Copy and Paste

Anda bebas mengambil content blog ini, tapi mohon sebutkan alamat blog ini dalam tulisan Anda.

You are free to copy the content of my blog. However, please let your readers know my blog as your source.

Jumat, 29 Januari 2010

Sekolah

Ikal dan Arai beruntung pernah diajar seorang guru sejarah sekaliber Pak Julian. Kata-kata beliau yang menginspirasi berhasil gemilang mewujudkan cita-cita kedua pemimpi dari Belitung itu. Sekolahnya sendiri? Ya, seperti rata-rata sekolah negeri di daerah. Tidak kenal les tambahan. Tidak ada ekstrakurikuler drum band. Tidak ada kemewahan yang mudah dijumpai di sekolah negeri favorit di Jakarta, apalagi yang swasta! Begitu juga SMA tempat ku sekolah dulu. SMA Negeri 11 Palembang...

Saya masuk tahun 1985 setelah lulus dari SMP Negeri 3. Biasanya lulusan SMP 3 masuk ke SMA 3 yang cukup favorit. Entah kenapa giliran saya lulus dari situ, rayonnya ke SMA baru yang gedungnya belum berdiri. Setelah menumpang beberapa bulan di SMA 1 di tiga ruangan kelas yang jendelanya biasa digunakan teman-teman untuk keluar-masuk kelas, akhirnya kami pindah ke gedung baru. Lokasinya di Pakjo Ujung, yang walaupun hanya beberapa kilometer dari rumah terasa jauh waktu itu. Maklumlah namanya Ujung benar-benar secara harfiah ujung... mentok! Nggak ada jalan lagi, kecuali jalan tikus.

Yang lebih melekat lagi adalah ingatan jalan becek di sekitar Bulan Desember. Tanah merah terjal yang licin menuju sekolah dari ujung jalan aspal jadi lebih licin karena kami suka membungkus kaki dengan plastik. Sebetulnya nggak terlalu jauh, tapi itu cukup membuat kami berlumuran tanah. Belum lagi kalau terpeleset. Eit... Saya dan teman perempuan yang telah memberi saya lima orang anak sering ke sumur di samping sekolah untuk bersih-bersih. Kenangan yang luar biasa! Dan saya tidak termotivasi sama sekali untuk pindah seperti teman-teman yang lain. Ah, hubungan saya dengannya adalah cerita lain yang butuh perpustakaan sendiri untuk menampungnya.

Kita cerita mengenai sekolah bae. Wakil Kepala Sekolah kami, Pak Ali Idrus, benar-benar beruntung ketemu dengan Pak Samson, guru biologi yang baru lulus dari FKIP. Dari Pak Samson, Pak Ali Idrus mampu dalam waktu singkat membangun tim untuk menjalankan fungsi sekolahan. Jadilah dewan guru kami terdiri dari dua guru tetap dan guru-guru honorer, yaitu Pak Samson dan kawan-kawan. Waktu itu, kami belajar di ruang kelas pinjaman seadanya di SMA 1. Butuh waktu beberapa bulan akhirnya Kepala Sekolah kami hadir. Dewan guru akhirnya makin kuat dengan tambahan guru tetap.

Waktu kelas dua. saya masuk kelas A1, Fisika. Ya, memang dari kecil saya pengen jadi ilmuwan, cita-cita yang sudah berubah sama sekali setelah saya mulai ngerti uang. Bagaimana laboratoriumnya? Jelas nggak ada lah. Bahkan tabung-tabung reaksi dan peralatan eksperimen lainnya dipinjam entah dari mana oleh guru Fisika kami yang cukup tinggi langsing dan berparas menarik. Beruntung pelajaran Matematika tidak mutlak membutuhkan alat peraga. Bu Isnaeni Palupi bisa mengajar tanpa hambatan berarti. Jadilah Matematika, Fisika, dan Kimia adalah tiga pelajaran favorit saya, walaupun dengan fasilitas seadanya.

Pelajaran yang lain gimana? Hmm, seingat saya semuanya rata-rata serba terbatas. Perpustakaan sekalipun. Oya, Olahraga adalah pelajaran yang mengasyikkan juga. Kami bisa main bola sesukanya di lapangan. Kalau lagi serius, kami disuruh lari berkeliling sekolah atau keluar kompleks. Awalnya saya nggak suka, tapi setelah saya serius menjalankan program lari hampir tiap hari, berpedoman pada buku Aerobic karangan Dr. Kenneth Cooper, tugas lari jadi ringan. Ada senangnya juga ketika saya berkali-kali menyusul teman yang ketinggalan beberapa putaran, sambil menggoda, "duluan ya..."

Dengan modal kebugaran itu, saya bisa mengomandani pasukan gerak jalan 28 KM tanpa lelah sedikitpun dalam lomba se-kotamadya. Senangnya lagi kami meraih tempat kedua terbaik. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Pada hari pengumuman hasil lomba itu, setelah mendapat ceramah singkat dari Pak Najib mengenai perilaku saya yang perlu diperbaiki, berita duka datang dari rumah teman perempuanku. Ayahnya meninggal pada 28 Oktober 1986. Aku dan Ibunda (almh) pergi melayat. Ah... itupun bagian cerita yang butuh satu perpustakaan tadi untuk menampungnya.

Banyak sebetulnya cerita yang bisa diingat-ingat kembali, tapi rasanya cukuplah cerita kenangan di sekolah ini sampai di sini. Toh nggak semuanya indah, baik, dan benar, misalnya waktu itu saya belum bisa ngaji. Oh, disuruh baca Al-Qur'an oleh guru Agama kami, terbata. Disuruh mengulang hafalan surat pendek, nggak sempurna. Alhamdulillah kekurangan seperti itu sudah banyak berubah saat ini, setelah saya ketemu teman-teman aktivis pengajian waktu sekolah di Amrik. Yang baik-baik waktu SMA itu? Banyak! Gurunya, temannya, lingkungannya, sekolah itu sendiri, dan kesempatan yang diberinya untuk belajar memimpin! Semuanya sudah membantu membentuk diriku seperti apa adanya.

Ya Allah, berilah kami pahala-Mu yang mulia atas upaya dan kebaikan kami. Ya Allah, ampunilah semua dosa kami.

Selamat REUNI untuk seluruh keluarga besar alumni SMA Negeri 11 Palembang. Semoga silaturahmi yang terjalin membawa lebih banyak berkah, amin...

Baca cerita lainnya:
Nama
Pondok Ku, Rumah Baru
Kucing Kami

Baca berita mengenai reuni SMA 11:
http://www.sripoku.com/view/25174/reuni_perdana_sma_11_palembang
http://www.facebook.com/group.php?gid=222269690763&ref=share

5 komentar:

Andre Saputra mengatakan...

Wow, keren nih ceritanya,
Jadi pengen ikut nulis..

Viva sma 11..

Y Pan mengatakan...

Terima kasih Mas Andre... Ayo mulai nulis.

捷運 mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Y Pan mengatakan...

@MRT: Although your comment in Chinese is quite interesting and inspiring, I decide to delete it due to the link. My apology.

mashen mengatakan...

waduh ternyata dari SMA ya.. luar biasa akh.

addthis

Live Traffic Feed