Hari ini dua orang teman menanyakan mengenai blog saya. Koq lama ga ada tulisan baru? Gitu kurang lebih. Keduanya mengatakan perlunya melanjutkan kebiasaan sharing. Tentu dalam hal ini lewat tulisan di blog.
Terus terang saya sendiri heran mengapa saya berhenti menulis. Kadang yang jadi alasan adalah beban kerja yang bertambah banyak seiring dengan tanggung jawab baru di kantor. Kadang saya juga merasa ada yang salah di luar sana yang mematikan selera menulis.
Memang menyalahkan faktor eksternal adalah jalan paling mudah untuk sekedar jadi nyaman. Nyaman dengan kondisi apa adanya, tanpa gelora untuk membuat suatu perbedaan. Betapapun kecil perbedaan itu.
Saya masih punya alasan tambahan untuk argumen ini. Kan saya sudah bekerja seprofesional mungkin? Kontribusi saya cukup OK di pekerjaan. Setidaknya begitulah pikiran saya beralasan. Biarlah kekacauan di luar sana terjadi. Yang penting saya bekerja sebaik mungkin dan mendidik keluarga semampu saya.
Oh, rupanya saya kecewa dengan keadaan dan mulai apatis. Dulu saya yakin harapan itu masih ada, tapi kenyataan menantangnya. Nomor satu adalah korupsi dan kecurangan di sektor apapun di level apapun. Yang lain adalah kriminalitas yang tak kunjung menurun. Jangan tanya kemiskinan dan kesenjangan. Prospek ekonomi global yang tetap saja menjajah ekonomi nasional? Bah!
Oh, rupanya saya kecewa kepada pihak-pihak yang sempat saya titipkan harapan pada mereka. Intinya saya ngambek! Apa yang saya suarakan ga ngaruh. Lagian mungkin saya terlalu pede dengan kemampuan saya melakukan perubahan atau sedikitnya ikutan men-trigger perubahan.
Saya ternyata ga ada apa-apanya. Oleh karena itu, sekarang saya sadari, blog ini jadi vakum karena apatisme, hingga dua orang teman memberi sentilan sedikit. Saya patut berterima kasih pada keduanya. Paralel dengan kejadian dan perenungan di atas, terjadi perubahan aura di lingkungan sekitar saya. Tiba-tiba salah satu komunitas mengangkat lagi urgensi taubat. Hehe klasik.
Mungkin... Sekali lagi mungkin latar belakang diangkatnya urgensi taubat itu yang memberi hentakan. Memberi dorongan! Memberi energi baru untuk kembali membuat perubahan. Betapapun kecilnya perubahan itu yang dimulai dari diri sendiri, setelah adanya kesadaran akan kesalahan-kesalahan yang dibuat.
Baru-baru ini, dalam suatu pertemuan, seorang motivator memberi gambaran dua sisi kehidupan. Sisi pertama adalah tujuan yang biasanya bersifat sangat mulia. Setidaknya mulia menurut subyektivitas sang subyek kehidupan. Yah, contohnya Ra's al Ghul yang ingin mengkoreksi dunia yang korup. Contoh di seberangnya tentu Bruce Wayne yang mati-matian membela kota Gotham dari makar Ra's al Ghul dan pengikutnya. Ah, dua contoh ini bukan dari motivator yang disebut di atas. Saya aja yang tiba-tiba kesamber pikiran yang melayang.
Sisi kedua, balik ke beliau, adalah proses untuk mencapai tujuan itu. Nah, jika semua orang ingin menggunakan kesempatan dan sumber daya yang terbatas untuk mencapai tujuan masing-masing, otomatis yang bakal timbul adalah "rebutan kekuasaan" yang mana istilah ini lagi-lagi nyamber pikiran saya. Bukan dari beliau.
Selanjutnya beliau mengatakan untuk bertahan dalam proses kehidupan itu diperlukan dua keterampilan. Manajemen perubahan dan manajemen konflik. Nah, karena tabiat proses kehidupan seperti ini, ga perlulah berkecil hati. Semua orang mengalaminya. Semua orang hebat melalui kehidupan yang penuh dengan konflik. Mau contoh?
Nabi Yusuf, ini kata beliau, harus melalui dinamika kehidupan yang sangat panjang sebelum akhirnya menceritakan kembali perbuatan jahat saudara-saudaranya. Rentang antara peristiwa dijebloskannya Yusuf kecil ke dalam sumur dengan era kejayaannya sebagai salah satu penguasa Mesir adalah 40 tahun, atau di riwayat lain 80 tahun. Bahasa Indonesianya minimal delapan kali pemilu, atau enam belas kali pemilu.
Jadi? Wahai diriku, Ga usah galau. Taubat, sabar, dan teguh aja!
Senin, 11 Maret 2013
Semangat Baru
Minggu, 18 September 2011
Yuk Ngarang
Karena dunia tulis menulis adalah aktivitas berbahasa, kali ini saya coba membahas mengenai itu saja. Saya sering mengkhayal bagaimana caranya menjelaskan membuat karangan sebagai suatu proses mental. Penjelasan yang sederhana tapi mengena, mudah-mudahan, bisa mendorong siapa saja yang ingin menulis memulai keinginannya itu. Begini... Sesungguhnya karangan tidak lain adalah sekumpulan gagasan yang disusun sedemikian rupa melalui bab-bab, kemudian paragraf-paragraf, kalimat-kalimat, kata-kata, hingga ke huruf-hurufnya.
Nah, ketika membuat karangan, misalnya dalam bentuk essay satu atau dua halaman, kita bisa memulai dengan membuat kerangka karangan. Eh sebelumnya kita harus memikirkan topiknya. Setelah kerangkanya bagus, kita membuat topik-topik gagasan untuk tiap paragraf, yang semuanya mengalir menjadi suatu gagasan utuh sesuai dengan topik utama. Masing-masing topik paragraf itu sendiri kita buat menjadi suatu kalimat utama. Dulu waktu masih sekolah, kita diajarkan menempatkan kalimat utama di awal paragraf atau di akhirnya.
Selanjutnya, paragraf yang sudah kita tentukan kalimat utamanya kita kembangkan dengan menambahkan kalimat-kalimat pendukung. Bentuknya dapat berupa uraian atau deskripsi atau contoh-contoh yang mendukung gagasan kalimat utama. OK, sebelum kejauhan, saya stop aja di sini. Bagi Anda yang membutuhkan penjelasan lebih lengkap perihal tulis menulis dapat mencari di sumber lain. Di world wide web apa sih yang nggak bisa dicari? Saya ingin mengulasnya dari sisi yang lain.
Dulu sesudah kita lancar membaca dan mulai mengenal kata-kata, guru kita meminta kita untuk menyusun kalimat sempurna. Tidak cukup hanya menuliskan satu kata, kira-kira di kelas dua, kita sudah diberi tugas menyusun ulang kata-kata acak menjadi suatu kalimat sempurna. Di tahap inilah, proses mental kita seharusnya naik ke level baru. Mengapa? Satu kalimat sudah lengkap gagasannya. Ia bisa berdiri sendiri. Coba bandingkan.
Lapar… Saya lapar.
Ungu… Dia suka warna ungu.
Anak… Kalian adalah anak-anak yang baik.
…
Warna ungu membuat kalian menjadi anak-anak yang lapar!
Beda kan? Satu kata memang berarti. Seribu kata apalagi. Itulah yang pertama kali diajarkan Allah kepada Adam. Pengetahuannya tentang kata-kata itu yang membuatnya lebih mulia dari para malaikat. Tapi coba bandingkan kata-kata yang berserak dengan satu kalimat sempurna. You know what I mean, don’t you? Saya kira nggak perlu lagi uraian panjang lebar untuk menunjukkan tingginya kedudukan suatu kalimat.
Kembali ke khayalan saya, sebetulnya tulisan itu tidak lebih dari sebuah kalimat, Judul karangan, walaupun biasanya dituliskan dalam suatu frasa saja, sebetulnya mewakili sebuah kalimat. Satu karangan yang terdiri dari ratusan atau ribuan kalimat selalu bisa dimampatkan menjadi satu kalimat sempurna saja. Contoh yang diberikan Nassim Nicholas Taleb buat saya sangat menarik. Ilustrasinya agak sinis yang bernada kurang lebih sebagai berikut: biografi seorang CEO hebat setebal 500 halaman dapat diringkas menjadi “CEO anu adalah orang yang beruntung pada waktu dan tempat yang tepat dengan teman-teman yang tepat.”
Masih melanjutkan khayalan, suatu bab atau suatu paragraf selalu dapat dimampatkan menjadi satu kalimat sempurna saja. Ya iyalah. Satu buku aja bisa, apalagi hanya satu paragraph. Di sinilah saya ingin membuat satu argumen yang berat: pengetahuan kita tidak lain hanyalah SATU KALIMAT SAJA dengan pola SPOK: Saya hanya tahu sedikit saja! Atau: Segala sesuatu mempunyai hubungan dengan sesuatu yang lain! Atau: Hidup sungguh sangat singkat!
Memang SATU KALIMAT SAJA itu bisa dielaborasi menjadi satu set kalimat-kalimat, jutaan mungkin, dengan susunan tertentu. Kita bisa mengubah fokus perhatian kita, seperti mikroskop, sehingga kita bisa turun naik dari satu level ke level granularity lainnya. Berapa level? Banyaklah! Level paling detail misalnya sejuta kalimat. Level ringkasan pertama mungkin 100 ribu kalimat. Level ringkasan kedua mungkin 10 ribu kalimat. Demikian seterusnya diringkas-ringkas terus sampai jadi SATU KALIMAT SAJA.
Wah, wah, wah... Tulisan ini seharusnya belum berakhir, tapi koq rasanya sudah kepanjangan. Lain kali diterusin, insya Allah.
Selasa, 30 Agustus 2011
Selamat Idul Fitri 1432H
Walaupun saya mengikuti keputusan pemerintah mengenai jatuhnya 1 Syawwal 1432H pada hari Rabu, 31 Agustus 2011, masih terdapat catatan kecil di lubuk hati paling dalam. Sebelum curhat dilanjutkan, saya ingin mengucapkan terlebih dahulu:
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432H...
TaqobbalalLahu minna wa minkum...
Semoga Allah menerima amal dan tobat kita...
Mohon maaf lahir dan batin...
Nah, bagaimana kenyataan di lapangan. Kalender sudah jauh hari mengindikasikan hari raya jatuh pada tanggal 30 Agustus 2011. Kantor pemerintah sih sudah kosong sejak Senin, 29 Agustus. berbeda dengan kantor pemerintah, seandainya punya usaha, kita pasti seminimal mungkin tutup warung, iya kan? Kalau bisa, cukup tutup dua hari saja atau malah satu hari. Kemarin pas jalan ke ITC BSD, pas mau nyari hadiah buat sunatan Hanif, banyak toko mainan yang menyatakan libur dua hari, mengikuti kalender.
Sedih juga deh dengan realitas perbedaan hari raya yang sudah berlangsung dari tahun ke tahun dan mungkin masih akan terjadi bertahun-tahun ke depan. Buktinya toko mainan yang tutup itu aja. Cerminan kebingungan di akar rumput. Malah di berita, masyarakat miskin di Sulawesi kecewa karena sudah terlanjur menyiapkan hidangan lebaran buat hari Selasa dan tidak cukup punya uang untuk menyiapkan hari Rabunya. Komentar-komentar terhadap berita di media online juga sama saja. Walaupun ada yang cukup arif menyikapi perbedaan, banyak yang bingung dan menyalahkan elit pemerintah dan ormas Islam.
Ya udah deh... kata Rani, anak pertama kami... sabar aja, hidup penuh cobaan. Dan kalau kita melihat dari sudut pandang lain, situasi ini bisa aja justru membahagiakan. Setidaknya ada lelucon atau sindiran buat kita mentertawakan diri sendiri. Contoh sikap positif bisa dilihat pada foto di atas. Memang bukan dalam konteks perbedaan hari raya, tapi dalam konteks menghadirkan iklan yang berbeda dari kenyataan yang biasa-biasa saja. Pengumumannya begini:
Libur Makan Bebek
Mulai Senin, 29 Agustus 2011
Mulai Makan Bebek Lagi
Kamis, 5 September 2011
Kembali ke topik perbedaan hari raya, kepada elit pemerintah dan ormas Islam, walaupun harapannya tipis, saya berharap ke depan ada jalan keluar yang arif. Mungkin bisa dimulai dengan penentuan dateline penanggalan hijriyah. Bisa saja dateline hijriyah itu sama dengan dateline penanggalan masehi yang membelah globe tepat di kawasan yang populasinya sedikit, karena kondisi kawasan berupa samudera pasifik yang teramat luas. Barangkali ada hikmahnya Allah menciptakan bentuk daratan di muka bumi ini seperti bentuknya yang sekarang.
Mengapa kita nggak belajar dari kaum lain?
Minggu, 28 Agustus 2011
Menulis Lagi
Tahun ini kegiatan saya menulis sangat minimal. Mungkin karena waktu habis untuk aktivitas lain, seperti latihan catur. Alhamdulillah pada porsebi 2011 ini, tim kami mendapatkan emas. Buat saya sendiri, perak sudah pernah dapat, pada tahun pertama masuk kerja. Perunggu juga pernah didapat dua tahun lalu, ketika Pak Bahari mengajak saya kembali ke dunia catur. Sebelum pekan olah raga kali ini dimulai, saya sudah berniat berhenti dan kembali menekuni banyak hal lain yang sempat tertinggal, termasuk tulis menulis ini.
Beberapa waktu lalu saya makan siang bersama beberapa mahasiswa yang sedang praktek kerja di kantor. Di luar dugaan, seorang di antaranya menanyakan mengenai blog saya. Setahun lalu atau dua tahun lalu, saya selalu mempromosikan blog pribadi ini, tapi sekarang agak malu karena update-nya sangat jarang.
Sambil makan siang, di antara topik-topik lain, kami berdiskusi mengenai manfaat menulis. Saya memberi kuliah bahwa menulis itu berarti harus membaca. Itu yang pertama. Yang kedua saya sampaikan menulis adalah kegiatan mental yang jauh lebih aktif daripada sekedar membaca. Dengan menulis, kita dipaksa meng-organize gagasan dengan cara yang lebih baik. Di situlah proses pembelajaran terjadi di level yang lebih tinggi.
Setelah dipikir-pikir lagi… ah mungkin kuliah itu jadi nggak berarti kalau saya sendiri meninggalkannya. Ya sudah… mulai hari ini saya akan coba lagi aktif mengisi blog. Itu artinya harus lebih banyak buku yang dibaca. Banyak artikel yang dibaca. Banyak fenomena yang harus diamati dan dituliskan, kecuali fenomena politik yang membuat selera menulis hilang entah kemana.
Rabu, 11 Mei 2011
Ke(tidak)bijaksanaan Elit
Kayaknya para pengambil kebijakan nasional di sektor keuangan mesti hati-hati deh. Di Amerika, para pengambil kebijakan semasa Bush terus saja dituntut tanggung jawabnya atas resesi yang hingga saat ini belum berakhir. Contohnya adalah seperti yang ditulis oleh Paul Krugman berikut ini.
Bukan tidak mungkin muncul banyak Krugman Indonesia yang punya legitimasi akademis untuk memberikan kritisi-kritisi yang amat berat bobotnya. Iya sih, Krugman adalah seorang "liberal" yang suka atau tidak suka sering dikaitkan dengan Partai Demokrat yang berseberangan secara ideologis dengan GOP (Partai Republik) yang "konservatif" tapi sejatinya sangat liberal menurut bahasa kita. Anyway, saran saya untuk para pengambil kebijakan nasional agar jangan cuma asal ikut-ikutan arus dengan alasan konvergensi hukum global. Toh, di sono para pengambil kebijakan mulai dicap tidak bijak.
Terjemahan
The Unwisdom of Elites
By PAUL KRUGMAN
Published: May 8, 2011 at NYTimes
Tiga tahun terakhir telah menjadi bencana bagi hampir semua perekonomian barat. AS memiliki tingkat pengangguran jangka panjang tertinggi untuk pertama kalinya sejak tahun 1930-an. Sementara itu, mata uang tunggal Eropa sedang tercabik-cabik di negara-negara anggotanya. Bagaimana semuanya bisa jadi begitu salah?
Apa yang makin sering kita dengar dari anggota elit pembuat kebijakan – yaitu orang-orang yang menilai diri bijaksana, para pejabat, dan pakar-pakar terkemuka – adalah klaim bencana itu sebagian besar akibat kesalahan publik. Idenya adalah bahwa kita masuk ke dalam kekacauan ini karena pemilih menginginkan sesuatu serba gratis, dan politisi yang berpikiran pendek mengakomodasi kebodohan pemilih.
Nah, sepertinya inilah saat yang tepat untuk menunjukkan bahwa pandangan yang menyalahkan publik tersebut tidak hanya cenderung egois, tapi benar-benar salah.
Kenyataannya adalah apa yang kita alami sekarang adalah suatu bencana dari orang atas, top down. Kebijakan-kebijakan yang membuat kita jatuh dalam kekacauan ini bukan merupakan respon terhadap kebutuhan masyarakat. Kebijakan-kebijakan itu, dengan beberapa pengecualian, diusung oleh kelompok-kelompok kecil orang berpengaruh. Dalam banyak kasus, mereka adalah orang yang sekarang menceramahi kita semua agar serius. Dan dengan berusaha untuk menyalahkan masyarakat umum, para elit menghindari refleksi yang justru dibutuhkan terhadap kesalahan mereka sendiri.
Izinkan saya fokus terutama pada apa yang telah terjadi di AS, dan kemudian sedikit berpendapat tentang Eropa.
Hari-hari ini warga Amerika dicekoki ceramah terus menerus tentang perlunya mengurangi defisit anggaran. Fokus pada pengurangan defisit tersebut sebetulnya merupakan prioritas yang keliru, karena concern jangka pendek kita saat ini mestinya pada pembukaan lapangan kerja. Tapi anggaplah kita diwajibkan fokus pada defisit tersebut dan bertanya: Apa yang terjadi dengan surplus anggaran yang dimiliki pemerintah federal pada tahun 2000?
Jawabannya ada tiga hal utama. Pertama adalah pemotongan pajak Bush, yang membebani sekitar $2 triliun utang nasional selama satu dekade terakhir. Kedua adalah perang di Irak dan Afghanistan, yang menambahkan kurang lebih $1,1 triliun utang tambahan. Dan ketiga adalah resesi ekonomi, the Great Recession, yang menyebabkan tidak hanya jatuhnya pendapatan tetapi juga naiknya pengeluaran secara tajam untuk program asuransi pengangguran dan jaring pengaman.
Jadi, siapa yang bertanggung jawab atas masalah anggaran ini? Pastinya bukan orang kebanyakan di jalanan.
Presiden George W Bush memotong pajak demi ideologi partainya, bukan demi memenuhi sentimen tuntutan masyarakat – dan gelondongan besar dari potongan tersebut dinikmati oleh segelintir minoritas yang super kaya.
Demikian pula, Bush memilih untuk menyerang Irak hanya karena alasan ia dan penasihatnya ingin melakukan itu, bukan karena rakyat Amerika menuntut perang melawan rezim yang tidak ada hubungannya dengan 9/11. Bahkan dibutuhkan sebuah kampanye yang sangat menipu untuk mendapatkan dukungan rakyat Amerika terhadap invasi, dan meskipun begitu, pemilih tidak pernah bulat mendukung perang.
Akhirnya, resesi didatangkan oleh sektor keuangan yang tak terkendali, akibat deregulasi yang sembrono. Dan siapa yang bertanggung jawab atas deregulasi itu? Orang-orang kuat di Washington yang memiliki hubungan dekat dengan industri keuangan. Izinkan saya memberikan sapaan-teriakan spesial untuk Alan Greenspan, yang memainkan peran penting dalam deregulasi keuangan dan pelolosan program pemotongan pajak Bush – dan beliau kini, tentu saja, di antara orang-orang yang mengintimidasi kita tentang defisit.
Jadi judgment yang buruk dari elit lah yang menyebabkan defisit Amerika. Bukan keserakahan orang-orang biasa! Dan situasinya amat mirip untuk kasus krisis Eropa.
Tak usah dikatakan bahwa bukan seperti itu yang Anda dengar dari para pembuat kebijakan Eropa. Penjelasan resmi di Eropa adalah bahwa pemerintah dari negara-negara yang bermasalah terlalu condong berpihak pada rakyat, terlalu banyak janji kepada para pemilih sembari mengumpulkan terlalu sedikit pajak. Dan itu adalah, sejujurnya, penjelasan yang cukup akurat untuk Yunani. Tetapi berbeda sekali dengan apa yang terjadi di Irlandia dan Spanyol, yang masing-masing memiliki hutang yang rendah sekaligus surplus anggaran tepat sebelum krisis.
Kisah sesungguhnya dari krisis Eropa adalah bahwa para pemimpin menciptakan mata uang tunggal, euro, tanpa menciptakan lembaga-lembaga yang dibutuhkan untuk mengatasi siklus boom and bust di dalam wilayah euro. Dan desakan mata uang tunggal Eropa sebenarnya merupakan proyek top-down, suatu visi elit yang dipaksakan kepada pemilih yang sebetulnya sangat menolak.
Hm, apakah semua ini penting? Mengapa kita harus peduli terhadap upaya menimpakan kesalahan kebijakan pada masyarakat umum.
Jawabnya sederhana: akuntabilitas. Orang-orang yang menganjurkan kebijakan defisit anggaran selama periode Bush seharusnya saat ini tidak boleh menjadi kritikus defisit. Orang-orang yang memuji-muji Irlandia (rasanya Prof Krugman memasukkan Thomas L Friedman dalam kategori ini hehe – Y Pan) sebagai model percontohan seharusnya tidak boleh menguliahi kita tentang pemerintah yang bertanggung jawab.
Akan tetapi, jawaban hakikinya adalah dengan mengarang cerita tentang nasib buruk yang sedang kita alami, sambil memberikan pemutihan ke orang yang bertanggung jawab, kita membuang kesempatan untuk belajar dari krisis. Kita perlu menimpakan kesalahan ke orang yang memang bertanggung jawab, untuk mengkoreksi mereka. Jika tidak demikian, mereka akan membuat lebih banyak kerusakan di masa yang akan datang.
addthis
Kategori
- bahasa-matematika (23)
- demokrasi-politik (51)
- ekonomi-bisnis (71)
- lebih personal (42)
- manajemen (111)
- nilai-nilai (137)
- review buku (68)
- sistem informasi (37)
