Copy and Paste

Anda bebas mengambil content blog ini, tapi mohon sebutkan alamat blog ini dalam tulisan Anda.

You are free to copy the content of my blog. However, please let your readers know my blog as your source.

Minggu, 2009 Juli 12

Liburan Usai

Musim liburan kali ini bener-bener bikin kami sibuk. Pindahan adalah kegiatan utama kami. Selain mindahin barang-barang, tentu kami harus mindahin sekolahan anak-anak. Beruntung satu orang di pesantren, jadi hanya empat yang mesti menyesuaikan diri dengan lingkungan bakal sekolah baru. Lebih beruntung lagi, tiga anak kami memang pas masuk SMP, SD, dan TK. Hanya satu yang putus di tengah: Aisyah dari kelas 3 ke kelas 4 SD.

Secara umum, musim liburan ini paling exciting sekaligus paling bikin capek dan paling menguras sumber daya. Nggak apalah. Saya pernah dapet nasihat, perubahan besar hanya dapat terjadi kalau kita mau strecth the limit. Momentum ini sekalian merupakan kesempatan untuk belajar membentuk kebiasaan baru dan belajar meninggalkan kebiasaan buruk.

Nah, kemarin kami mengantar Hanif ke sekolah untuk pengenalan dan orientasi. Mulai Senin besok, empat anak kami masuk sekolah. Semuanya pada seneng dan semangat. Alhamdulillah. Karena banyak yang mesti diurus, Kepala Urusan Rumah Tangga kami khusus meminta saya meninggalkan pekerjaan barang sehari, hari Senin ini, buat sedikit ngeringanin kerepotan.

Eh cuma sehari? Cukup? Insya Allah cukup. Lagian, hari Kamis dan Jum'atnya saya ijin cuti lagi, nganterin Rani ke pesantrennya di Solo. Insya Allah, di kelas dua nanti dia masuk kelas internasional dengan penguatan Bahasa Inggris, Bahasa Arab, dan Sains. O, betapa banyak ni'mat yang dilimpahkan Allah pada kami. Semestinya kami terus belajar pandai bersyukur.

Wah, liburan usai, padahal nggak liburan kemana-mana. Ah nggak juga. Waktu itu, kami full team jalan ke arah Puncak, nginep di Wisma Mulyasari, naik lagi ke Cilember, terus main air. Pekan lalu kami, jalan-jalan ke Taman Mini, sekalian sama sepupu-sepupu dan bude-budenya anak-anak, malahan sama Alif dan Desi yang datang dari Yogya buat ngeramein liburan. Terus pas hari pilpres, anak-anak perempuan diajak budenya ke Lippo Super Mall, bersama sepupu-sepupu mereka.

Wah, masih dikit banget! Ah, nggak juga. Di sekitar tempat tinggal kami yang baru, tinggallah yai dan dua keluarga bude anak-anak. Meskipun nggak pergi jalan-jalan, anak-anak asyik bermain di lingkungan baru bersama kerabat, anak-anak tetangga, dan kucing kami 'Emak Cingi' yang kami bawa dari Bekasi. Enaknya lagi, rumah kami menghadap taman yang lalu lintasnya nggak rame. Jadi kalau bosen ngubek-ngubek di dalam rumah atau main pasir di halaman belakang, anak-anak main sepeda mengelilingi taman.

Nah, walaupun liburan mau usai, bolehlah tetap mengharap liburan kali ini penuh manfaat, hikmah, dan berkah buat anak-anak. Ya Allah, berkahilah hidup kami dalam senang maupun susah, dan masukkanlah kami ke surgaMu bersama orang-orang yang baik.

Selengkapnya.....

Kamis, 2009 Juli 09

Karakter Pemimpin

Hari Selasa, 30 Juni, saya berdiam sebentar di masjid kantor setelah shalat zuhur. Kebetulan ada ceramah oleh Ustadz Ahmad Yani dari Khairu Ummah. Tema ceramahnya adalah karakter pemimpin yang baik. Sumber dalilnya adalah pidato inagurasi Abubakar Ash-Shiddieq, sepeninggal Rasulullah. Karena menarik, saya catat isi ceramahnya, dan mungkin ada gunanya kalau saya bagi di sini.

Pertama, tawadhu. Pemimpin yang baik tidak merasa sebagai yang terbaik. Pemimpin sombong, seperti Firaun, senantiasa takut muncul orang lain yang lebih baik dan pantas menjadi pemimpin. Firaun bahkan melakukan rekayasa untuk membunuh calon-calon pemimpin. Tentunya kita pasti ingat kisah Nabi Musa. Orang yang tawadhu tidak akan bertambah apapun baginya kecuali derajat (hadits).

Kedua, siap bekerjasama dengan siapapun. Pemimpin yang baik tolong menolong dengan yang siapa saja dalam kebaikan, tidak dalam dosa. Kerjasama merupakan keniscayaan karena pemimpin, bahkan setiap orang, tidak dapat bekerja sendirian. Nah, semangat kerjasama seperti ini terkait erat dengan sifat tawadhu sang pemimpin.

Ketiga, mengharap kritik dan saran. Bila salah, koreksilah aku. Demikian kata Abubakar, yang ditimpali oleh Umar seraya mengacungkan pedang. Abubakar tidak marah diancam dikoreksi dengan pedang karena Umar adalah sosok yang sangat dikenalnya. Makanya terkait dengan karakter siap menerima kritik dan saran, pemimpin harus berusaha mengenal kaumnya agar siap menerima koreksi.

Keempat, harus jujur (amanah). Pemimpin jujur menyelesaikan masalah dengan cepat. Sebaliknya, pemimpin pendusta justru membuat masalah berlarut-larut. Saya jadi ingat buku The Speed of Trust karya Stephen MR Covey. Baca artikel saya sebelumnya, The Speed of Trust.

Kelima, menunaikan hak rakyat yang lemah. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang pro rakyat kecil! Rakyat kecil dirampas haknya oleh Si Kuat yg Zholim. Oleh karena, pemimpin wajib mengintervensi. Ini berbeda 180 derajat dari pemimpin yang pro pasar tok.

Keenam, memberantas kezholiman rakyat yang kuat. Pemimpin yang baik berkewajiban mengambil hak yang sudah dirampas oleh Si Kuat dan mengembalikannya ke Si Lemah. Untuk melakukan ini perlu keberanian pemimpin. Contoh akibat sifat pengecut adalah ketika pihak berwajib justru takut sama preman pasar. Preman pasar melindungi pedagang yang berdagang bukan di tempatnya, bahkan sampai menutup sebagian besar badan jalan.

Ketujuh, pemimpin yang baik harus menunjukkan ketaatan. Hanya pemimpin yang taat yang pantas ditaati oleh rakyat. Ada hadits yang menyatakan tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada kholik.

Nah, mari bercermin apakah pemimpin kita benar-benar memiliki ketujuh karakter di atas, seperti Abubakar, sahabat terpercaya. Kalau belum, berarti kita harus berupaya melahirkan pemimpin berkarakter. Lima tahun lagi atau sepuluh atau lima belas. Akan tetapi, pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah kita sendiri memilikinya, karena tiap-tiap kita hakikatnya adalah pemimpin, minimal buat keluarga dan diri kita sendiri.

Selengkapnya.....

Senin, 2009 Juni 22

Musim Libur Tiba

Libur tlah tiba. Libur tlah tiba. Hore, hore, hore... Kayaknya anak sekolah pada jalan semua. Dari TK sampe SMA sampe Perguruan Tinggi. Bahkan bimbingan belajar dan kursus Bahasa Inggris ngadain rekreasi atau rihlah bareng.

Yang duit atau waktunya pas-pasan, perginya deket-deket aja, misalnya ke Taman Mini atau Ancol atau Ragunan. Yang punya waktu dan duit agak lebih, perginya jauhan dikit, misalnya ke Puncak atau Anyer. Yang duit dan waktunya banyak, perginya ke Singapura atau Malaysia atau Umroh sekalian.

Nah, Puncak rupanya masih merupakan tujuan wisata utama. Buktinya hari ini, kami berangkat dari Bekasi jam 8.15 dan tiba di Mulya Sari di Jalan Raya Cipayung menuju Puncak jam 11.15, padahal normalnya mungkin sejam lebih dikit. Mulai dari keluar tol di Gadog, macet udah terasa. Makin ke atas makin macet dan berhentinya makin lama. Kaki ini rasanya mau copot dan nagih minta dipijet. Sayangnya yang biasa disuruh mijet sibuk juga dengan kegiatan masing-masing.

Anak-anak main sampe puas. Ibunya sibuk kumpul dengan ibu-ibu panitia lainnya ngebantu guru ngurusin acara. Di Curug Cilember, Rita dan kawan-kawannya kelas 6 SDIT Thoriq bin Ziyad main air sampe puas. Kami sekeluarga yang ikutan rombongan rihlah juga kecipak kecipuk. Aisyah malah bener-bener nyebur. Ini dia, belum sempet kaki ngasoh setelah nginjek-nginjek pedal kopling, rem, dan gas, pegelnya ditambah lagi naik turun medan Curug 7 Cilember. Biar capek, seneng rasanya lihat anak-anak puas bermain.

Nah, malem ini Rita dan kawan-kawan akan mendapatkan surat cinta dari sekolah. Lulus? Mudah-mudahan seratus persen. Dan mudah-mudahan program mabit (bermalam - Y Pan) terakhir buat anak-anak kelas 6 dengan guru-guru dan staf SDIT Thariq bin Ziyad ini penuh kesan dan hikmah buat semua. Hm... memang berpisah selalu diiringi kesedihan. Sedih berpisah dari teman-teman yang baik!

Selengkapnya.....

Jumat, 2009 Juni 19

Granada Square


Lokasinya di Kencana Loka, Sektor XII, BSD. Susunan tokonya tidak seperti susunan toko lainnya di BSD. Pertama, ukurannya lebih kecil, cenderung seperti ukuran kios. Kedua, tidak semua kios atau toko menghadap langsung ke jalan. Ada yang cuma menghadap pelataran. Ketiga, pelatarannya dibuat agak luas, sehingga bisa digunakan buat jualan kaki lima. Yang jualan di pelataran macem-macem. Ada lontong sayur, zuppa soup, roti jala, aneka jus, pakaian, keperluan sekolah, dan lain-lain.

Saya dan keluarga sering melewatinya karena di dekat situ tinggallah ayahanda tercinta dan keluarga-keluarga kakak saya. Nah, kalau sedang melewatinya, saya merasakan atmosfir mediterania karena namanya. Tampak depan bangunannya gimana ya? Berbau latin sedikit (maksa mode ON). Wajar toh karena Granada aslinya nama ibukota bangsa Moor di Andalusia-Spanyol di era keemasan. Untuk tulisan ini, yang penting standard BSD City di kawasan ini sama dengan kawasan lainnya.



Drainase bagus. Bahkan orang dewasa normal bisa aja menelusuri jaringannya. Parkir memadai. Penerangan OK banget. Toilet umum ada. Pohon dan tanaman OK juga. Ya pokoknya, infrastrukturnya bagus dan memadai untuk pasar kecil di tepian Laut Tengah yang seolah bikin nyaman buat menikmati pemandangan indah di sekitarnya hingga ke Negeri Maghribi di Afrika Utara jika saja mata bisa menembus berpuluh-puluh mil pekatnya udara laut. Bedanya, Granada Square hanya mengenal dua musim, bukan empat musim seperti di Andalusia.

Tahun 2001, kami beli kavling dekat Granada Square. Itu karena desakan Mbak Ika. Bertahun-tahun digunakan buat anak-anak tetangga main bola, baru tahun lalu kavling mulai dibangun karena saya dapet utangan yang lumayan. Cukup? Ya, tepatnya mepet! Nah, empat pekan lalu, kami memulai proses pindahan. Mulai dua pekan lalu, kami mencoba nginep Sabtu malam. Paginya, kami coba menyusuri jalan-jalan sekitar, termasuk jajan di Granada Square itu. Roti jala kare kambing... muantap banget. Anak-anak lebih suka Zuppa soup, kecuali Hanif. Dia memang dari dulu suka kambing, bahkan sejak dalam kandungan, hehehe...

Keasyikan ini memang patut disyukuri. Tinggal berdekatan dengan keluarga besar, itu alasan pertama. Kemudian, lingkungannya asri. Terus alternatif transportasi banyak, khususnya KRL yang paling asyik. Stasiun Rawabuntu nggak jauh, kayaknya bisa ditempuh nggak sampe setengah jam jalan kaki dari rumah. Masjid Al-Hakim juga deket, bisa ditempuh paling sepuluh menit jalan kaki. Semuanya indah. Ya, semuanya... Sungguh? Ah, nggak juga.

Kembali ke Granada Square, tempat ini beberapa waktu lalu sangat rame tiap akhir pekan karena dijadikan Flohmarkt Market, pasar kecil akhir pekan, meniru Flohmarkt di daratan Eropa, khususnya sekitar Jerman. Sekarang, obyek wisata Flohmarkt di Granada Square ditutup. Khabarnya ada warga sekitar yang keberatan, karena pasar kalangan itu bikin kotor. Bahkan aroma kotoran kuda biasa merebak. Bukan cuma itu, risiko keamanan khabarnya meningkat. Ini dia, ternyata di BSD City sekalipun budaya bersih belum sepenuhnya bisa dikondisikan lewat lingkungan yang asri. Kenapa ya?




Kalau area Taman Monas kotor, terutama hari Senin setelah warga berekreasi di situ Sabtu dan Ahad, saya rasa masih bisa dimaklumi. Areanya sangat luas. Pengunjungnya padet dari berbagai lapisan masyarakat. Sementara itu, Pemerintah DKI tahu sendiri kan sudah menghadapi bejibun masalah, walaupun ini sebenernya nggak boleh dijadikan alasan (lihat artikel saya sebelumnya Kebersihan di Area Publik - Y Pan). Granada Square yang jauh lebih kecil harusnya bisa dikelola dengan baik, terutama aspek kebersihan dan keamanannya. Memang kebersihan dan keamanan berjalan seiring.

Di NYC, dulu sistem KRL-nya menyeramkan. Kotor dan nggak aman, sampai terjadi insiden Bernie Goetz. Lalu penanggung jawab keamanan stasiun dan kereta mulai kampanye kebersihan. Setiap kereta yang 'dirusak' dengan grafiti selalu dicat ulang, walaupun baru kemarin dicat. Bersih dan rapi membantu meningkatkan keamanan. Lihat deh artikel saya sebelumnya berupa ringkasan dari Bab 4 The Tipping Point karya Malcolm Gladwell. Menurut hemat saya, pengelola Granada Square mesti kayak gitu juga, tapi... oh jangan-jangan nggak ada pengelola yang bertanggung jawab. Gimana nih BSD?


Selengkapnya.....

Kamis, 2009 Juni 11

Apakah Pak Boed Neolib?

Akhir-akhir ini, banyak pengunjung blog saya masuk lantaran kata kunci Boediono atau Budiono. Terakhir saya menulis mengenai beliau ketika posisi Gubernur BI lowong ditinggal Pak Burhan. Waktu itu, saya buat polling kecil-kecilan siapa yang paling pantas menjadi Gubernur BI. Jawaban di polling waktu itu yang jauh dari ilmiah adalah Pak Boediono. Kebetulan bersamaan jumlah voternya dengan Pak Muliaman Hadad. Saya berspekulasi Pak Boed yang terpilih dan kebetulan beliau terpilih menjadi orang nomor satu BI.

Seakan menegaskan ketokohannya, Pak Boediono kembali menjadi sorotan publik setelah dipilih PD untuk mendampingi Pak SBY mengikuti pilpres 2009. Saya menduga-duga dalam hati bahwa yang paling dicari orang adalah informasi mengenai ideologi ekonomi beliau. Apakah beliau bener-bener pendukung neoliberalisme? Tentu saja di antara informasi lain terkait dengan pribadi dan keluarganya.

Di suatu acara TV, hadirlah Pak Fuad Bawazir, anggota tim sukses JK-Win, yang sekaligus menjadi pengkritik SBY Berbudi nomor wahid. Karena mantan Menkeu, Pak Fuad tentunya memiliki latar belakang yang cukup untuk berdebat mengenai ideologi ekonomi. Singkatnya, beliau menuding Pak Boediono sebagai seorang neolib. Serta merta pembawa acara memberi giliran ke pengurus teras PD yang mengikuti acara itu. Tentu pengurus teras PD ini menyanggahnya.

Bagaimana cara sanggahan disampaikan? Dengan tenang dan mantap tokoh satu ini mengatakan Pak Boediono bukan neolib, tapi seorang monetaris. Beliau merujuk ke suatu buku yang menulis mengenai Pak Boed. Nah, sebagaimana banyak orang berdebat mengenai neoliberalisme tanpa tahu maknanya, adalah ironi besar bahwa sanggahan diberikan nyata-nyata tanpa pengetahuan yang cukup. Jadi, baik pendemo di jalanan maupun pengurus teras partai sebenernya nggak ngerti persis bahan perdebatan.

Ya, yang nggak peduli langsung ganti saluran. Yang menelan perdebatan mungkin banyak yang bingung mana yang bener. Singkatnya begini, ideologi ekonomi bisa dijajarkan berbaris. Paling kiri berdiri ideologi sosialisme yang ekstremnya percaya segala hal harus diatur oleh negara, bahkan kawin sama siapa dan beranak sekalipun. Di sebelah paling kanan berdiri ideologi liberalisme yang ekstremnya setiap individu bebas melakukan apa saja. Kebebasan individu mengejar kepentingannya masing-masing diyakini menghasilkan kebaikan untuk masyarakat secara keseluruhan.

Dalam praktik, hampir nggak pernah kita jumpai yang totalitas ekstrem. Artinya, yang bisa dikatakan sebenarnya adalah ideologi A lebih kiri dari ideologi B. Artinya juga kalau ke kiri lagi, masuk jurang. Nah, istilah neoliberalisme dan monetarisme tentu perlu kita pahami posisinya dalam barisan ideologi-ideologi tadi. Di kanan? Di kiri? Atau di tengah? Menurut teori, neoliberalisme adalah penjelmaan baru dari liberalisme ala Adam Smith. Di kanan dia pro kebebasan individu atau bisa dikatakan pro pasar!

Monetarisme? Ini adalah aliran ekonomi Milton Friedman yang mengatakan ekonomi dapat dikendalikan dengan baik semata-mata dengan mengendalikan suplai uang atau uang beredar. Pengendalian lain nggak perlu, begitulah aslinya ideologi Milton Friedman, yang didukung penuh pemerintahan Reagan dan Thatcher. Artinya seorang monetaris aslinya adalah seorang liberal (kalau di Amerika disebut konservatif, diwakili Partai Republik; malah di Amerika seorang liberal agak ke kiri; istilah memang sering bikin bingung - Y Pan).

Nah menurut teori, klaim pejabat teras PD di atas ketika berdebat dengan Pak Fuad Bawazir bisa menjadi bahan tertawaan.

Lalu apakah bener Pak Boediono seorang neolib? Tentu saingan politik SBY Berbudi mati-matian mengatakannya. Wajar dalam kompetisi politik. Sebaliknya, kubu Pak Boed tentu ingin mendudukkan persoalan lebih proporsional. Sederhananya jangan sampai kesan bahwa Pak Boed hanya pro pasar atau lebih pro ke pasar daripada pro ke rakyat bener-bener jadi opini publik.

Kubu Pak Boed pastinya ingin mengatakan tuduhan para pengkritiknya terlalu berlebihan, walaupun sebagian pendukung beliau - para ekonom arus utama di kampus-kampus dan lembaga lain - merasa nggak ada yang salah dengan neoliberalisme. Kearifan Pak Boediono sebagai ekonom senior sangat terasa, terutama ketika kita bandingkan dengan fundamentalisme para ekonom arus utama yang sensi banget melihat fenomena berbaliknya arah kebijakan. Pernyataan beliau bahwa ekonomi syariah opsi serius (Republika 9 Juni 2009) kembali menegaskannya!

Jadi, apakah Pak Boed seorang neolib? Kalau dari klaim di buku bahwa beliau seorang monetaris, jawabnya YA. Sebaliknya, saya lebih senang mengamati kiprah beliau di berbagai posisi, antara lain Menkeu, Menko Perekonomian, Ketua Bappenas yang menghasilkan kebijakan yang tidak semata-mata pro pasar. Juga kiprah beliau di BI yang ramah kepada ekonomi dan perbankan syariah. Anda? Terserah deh.

Baca kisah lainnya:
Timbal Balik Kebaikan dan Kejahatan
Emas Putih dan Hitam
Kelemahan Uang
Irrationality and Improvement
Mencegah Krisis
Kebijakan Berbalik Arah

Selengkapnya.....

addthis

Live Traffic Feed

Ask A Word