Copy and Paste

Anda bebas mengambil content blog ini, tapi mohon sebutkan alamat blog ini dalam tulisan Anda.

You are free to copy the content of my blog. However, please let your readers know my blog as your source.

Minggu, 29 Maret 2009

Boring

Boring adalah kata sifat yang terbentuk dari kata kerja bore. Artinya membosankan. Yang membosankan bisa orang, situasi, pelajaran, dan lain-lain. Banyak deh. Bentukan lain dari kata kerja bore adalah bored. Bored berarti bosan. Yang bisa bosan tentunya kita-kita ini atau mungkin binatang kayak kucing. Benda mati nggak mungkin lah yaw, kecuali dalam film kartun anak-anak. Nah, teman-teman kita sering menggunakan kata boring untuk menggambarkan suasana membosankan, tapi kadang jadi keliru ketika menggunakan kalimat I'm boring. Kalimat terakhir ini tentu dimaksudkan bahwa si pengucap dalam suasana bosan. Cuman seharusnya kalimat yang digunakannya adalah I'm bored. Kalau yang tadi, arti benerannya dari Bahasa Inggris adalah si pengucap membosankan, hehehe. Kan bukan itu yang dimaksud.


Contoh lain dari kesalahan penggunaan Bahasa Inggris sangat sering kita temui. Dulu sekali ada papan ucapan selamat datang raksasa di Bandung yang berbunyi: Welcome in Bandung. Tentu yang dimaksud adalah Selamat Datang di Bandung. Cuman, lagi-lagi ungkapan itu keliru. Yang bener seharusnya: Welcome to Bandung. Emang kalau diartikan harfiah dengan lidah Sunda atau Indonesia kayak nggak nyambung. Lebih nyabung justru yang keliru tadi. Kesalahan seperti ini banyak terjadi. Beberapa hari yang lalu, saya berada di Bandung untuk urusan kerja. Pas ada perlu ke Bank Syariah Mandiri, sembari menunggu angkot, saya melayangkan pandangan pada papan iklan yang masih kosong berikut ini.



Interest? Call us... Aneh nggak? Yang dimaksud tentunya begini. Kalau tertarik masang iklan, silakan hubungi kami. Cuman, lagi-lagi, Bahasa Inggris yang bener mengartikannya begini. Bunga bank? Hubungi kami. Atau paling jauh... Kepentingan? Hubungi kami. Lha, mestinya gimana dong? Ya... Interested? Call us...

Bandung mesti berbenah. Masak kota tempat perguruan-perguruan tinggi terkemuka di Indonesia nggak belajar-belajar juga menggunakan bahasa yang benar, khususnya Bahasa Inggris. Iya deh, nggak semuanya begitu, tapi contoh-contoh di atas menunjukkan ada yang mesti dibenahi. Bandung nggak sendirian lho. Yang berikut ini dari kaos Gegana yang juga menggunakan Bahasa Inggris... tapi keliru. GEGANA... WE ARE PROTECT INDONESIAN FROM TERRORIST. Apanya yang salah? Hayo...


Selengkapnya.....

Sabtu, 21 Maret 2009

Kampanye Sehat


Masa kampanye terbuka sudah dimulai. Nggak seperti pemilu sebelumnya, kali ini cenderung sepi. Partai-partai baru beralasan kekurang dana (dan kader juga kali). Hanya partai tertentu saja yang sering rame diikuti massa, termasuk anak-anak. Nah, ini yang dikritik oleh Kak Seto. Mbok ya anak nggak usah diseret-seret kampanye gitu. Lha, kalau anaknya yang minta gimana? Ya gitulah nggak semua hal mudah dijawab. Termasuk fenomena satu ini!

Misalnya saya satu partai dengan Anda, dan kita sama-sama nyaleg di daerah pemilihan yang sama. Waktu saya kampanye, mungkinkah saya ikut mengkampanyekan Anda? Observasi saya, sedikit sekali yang punya nyali besar seperti itu ketika sedang berkompetisi berebut kursi. Ini mudah dilihat dari poster-poster dan iklan-iklan yang menghiasi seluruh penjuru wilayah dan gelombang radio-TV. Biasanya yang ditonjolkan adalah dirinya sendiri. Siapa lagi yang mau promosiin kita, kalau bukan kita sendiri. Gitu kali logikanya. Paling-paling pihak lain yang disebut dan digandeng adalah tokoh sentral partainya. Seolah dengan menyandingkan foto diri sendiri dengan aura kultus tokoh itu, kemungkinan terpilih bisa meningkat.

Ini nih beberapa contoh yang nebeng aura figur:
Bersama Bapakku dan Partaiku, Berjuang untuk Rakyat.
Lihat Senyum Ibuku. Rasakan Merah Putih Partaiku. Maka Pilihlah Aku.
Rajaku Bikin Rakyat Tenteram. Dan Aku Punggawanya.
Bapakku Capresnya. Akulah Calegnya.
Bapakku Tegas dan Berhati Bersih. Aku juga. Pilih Dong.
Ibuku Menteri. Dia Pelindungku.


Karena trend umum seperti itu, saya jadi heran dengan kelakuan sebagian caleg yang beriklan sama-sama. Ada yang berdua, bertiga, bahkan bersepuluh Terlihat kebersamaannya. Kebacanya kurang lebih: Kalau Aku Nggak Pantas, Pilihlah Rekanku. Dan yang penting lagi, di iklan itu tokoh sentral partai tidak ditebengi. Nggak ngaruh kali. Kebacanya: Bapakku? Ah Dia Sendiri Lagi Sibuk di Sana. Bisa juga sih mereka begitu karena ingin menghemat. Kalau bisa ditanggung bersama ongkosnya, kenapa mesti sendirian? Bisa juga, tapi yang jelas fenomena ini jadi lain sendiri. Kayak oase di gurun pasir. Atau kayak nila setitik dalam sebelanga susu. Terserah sudut pandangnya.

Yang lebih bikin saya heran adalah seperti yang bisa diamati dari foto di atas yang saya ambil kemarin deket Stasiun Bekasi. Sungguh mati, saya nggak kenal dengannya. Biasanya ketika mendorong pemilih lewat iklan untuk mencontreng nama caleg, nama-nama caleg lainnya (dari satu partai lho) dibikin kosong. Hehehe. La iyalah, salah-salah udah keluar duit malah orang lain yang lebih dikenal. Kan mau promosiin diri sendiri? Tapi apa yang dilakukan caleg di foto ini. Dengan yakin ia menyertakan kompetitornya. Ia TIDAK MENGHILANGKAN nama-nama rekannya.

SubhanalLah. Saya sungguh berharap ia terpilih! Saya juga berharap yang suka menjelekkan yang lain (black campaign) justru nggak terpilih!

Selengkapnya.....

Rabu, 18 Maret 2009

Bankir

Krisis ekonomi global memang aneh. Ia membuktikan bahwa bankir selalu diuntungkan. Dalam segala kondisi. Itu semua dipertontonkan ke seluruh dunia dari pusat keuangan yang telah menjadi episentrum tsunami krisis yang menyapu seluruh benua. Kecuali antartika kali.

Bagaimana tidak? Ketika pasar lagi pesta pora, para bankir di lembaga keuangan top dunia giat-giatnya menciptakan produk-produk inovatif, yang bikin kocek mereka tambah tebal dari easy money yang terkumpul. Kita mungkin maklum. La iyalah, mereka kan yang bikin bisnis bergerak dan tumbuh pesat, lewat penciptaan permintaan baru, melalui kredit. Nah, ternyata pesta pada saatnya mesti berakhir.

Bagaimana keadaan para bankir top itu saat krisis seperti sekarang? Sebelum menjawab itu, mari kita cermati dulu berapa banyak pabrik yang ditutup, berapa banyak toko dan restoran ditutup, berapa banyak pemandu wisata yang nggak dapet tamu. Daftarnya bisa panjang. Yang pasti orang yang kehilangan kerja karena terpaksa dipecat buesar sekali. Di Amerika maupun di seluruh dunia. Sebagian kita mungkin menerima kondisi itu. Ketika kondisi bagus, untung. Sebaliknya rugi. Itu namanya risiko. Tapi apa yang terjadi dengan lembaga keuangan top dunia?

Justru krisis yang disebabkan oleh praktik berisiko tinggi oleh para bankir top tertentu memberi berkah buat mereka sendiri. Amerika yang katanya negara kapitalis nomor wahid, tiba-tiba menjadi negara sosialis terbesar dengan dana talangan yang demikian dahsyat kepada lembaga-lembaga keuangan itu. Citi Group cuman satu contoh saja. Ironisnya adalah dana talangan yang mereka nikmati berasal dari kantong pembayar pajak Amerika, yang saat ini banyak mengalami kesulitan hidup.

Koq bisa sih? Ya itu... Bikin uang dari uang, bukan dari usaha yang nyata, membuat jebakan sandera yang fatal. Ketika bank tidak dapat menyalurkan kredit, karena ternyata asset mereka terlalu banyak masalah (nothing right on the left), pemerintah AS kelabakan.

Ekonomi yang dilandasi kredit, atau dari filosofi bikin uang semata dari uang, tidak dapat menanggung akibatnya ketika penyaluran kredit tiba-tiba terhenti. Pecahnya gelembung dapat menyebabkan ekonomi terkuat di dunia rontok sesaat itu juga. Oleh karena itu, pecahnya gelembung harus dicegah! Itu dimulai dengan menalangi bank-bank top dunia agar beroperasi normal. Hehehe, kalau istilahnya penanggung jawab sektor keuangan AS, lebih normal. Artinya belum normal betul.

Lebih ironis lagi, lembaga-lembaga keuangan bermasalah itu dalam kondisi sekarat masih memberikan bonus besar kepada para bankirnya. Obama pernah mencela itu, tapi mungkin sulit baginya untuk tidak menerima bahwa kita semua sudah disandera oleh para bankir busuk. Apakah para bankir dan pemegang otoritas yang punya nurani tidak tergerak hatinya untuk menciptakan alternatif sistem yang lebih berkeadilan? Mari kita tunggu. Bisa lama sih, tapi itu niscaya terjadi. Ikutan nggak?

Artikel terkait:
Outcry Builds in Washington for Recovery of A.I.G. Bonuses
A Joke about Our Culture
Integrity Again
Do You Believe in Market?
Dunia Perlu Di-restart
Regulasi Sektor Keuangan
Mencegah Krisis
Free, Good or Bad?

Selengkapnya.....

Jumat, 13 Maret 2009

Knowledge Sharing di Tempat Kami

Saya beruntung bekerja di unit yang sangat peduli dengan informasi dan pengetahuan, bukan hanya untuk kami tapi juga untuk unit-unit lain secara enterprise. Hebat kan? Suatu yang hebat tentu mesti dimulai dari diri sendiri, dari yang kecil, dan mulai saat ini juga. Yah, gitulah kata si Aa'. Jadi singkatnya, unit kami sangat getol melakukan sharing. Bukan karena istimewa dari yang sebelum-sebelumnya, knowledge sharing pagi ini saya publikasikan di sini. Kebetulan yang memberikan sharing adalah Pak Made, Deputi Direktur kami, dan Bu Yetti, bos saya yang mau pindah ke unit lain (hiks hiks hiks).

Nah, karena saya sempat ngambil foto cukup banyak, nggak perlu diceritain lagi. Foto-foto ini akan cerita sendiri.

Bu Yetti lagi presentasi DW 2.0 dan Enterprise 2.0...




Pak Made sedang menjelaskan filosofi pembagian sektor DW 2.0...



Salah satu materinya...



Pak Eddy lagi nanya, dicermati oleh Pak Made, Kamal, Rintik, dan Mbak Fenny...



Serius banget...



Malah berpose, bukan memperhatikan...




Fotografer kedua kami (yang pertama, Pak Bahari, sulit ditangkep)...



Peserta knowledge sharing...






Selengkapnya.....

Kamis, 12 Maret 2009

Irrationality and Improvement

In standard economics, human are assumed rational. Our decisions are made based on not only rational judgement but also complete information and knowledge. In this assumed context, there is no chance that we get free lunches because of others' misjudgement. In theory, misjudgement shall be corrected. First, it may be corrected by the rational agents, basically us as individual decision makers. Second, it may be corrected by market forces. The market itself consists of individual decision makers making up the wisdom of crowds. This is all a nice story to believe. Dan Ariely's findings, however, make this nice story only in dreams. We human are indeed irrational, systematically and predictably.

In his Predictably Irrational closing chapter, Chapter 13, Dan Ariely argues probably economics could make itself more sense if containing human's irrationality. In a broader term, the fact that we are not always rational should influence such areas as from the making of public policy to our individual decision making. The logic behind is that our irrationality creates free lunches. In behavioral economics, however, free lunches are not perceived as bad as in standard economics. By the same token, free lunches mean opportunities for improvement.

After delivering the results of his experiments in his book, Dan Ariely concludes that we human often give up our personal utility due to our irrationality. For example, in America, when ordering a menu out loud, a group of a restaurant guests tend to show their individual uniqueness. Hence, if a particular menu is already chosen by others in the group, the menu is less likely to be chosen by the next guest, however good it is. The next guest predictably will give up his personal utility by choosing another unselected menu to project his or her uniqueness to others in the group. In this case, the first person choosing the menu is the one having the most satisfaction with his / her selection.

What improvement can be taken for the above case? Devising an improved process for taking order could be an answer. Each guest is asked to write down his / her own selections. As Dan Ariely proved in his experiment at The University of North Carolina, Chapel Hill, this kind of improved process made all guests in a group more satisfied. Moreover, implementing this improvement could mean more revenue for the restaurant. So everybody gets a free lunch. Everybody happy!

Below are my articles written based on each chapter of Predictably Irrational. Enjoy the reading.

Irrational regards,
Y Pan


Selengkapnya.....

addthis

Live Traffic Feed