Copy and Paste

Anda bebas mengambil content blog ini, tapi mohon sebutkan alamat blog ini dalam tulisan Anda.

You are free to copy the content of my blog. However, please let your readers know my blog as your source.

Senin, 03 November 2014

Big Data: Big Promise

Solusi TI dari dulu sering mengumbar janji-janji manis. Mungkin kelakuan mengumbar janji ini akan terus berlanjut. Para vendor sangat lihay memunculkan istilah baru yang katanya bisa memenuhi janji-janji yang pernah diumbar sebelumnya, ditambah tentunya dengan janji baru yang lebih manis. Big data adalah salah satu janji manis itu - big promise.

Masih segar dalam ingatan kita, tidak terlalu lama sebelum ini ada janji manis berupa teknologi database, kemudian data warehouse, terus data mart, data mining, malah pernah ada data lake. Masih banyak buzzword lain, tapi sudahlah. Memang sih ga semua janjinya cuma pepesan kosong, tapi mengklaim janji-janjinya terpenuhi semua juga ga tepat. Nah, ketika big data datang dengan janji manis baru, tidak terlalu salah kalau pengguna-pengguna seperti kita ini agak skeptis di satu sisi, tapi juga penuh harap di sisi lain.

Menurut saya pribadi, sikap skeptis terhadap janji-janji dari vendor TI, termasuk big data, adalah sikap yang tepat. Memang harus imbang sih. Jangan sampai sikap skeptis itu menjadi negatif sehingga menutup peluang-peluang baru yang boleh jadi sudah menunggu setelah tikungan di depan. Anyway, pertanyaan skeptis yang sering muncul di benak saya adalah, "Apa bedanya dengan yang lalu?"

Ayo kita ingat-ingat lagi teknologi sebelumnya dulu kasih janji apa dan yang mana yang belum terwujud. Menyusuri ingatan seperti ini kadang menyakitkan karena membuka luka lama. Mari mulai dengan yang satu ini: database. Teknologi database sudah memberi sumbangannya, meskipun ada kurangnya. Koq ya tumpukan data di database yang berasal dari transaksi-transaksi perusahaan kita tidak mudah di-query? Jangan ngomong dulu mengenai sejumlah database perusahaan yang tidak nyambung satu dengan yang lain. Kalaupun query terpaksa dilakukan, ada risiko kegiatan operasional yang didukung database dimaksud mengalami gangguan.

Data warehouse katanya bisa mengatasi masalah integrasi dan gangguan ketika query dilakukan. Data dari berbagai sumber ditarik ke warehouse, diintegrasikan, dan disimpan secara historis. Ketika query dilakukan ke warehouse, sistem-sistem database operasional tidak bakal terganggu, karena proses penarikan dan transformasi data dilakukan malam hari. Itupun bebannya banyak di data warehouse, bukan di database sumber. Selesai? Tidak juga. Integrasi tetap menjadi isu. Data sebenarnya berhasil diintegrasikan, tapi seiring kompleksitas yang makin meningkat, integrasi kembali menjadi isu. Ini berarti semakin sulit mengintegrasikan data dari sumber-sumber baru. Jangan bicara dulu mengenai masalah performance baik pada proses penarikan dan transformasi (biasa disebut ETL atau ELT) maupun proses query untuk menghasilkan informasi.

Data mart bisa mengatasi masalah performance dari query, karena lebih kecil dan spesifik untuk kebutuhan tertentu. Iya sih, tapi kalau data mart dibentuk langsung dari penarikan data di sumber-sumber tertentu, masalah integrasi tidak terpecahkan. Antara satu data mart dengan yang lain betul-betul independen dan ga nyambung. Pendekatan Ralph Kimball berupaya mengatasinya dengan suatu bus architecture, tapi lagi-lagi ketika proyek sudah sukses, kemudian muncul kebutuhan-kebutuhan baru, pendekatan ini pada akhirnya menemui kesulitan yang sama.

Lain lagi kalau menggunakan data mart yang dependen terhadap data warehouse. Solusi seperti ini yang diusung oleh Bill Inmon memang menjamin data mart-data mart dibentuk dari data warehouse yang sebelumnya sudah terintegrasi. Pertanyaan kembali muncul terhadap tingkat integrasi data warehouse itu sendiri. Dengan pendekatan asli dari Inmon, relatif sulit untuk secara agile mengintegrasikan data dari sumber-sumber baru ke warehouse. Pendekatan modern dari Dan Linstedt sepertinya bisa menjadi solusi buat Kimball dan Inmon: mengatasi kelemahannya masing-masing sekaligus memanfaatkan kekuatan masing-masing.

Apa masalah sudah beres? Anggaplah kita mampu mengimplementasi pendekatan Inmon-Linstedt-Kimball, apakah semua janji terpenuhi? Belum. Pengambil keputusan dalam tiap-tiap institusi tidak dapat memutuskan hanya berdasarkan informasi dari data warehouse atau data mart. Menurut bacaan saya dulu, semakin tinggi dan strategis level pengambil keputusan, semakin tidak terstruktur prosesnya, semakin tidak terstruktur inputnya, semakin dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal keputusannya. Bagaimana mungkin keputusan diambil dengan output data warehouse saja.

Saya tidak mengatakan bahwa proses pengambilan keputusan di level strategis tidak ada pola atau sistematikanya. Yang ingin saya sampaikan adalah prosesnya itu semakin tidak mekanistis, meskipun tetap ada mekanismenya. Prosesnya semakin tidak terstruktur, meskipun tetap ada strukturnya. Semakin tidak pasti faktor-faktor keputusan itu, meskipun ada kejelasannya. Dengan lain perkataan, teknologi belum mampu menggantikan sistem informasi paling canggih yang inheren dalam diri manusia, dalam diri pengambil keputusan dan para pembisiknya itu.

Untuk sederhananya, saya kembali menggunakan istilah pembisik, seperti pada tulisan yang lalu, Big Data: Big Bingung. Tidak jarang pengambil keputusan mengambil suatu keputusan atas dasar bisikan pembisiknya. Apakah ini 100% ngawur? Tidak sama sekali. Kalau si pengambil keputusan yakin dengan kemampuan dan kualitas pembisiknya, justru praktik ini sangat efektif dan efisien. Bagaimana pembisik itu bisa menghasilkan bisikan yang berkualitas untuk tuannya? Barangkali di belakangnya ada pembisik lagi. Barangkali dia mengakses data warehouse.

Apakah cukup dari data warehouse atau database? Pasti tidak. Hanya persoalan yang sangat diketahui nature-nya yang bisa diotomasi dan didukung penuh dengan teknologi. Sebagian besar persoalan pengambil keputusan, khususnya di lembaga-lembaga besar mengandung faktor-faktor yang masih tersembunyi di dalam lipatan-lipatan platonik yang tidak dapat diantisipasi. Makanya perlu kolaborasi para pembisik. Kalau data yang dibutuhkan belum tersedia di data warehouse atau database, sudah pasti kreativitas para kolaborator itu akan membawa mereka ke kemungkinan perolehan data secukupnya. Sang tuan harus segera dibisiki!

Bagaimana para pembisik berkolaborasi? Pembisik yang satu mengetahui kualitas para pembisik di sekitarnya. Oya, di lembaga-lembaga serius, pembisik ini mungkin disebut analis, kadang disebut peneliti, malah ada yang disebut ekonom dan ilmuwan. Kembali ke pembisik, mereka bekerja mengikuti struktur tertentu, entah itu formal atau informal. Struktur formal misalnya mengikuti struktur organisasi. Jadi, ada pembisik pemula, ada pembisik madya, dan ada pembisik eksekutif, serta ada kepala pembisiknya. Mereka kenal satu dengan yang lain. Saking kenalnya, kepala pembisik selalu memberi penugasan ke pembisik tertentu yang dia sudah tahu kualitas dan/atau loyalitas ybs. Itu di satu sisi. Di sisi lain, ada yang dikucilkan, menjadi pembisik bisu, yang paling-paling berbisik untuk diri sendiri.

Para pembisik itu mempraktikkan empat kegiatan utama. Pertama, mungkin yang paling manusiawi, adalah sosialisasi. Para pembisik kongkow-kongkow bertukar bisikan. Yang kedua adalah eksternalisasi bisikannya menjadi tulisan-tulisan, laporan, jurnal ilmiah, atau sekedar tulisan di medsos yang kemudian dibaca oleh tuannya. Yang ketiga adalah kombinasi. Maksudnya pembisik membaca beberapa tulisan pembisik-pembisik lain, lalu mengkombinasikannya menjadi tulisan baru. Barangkali dalam proses mengkombinasi itu, ada penyaringan, ada penekanan, dan ada pengabaian. Yang terakhir, keempat, disebut internalisasi. Di modus ini, seorang pembisik mempelajari tulisan-tulisan yang ada dan berusaha memasukkannya dalam pemahaman. Mungkin termasuk juga dalam modus ini adalah si pembisik mempelajari data yang dia dapatkan dari data warehouse, database, atau DARI MANA SAJA (sengaja huruf besar, yang ini merupakan area big promise dari big data), kemudian mempelajari segala korelasi, dan kemudian membuat suatu kesimpulan.

Ah, panjang juga penjelasan mengenai empat kegiatan utama para pembisik atau para kolaborator di paragraf terakhir di atas. Supaya saya ga disebut curang, mending saya sebut saja sumber pembisik saya, yaitu Nonaka dan Takeuchi dengan model SECI, socialization-externalization-combination-internalization. Pasti kita semua sudah melakukan kegiatan-kegiatan itu. Model SECI hanya untuk memudahkan penjelasan saja.

Waduh, saya masih perlu mengelaborasi artikel ini, khususnya memberi penekanan di area big promise of big data, tapi ini udah kepanjangan. Tunggu ya di artikel selanjutnya.

Selengkapnya.....

Senin, 27 Oktober 2014

Big Data: Big Bingung

Teknologi informasi (TI) memang berkembang cepat cepat cepat sekali. Sekarang ini data digital yang tercipta setiap harinya di seluruh dunia sudah meledak sampai hitungan 10 pangkat entahlah. Medsos seperti Facebook dan Twitter saja setiap hari ketambahan data dalam hitungan APABYTES. Seiring dengan ledakan data digital yang sangat luar biasa itu, para inovator menciptakan teknologi baru, yaitu big data.

Apa sih sebenarnya teknologi big data? Jawaban serampangannya yang mungkin agak bodoh adalah terkait dengan teknologi yang memungkinkan menyimpan dan mengolah data sampai APABYTES tadi, hehe... Mungkin kita bertanya-tanya apakah kita mesti peduli dengan teknologi ini. Apa manfaatnya buat kita pribadi? Atau pertanyaan yang lebih canggih: apa manfaatnya buat perusahaan kita?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, izinkan saya disklaim terlebih dahulu. Tulisan ini tidak akan banyak mengulas detil teknologi big data itu sendiri, tapi akan lebih pada ulasan konseptual seputar apa dan mengapa serta perspektif posisi big data dalam konsep sistem informasi. Ulasan mengenai bagaimananya barangkali bisa didapatkan lewat googling aja. Banyak koq artikel yang sudah membahas masalah itu. Yang lebih dalam kayaknya mesti lewat kursus atau sekolahan.

Saya ngaku aja dulu bahwa sejak beberapa tahun lalu, saya mulai enggan menulis di blog ini. Saya punya tanggung jawab yang lebih banyak sekarang, baik di kantor maupun di rumah (narsis). Selain itu, saya sudah ga mau terlalu eksis lagi di dumay, mungkin karena sedikit ketakutan terhadap ancaman seperti yang dialami oleh Will Smith di film lama Enemy of the State... Status Facebook sesekali aja di-update. OL ke Facebook dan LinkedIn juga hanya sekilas info doang.

Sampai hari ini, big data yang bikin big bingung ini akhirnya berhasil mengusik saya keluar dari gua persembunyian.

Nah, untuk mengulas big data, rasanya harus mulai dari konsep kuno dulu. Saya pernah menulis Apa Sih Sistem Informasi? Pernah juga R/evolusi Informasi, tapi yang pertama itu lebih mendasar. Tahun 90-an awal saya pernah disuruh membaca buku teks Management Information System, oleh PENULIS ITU, sebagai bagian dari kuliah Pak Husni di Bandung. Intinya sistem informasi melayani penggunanya dengan penyediaan informasi yang relevan sebagai dasar keputusan dan tindakan.

Tidak harus pake komputer kata beliau! Lampu lalulintas yang memberi sinyal kapan berhenti dan kapan boleh jalan sudah bisa didefinisikan sebagai sistem informasi. Di kasus lain yang juga ekstrem, sistem informasi bisa saja lebih bertumpu kepada para pembisik yang hanya menggunakan teknologi kuno berupa pulpen dan secarik kertas. Bahkan kalau dibolehkan dan pada saat tertentu diharuskan, sang pembisik menyampaikan informasi yang relevan kepada tuannya langsung dari mulut ke kuping secara harfiah.

Kapan pake secarik kertas dan kapan cuma pake modal mulut semuanya tergantung aturan yang ditetapkan oleh sang tuan. Untuk rekap definisi yang sayup-sayup saya ingat dari buku teks yang diwajibkan Pak Husni untuk kami baca, komponen sistem informasi terdiri dari alat (hardware dan software), orang, dan aturan. Iya deh kayaknya kurang lebih begitu.

Mana big data-nya nih? Koq masih muter-muter di konsep kuno itu. Iya ini sudah mau dijelaskan. Sabar dikit ya.

Seperti air, informasi mengalir dari sumber mencapai tujuannya, yaitu pengguna. Seperti produk, informasi melalui tahap-tahap produksi yang masing-masing menambah nilai. Dalam dunia yang agak filosofis, terdapat perbedaan definisi mengenai data, informasi, dan pengetahuan, tapi di sini anggaplah ketiganya sama, meskipun kita tahu berbeda. Oya, jangan campuradukkan pengetahuan tok dengan ilmu pengetahuan ya. Yang belakangan ini agak serem jelasinnya.

Kebelet pengen tahu beda ketiganya? Ah, cukup rasakan nuansanya saja: informasi di hulu masih bernilai rendah (masih bernuansa data saja), sementara di hilir tempat para pengambil keputusan dan tindakan, informasi bernilai tinggi (bernuansa pengetahuan). Di satu sisi, kata-kata dan data yang keluar dari mulut para pembisik di telinga pengambil keputusan itulah yang bernilai tinggi. Di sisi lain, fakta dan data yang masih harus dikumpulkan dari sumbernya masih bernilai rendah dan mungkin ada yang sama sekali tidak relevan. Kadang jarak antar sumber data dengan pengambil keputusan dekat. Kadang jauh, seperti Bengawan Solo.

Lalu kita perlu sadar bahwa para pembisik berkolaborasi di antara sesamanya. Mereka saling bisiki satu dengan yang lain, yang kemudian bisa saja mengubah isi bisikannya ke sang tuan. Masing-masing pembisik mempunyai informan (Koq bukan dataman ya? Ah udahlah). Bisa saja mereka langsung mengobservasi suatu fenomena. Dalam dunia yang semakin digital ini, barangkali mengobservasi suatu fenomena menjadi demikian mudahnya. Ini seperti catatan amal digital yang diperlihatkan ke kita sebagai pelaku dalam menciptakan fenomena. Catatan digital itu membuat kita terperanjat!

Terperanjat? Ternyata di catatan itu ada jejak kunjungan kita ke situs-situs web, baik yang normal maupun yang nyerempet. Di catatan itu ada juga jejak lokasi kita lengkap dengan status yang kita update dari waktu ke waktu. Ada juga panggilan telpon kita lengkap dengan rekamannya. Malah foto kita waktu melanggar lalu lintas di NYC juga ada. Medical record sampai belanjaan kita juga ada catatannya. Hmm ini baru sebagian kecil aja. Maka waspadalah, jangan beramal buruk. Ga usah nunggu pengadilan akhirat. Di sini saja kita bisa dibuat malu karena catatan amal digital kita.

Poinnya ini nih. Teknologi big data memungkinkan catatan digital yang terus menerus tercipta setiap saat baik lokal maupun global dapat diolah menjadi informasi yang bernilai tinggi. Yang mengolah siapa atau apa? Ya harusnya para pembisik itu yang mengolahnya dengan bantuan alat, yaitu teknologi big data. Teknologi big data yang canggih tanpa pembisik yang mampu mengolah big data ga ada artinya. Pembisik-pembisik itu harus meng-upgrade diri mereka dari peranan analis semata menjadi penemu data, istilah kerennya data scientist. Artinya para pembisik itu harus bekerja keras dan cerdas menggali tumpukan catatan digital dan menemukan data yang relevan untuk selanjutnya menyimpulkannya untuk kebutuhan sang tuan.

Udah mulai ngerasa sense-nya? Belum? Ya, ternyata nulis big data dalam konteks yang benar ga bisa hanya dengan beberapa paragraf. Tunggu ya di artikel berikutnya. Saya akan mencoba mengulas hubungan antara big data dengan para pembisik dan dua rumpun teknologi yang sudah biasa digunakan, yaitu enterprise content management (ECM) dan enterprise data warehouse (EDW). 

Selengkapnya.....

Jumat, 29 Maret 2013

Kuliah Habibie di As Salam

Terus terang saya dari kecil mengidolakan beliau. Hampir saja menjadi salah satu binaan beliau lewat beasiswa ke luar negeri, karena satu dan lain hal, saya memilih kuliah di Bandung saja. Pada kesempatan lain kemudian, waktu kuliah, saya sempat magang di BPPT awal tahun 90-an dan sesekali melihat beliau saat shalat Jum'at.

Apa perasaan ngefans ke beliau berhenti di situ? Ga juga. Waktu itu, beliau mendirikan ICMI, bersama tokoh-tokoh Islam lainnya. Saya ikut larut dalam atmosfir itu dan bahkan ikutan share ke harian Republika di awal pendiriannya. Hingga waktu mau masuk kerja di tempat saya sekarang, ketika ditanya siapa tokoh idolamu, aku tulis aja Prof. Dr. B. J. Habibie.

Hari ini pas kebetulan ke Solo, jenguk Rani dan Aisyah, Pak Habibie menyempatkan memberi kuliah di PPMI As Salam. Betul-betul pas-pasan, saat kami berdua tiba di masjid, ga berapa lama tausiyah beliau dimulai. Sambutan santriwan dan santriwati sangat meriah. Mungkin efek buku dan film Ainun dan Habibie yang bikin beliau populer di generasi hari ini.

Apa pokok pelajaran yang disampaikannya? Seperti dulu intinya adalah nilai tambah. Bagaimana agar nilai tambah bisa tinggi? Semua bermula dari imtaq dan iptek - perasaan dan akal. Masing-masing dikembangkan melalui pembudayaan dan pendidikan. Sinergi positif - bisa dikatakan jodoh yang sebenarnya - antara perasaan dan akal itu menjadi modal dalam penciptaan sinergi positif yang lebih besar.

Gelombang yang lebih besar itu punya tiga elemen. Pertama interaksi pribadi dengan sesama manusia, terutama dengan jodohnya dan kemudian keluarganya Kedua adalah interaksinya dengan karya-karya umat manusia. Yang ketiga interaksinya dengan pekerjaannya. Jadi semuanya ada lima elemen yang harus diperhatikan untuk menciptakan sinergi positif atau nilai tambah yang besar.

Perasaan, akal, interaksi dengan umat manusia, interaksi dengan karya-karya umat manusia, dan interaksi dengan pekerjaan!

Memang kuliah Pak Habibie jauh lebih lengket (sticky) dan lebih punya daya tarik. Beliau menyampaikan pokok pikirannya itu dengan cerita-cerita. Sedikit kisahnya dengan Ainun. Pernikahannya tahun 62. Praktis belum punya apa-apa. Kemudian lompatannya di tahun 72. Pada waktu itu beliau telah memiliki rumah yang pekarangannya 1,5 hektar. Kemudian lompatannya lagi dengan memiliki pesawat pribadi.

Setelah mengemukakan semua itu, akhirnya Pak Habibie mengungkap satu rahasia besar. Dua saudara kembar yang dibesarkan dengan proses pembudayaan dan pendidikan yang persis sama masih saja dapat menghasilkan nilai tambah yang berbeda. Lima elemen dalam proses penciptaan nilai tambah itu haruslah dilandasi sesuatu yang lebih agung, yakni Cinta.

Selengkapnya.....

Kamis, 21 Maret 2013

Nilai Bahasa Okezone 65

Saya sudah lama beralih dari portal berita detik.com ke okezone.com. Yah, soalnya di detik, komentar-komentarnya banyak yang sadis. Lho kan ga harus dibaca komentar itu. Iya, bener, tapi tetap saja saya ogah satu forum dengan pembaca-pembaca yang kurang beradab.

Di okezone.com, komentar memang tidak sebanyak di detik, mungkin karena pengunjungnya juga relatif tidak sebanyak detik. Yah udah, saya terima aja kondisi itu. Nah, pada tulisan ini saya ingin mengangkat penilaian saya terhadap penggunaan bahasa di okezone.

Seperti setiap proses penilaian, tentu saja pihak yang dinilai boleh aja keberatan, misalnya dalam hal ini dengan menggunakan hak jawab. Hehehe, terlalu GR ya? Memang sih, saya ragu tulisan ini benar-benar bakal dibaca oleh dewan redaksi, tapi... Siapa tahu lah?

Nilainya 65. Lho? Iya perhatikan saja dua paragraf yang saya cuplik dari http://m.okezone.com/read/2013/03/19/519/778157, sbb:

"Seharusnya DPR yang membuat undang-undang tidak serta merta menggulirkan pasal tentang santet. Artinya, dalam KUHP masih memerlukuan sejumlah penyempurnaan.

Contonya, persoalan waktu dalam proses penyelidikkan, penyidikkan, pemberkasan, pra-penuntutan dan lain-lain. Proses tersebut juga tidak mencantumkan waktu."

Gramatika memang tidak sempurna, tapi itu bisa diterima karena pilihan penggunaannya yang tidak rigid mungkin dimaksudkan untuk meluweskan tulisan. Toh ini bukan tulisan ilmiah.

Ejaan? Ini yang menyedihkan. Kesalahan ketik seperti dua kata yang dimiringkan terlalu banyak muncul dalam dua paragraf. Harusnya dari seluruh artikel, kesalahan ketik maksimal tiga. Jadi terpaksa saya diskon nilai bahasa okezone menjadi 90.

Sudah cukup? Belum. Di kutipan di atas memang tidak ada kasusnya, tapi saya yakin setiap kata 'sekitar' yang harusnya muncul, malah 'sekira' yang kebaca. Saya belum tahu ada penggunaan kata 'sekira' yang seperti ini. Mungkin asalnya dari 'kira-kira' ya? Jadi, untuk mengatakan 'sekitar jam 7 pagi' okezone menggunakan 'kira-kira jam 7 pagi' yang kemudian ditulis 'sekira jam 7 pagi' dalam frasanya. Kalaupun ini benar, saya tetap tidak merasa pas dan memberi diskon 10 tambahan. Nilainya menjadi 80.

Sudah? Masih ada lagi dan ini parah. Dari kutipan di atas, perhatikan dua kata yang digarisbawahi sekaligus ditebalkan. Apa pasal? Begini, okezone menggunakan pasangan awalan-akhiran yang salah, yaitu pe- dan -kan. Pasangan itu tidak dikenal dalam pembentukan kata benda dari kata dasar kata kerja. Seharusnya, pasangan yang digunakan adalah pe- dan -an.

Bagaimana koreksinya? Ya, seharusnya 'penyelidikan' dan 'penyidikan' saja. Kalaulah 'penyelidikkan' dan 'penyidikkan' adalah dua kata yang benar, harusnya frasa di atas itu diikuti dengan 'pemberkaskan' dan 'pra-penuntutkan' tapi kan nggak seperti itu. Yang benar tetaplah 'pemberkasan' dan 'pra-penuntutan' dan lalu... Apa yang menghalangi okezone menggunakan 'penyelidikan' dan 'penyidikan' dalam kalimat itu?

Terpaksa deh didiskon lagi dan mesti lebih besar dari yang tadi. Nilai akhirnya 65! Mau protes? Silakan.

Terus apakah ini bakal bikin saya balik ke detik? Ah ga lah! Bahasa detik tidak lebih baik juga... Komentarnya? Tetap sadis!

Berikut beberapa tulisan saya sebelumnya yang terkait.

http://ypanca.blogspot.com/2008/01/penunjukkan-atau-penunjukan.html
http://ypanca.blogspot.com/2010/08/bentuk-kata-kerja-aktif.html
http://ypanca.blogspot.com/2008/01/awalan-di-atau-kata-depan-di.html

Selengkapnya.....

Senin, 11 Maret 2013

Semangat Baru

Hari ini dua orang teman menanyakan mengenai blog saya. Koq lama ga ada tulisan baru? Gitu kurang lebih. Keduanya mengatakan perlunya melanjutkan kebiasaan sharing. Tentu dalam hal ini lewat tulisan di blog.

Terus terang saya sendiri heran mengapa saya berhenti menulis. Kadang yang jadi alasan adalah beban kerja yang bertambah banyak seiring dengan tanggung jawab baru di kantor. Kadang saya juga merasa ada yang salah di luar sana yang mematikan selera menulis.

Memang menyalahkan faktor eksternal adalah jalan paling mudah untuk sekedar jadi nyaman. Nyaman dengan kondisi apa adanya, tanpa gelora untuk membuat suatu perbedaan. Betapapun kecil perbedaan itu.

Saya masih punya alasan tambahan untuk argumen ini. Kan saya sudah bekerja seprofesional mungkin? Kontribusi saya cukup OK di pekerjaan. Setidaknya begitulah pikiran saya beralasan. Biarlah kekacauan di luar sana terjadi. Yang penting saya bekerja sebaik mungkin dan mendidik keluarga semampu saya.

Oh, rupanya saya kecewa dengan keadaan dan mulai apatis. Dulu saya yakin harapan itu masih ada, tapi kenyataan menantangnya. Nomor satu adalah korupsi dan kecurangan di sektor apapun di level apapun. Yang lain adalah kriminalitas yang tak kunjung menurun. Jangan tanya kemiskinan dan kesenjangan. Prospek ekonomi global yang tetap saja menjajah ekonomi nasional? Bah!

Oh, rupanya saya kecewa kepada pihak-pihak yang sempat saya titipkan harapan pada mereka. Intinya saya ngambek! Apa yang saya suarakan ga ngaruh. Lagian mungkin saya terlalu pede dengan kemampuan saya melakukan perubahan atau sedikitnya ikutan men-trigger perubahan.

Saya ternyata ga ada apa-apanya. Oleh karena itu, sekarang saya sadari, blog ini jadi vakum karena apatisme, hingga dua orang teman memberi sentilan sedikit. Saya patut berterima kasih pada keduanya. Paralel dengan kejadian dan perenungan di atas, terjadi perubahan aura di lingkungan sekitar saya. Tiba-tiba salah satu komunitas mengangkat lagi urgensi taubat. Hehe klasik.

Mungkin... Sekali lagi mungkin latar belakang diangkatnya urgensi taubat itu yang memberi hentakan. Memberi dorongan! Memberi energi baru untuk kembali membuat perubahan. Betapapun kecilnya perubahan itu yang dimulai dari diri sendiri, setelah adanya kesadaran akan kesalahan-kesalahan yang dibuat.

Baru-baru ini, dalam suatu pertemuan, seorang motivator memberi gambaran dua sisi kehidupan. Sisi pertama adalah tujuan yang biasanya bersifat sangat mulia. Setidaknya mulia menurut subyektivitas sang subyek kehidupan. Yah, contohnya Ra's al Ghul yang ingin mengkoreksi dunia yang korup. Contoh di seberangnya tentu Bruce Wayne yang mati-matian membela kota Gotham dari makar Ra's al Ghul dan pengikutnya. Ah, dua contoh ini bukan dari motivator yang disebut di atas. Saya aja yang tiba-tiba kesamber pikiran yang melayang.

Sisi kedua, balik ke beliau, adalah proses untuk mencapai tujuan itu. Nah, jika semua orang ingin menggunakan kesempatan dan sumber daya yang terbatas untuk mencapai tujuan masing-masing, otomatis yang bakal timbul adalah "rebutan kekuasaan" yang mana istilah ini lagi-lagi nyamber pikiran saya. Bukan dari beliau.

Selanjutnya beliau mengatakan untuk bertahan dalam proses kehidupan itu diperlukan dua keterampilan. Manajemen perubahan dan manajemen konflik. Nah, karena tabiat proses kehidupan seperti ini, ga perlulah berkecil hati. Semua orang mengalaminya. Semua orang hebat melalui kehidupan yang penuh dengan konflik. Mau contoh?

Nabi Yusuf, ini kata beliau, harus melalui dinamika kehidupan yang sangat panjang sebelum akhirnya menceritakan kembali perbuatan jahat saudara-saudaranya. Rentang antara peristiwa dijebloskannya Yusuf kecil ke dalam sumur dengan era kejayaannya sebagai salah satu penguasa Mesir adalah 40 tahun, atau di riwayat lain 80 tahun. Bahasa Indonesianya minimal delapan kali pemilu, atau enam belas kali pemilu.

Jadi? Wahai diriku, Ga usah galau. Taubat, sabar, dan teguh aja!

Selengkapnya.....

addthis

Live Traffic Feed