menciptakan alternatif sistem yang lebih berkeadilan? Mari kita tunggu. Bisa lama sih, tapi itu niscaya terjadi. Ikutan nggak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel terkait:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.nytimes.com/2009/03/19/business/19bailout.html?_r=1&amp;hp" target="_new"&gt;Outcry Builds in Washington for Recovery of A.I.G. Bonuses&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/03/joke-about-our-culture.html"&gt;A Joke about Our Culture&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/03/integrity-again.html"&gt;Integrity Again&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/01/do-you-believe-in-market.html"&gt;Do You Believe in Market?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/12/dunia-perlu-di-restart.html"&gt;Dunia Perlu Di-restart&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/12/regulasi-sektor-keuangan.html"&gt;Regulasi Sektor Keuangan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/12/mencegah-krisis.html"&gt;Mencegah Krisis&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/12/free-good-or-bad.html"&gt;Free, Good or Bad?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-8275032881382493891?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/8275032881382493891/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=8275032881382493891' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/8275032881382493891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/8275032881382493891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/03/bankir.html' title='Bankir'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-276702064604963396</id><published>2009-03-13T10:10:00.010+07:00</published><updated>2009-03-13T10:33:19.601+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sistem informasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><title type='text'>Knowledge Sharing di Tempat Kami</title><content type='html'>Saya beruntung bekerja di unit yang sangat peduli dengan informasi dan pengetahuan, bukan hanya untuk kami tapi juga untuk unit-unit lain secara &lt;em&gt;enterprise&lt;/em&gt;. Hebat kan? Suatu yang hebat tentu mesti dimulai dari diri sendiri, dari yang kecil, dan mulai saat ini juga. Yah, gitulah kata si Aa'. Jadi singkatnya, unit kami sangat getol melakukan &lt;em&gt;sharing&lt;/em&gt;. Bukan karena istimewa dari yang sebelum-sebelumnya, &lt;em&gt;knowledge sharing&lt;/em&gt; pagi ini saya publikasikan di sini. Kebetulan yang memberikan sharing adalah Pak Made, Deputi Direktur kami, dan Bu Yetti, bos saya yang mau pindah ke unit lain (hiks hiks hiks).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, karena saya sempat ngambil foto cukup banyak, nggak perlu diceritain lagi. Foto-foto ini akan cerita sendiri.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Yetti lagi presentasi DW 2.0 dan Enterprise 2.0...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnOEShmNoI/AAAAAAAAATE/U3mgNU1UJ6A/s1600-h/13032009471.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnOEShmNoI/AAAAAAAAATE/U3mgNU1UJ6A/s320/13032009471.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312503808547763842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnPeoqosrI/AAAAAAAAAT0/LB5oFVBnraQ/s1600-h/13032009478.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnPeoqosrI/AAAAAAAAAT0/LB5oFVBnraQ/s320/13032009478.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312505360679482034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Made sedang menjelaskan filosofi pembagian sektor DW 2.0...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnQR82GgQI/AAAAAAAAAU0/FpGuE-gBUWo/s1600-h/13032009487.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnQR82GgQI/AAAAAAAAAU0/FpGuE-gBUWo/s320/13032009487.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312506242269610242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu materinya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnPezuWQxI/AAAAAAAAAT8/F60X5OaBat0/s1600-h/13032009479.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnPezuWQxI/AAAAAAAAAT8/F60X5OaBat0/s320/13032009479.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312505363647841042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Eddy lagi nanya, dicermati oleh Pak Made, Kamal, Rintik, dan Mbak Fenny...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnQRtYGXWI/AAAAAAAAAUs/-OuByZbZu-Q/s1600-h/13032009485.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnQRtYGXWI/AAAAAAAAAUs/-OuByZbZu-Q/s320/13032009485.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312506238117240162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serius banget...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnPebl1LOI/AAAAAAAAATs/5MuxY8xky1s/s1600-h/13032009476.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnPebl1LOI/AAAAAAAAATs/5MuxY8xky1s/s320/13032009476.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312505357169667298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malah berpose, bukan memperhatikan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnOFejF-5I/AAAAAAAAATc/23T7OCaPnbc/s1600-h/13032009474.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnOFejF-5I/AAAAAAAAATc/23T7OCaPnbc/s320/13032009474.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312503828955134866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnOE3hlBjI/AAAAAAAAATU/fBVgNZtXb5c/s1600-h/13032009473.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnOE3hlBjI/AAAAAAAAATU/fBVgNZtXb5c/s320/13032009473.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312503818479797810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fotografer kedua kami (yang pertama, Pak Bahari, sulit ditangkep)...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnQRQ3r7MI/AAAAAAAAAUk/OkiAqn_ZNoI/s1600-h/13032009484.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnQRQ3r7MI/AAAAAAAAAUk/OkiAqn_ZNoI/s320/13032009484.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312506230465096898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta knowledge sharing...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnPfOonXoI/AAAAAAAAAUE/TEulxD9az2I/s1600-h/13032009480.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnPfOonXoI/AAAAAAAAAUE/TEulxD9az2I/s320/13032009480.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312505370871553666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnOE3ulV6I/AAAAAAAAATM/rM-9TpFKmGk/s1600-h/13032009472.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnOE3ulV6I/AAAAAAAAATM/rM-9TpFKmGk/s320/13032009472.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312503818534344610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnPfa0969I/AAAAAAAAAUM/snUhRKmiTMY/s1600-h/13032009481.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnPfa0969I/AAAAAAAAAUM/snUhRKmiTMY/s320/13032009481.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312505374144588754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnQRKZYToI/AAAAAAAAAUc/xG-lTqgzZCg/s1600-h/13032009483.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnQRKZYToI/AAAAAAAAAUc/xG-lTqgzZCg/s320/13032009483.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312506228727369346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnQQ3f8XvI/AAAAAAAAAUU/Mee1dropsqc/s1600-h/13032009482.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnQQ3f8XvI/AAAAAAAAAUU/Mee1dropsqc/s320/13032009482.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312506223654625010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-276702064604963396?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/276702064604963396/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=276702064604963396' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/276702064604963396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/276702064604963396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/03/knowledge-sharing-di-tempat-kami.html' title='Knowledge Sharing di Tempat Kami'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pusrwlMpcRw/SbnOEShmNoI/AAAAAAAAATE/U3mgNU1UJ6A/s72-c/13032009471.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-4991590013761201619</id><published>2009-03-12T12:18:00.003+07:00</published><updated>2009-03-13T08:05:42.696+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekonomi-bisnis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><title type='text'>Irrationality and Improvement</title><content type='html'>In standard economics, human are assumed rational. Our decisions are made based on not only rational judgement but also complete information and knowledge. In this assumed context, there is no chance that we get free lunches because of others' misjudgement. In theory, misjudgement shall be corrected. First, it may be corrected by the rational agents, basically us as individual decision makers. Second, it may be corrected by market forces. The market itself consists of individual decision makers making up the wisdom of crowds. This is all a nice story to believe. Dan Ariely's findings, however, make this nice story only in dreams. We human are indeed irrational, systematically and predictably.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In his Predictably Irrational closing chapter, Chapter 13, Dan Ariely argues probably economics could make itself more sense if containing human's irrationality. In a broader term, the fact that we are not always rational should influence such areas as from the making of public policy to our individual decision making. The logic behind is that our irrationality creates free lunches. In behavioral economics, however, free lunches are not perceived as bad as in standard economics. By the same token, free lunches mean opportunities for improvement.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After delivering the results of his experiments in his book, Dan Ariely concludes that we human often give up our personal utility due to our irrationality. For example, in America, when ordering a menu out loud, a group of a restaurant guests tend to show their individual uniqueness. Hence, if a particular menu is already chosen by others in the group, the menu is less likely to be chosen by the next guest, however good it is. The next guest predictably will give up his personal utility by choosing another unselected menu to project his or her uniqueness to others in the group. In this case, the first person choosing the menu is the one having the most satisfaction with his / her selection.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What improvement can be taken for the above case? Devising an improved process for taking order could be an answer. Each guest is asked to write down his / her own selections. As Dan Ariely proved in his experiment at The University of North Carolina, Chapel Hill, this kind of improved process made all guests in a group more satisfied. Moreover, implementing this improvement could mean more revenue for the restaurant. So everybody gets a free lunch. Everybody happy!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Below are my articles written based on each chapter of Predictably Irrational. Enjoy the reading.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irrational regards,&lt;br /&gt;Y Pan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/11/relativity-and-irrationality.html"&gt;Relativity and Irrationality&lt;/a&gt; (Chapter 1: The Truth about Relativity: Why Everything Is Relative-Even When It Shouldn't Be)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/11/law-of-supply-and-demand-sucks.html"&gt;The Law of Supply and Demand Sucks&lt;/a&gt; (Chapter 2: The Fallacy of Supply and Demand: Why the Price of Pearls-and Everything Else-Is Up in the Air) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2008/12/free-good-or-bad.html"&gt;Free, Good or Bad?&lt;/a&gt; (Chapter 3: The Cost of Zero Cost: Why We Often Pay Too Much When We Pay Nothing) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/01/do-you-believe-in-market.html"&gt;Do You Believe in Market?&lt;/a&gt; (Chapter 4: The Cost of Social Norms: Why We Are Happy to Do Things, but Not When We Are Paid to Do Them) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/02/monster-in-each-of-us.html"&gt;A Monster in Each of Us&lt;/a&gt; (Chapter 5: The Influence of Arousal: Why Hot Is Much Hotter Than We Realize) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/02/delaying-and-flexibility.html"&gt;Delaying and Flexibility&lt;/a&gt; (Chapter 6: The Problem of Procrastination and Self-Control: Why We Can't Make Ourselves Do What We Want to Do) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/02/ownership-or-stewardship.html"&gt;Ownership or Stewardship&lt;/a&gt; (Chapter 7: The High Price of Ownership: Why We Overvalue What We Have) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/02/having-options-doesnt-always-mean-good.html"&gt;Having Options Doesn't Always Mean Good&lt;/a&gt; (Chapter 8: Keeping Doors Open: Why Options Distract Us from Our Main Objective) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/02/bias-judgement.html"&gt;Bias Judgement&lt;/a&gt; (Chapter 9: The Effect of Expectations: Why the Mind Gets What It Expects) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/03/expensive-yet-effective-placebo.html"&gt;Expensive yet Effective Placebo&lt;/a&gt; (Chapter 10: The Power of Price: Why a 50-Cent Aspirin Can Do What a Penny Aspirin Can't) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/03/integrity-again.html"&gt;Integrity Again&lt;/a&gt; (Chapter 11: The Context of Our Character, Part I: Why We Are Dishonest, and What We Can Do about It) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/03/joke-about-our-culture.html"&gt;A Joke about Our Culture&lt;/a&gt; (Chapter 12: The Context of Our Character, Part II: Why Dealing with Cash Makes Us More Honest) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/03/irrationality-and-improvement.html"&gt;Irrationality and Improvement&lt;/a&gt; (Chapter 13: Beer and Free Lunches: What Is Behavioral Economics, and Where Are the Free Lunches?)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-4991590013761201619?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/4991590013761201619/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=4991590013761201619' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/4991590013761201619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/4991590013761201619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/03/irrationality-and-improvement.html' title='Irrationality and Improvement'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-7886899430906452591</id><published>2009-03-09T21:36:00.003+07:00</published><updated>2009-03-10T13:32:54.328+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><title type='text'>A Joke about Our Culture</title><content type='html'>&lt;em&gt;Inspired by Dan Ariely's Predictably Irrational&lt;br /&gt;Chapter 12: The Context of Our Character, Part II: Why Dealing with Cash Makes Us More Honest &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Have you ever heard this joke? In MIT dormitory, somebody accidentally leaves $5 in a public refrigerator. After three days, the $5 bill is still there. In another case, somebody leaves six cans of cokes. After three days, they disappear. In Makkah, the same two cases end up with both cash and cokes untouched at all. It is haram to take things not belonging to you. In an Indonesia university dormitory, however, both cash and cokes disappear after three days. Furthermore, the fridge disappears after five days. OK, please don ‘t feel offended. It ‘s only a joke.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I didn't create the joke for sure. Although there is an analogy to this joke, the joke itself was originally created by Pak Bahari, my colleague in office. One day, I told him a research conducted by Dan Ariely in MIT dormitory regarding cash and cokes. In the experiment, Dan left cans of cokes in public refrigerators and found that all of them disappeared in three days. When he left dollar bills in the fridges, however, nobody took them in three days until he himself took them. The conclusion? People are more inclined to cheat when they commit to non-cash transactions. The farther we are from cash transactions, the more chance we cheat. Sounds weird?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, probably because of the weirdness of the conclusion, Pak Bahari instantly created the joke despite that I told him not to try it here. Anyway, the conclusion from Dan ‘s experiment can be used to explain why on the one hand good professionals, good CEO ‘s, good executives, good employees, good men, good women never try to steal money directly, whether from old ladies in the street or from banks across the street, while on the other hand cannot give up the temptations to increase their own perks in the expense of the stockholders. Stealing money or cash is clearly a bad thing to do, but manipulating stock options is more acceptable.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now, consider this example. In your office, you have a petty cash box. It is always locked, but you are pretty sure that breaking it is not difficult. Do you have the intention to break it? No! In the same office, you are supplied with stationeries. Your already think it’s part of the facility given in order for you to do your job. Right? But one day, your daughter calls from home and asks you to buy a couple of pencils. Since you are very busy, you think it is more practical to bring your office’s pencils home. More acceptable to cheat like this, isn’t it? You even never perceive it as cheating.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another example would perhaps make you buy Dan’s conclusion in. Suppose you are a government official responsible for managing projects. Let’s say infrastructure projects (o please anybody, do not feel offended by this only joke – Y Pan). You have your budget approved. Do you have the intention to leak the budget for yourself? Nope, I don’t think so, because you are a good person. I know it. But suppose you can slightly mark your projects’ values up. The reason is a just-in-case. Then your contractors treat you luxurious dinners. They also invite you to their headquarters, overseas. Can you resist? Nope, because you think you don’t steal anything from anybody.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A great teacher once said that it is not really difficult preventing oneself from illegal things, but it is hard dealing with subtle things, between legal and illegal. Grey area! In this area, we can manipulate things with no ill feeling. We can rationalize our irrationality. Once we feel that we judge rationally, there is no reason at all to resist seizing opportunities. We think that we already create value and consequently we deserve to take our part.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In our global financial system, the same phenomena have occurred for decades, or probably for centuries. A bank had underlying transactions, which were closest to the cash. The bank then created innovative mechanisms to sell more and even take more profit. Interest was introduced. Then derivatives were created and used, meaning that the bank created more transactions remote from the underlying transactions, remote from cash. The result? Bubbles! White collar crimes! Maddoff is only an example. Global crisis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prev: &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/03/integrity-again.html"&gt;Integrity Again&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-7886899430906452591?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/7886899430906452591/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=7886899430906452591' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/7886899430906452591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/7886899430906452591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/03/joke-about-our-culture.html' title='A Joke about Our Culture'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-709826229340157478</id><published>2009-03-04T22:07:00.003+07:00</published><updated>2009-03-09T21:38:39.504+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><title type='text'>Integrity Again</title><content type='html'>&lt;em&gt;Inspired by Dan Ariely's Predictably Irrational&lt;br /&gt;Chapter 11: The Context of Our Character, Part I: Why We Are Dishonest, and What We Can Do about It&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Our global teachers, like the prophets, already taught us that we must have integrity. Only integrity can ensure our long-term relationships with whomever. Not only relationships, all dimensions of life are very dependent on integrity. Perhaps, you still remember when Doel's father (Benyamin S) told his beloved son (Rano Karno) to hold this virtue. "Kan gue udah bilang: jujur, jujur, jujur!" If you still don't recall that scene, you may want to consider watching Doel Anak Sekolahan once again. The strange thing is that we always tend to compromise our integrity despite all good things we know about it.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I want to trust you. I believe you want the same thing too for me. So... we consider ourselves as integrated persons. Basically good men, women, boys, and girls. If we are on the street, it is very unlikely we would commit to pick pocketing. It is also very unlikely that a CEO would commit to a robbery. Those acts are so wicked that good persons like you, me, and the CEO really hate them. But suppose you were the CEO of scandalous Enron. Would you still hate stealing money from your stakeholders? Ah, stealing money is such a mean term that you instantly would reject the idea. What if I change stealing money with window dressing?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OK, we compromise our integrity if it comes to window dressing things. Statistics already showed us that our misconducts related to window dressing couldn’t be negligible. Someone has even his gut saying that corporate criminals are far more serious than street criminals in numbers. If it is not the case, the Anticorruption Commission (Komisi Pemberantasan Korupsi) will have no job to do. Right?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now we are good persons, sitting in a classroom. We are taking a math exam. Suppose, normally, when cheating is not possible (group or condition #1), we will get 30% right answers. Hehehe, quite dumb. Then, suppose that cheating is possible (group or condition #2). Are we all integrated as good persons? Or will we give up for higher scores? In another condition, suppose that cheating is possible and getting caught is not possible (group or condition #3). Will we give up our values even more? Probably we spontaneously say we wouldn't! Really?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Ariely experimented in Harvard, MIT, and other top universities a kind of experiments described above. The results are consistent. When cheating is possible (group or condition #2), we human tend to cheat a little bit. Even when getting caught is impossible (group or condition #3), we as good persons just cheat a little bit. There is a chance, though, really bad persons cheat all the way 100%. It seems that our inner values can restrain us, but not completely. Probably, we need to be reminded on the spot for our complete self-restraint to work.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Ariely actually used the Ten Commandments in his next experiment. The test takers were grouped into four. The first three groups were basically the same as described above. The fourth group was the same as the third, but on the spot was asked to write down the Ten Commandments. The result? First group, the control group, answered about 3 questions correctly out of 20. The second and third answered close to 6 questions correctly. Did they cheat? Dan had to conclude they did. Strikingly, the result of the fourth group was no different from the first group, the control group.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hence, the Ten Commandments were proved to be powerful deterrent to cheating, although some of the test takers were even not able to write down the Ten Commandments correctly. What can we learn from here? If possible, the authority can make the environment more religious. That kind of context is not cheating friendly. Tasikmalaya have applied this principle in the streets for many years. Average drivers would temper themselves when prompted with subhanalLah, alhamdulillLah, and Allahuakbar! If Tasik can create a simple good context, why can't we? Our homes, our offices, our markets, our public space all need to be surrounded with a divine context.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Next: &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/03/joke-about-our-culture.html"&gt;A Joke about Our Culture&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Prev: &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/03/expensive-yet-effective-placebo.html"&gt;Expensive yet Effective Placebo&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-709826229340157478?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/709826229340157478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=709826229340157478' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/709826229340157478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/709826229340157478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/03/integrity-again.html' title='Integrity Again'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-3230653217515853429</id><published>2009-03-03T04:09:00.003+07:00</published><updated>2009-03-04T22:10:38.286+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><title type='text'>Expensive yet Effective Placebo</title><content type='html'>&lt;em&gt;Inspired from Dan Ariely's Predictably Irrational&lt;br /&gt;Chapter 10: The Power of Price: Why a 50-Cent Aspirin Can Do What a Penny Aspirin Can't&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If you live outside Indonesia, you may not know a magic boy named Ponari. I, myself, do not really follow the media coverage on him, but I can tell you something. Many, many people have visited the kid to ask him for a magic healing. The boy has a stone, but not just a stone. He uses it to heal all kinds of his patients' illness. Although I am afraid that he works together with the devil himself to practice the treatments, I am not the one having the authority in this area. So I can't stop him. Most of us can't. In the bright side, the economic activities around Ponari's residence turn very attractive, though.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A friend of mine and I often debate on the issue of miracle events. On the one hand, I always propose that magical capabilities should be cautiously judged, since there is a chance the miracles come from not God but the devil. I argue that the miracles from God cannot be controlled. Even the one having such &lt;em&gt;karomah&lt;/em&gt; doesn't know his magical capabilities. Everything magical can be accepted only if explained in Al-Qur'an and Al-Hadits. On the other hand, he - my friend - usually argues that the magical knowledge and capabilities can be learned. Not only can they be learned, but they are also legitimate to learn, referring to a verse in Al-Qur'an in the context of Prophet Sulaiman's story. Furthermore, he claims that he knows somebody having those kinds of divine gifts. In short, our perspectives diverge significantly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Back to Ponari, I'd like to assume in this article that the kid's miracles just come from the air. Not from God! But he is also clean from relationships with the devil's apparatus. Let this tough, superstition issue be handled by the Ministry of Religion Affairs and Majelis Ulama. Having assumed that, I deliberately will focus on the possibility that magical treatments, like voodoos, are just placebo. You know placebo, right? It is bogus. Fake! Nonetheless, if someone really believes in it, it will be very effective for her/him. The instrument making placebo effective is so near, inside our mind.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Placebo is a usual technique used by doctors and pharmaceutical professions to clinically test the efficacy of medicines or treatments. It is even used to treat some patients. A popular treatment can be merely having a placebo effect. We just don't know it. We can't tell whether it is a real treatment or just placebo. In the mid twentieth century, there was a very popular surgical treatment entailing a chest incision, a cut on certain ligament, and more to treat some kind of chest pain. The surgical procedure was very popular for about twenty years until it was discovered that a placebo surgical treatment entailing only a chest incision had an exactly similar effect.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In a search to answers related to placebo effects, Dan Ariely and colleagues devised an interesting experiment. They created a painkiller, named Voladone and tried it in MIT Media Lab to many patients, about 100 adults. They used an electric shock machine to simulate a spectrum of pains. Here it was...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One patient coming to the lab was served by a sales consultant. Using her Russian accent, she explained the fantastic result of Voladone as an effective painkiller. After that, a series of pains were simulated to the patient using the electric shock electrode. Then he was given the painkiller whose list price was $2.50 per dose. Quite expensive. The capsule took about five minutes for the most optimum effect. Finally, similar pains were again simulated. Strangely, he felt the pains were much less painful compared to his first experience. Almost all patients coming to the clinic reported similar thing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Ariely changed the experiment a bit. The price list was changed from $2.50 to 10 cents. The experiment was then resumed following the same procedure as in the first one. The result? Only about fifty percent of the patients reported the efficacy of Voladone. Patients with more recent pain problems reported Voladone was nothing better than the usual painkillers they consumed. It seems that price has a placebo effect too. Expensive placebo can be more effective. Please note that Voladone is merely vitamin C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Ariely conducted another experiment. He studied two groups of MIT students. The first group consumed painkillers with the original list price, while the second consumed discounted painkillers. Again price indeed showed its dominance. Discounted products are often related as low quality. In the area of health and medicine, we often get what we pay for. It is not necessarily because of the actual potency of the drugs or treatments, but because of the price's placebo effect. How strange! How irrational.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The issue discussed here is so controversial that even Dan Ariely doesn't have all the answers. I, however, try to suggest in the case of Ponari that the Ministry of Health should put enough attention for the well being of the public. Are we all better off if Ponari with his placebo stone is prevented from doing his treatments? Or are we better off if the authority lets Ponari alone with his patients? If the ministry prevents him from practicing, probably at the same time it must enhance the overall quality of public health services.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now, if we specifically talk about the "Indo Serbu" program, probably the Ministry of Health should make medicines "for the people" even more readily available. People should be able to obtain them from nearby stores, only five minutes away walking. How about the cost?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, since the price has a positive placebo effect, the government can indeed raise the list price significantly. This makes the medicines more potent. For the poorest, however, the government can give the medicines away, through a mechanism similar to "Bantuan Langsung Tunai" program, along with the higher list price. Hence, &lt;em&gt;Serbu&lt;/em&gt; doesn't mean &lt;em&gt;seribu&lt;/em&gt; (a thousand rupiahs) anymore but could mean &lt;em&gt;sepuluh ribu&lt;/em&gt; (ten thousands rupiahs). Would it work? Probably! Hopefully then, we don't have to waste our energy responding to such phenomenon as Ponari's.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finally, even though I assumed in this article that Ponari might only have had a placebo effect, I am still afraid that he works in an area of superstition. O God please help us out of a more serious problem: spiritual illness.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Next: &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/03/integrity-again.html"&gt;Integrity Again&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Prev: &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/02/bias-judgement.html"&gt;Bias Judgement&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-3230653217515853429?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/3230653217515853429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=3230653217515853429' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/3230653217515853429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/3230653217515853429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/03/expensive-yet-effective-placebo.html' title='Expensive yet Effective Placebo'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-3619483257736004762</id><published>2009-02-25T21:36:00.008+07:00</published><updated>2009-03-03T07:49:43.687+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><title type='text'>Bias Judgement</title><content type='html'>&lt;em&gt;Adapted from Dan Ariely's Predictably Irrational&lt;br /&gt;Chapter 9: The Effect of Expectations: Why the Mind Gets What It Expects&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Have you ever had an argument with your friends lasting for days? Or even months or years? Or you may be involved in a serious debate with your spouse. You see there's no way out and it seems that progress is nearly possible to achieve. Don't worry. You are not alone. We human are created that way, irrationally defensive to our belief. Only angels (&lt;em&gt;malaikat&lt;/em&gt;) do judge merely using facts. Only facts. We are too sophisticated to behave like angels.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I had an uncle, my late uncle, who taught me to eat &lt;em&gt;tempoyak&lt;/em&gt;, a traditional seasoning made from fermented &lt;em&gt;durians&lt;/em&gt;. It is usually used to season fish (&lt;em&gt;pepes ikan&lt;/em&gt;). It also can be used to make merely &lt;em&gt;sambal&lt;/em&gt;, called &lt;em&gt;sambal tempoyak&lt;/em&gt;. One day in a reception, we were about to self-serve our lunch. Looking at an unusual dish, I asked him whether the fish was served with &lt;em&gt;tempoyak&lt;/em&gt;. Calmly he said it's not. So I took the fish and then enjoyed my lunch. Only after I finished my dish, I was told that the fish was served with &lt;em&gt;tempoyak&lt;/em&gt;, a kind of food I never tried before. You can guess then. Right? If my uncle told me that it was &lt;em&gt;tempoyak&lt;/em&gt;, probably I would never taste &lt;em&gt;tempoyak&lt;/em&gt; at all in my life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Ariely tried to figure out what really happened to me. In fact he did not write about me and &lt;em&gt;tempoyak&lt;/em&gt;, but he experimented with his students to taste MIT brewed beer (I apologize to my fellow Moslems that I cite his experiment with alcoholic beverage to explain the point of argument - Y Pan). He provided two types of beer. The MIT brewed beer and standard commercial beer. The MIT brewed beer was actually the standard beer added with two drops of balsamic vinegar per ounce of beer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In one experiment, he told his students that the MIT brewed beer was adulterated with the balsamic vinegar before they tasted it. The result? After tasting the MIT brewed and the standard beer, typically they disliked the MIT brewed and chose the standard beer as the champion. In another experiment the students were not informed about the balsamic vinegar. The result? OK, you are just right. Many students really liked the MIT brewed. Hey, what happened here? Like me, the students loved the unusual MIT brewed beverage only because they were not told about the balsamic vinegar. In my case it was the &lt;em&gt;tempoyak&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To make sure that information given before judgement really made a difference, Dan conducted a third experiment. Now, the students were not informed about the vinegar before tasting the beer. However, after they made up their mind, choosing the MIT brewed or the standard beer, the students then were told about the vinegar. The information given after judgement did not affect their judgement as in the first case, i.e. when they were told about balsamic vinegar before tasting the beer. They still liked the MIT brewed. They even were willing to add the balsamic vinegar themselves to additional glasses of beer to enjoy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So prior information or knowledge before a judgement really influences the judgement. The events can be exactly the same. So are the facts. Given the very same facts and events, two friends could have two very rigid, opposing arguments. Prior information sets up their expectations and beliefs. Furthermore, their judgements are effectively biased to those beliefs. To loosen this kind of irrational yet 'effective' judgement, we could dismantle our expectations for a moment and just focus on the facts. It is hard though. We also could try inviting a neutral third-party to facilitate the resolution. Well, it is still not easy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finally, although our irrationality could thrive conflicts, whether they are domestic, regional, national, or international, there is no reason for us to give up. We should continue to try to resolve them. Here are some examples of those conflicts to resolve.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ralph Kimball versus Bill Inmon&lt;br /&gt;Israel versus Palestine&lt;br /&gt;America versus Iraq&lt;br /&gt;America versus Venezuela&lt;br /&gt;America versus Bolivia&lt;br /&gt;Pakistan versus India&lt;br /&gt;SBY versus Megawati&lt;br /&gt;Islamic Parties versus Secular Parties&lt;br /&gt;Partai Demokrat versus Partai Golkar&lt;br /&gt;Labors versus Capitalists&lt;br /&gt;Friends versus Friends&lt;br /&gt;Colleagues versus Colleagues&lt;br /&gt;Husbands versus Wives&lt;br /&gt;Parents versus Children &lt;br /&gt;Etc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Next: &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/03/expensive-yet-effective-placebo.html"&gt;Expensive yet Effective Placebo&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Prev: &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/02/having-options-doesnt-always-mean-good.html"&gt;Having Options Doesn't Always Mean Good&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-3619483257736004762?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/feeds/3619483257736004762/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5624112951582714588&amp;postID=3619483257736004762' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/3619483257736004762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5624112951582714588/posts/default/3619483257736004762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ypanca.blogspot.com/2009/02/bias-judgement.html' title='Bias Judgement'/><author><name>Y Pan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17784558351416768300</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_pusrwlMpcRw/R4txteom-zI/AAAAAAAAAAM/7pOAvaf4MdA/S220/SL730242.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5624112951582714588.post-6261371910015633038</id><published>2009-02-19T21:53:00.003+07:00</published><updated>2009-02-26T20:36:31.694+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='review buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai-nilai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manajemen'/><title type='text'>Having Options Doesn't Always Mean Good</title><content type='html'>&lt;em&gt;Inspired by Dan Ariely's Predictably Irrational&lt;br /&gt;Chapter 8: Keeping Doors Open: Why Options Distract Us from Our Main Objective&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do you like options? Financial options? Real options? O yes, everybody loves options. Although options indeed have values, we must be aware of their costs, in some case high costs. In relation to this issue, Dan Ariely and his colleagues devised a computer game, named The Door Game. Ah, what’s that? Before answering it, I’d like to ensure that in addition to loving options, you do love computer games. If not, probably this article is not interesting for you. OK, in short, The Door Game is a game of options.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You are in a computer screen. There are three doors provided for you to enter, the green door, the red door, and the blue door. You can enter a door then click as many times as you want inside it to receive a series of payoffs. Each door has its own range of payoffs, but in a single click, the payoff is somewhat random within its range. This makes it difficult for you to decide whether a door is better than another only by a single click or even by a few numbers of clicks. Like in real life, you can sense which option is better, but you are never 100% sure about it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O wait. In real life, you die at some point in time. To simulate that real life situation, The Door Game gives you only 100 clicks. After you use all 100 clicks, the game is over and you will know your final total earning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now, consider this strategy. You try the green door and consume three clicks, then you enter the red door and consume three clicks, and then you enter the blue door and consume three clicks too. Based on your exploration using nine clicks, you decide the green door is the best so that you stay there forever until all clicks are used. The result is that you are among the best achiever. Easy? Yes indeed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To make the game even similar to real life, Dan Ariely changed the game a little bit. If you do not visit a door in consecutive twelve clicks, the door will disappear. It’s like you date three persons and you forget to visit a particular person for a while. The ‘forgotten’ person will turn his / her back to you. In real life, the case will get worse if the person knows that you date other two persons. So it is far better not to do it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now, consider this finding. Dan Ariely invited a number of respondents, the bright students of MIT, to play the game. The result of a typical respondent, say Joe, will be something like this. Joe tries to explore the three doors like you did using your brilliant strategy. When he uses a number of clicks, he will discover that one of the doors is about to disappear. To maintain his options, Joe keeps visiting the ‘dying’ doors to make them all alive. In this case, a very smart MIT student, Joe fails to find the green door as his best choice. Why? The reason behind is that we human love to have many options, even if this behavior distracts our main objective. Wow, how irrational!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Ariely again changed the game a bit. He introduced reincarnation. A door not visited in twelve clicks will still disappear. The gone door, however, can be brought to live again only by a single magic click. You may imagine that your best strategy will work now. In your surprise, a typical smart student of MIT recommits what Joe did. The fact that a door is about to disappear, although it can be brought live at anytime, makes us human keep trying to save it, even if this behavior should distract us from our goal. We do it only because we love having many options. HOW IRRATIONAL!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What lesson can we learn here?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;1. We love having many options (like dating many persons at once), but we should be careful. Options can distract us from our main objectives, our happiness.&lt;br /&gt;2. To stay focus, we may need to let go some doors and be serious on a few doors. This wisdom is like what Covey refers as wildly important goals or like what Collins refers as the hedgehog concept (see my other articles on those authors).&lt;br /&gt;3. We need to have some way to value which doors most important to us (the big doors, like our spouses, our kids, our missions, etc.).&lt;br /&gt;4. If we have two similar options, we shouldn’t waste time by thinking and analyzing too much. Either option can make us happy. Wasting time hinders us from satisfying our needs.&lt;br /&gt;5. We shouldn’t race from alternatives to alternatives. It just wastes our time. See number 4.&lt;br /&gt;6. If we have kids, we shouldn’t try to cram them with too many various activities. Neither their hobbies nor their areas of strength can be too many.&lt;br /&gt;7. If we are allowed to marry four wives, consider marrying only one if we don’t have bold reasons at all.&lt;br /&gt;8. If we are the lawmakers, the legislators, we shouldn’t waste our time in small differences on alternative policies (for example whether to allow CONTRENG OR CHECKING THE BALLOT only once, i.e. the name of the candidate person, or two, i.e. the name of the party and the name of the person).&lt;br /&gt;9. If we are students, we shouldn’t have two conflicting majors.&lt;br /&gt;10. If we are businessmen, we shouldn’t try all kinds of business.&lt;br /&gt;11. If we are old gigs unmarried to someone, we should consider to marry soon with either good candidate (in Islam you need to marry your daughters soon to good moslems who propose them).&lt;br /&gt;12. If we don’t know what we are best at and we are now forty, we need to forget some of our talents. We should focus on one or two.&lt;br /&gt;13. If we have two plans for our projects, we shouldn’t waste time by comparing them all the time. We should choose one and just implement it.&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;The list continues&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;And last but not least, if we are dying, like we are all now, we need to first focus on our life after death then anything else submits to that highest priority.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Next: &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/02/bias-judgement.html"&gt;Bias Judgement&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Prev: &lt;a href="http://ypanca.blogspot.com/2009/02/ownership-or-stewardship.html"&gt;Ownership and Stewardship&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5624112951582714588-6261371910015633038?l=ypanca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ypanca.blogspot.com/f
