Copy and Paste

Anda bebas mengambil content blog ini, tapi mohon sebutkan alamat blog ini dalam tulisan Anda.

You are free to copy the content of my blog. However, please let your readers know my blog as your source.

Jumat, 18 Maret 2011

Pasukan Pengacara Digantikan Software

SMARTER THAN YOU THINK
Armies of Expensive Lawyers, Replaced by Cheaper Software
By JOHN MARKOFF
Published (in the NY Times): March 4, 2011

Ketika lima studio TV tersangkut dalam gugatan anti-monopoli Departemen Kehakiman terhadap CBS, biaya yang keluar sangat besar. Sebagai bagian dari tugas yang agak nggak jelas berupa “penemuan” atau “penggalian” – untuk menyediakan dokumen yang relevan dengan gugatan – studio-studio itu memeriksa enam juta dokumen dengan biaya lebih dari $2,2 juta sebagian besar untuk membayar sekelompok pengacara dan asistennya yang bekerja selama berbulan-bulan dengan tarif tinggi per jam.

Tapi itu terjadi pada tahun 1978. Sekarang, berkat kemajuan dalam kecerdasan buatan (artificial intelligence), software e-discovery dapat menganalisis dokumen dalam waktu jauh lebih singkat dengan biaya yang jauh lebih murah. Pada bulan Januari, misalnya, Blackstone Discovery di Palo Alto, California, membantu menganalisis 1,5 juta dokumen dengan biaya kurang dari $100.000.

Beberapa program bahkan melampaui lebih dari hanya menemukan dokumen yang relevan dengan cepat. Mereka dapat mengekstrak konsep-konsep yang relevan bahkan tanpa terminologi khusus, dan menyimpulkan pola perilaku yang dapat meringankan tugas para pengacara dalam memeriksa jutaan dokumen.

"Dari sudut pandang tenaga kerja bidang hukum, itu berarti banyak orang yang dulu dialokasikan untuk meninjau dokumen tidak diperlukan lagi," kata Bill Herr, yang sebagai pengacara di sebuah perusahaan kimia besar biasa mengumpulkan pengacara dalam auditorium untuk membaca dokumen selama berminggu-minggu di akhir pekan. "Orang-orang bisa kelelahan, orang mengalami sakit kepala. Komputer tidak."

Komputer semakin baik dalam meniru penalaran manusia – seperti penonton “Jeopardy!” temukan ketika menyaksikan Watson mengalahkan musuh manusianya – dan mereka mengambil alih pekerjaan yang dulu dilakukan oleh orang-orang dalam profesi bergaji tinggi. Jumlah desainer chip komputer, misalnya, secara signifikan telah mengalami stagnasi sejak program perangkat lunak digunakan untuk menggantikan kerja yang dilakukan oleh sepasukan desainer.

Perangkat lunak juga mulai merambah ke wilayah eksklusif para pengambil keputusan, seperti konsultan pinjaman dan KPR dan akuntan pajak.

Bentuk-bentuk baru dari otomatisasi telah mengembalikan perdebatan hangat tentang konsekuensi ekonomi dari kemajuan teknologi.

David H. Autor, profesor ekonomi di Massachusetts Institute of Technology, mengatakan ekonomi Amerika Serikat sedang mengalami fenomena "kekopongan" ("hollowed out"). Pekerjaan baru, katanya, terisi pada bagian bawah piramida kerja, di tengah-tengah hilang karena otomatisasi dan outsourcing, dan sekarang pertumbuhan kerja di bagian atas melambat karena otomatisasi.

"Tidak ada alasan untuk menyimpulkan bahwa teknologi menciptakan pengangguran," kata Profesor Autor. "Dalam jangka panjang kita selalu dapat menemukan pekerjaan untuk orang lakukan. Namun, masalahnya, apakah perubahan teknologi selalu mengarah ke pekerjaan yang lebih baik? Sayang jawabannya tidak."

Otomasi pekerjaan di bagian atas piramida mengalami percepatan karena kemajuan ilmu komputer dan linguistik. Baru-baru ini saja para peneliti dapat menguji dan menyempurnakan algoritma untuk sampel data yang besar, termasuk gunungan e-mail dari Enron Corporation.

"Dampak ekonominya akan sangat besar," kata Tom Mitchell, ketua departemen pembelajaran mesin (machine learning, cabang artificial intelligence) di Carnegie Mellon University di Pittsburgh. "Kita berada pada awal periode 10-tahun di mana kita akan mewujudkan transisi dari komputer yang tidak mengerti bahasa ke situasi di mana komputer dapat mengerti sedikit tentang bahasa."

Perkembangan ini paling tampak jelas di dunia hukum.

Teknologi e-discopvery umumnya dapat dibagi ke dalam dua kategori besar yang dapat digambarkan sebagai "linguistik" dan "sosiologis."

Pendekatan linguistik yang paling mendasar menggunakan kata-kata pencarian yang spesifik untuk mencari dan mengurutkan dokumen-dokumen yang relevan. Program yang lebih canggih menyaring dokumen melalui jaringan definisi kata-kata dan frase. Seorang pengguna yang mengetik "anjing" juga akan menemukan dokumen yang menyebutkan "teman terbaik manusia" dan bahkan gagasan "berjalan" (dalam kultur barat, anjing memang biasa dianggap sebagai "teman terbaik manusia" dan mesti diajak ”jalan” sekali waktu - Y Pan).

Di atasnya, pendekatan sosiologis menambahkan suatu lapisan analisis inferensial, meniru kekuatan deduktif seorang Sherlock Holmes. Insinyur dan ahli bahasa di Cataphora, perusahaan skrining informasi yang berbasis di Silicon Valley, membuat software yang dapat menggali (mining) dokumen terkait kegiatan dan interaksi orang-orang – siapa yang melakukan apa kapan, dan siapa berbicara dengan siapa. Perangkat lunak tersebut memvisualisasikan rangkaian peristiwa. Ia mengidentifikasi diskusi yang telah terjadi melalui email, pesan instan, dan telepon.

Kemudian komputer menerkam, ibaratnya, untuk menangkap "anomali digital" yang sering diciptakan penjahat kerah putih dalam usaha menyembunyikan aktivitas mereka.

Sebagai contoh, ia dapat menemukan momen "telepon saya" – insiden ketika pegawai memutuskan untuk menyembunyikan tindakan tertentu dengan memulai percakapan pribadi. Biasanya ini melibatkan perubahan media, mungkin dari percakapan email ke pesan singkat, telepon, atau bahkan tatap muka.

"Ia tidak menggunakan kata kunci sama sekali," kata Elizabeth Charnock, pendiri Cataphora. "Tapi ia adalah sarana untuk menunjukkan siapa yang membocorkan informasi, siapa yang berpengaruh dalam organisasi, atau kapan sebuah dokumen sensitif seperti laporan ke SEC sedang diedit dalam frekuensi yang tidak wajar oleh tipe atau jumlah orang yang tidak biasa."

Software Cataphora juga mampu mengenali sentimen dalam sebuah e-mail – apakah seseorang positif atau negatif. Ia juga dapat mengidentifikasi yang disebut "berbicara lantang" – sebuah penekanan yang tidak biasa yang mungkin memberikan indikasi bahwa dokumen tersebut mencerminkan situasi stres. Perangkat lunak ini juga dapat mendeteksi perubahan halus dalam gaya komunikasi e-mail.

Sebuah perubahan gaya penulisan email, dari santai tiba-tiba menjadi formal, dapat menyalakan sinyal adanya kegiatan yang tidak legal.

"Anda cenderung untuk memisahkan lebih sedikit infinitif ketika Anda berpikir FBI mungkin membaca surat Anda," kata Steve Roberts, CTO Cataphora.

Perusahaan e-discovery lain di Silicon Valley, Clearwell, telah mengembangkan perangkat lunak yang menganalisis dokumen untuk menemukan konsep, lebih dari sekedar kata kunci tertentu, yang dapat mempersingkat waktu untuk menemukan materi yang relevan dalam gugatan hukum.

Tahun lalu, perangkat lunak Clearwell digunakan oleh konsultan hukum DLA Piper untuk mencari di antara setengah juta dokumen dalam batas waktu satu minggu yang ditetapkan pengadilan. Software Clearwell menganalisa dan mensortir 570 ribu dokumen (setiap dokumen dapat terdiri dari banyak halaman) dalam dua hari. Firma hukum Piper menggunakan hanya satu hari lagi untuk mengidentifikasi 3070 dokumen yang relevan dengan pengadilan.

Perangkat lunak Clearwell menggunakan analisa bahasa dan cara visual yang mewakili konsep-konsep umum dalam dokumen yang memungkinkan satu saja pengacara melakukan pekerjaan yang sebelumnya mungkin dilakukan ratusan.

"Masalahnya di sini adalah beban jumlah informasi yang berlebihan," kata Aaref A. Hilaly, CEO Clearwell. "Bagaimana caranya Anda mendalami hanya dokumen atau fakta tertentu yang relevan dengan permasalahan? Ini bukan soal pencarian, tapi ini tentang penyaringan atau skrining, dan itulah kekuatan perangkat lunak e-discovery."

Untuk Neil Fraser, seorang pengacara di Milberg, sebuah firma hukum berbasis di New York, perangkat lunak Cataphora memungkinkannya lebih memahami cara kerja internal perusahaan yang sedang ia gugat, terutama ketika para pembuat keputusan yang sebenarnya tersembunyi dari sorotan.

Ia mengatakan perangkat lunak ini memungkinkannya menemukan mantan Prajurit Wintergreens dalam suatu organisasi – sebuah sosok pegawai rendahan dalam novel "Catch-22" yang memegang kuasa yang besar karena mendistribusikan surat ke para jenderal dan mampu menahan atau mengirimkannya sesuai pertimbangannya sendiri.

Alat seperti software di atas berhutang budi kepada sumber yang mungkin tidak pantas, yaitu database email peninggalan Enron (Enron Corpus).

Pada bulan Oktober 2003, Andrew McCallum, seorang ilmuwan komputer di University of Massachusetts, Amherst, membaca bahwa pemerintah federal memiliki koleksi lebih dari lima juta pesan dari penuntutan Enron.

Dia membeli satu salinan database tersebut senilai $10.000 dan membuatnya bebas tersedia untuk para peneliti akademis dan korporasi. Sejak itu, ia telah menjadi dasar ilmu pengetahuan baru – nilainya luar biasa hingga saat ini, mengingat kendala batasan privasi biasanya membuat koleksi-koleksi e-mail seperti ini tak terjangkau. "Itu membuat perbedaan besar dalam komunitas riset," kata Dr McCallum.

Enron Corpus telah menyebabkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana bahasa digunakan dan bagaimana jaringan sosial berfungsi, dan ia telah menyempurnakan upaya pengungkapan kelompok-kelompok sosial berdasarkan komunikasi email.

Sekarang perangkat lunak kecerdasan buatan (artificial intelligence) telah mendapatkan tempatnya di meja negosiasi (dulu janji kehebatannya sudah begitu, tapi kayaknya sekarang udah mulai bener-bener terwujud - Y Pan).

Dua bulan yang lalu, Autonomy, sebuah perusahaan e-discovery yang berbasis di Inggris, bekerja sama dengan pengacara pembela dalam suatu gugatan terhadap sebuah perusahaan minyak dan gas terkenal. Para penggugat datang dalam negosiasi praperadilan dengan daftar kata yang dimaksudkan untuk membantu memilih dokumen yang akan digunakan dalam pengadilan.

"Para penggugat sebelumnya telah meminta 500 kata kunci untuk pencarian," kata Mike Sullivan, CEO Autonomy Protect, salah satu divisi Autonomy.

Sebagai tanggapan, para pembela menggunakan kata-kata itu untuk menganalisis dokumen mereka sendiri selama perundingan, dan hasilnya membantu mereka lebih efektif dalam bernegosiasi, kata Mr Sullivan.

Memang, beberapa ahli mengakui teknologi memiliki limitasi. "Dokumen-dokumen yang disaring keluar masih harus dibaca oleh seseorang," kata Herbert L. Roitblat dari OrcaTec, sebuah perusahaan konsultan di Atlanta.

Sulit untuk mengkuantifikasi dampak dari penggunaan teknologi baru ini. Mike Lynch, pendiri Autonomy, percaya bahwa "bidang hukum adalah sektor yang mungkin bakal lebih sedikit mempekerjakan orang di Amerika Serikat di masa depan." Dia memperkirakan bahwa pergeseran dari penemuan dokumen secara manual ke penemuan otomatis (e-discovery) akan menyebabkan pengurangan tenaga kerja di mana satu pengacara saja akan cukup untuk pekerjaan yang sebelumnya memerlukan 500. Bahkan generasi terbaru perangkat lunak e-discovery yang dapat mendeteksi duplikasi dan menemukan pengelompokan dokumen-dokumen penting tentang topik tertentu, dapat mengurangi 50 persen tenaga kerja lagi.

Komputer tampaknya menunjukkan kinerja baik dalam pekerjaan ini. Mr Herr, pengacara perusahaan kimia yang diceritakan di awal artikel ini, menggunakan perangkat lunak e-discovery untuk menganalisis ulang pekerjaan pengacara perusahaan tersebut di tahun 1980-an dan 90-an. Ternyata koleganya (sebagai manusia) hanya 60 persen akurat.

"Bayangkan berapa banyak uang yang telah dibelanjakan untuk menjadi sedikit lebih baik daripada sekedar melempar koin (50 persen akurat – Y Pan)," katanya.

1 komentar:

UII_Official mengatakan...

informasi yang menarik..:) terima kasih

addthis

Live Traffic Feed