Copy and Paste

Anda bebas mengambil content blog ini, tapi mohon sebutkan alamat blog ini dalam tulisan Anda.

You are free to copy the content of my blog. However, please let your readers know my blog as your source.

Kamis, 26 November 2009

XBRL atau MDM

Suatu ketika Mas Tony, rekan kantor, mengirimi saya artikel mengenai XBRL dan MDM. Wah apa itu? Eh... jangan buru-buru gitu, yang jelas ini terkait dengan kerjaan kantor. Saya buru-buru baca dan mendapati artikelnya bagus, minimal untuk menambah pemahaman saya mengenai XBRL dan MDM serta hubungan antara keduanya. Karena merasa artikel ini bagus, saya terus buru-buru menerjemahkannya. Siapa tahu ada rekan yang juga membutuhkannya.

Ini dia...

XBRL atau Master Data Management?

Kadang pilihannya jelas, kadang tidak

Oleh Robert D. Kugel (diterjemahkan oleh Y Pan)
12 September 2006

Sumber Asli: http://intelligent-enterprise.informationweek.com/showArticle.jhtml;jsessionid=B1VKDZBZQC5VLQE1GHRSKH4ATMY32JVN?articleID=192701772

Ringkasan
Master Data Management (MDM) dan eXtensible Business Reporting Language (XBRL) merupakan dua teknologi penting yang menjanjikan penyelesaian beberapa masalah-masalah utama manajemen informasi. Ventana Research yakin keduanya akan membuat perusahaan-perusahaan mampu menurunkan biaya, waktu, dan upaya yang diperlukan untuk mengumpulkan, menganalisa, dan menggunakan informasi, baik untuk tuntutan transparansi, pendukung keputusan, atau bahkan pelaksanaan proses bisnis. Sebagian pengamat menilai keduanya saling bersaing, tapi pada praktiknya masing-masing memiliki kemampuan di bidang tertentu yang paling cocok dan tidak di bidang lainnya. Bahkan di area persinggungan antara keduanya, XBRL dan MDM tidak bersifat murni eksklusif satu sama lain. Kami menyarankan perusahaan-perusahaan untuk mulai meneliti XBRL dan MDM dan mengembangkan keahlian terkait untuk menggunakan keduanya.

Pandangan
Satu tantangan manajemen informasi yang akan dihadapi organisasi-organisasi di tahun-tahun mendatang adalah persoalan kapan harus menggunakan XBRL dan kapan MDM. Ventana Research berpendapat untuk kasus tertentu pilihannya demikian jelas (bahkan jikapun ada beberapa pengecualian) dan untuk kasus-kasus tertentu lainnya baik XBRL maupun MDM dua-duanya dapat dijadikan solusi. Kami sih tidak percaya situasi akan tetap statis karena pilihan-pilihan teknologi, teknik, perangkat, dan aplikasi akan terus menerus berkembang. Sementara kami memandang pendukung masing-masing mengkampanyekan keunggulan satu atas yang lainnya, proses seleksi akan menghasilkan yang terbaik. Sebagai contoh, pada banyak kasus, perusahaan akan menggunakan MDM untuk menfasilitasi proses penandaan (tagging) XBRL terhadap data. Sebaliknya, XBRL mempunyai "master data" -nya sendiri dalam bentuk ”tanda-tanda” (tags). Perluasan XBRL yang spesifik untuk satu perusahaan tentunya harus dikelola sebagaimana item master data lainnya, khususnya karena MDM memainkan fungsi utama dalam mengelola berbagai hirarki data dan struktur bisnis lainnya. Nah, menurut kami, organisasi-organisasi perlu mengembangkan kemampuan pada dua teknologi ini. Lebih cepat, lebih baik.

Di satu sisi, kami meyakini XBRL adalah pilihan yang jelas bilamana data harus di-shared dengan pihak luar organisasi dan tujuannya adalah untuk mengeliminasi (atau mengurangi semaksimal mungkin) kerja atau upaya terkait dengan pengambil data eksternal kemudian penggunaannya untuk suatu keperluan proses bisnis. Tanda-tanda data (data tags) memastikan sistem komputer memahami konteks dari informasi secara jelas dan konsisten, apapun tujuan penggunaan data itu. Jika tanda-tanda (tags) itu sesuai dengan standard eksternal tertentu (misalnya berlaku nasional atau bahkan internasional – Y Pan), konteks data akan bersifat universal dan persisten. XBRL biasanya dikaitkan dengan data finansial karena saat ini kebanyakan proyek terlihat berada di area pelaporan keuangan (financial reporting) perusahaan untuk memenuhi kewajiban regulatoris tertentu. Namun demikian, data yang telah ditandai secara XBRL (mungkin dalam Bahasa Indonesia sebaiknya disebut “data XBRL” saja – Y Pan) dapat digunakan untuk proses bisnis apapun yang membutuhkan pertukaran atau sharing informasi. Kemampuan sharing tersebut sangat bernilai jika data yang terlibat sangat besar dan reguler, ketika data harus dipertukarkan antara banyak partisipan dalam suatu proses bersama (seperti pada proyek rekayasa atau konstruksi), atau ketika diperlukan straight-through processing. Pendek kata, penerapan XBRL yang paling mungkin di luar pelaporan keuangan adalah pada area electronic data interchange (EDI), karena XBRL dapat langsung memenuhi kebutuhan dan struktur data terkait EDI.

Di sisi lain, informasi yang sangat granular (detil – Y Pan) yang digunakan hanya di dalam suatu perusahaan lebih sesuai dan lebih efisien dikelola dengan MDM. Pembuatan dan pemeliharaan (terutama pemeliharaan) daftar item data yang konsisten lintas waktu dan lintas unit kerja suatu organisasi besar (misalnya data pelanggan tertentu, produk individual tertentu, tiap-tiap komponen CoA, dll) akan lebih mudah dikelola dengan MDM. Contoh, sebagian data harus dikelola pada level sangat detil, sementara XBRL tidak mudah memastikan eliminasi duplikasinya. Perusahaan-perusahaan cenderung memilih pengelolaan struktur akun di GL yang mereka miliki sehingga pentotalan dan pengelompokan mengikuti suatu standard internal tertentu (contoh, metode spesifik untuk mengelola hirarki data pelanggan) atau standard eksternal tertentu (seperti level detil yang paling rendah pada laporan keuangan berbasis XBRL).

Ukuran perusahaan agaknya akan memiliki dampak terhadap pilihan antara XBRL dan MDM. Perusahaan kecil – mungkin yang memiliki kurang dari 10.000 pegawai dan pastinya yang memiliki kurang dari 2.500 pegawai – kemungkinan tidak memiliki sumber daya yang cukup atau tidak memiliki kebutuhan MDM. Perusahaan-perusahaan kecil tersebut kemungkinan memiliki lingkungan manajemen informasi yang lebih sederhana dan akan lebih fokus pada pengembangan sumber daya dan keahlian terkait XBRL untuk keperluan pelaporan internal, pelaporan eksternal, dan eksekusi proses.

Penilaian
Ventana Research menilai semua perusahaan, terutama korporasi Global 2000, harus mulai mengembangkan kemampuan XBRL dan MDM di dalam unit kerja keuangan (finance) dan TI-nya. Manajemen informasi merupakan satu persoalan dari persoalan-persoalan yang menekan organisasi / unit TI pada saat ini (2006 dan kemungkinan besar masih sampai hari ini – Y Pan). Kesulitan dalam pengelolaan konsistensi data intra- dan inter- unit kerja dan organisasi mendorong naiknya biaya, menyebabkan lambatnya pelaporan internal dan eksternal, dan menghambat penerapan proses bisnis yang lebih efektif dan efisien. Pada saat ini, keahlian XBRL dan MDM kelihatannya baru sebagai suatu yang nice to have, tapi kami menduga adopsi XBRL dan MDM oleh perusahaan-perusahaan akan segera bertambah cepat, seiring dengan pemahaman yang lebih baik mengenai nilai bisnis sebenarnya dari kedua teknologi ini. Kami menyarankan perusahaan-perusahaan untuk segera memulai pilot programs / projects dengan sasaran yang moderat sekaligus cukup berarti bagi perusahaan.

Lihat juga artikel terkait:
Master Data Management
Arsitektur Sistem Informasi

Selengkapnya.....

Minggu, 22 November 2009

Monster Kecil

Kupu-kupu adalah makhluk kecil yang indah. Warnanya sering memukau. Coraknya apa lagi. Ia laksana batik yang digoreskan oleh kebijaksanaan alam. Proses metamorfosalah yang paling bertanggung jawab melahirkan makhluk cantik dari seekor ulat yang buruk rupa. Hikmah apa yang mau diajarkan Allah pada kita? Banyak, tapi bukan itu yang mau kita bahas... Sebaliknya, tema kita adalah makhluk kecil yang cantik tiba-tiba dianggap sebagai monster paling berbahaya. Lho, di mana? Di film SpongeBob!

Suatu hari, Sandy Tupai kedatangan dua sahabatnya, SpongeBob dan Patrick Bintang Laut. Rupanya hari itu, dia membawa beberapa makhluk darat ke rumah kapsulnya di BikiniBottom. Salah satunya seekor ulat kecil. Setelah perkenalan, walaupun buruk rupa, si ulat terlihat lucu bagi SpongeBob dan Patrick. Karena itu, mereka berdua sama sekali tidak keberatan menjaga si ulat, selama Sandy pergi.

Sepeninggal Sandy, SpongeBob dan Patrict mengajak si ulat bermain. Asyik sekali. Malahan terlalu asyik, sehingga mereka berdua sepakat hari itu adalah hari terindah yang pernah mereka alami. Setibanya waktu malam, Sandy tak kunjung pulang, mau nggak mau SpongeBob dan teman gemuknya pulang meninggalkan si ulat di rumah kapsul Sandy. Di dalam botol selai sih. Pasti aman. Begitu pikir keduanya.

Nah, pagi-pagi sekali SpongeBob dan Patrick pergi ke rumah Sandy untuk bermain lagi. Tak dinyana, si ulat sudah tidak ada lagi. Yang ada di dalam botol selai adalah seekor kupu-kupu cantik. Sayang mereka berdua tidak mengetahui proses metamorfosa yang terjadi dalam semalam. Sandy pun lupa menginformasikannya. Ketika si kupu-kupu kecil mengajak bermain seperti hari sebelumnya, baik SpongeBob maupun Patrick ketakutan setengah mati. Mungkin karena antenanya atau matanya atau entahlah. Mereka belum pernah melihat makhluk itu!

Yang menarik dari kisah ini adalah teror yang dialami SpongeBob dan Patrick secara individual sebetulnya hanya permulaan dari kerusakan masif di BikiniBottom. Jika makhluk tak dikenal itu berada di botol selai tempat si ulat tidur malam sebelumnya, sementara si ulat sudah tidak ada, KESIMPULAN yang dapat diambil adalah makhluk aneh itu sudah membinasakan si ulat. Telah ketakutan sebelumnya, SpongeBob dan Patrick mengambil kesimpulan lanjutan bahwa kupu-kupu itu adalah monster.

Selanjutnya, bukan perkara sulit buat SpongeBob dan Patrick untuk membuat seluruh isi BikiniBottom panik. Kemudian, kepanikan masal itu lebih mudah lagi menyebabkan kerusakan masif. Sebetulnya kerusakan itu dibuat sendiri oleh penduduk BikiniBottom. Si monster kecil hanya perlu menampakkan diri untuk men-trigger kepanikan di alam pikiran, kemudian di alam nyata, dan selanjutnya di alam kerusuhan dan kerusakan. Tidak seorang pun warga BikiniBottom berani melumpuhkan si monster kecil.

Akhirnya Sandy kembali dari daratan ke BikiniBottom. Ia cemas melihat kerusakan BikiniBottom. Ia heran melihat semua orang lari tunggang langgang, menyebabkan kerusakan, dan kemudian ngumpet. Ketika ia melihat kupu-kupu cantik di dalam gelembung, betapa senangnya ia mengetahui ulatnya sudah mewujud menjadi makhluk cantik. Ia kemudian memasukkannya ke dalam botol selai untuk dibawa pulang ke rumah kapsul. Tercenganglah ia ketika seluruh warga menyambutnya bak pahlawan super...

Satu kisah SpongeBob di atas tetaplah cerita anak-anak, tapi coba renungkan. Pernahkah kita mengalaminya? Karena ketidaktahuan, kita memproduksi phobia. Mulanya individual dan kecil, tapi kemudian membesar dan selanjutnya terkadang merusak. Pernahkah? Di rumah? Di komunitas? Di kantor? Atau bahkan di level negara dan dunia? Saya...... pernah! Makanya ketika nggak sengaja nonton cerita ini bersama anak-anak, saya terpingkal-pingkal sendiri, mentertawakan diri. Anak-anak nggak ngerti, sementara istri menegur seperti biasa: "Ayah, ayah. Anak-anak aja ga ketawa!"

Selengkapnya.....

Selasa, 17 November 2009

Qurban Memaknai Syukur

Asal kata syukur adalah syakaro. Kiasannya adalah rumput atau ternak yang tumbuh subur atau gemuk dengan air yang seadanya atau kondisi apa adanya. Di dalam surat al kautsar, digambarkan bahwa Allah memberikan ni'mat yang sedikit (a'to) di sisi Allah tetapi bagi manusia sangat banyak (kautsar). Untuk perbandingan saja, kautsar jauh lebih banyak dari kastiir yang artinya sudah sangat banyak lho.

Maksud a'to (sedikit) di sisi Allah sebagaimana gambaran setetes air laut yang jatuh dari satu jari yang baru dicelup di lautan. Yang sedikit tersebut lebih sering diburu manusia di dunia, padahal ni'mat yang jauh lebih banyak adalah seluas dan sedalam lautan dibandingkan setetes airnya. Ni'mat seluas dan sedalam lautan itu diberikan Allah untuk penduduk surga. Maksud kautsar (hampir tak terbatas) memang banyak sekali hingga tak dapat dihitung, bahkan jika seluruh manusia bekerja sama menghitungnya.

Dikisahkan bahwa manusia terkaya, yaitu Nabi Sulaiman, suatu hari ingin menyediakan makanan untuk seluruh makhluk di bumi, untuk satu hari saja. Beliau mengerahkan seluruh pasukannya dari golongan manusia dan golongan lainnya untuk menghitung kebutuhan seluruh makhluk. Tibalah saatnya niatan beliau dilaksanakan. Ternyata masih ada ikan nun yang belum tersurvey. Satu kali buka mulut, ikan nun mengkonsumsi berton-ton makanan. Ikan itupun mengeluh kepada Allah, "Mengapa rizkiku hari ini sedikit banget?" Tersungkurlah Nabi Sulaiman.

Untuk mensyukuri ni'mat Allah yang tak terhitung itu, di dalam surat al kautsar kita diperintahkan mendirikan shalat dan berqurban. Artinya menjaga hubungan vertikal dengan Allah dan hubungan horizontal dengan sesama. Karena disandingkan dengan shalat, qurban pasti memiliki arti yang luar biasa. Dengan makna luhur itu, qurban itu mesti dilakukan dengan cara terbaik. Hewan qurbannya pun harus yang terbaik, antara lain cukup umur dan sehat.

Syarat-syarat hewan qurban dan tatacara melaksanakan qurban itu sendiri diatur demikian lengkap sesuai dengan spiritnya. Misalnya seorang yang bermaksud berqurban dilarang memotong rambut dan kuku sejak hilal dzul-hijjah hingga qurban terlaksana. Selain itu, persiapan harus sangat matang. Tempat penyembelihan harus dibedakan dari tempat menguliti dan memotong-motong. Wow, indahnya, hewan qurban intinya harus disayang-sayang.

Dalam suatu hadist, diberitakan Rasulullah mencela seseorang yang mengasah goloknya di depan hewan qurban. Kita harus berempati jangan sampai hewan qurban itu memiliki perasaan disembelih berkali-kali. Menyembelih hewan qurban di depan hewan qurban yang lain juga dilarang. Oh, bukannya hewan tidak berperasaan. Tidak! Hewan qurban itu punya perasaan juga yang harus dijaga.

Secara filosofis, ibadah qurban sangat tinggi nilainya sebagaimana kita ketahui dari teladan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Wajar saja jika tatacaranya diatur demikian istimewa. Dibalik aturan fiqh yang demikian istimewa itu terdapat nilai luhur berqurban yang sesungguhnya. Kita harus senantiasa menghilangkan sifat-sifat rendah, seperti egois, rakus, nggak tahu diri, dan lain-lain. Demi apa? Ya... demi cinta kepada Allah yang Maha Tinggi. Nah, dalam pengertian ini, berqurban dapat dilakukan kapan saja.

Ilustrasinya, kalau ada keinginan membeli mobil baru, sementara tetangga sedang sakit keras, dan di tangan ada uang 100 juta. Dengan spirit berqurban, keinginan mobil baru di-qurban-kan untuk memenuhi kebutuhan mengatasi sakit parah. Kan, pada orang-orang yang sakit, apalagi sakit parah, Allah 'menunggu' kita untuk menjenguk-Nya. Memang sih, masih banyak contoh-contoh lain yang bisa diceritakan, namun rasanya cukuplah bahasan ini sampai di sini. Kalau belum puas, silakan hubungi Ustadz Habiburrahman*.


* Artikel ini diadaptasi dari materi pengajian warga di tempat kami hari ahad lalu yang disampaikan Ustadz Habiburahman. Beliau sedang menyusun disertasinya untuk gelar doktor di UIN.

Selengkapnya.....

Senin, 26 Oktober 2009

Komunikasi Lancar Informasi Benar

Segera setelah dilantik, Menkominfo yang baru menyampaikan kepada publik slogan "komunikasi lancar, informasi benar" yang diusung oleh beliau. Nggak banyak pejabat eksekutif, apalagi menteri, yang fasih berpantun, seperti yang satu ini. Karena kemahirannya berpantun itu, nggak heran kalau beliau cepat banget mengeluarkan slogan terkait kementerian yang dipimpinnya.

Apa sih maksud beliau dengan komunikasi lancar? Kemudian informasi benar? Terlebih lagi komunikasi lancar, informasi benar? Apa maksudnya jika komunikasi lancar, maka informasi benar? Banyak pertanyaan yang dapat diajukan. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul justru menunjukkan keberhasilan awal dari slogan itu, yaitu awareness. Nggak cukup di situ. Agar benar-benar berhasil, slogan itu (anggaplah ia sebagai visi) harus dijabarkan lebih lanjut melalui komunikasi misi, strategi, dan program-program kerja nyata yang konsisten.

Sering ada kritik agar substansi lebih dikedepankan daripada simbol. Bener sih, tapi dari pengalaman pribadi, saya menyimpulkan simbol dapat digunakan sebagai sarana komunikasi yang sangat efektif. Ambillah contoh rambu-rambu lalu lintas. Semuanya simbol. Anak-anak sering bertanya apa sih S yang dicoret, P yang dicoret, P aja, dan lain-lain. Nggak cukup sekali ngejelasinnya.

Begitu simbol sudah terinternalisasi, wow betapa efektifnya dia. Bahkan tanda lampu yang menyala, sudah cukup membuat anjing Pavlov memproduksi liur, karena mengira makanan segera diberikan. Di kantor, terasa banget manfaat simbol dalam perkara komunikasi. Kami menggunakan jargon KISS (keep it simple Sir, atau orang lain lebih senang menerjemahkannya keep it simple stupid) dalam upaya perbaikan sistem-sistem informasi agar lebih efektif dan efisien.

Kami memlesetkan KISS (yang juga berarti koordinasi-integrasi-sinergi-simplifikasi dalam strategi komunikasi massa yang saya pelajari dari Effendi Gazali di TV) menjadi KSS: koordinasi-sinergi-simplifikasi. Tujuan akhirnya tentu simplifikasi pada waktunya, setelah kondisi lebih kondusif sebagai hasil garapan strategi koordinasi dan sinergi.

Kembali ke slogan "komunikasi lancar, informasi benar" saya kira Menkominfo perlu mengerjakan PR agar simbol ini efektif. Strategi yang sempat dijelaskan di media massa akhirnya perlu dijabarkan menjadi program-program kerja nyata yang didukung kebijakan yang jelas dan dapat diterima publik.

Pertama, komunikasi lancar mensyaratkan upaya menghilangkan hambatan-hambatan komunikasi. Bila perlu, saluran-saluran baru mesti diciptakan. Program komputerisasi desa perlu dilanjutkan dan diperluas. Secara umum, untuk menekan biaya, para operator terkait harus didorong untuk bekerja sama dalam membangun dan menggunakan infrastruktur bersama. Biaya ICT yang makin murah dan terjangkau, apalagi lewat media mobile, akan memastikan slogan komunikasi lancar terwujud nyata.

Kedua, informasi benar mensyaratkan kesiapan kultur, di samping kesiapan regulasi. Pertanyaan mengenai siapa yang dapat mengklaim bahwa suatu informasi benar atau salah perlu disikapi dengan bijak. Nggak mesti dengan jawaban hitam putih. Pendekatan otoriter agaknya semakin sulit diterapkan, walaupun kita masih melihat praktiknya di negara tertentu. Saya pribadi menilai ada area yang perlu regulasi keras dan ada yang tidak perlu regulasi keras - tepatnya mungkin tidak bisa diregulasi sehingga nggak perlu.

Slogan informasi benar ini memang lebih rumit dibandingkan komunikasi lancar. Problem budaya lebih efektif didekati dengan edukasi. Ini nggak berarti hasilnya baru kelihatan setelah lama sekali. Kunci jawabannya ada pada program-program kerja edukasi yang sistematis di satu sisi dan agresif di sisi yang lain. Butuh dana? Iyalah, sama seperti solusi untuk slogan komunikasi lancar. Kata dosen saya dulu di Bandung (ungkapan rada sombong sih - Y Pan), seorang insinyur harus memecahkan masalah dengan sumber daya yang terbatas. Kalau menggunakan sumber daya nggak terbatas, nggak usah insinyur juga bisa.

Masih terkait informasi benar, di area yang harus diregulasi, pemerintah HARUS membuat aturan riil yang efektif. Edukasi bagus dalam hal ini, tapi nggak cukup. Ambillah contoh perusahaan yang telah go public. Apa iya, pemerintah nggak ambil pusing jika perusahaan mengeluarkan informasi ke publik seenak-udelnya? Apa iya CEO-nya dibiarkan cuci tangan jika ternyata informasi itu terbukti salah? Untuk perusahaan-perusahaan yang risikonya tinggi, misalnya lembaga-lembaga keuangan, urgensi regulasi ini ikut tinggi juga.

Untuk lembaga publik, gimana? Perlu regulasi nggak? Tentu... Alasannya mirip dengan di atas. Intinya adalah lembaga-lembaga, baik publik maupun swasta, yang berurusan dengan kepentingan orang banyak harus dipastikan transparan dan akuntabel dalam mengeluarkan informasi ke publik. Masyarakat berhak mendapatkan yang terbaik!

Selamat bertugas Pak Tif. Semoga Anda berhasil menebar sebanyak-banyak manfaat buat negeri tercinta di bidang tugas kementerian Anda, amin.

Selengkapnya.....

Senin, 12 Oktober 2009

Masalah Air

Bangun sebelum subuh nggak mudah. Hanya orang tertentu saja yang mampu melakukannya secara konsisten. Pagi tadi, saya mulai terjaga jam 4.00. Wah bakal nggak sempat shalat malam nih. Begitu saya pikir. Masih ada niat. Sementara badan saya tetap ngajak tidur, sampai kedengaran adzan subuh. Pada saat yang sama, istri saya teriak dari kamar mandi, “Ayah ada masalah air lagi!” Masya Allah masalah air lagi. Spontan saya bangun dan ngecek pompa sedot, bak penampungan, dan pompa dorong.



Kedua pompa masih hidup. Buru-buru saya matiin. Syukurlah. Kalau nggak, bisa-bisa mesti diservis lagi. Masalahnya pompa sedot air sumur sama sekali tidak menghisap air. Akibatnya penampungan di atas kosong karena mungkin dari kemarin sore air dipake terus. Di samping bocor tentu saja! Karena kami nggak pake bak mandi, terpaksa saya gunakan segalon air mineral Vit untuk memancing air dari sumur. Habis segalon, air nggak kehisap juga. Akhirnya buru-buru saya ke tempat Mbak Ika, buat shalat subuh terus minta air ledeng sebanyak empat galon untuk mancing lagi.

Sibuk deh pokoknya. Nggak berhasil lagi. Bahkan setelah coba mancing lagi dengan tambahan empat galon air. Anak-anak mulai panik dan diarahkan untuk mandi di rumah budenya. Alhamdulillah tinggal deket saudara banyak untungnya. Waktu sudah jam 6.30 dan anak-anak mulai berangkat sekolah, saya sadar jatah cuti harus kepake lagi untuk emergency ini, huhuhu…

Sambil menenangkan diri dan mengelap keringat yang bercucuran, saya mulai memutar akal. Pertama, saya telepon Pak Wawan, tukang pompa yang memasang bak penampungan kami dan pernah membantu menyelesaikan masalah pompa dorong kami. Karena baik nggak ketulungan, Pak Wawan memberikan konsultasi yang sangat berharga. Kemungkinan kelep di dalam sumur nggak berfungsi. Begitu penjelasannya. Rupanya kesimpulan itu diambilnya dari keterangan saya yang nggak penuh-penuh ngisi air pancingan. Dua kali empat galon. Lagi! Eh, ditambah air Vit di awal jadi total sembilan.

Pak Wawan juga berjanji akan mengupayakan temannya di “toko” untuk datang. Setelah agak tenang, saya baru telepon ke kantor. Lewat Mas Tony, saya minta izin. Saya juga menitipkan beberapa agenda pekerjaan hari ini. Sebelumnya, waktu nelpon Pak Mika, Koordinator Tim kami, beliau nggak ngangkat. Siangan dikit, Pak Mika nelpon ke saya dan saya minta maaf karena memutuskan nggak masuk padahal sudah banyak agenda dengan beliau. Ya iya lah, ini kan menyangkut hajat hidup orang banyak. Begitu komentar Emma, teman di facebook.

Saya kemudian mandi di rumah ayahanda tercinta. “Wah, ada kelemahannya juga ya,” komentar beliau mengenai sistem “pengairan” di rumah kami. Diskusi merembet ke alternatif pake air PAM. Di BSD sih bagus, tapi harganya itu loh. Diskusi juga merembet ke wilayah pribadi. Kelihatannya semua baik-baik saja, kecuali masalah air kami. Setelah itu, istri saya giliran mandi di tempat Mbak Ika. Teteh yang biasa nyuci nggak bisa nyuci dan bantuin beres-beres aja. Terus dia minta ijin pulang. Lalu kami sarapan soto mie di Pasar Modern BSD. Lumayan…

Nungguin Pak Wawan lama juga. Beberapa kali saya telepon. Rupanya lagi pada sibuk. Jam 12 seperti yang dikatakannya lewat begitu saja. Akhirnya setengah satu, saya telepon lagi. Juga ke toko tempat ia bekerja. Ternyata tukang pompa dan sumur di toko Pak Joni lagi sibuk ke pelanggan yang lain. Saya memutuskan untuk cari alternatif lain. Kebetulan, alhamdulillah, sehari sebelumnya ada brosur iklan di pagar dari Mulya Technical Service, melayani berbagai servis, seperti kulkas, AC, pompa, dll, dll. Kata orang bijak sih nggak ada yang kebetulan. Mungkin sudah saatnya saya kenalan dengan Pak Mulya.

Di pembicaraan telepon Pak Mul memberikan analisa yang sama dengan Pak Wawan. Ia berjanji datang jam 1.30 siang. Segera bekerja. Ia periksa pompa sedot dan coba memancing. Ah, ternyata memang mesti dibongkar. “Di mana titiknya, Pak?” tanyanya. Saya tunjukkan satu titik di antara pintu dapur dan pintu gudang. Titik itu sudah saya tanyakan informasinya pagi tadi ke Pak Rifky, arsitek rumah kami, dan juga Pak Gimin, tukang besi pembangunan rumah kami. Sebetulnya yang paling tahu adalah Pak Oman, mandor tukang dulu, tapi beliau udah pulang ke Bandung dan belum balik lagi.

“Pak, keramiknya mesti dihancurin,” katanya. Apa boleh buat. Dengan mantap, saya minta beliau mulai bekerja. Setelah dua biji keramik dihancurin, pipa mulai diangkat keluar. Kurang lebih dua puluh meter ke bawah. Bisa dibayangin kalau saya yang ngerjain sendiri. Mungkin seminggu gak kelar-kelar. Belum tentu berhasil lagi. Di tangan profesional yang berpengalaman, pekerjaan selesai efektif dan efisien. Wah, kalau pekerja dan pejabat di sektor publik dan privat semuanya kayak Pak Mul, betapa hebatnya negeri ini.

Sekarang saatnya mencoba hasil kerja Pak Mul. Mudah-mudahan beres…

Selengkapnya.....

addthis

Live Traffic Feed