Copy and Paste

Anda bebas mengambil content blog ini, tapi mohon sebutkan alamat blog ini dalam tulisan Anda.

You are free to copy the content of my blog. However, please let your readers know my blog as your source.

Sabtu, 31 Maret 2018

Implementasi Data Vault Ketika Liburan

Jika pekerjaan membebani sedemikian rupa, sering kali hidup kita menjadi tidak imbang. Boleh jadi proyek pengembangan properti kita bikin pusing sejak membuat gambarnya. Setelah itu pendanaan bikin kita bolak balik depresi. Saat pekerjaan yang sesungguhnya bergulir, yaitu konstruksi, waktu tidur semakin dipepet. Pagi harinya kita butuh lebih banyak kopi dan doping.

Syukurlah tiga tahun terakhir saya beruntung punya kesempatan off dari pekerjaan. Perjalanan ibadah atau sekedar melancong menjadi mimpi lama yang terwujud. Sebenarnya perjalanan bisnis bisa juga punya efek rekreasi. Tapi kerja tetap kerja. Kita butuh waktu off untuk mengasah gergaji kita. Melihat keindahan dan kebesaran alam. Terlebih lagi Penciptanya. Melihat ragam budaya, sejarah, dan bahasa. Membina lagi hubungan agar lebih positif. Tentu saja dengan aktivitas fisik harian ribuan langkah dan “puluhan lantai” atau ratusan meter elevasi.

Lima belas tahunan yang lalu, saya terlibat dalam proyek pengembangan data warehouse. Sebelumnya saya sudah bereksperimen dengan proyek OLAP, sambil belajar dari buku Ralph Kimball, The Data Warehouse Toolkit. Pendekatan Kimball terkesan sederhana. Memang itu yang jadi sasaran beliau. User tidak butuh kompleksitas, kata beliau dalam suatu seminar di Jakarta sekitar tahun 1997. Model star schema adalah yang cocok untuk pengguna. Memang begitu...

Namun demikian, mengimplementasikan pendekatan star schema bisa jadi cerita lain, tergantung skala pengembangannya. Jika skalanya kecil, pendekatan ini paling baik. Pengalaman saya lima belas tahunan yang lalu menunjukkan proyek EDW dengan banyak subyek area - katakanlah puluhan tabel fakta dengan dimensi antara lima puluh sampai seratus atau bahkan lebih (jangan bahas dulu variasi kompleksitas dimensi dan tabel fakta - memakan waktu yang lama. Tiga tahun! Sakit kepala bertambah ketika kami sadar kebutuhan user sudah berubah selama tiga tahun itu. Proyek lanjutan untuk penyesuaian EDW yang sudah dibangun tidak dapat dikatakan sederhana. Conformed dimensions sulit dijaga. Akhirnya harus kompromi. Hasilnya adalah unconformed conformed dimensions

Liburan? Ah... situasi sulit dalam pengembangan dan enhancement EDW bikin liburan ga nyaman. Itupun kalau sempat. Kritik dan ketidakpuasan user terbayang-bayang terus. Apakah ini memang harus terjadi? Terjadi terus? Tentu saja tidak! Ada cara bekerja yang lebih cerdas, efektif, dan efisien. Pengguna bisa happy. Kita juga bisa. Coba deh bayangkan jalan-jalan ke tempat ini, sementara EDW berbasis Data Vault dari Dan Linstedt, yang sudah berkali-kali kita deploy tiga tahun terakhir dengan time to market yang mengesankan, berjalan lancar. Liburan makin menyenangkan karena proyek-proyek di tangan tetap terkendali dengan baik. Makasih ya, Laksmi.



Bagaimana? Mengesankan bukan? Gambar di atas saya ambil di Pamukkale, Turki, baru-baru ini. Sumber air panas menjadi sebab tempat ini menarik bagi bangsa Helenik untuk membangun Hierapolis. Air panasnya masih mengalir hingga kini, dan saya sempat merasakan hangatnya ketika merendamkan kaki di alirannya. Air panas ini juga mengaliri kontur yang berbukit-bukit membentuk travertine. Atau barangkali kisah penganut Nasrani bersembunyi di Goreme dari bangsa Romawi mampu menginspirasi kita dengan nilai kesabaran dan kecerdasan dalam membangun kota dan hunian yang aman dan reliable, seperti gambar-gambar berikut.



Kembali dari perjalanan yang luar biasa ini, saya masih terbayang dengan peradaban masa lalu yang sangat mencengangkan. Kemudian melewati jalan-jalan mulus antar dan di dalam kota-kota di Turki menambah keyakinan bagaimana penataan yang benar mampu membangkitkan kembali peradaban di masa sekarang menyongsong masa depan, setara dengan bangsa-bangsa maju lainnya.

Kota-kota yang bersih dan tertata rapi mengingatkan saya pada hubs di pemodelan DV. Jalan-jalan yang menghubungkan antar kota atau yang menghubungkan satu jalan dengan lainnya mengingatkan saya pada links. Baik kota maupun jalan memiliki properti detilnya masing-masing. Membuat jalan baru tidak harus membongkar jalan dan jembatan yang sudah dibangun sebelumnya dengan benar. Mengembangkan kota tidak berarti harus membongkar terlebih dahulu apa yang sudah dikembangkan sebelumnya dengan benar. Semua ini membuktikan manusia mempunyai kemampuan menata dengan baik, asalkan tahu cara-cara menata yang benar tersebut. Secara top down dan sekaligus bottom up, dengan mengkombinasikan kebaikan dari keduanya. Kalau ga percaya, tanya ke Yudha. Kami telah melewati perjalanan ini bersama. Implementasi EDW berbasis DV maksudnya, bukan ke Turki, tapi kayaknya dia tertarik jalan-jalan ke Turki.

Saya sih berpikir positif bahwa pembaca percaya dengan kehebatan Data Vault. Setidaknya mulai percaya. Itu langkah awal keberhasilan implementasi EDW saat liburan. Kuncinya? Buka pikiran dan belajar dari ahlinya, serta... jangan malas baca! Jangan hanya mengandalkan pendekatan star schema (star schema punya nilai tambahnya sendiri; don’t get me wrong!) yang terbukti tidak robust untuk membangun EDW - EDW sebagai saksi sejarah kehidupan. Saya pinjam istilah saksi sejarah ini dari Ahmal, yang selalu mampu menjawab tantangan pekerjaan. Tentu saja dengan sedikit penyesuaian mengikuti konteks tulisan

addthis

Live Traffic Feed