Copy and Paste

Anda bebas mengambil content blog ini, tapi mohon sebutkan alamat blog ini dalam tulisan Anda.

You are free to copy the content of my blog. However, please let your readers know my blog as your source.

Kamis, 11 Juni 2009

Apakah Pak Boed Neolib?

Akhir-akhir ini, banyak pengunjung blog saya masuk lantaran kata kunci Boediono atau Budiono. Terakhir saya menulis mengenai beliau ketika posisi Gubernur BI lowong ditinggal Pak Burhan. Waktu itu, saya buat polling kecil-kecilan siapa yang paling pantas menjadi Gubernur BI. Jawaban di polling waktu itu yang jauh dari ilmiah adalah Pak Boediono. Kebetulan bersamaan jumlah voternya dengan Pak Muliaman Hadad. Saya berspekulasi Pak Boed yang terpilih dan kebetulan beliau terpilih menjadi orang nomor satu BI.

Seakan menegaskan ketokohannya, Pak Boediono kembali menjadi sorotan publik setelah dipilih PD untuk mendampingi Pak SBY mengikuti pilpres 2009. Saya menduga-duga dalam hati bahwa yang paling dicari orang adalah informasi mengenai ideologi ekonomi beliau. Apakah beliau bener-bener pendukung neoliberalisme? Tentu saja di antara informasi lain terkait dengan pribadi dan keluarganya.

Di suatu acara TV, hadirlah Pak Fuad Bawazir, anggota tim sukses JK-Win, yang sekaligus menjadi pengkritik SBY Berbudi nomor wahid. Karena mantan Menkeu, Pak Fuad tentunya memiliki latar belakang yang cukup untuk berdebat mengenai ideologi ekonomi. Singkatnya, beliau menuding Pak Boediono sebagai seorang neolib. Serta merta pembawa acara memberi giliran ke pengurus teras PD yang mengikuti acara itu. Tentu pengurus teras PD ini menyanggahnya.

Bagaimana cara sanggahan disampaikan? Dengan tenang dan mantap tokoh satu ini mengatakan Pak Boediono bukan neolib, tapi seorang monetaris. Beliau merujuk ke suatu buku yang menulis mengenai Pak Boed. Nah, sebagaimana banyak orang berdebat mengenai neoliberalisme tanpa tahu maknanya, adalah ironi besar bahwa sanggahan diberikan nyata-nyata tanpa pengetahuan yang cukup. Jadi, baik pendemo di jalanan maupun pengurus teras partai sebenernya nggak ngerti persis bahan perdebatan.

Ya, yang nggak peduli langsung ganti saluran. Yang menelan perdebatan mungkin banyak yang bingung mana yang bener. Singkatnya begini, ideologi ekonomi bisa dijajarkan berbaris. Paling kiri berdiri ideologi sosialisme yang ekstremnya percaya segala hal harus diatur oleh negara, bahkan kawin sama siapa dan beranak sekalipun. Di sebelah paling kanan berdiri ideologi liberalisme yang ekstremnya setiap individu bebas melakukan apa saja. Kebebasan individu mengejar kepentingannya masing-masing diyakini menghasilkan kebaikan untuk masyarakat secara keseluruhan.

Dalam praktik, hampir nggak pernah kita jumpai yang totalitas ekstrem. Artinya, yang bisa dikatakan sebenarnya adalah ideologi A lebih kiri dari ideologi B. Artinya juga kalau ke kiri lagi, masuk jurang. Nah, istilah neoliberalisme dan monetarisme tentu perlu kita pahami posisinya dalam barisan ideologi-ideologi tadi. Di kanan? Di kiri? Atau di tengah? Menurut teori, neoliberalisme adalah penjelmaan baru dari liberalisme ala Adam Smith. Di kanan dia pro kebebasan individu atau bisa dikatakan pro pasar!

Monetarisme? Ini adalah aliran ekonomi Milton Friedman yang mengatakan ekonomi dapat dikendalikan dengan baik semata-mata dengan mengendalikan suplai uang atau uang beredar. Pengendalian lain nggak perlu, begitulah aslinya ideologi Milton Friedman, yang didukung penuh pemerintahan Reagan dan Thatcher. Artinya seorang monetaris aslinya adalah seorang liberal (kalau di Amerika disebut konservatif, diwakili Partai Republik; malah di Amerika seorang liberal agak ke kiri; istilah memang sering bikin bingung - Y Pan).

Nah menurut teori, klaim pejabat teras PD di atas ketika berdebat dengan Pak Fuad Bawazir bisa menjadi bahan tertawaan.

Lalu apakah bener Pak Boediono seorang neolib? Tentu saingan politik SBY Berbudi mati-matian mengatakannya. Wajar dalam kompetisi politik. Sebaliknya, kubu Pak Boed tentu ingin mendudukkan persoalan lebih proporsional. Sederhananya jangan sampai kesan bahwa Pak Boed hanya pro pasar atau lebih pro ke pasar daripada pro ke rakyat bener-bener jadi opini publik.

Kubu Pak Boed pastinya ingin mengatakan tuduhan para pengkritiknya terlalu berlebihan, walaupun sebagian pendukung beliau - para ekonom arus utama di kampus-kampus dan lembaga lain - merasa nggak ada yang salah dengan neoliberalisme. Kearifan Pak Boediono sebagai ekonom senior sangat terasa, terutama ketika kita bandingkan dengan fundamentalisme para ekonom arus utama yang sensi banget melihat fenomena berbaliknya arah kebijakan. Pernyataan beliau bahwa ekonomi syariah opsi serius (Republika 9 Juni 2009) kembali menegaskannya!

Jadi, apakah Pak Boed seorang neolib? Kalau dari klaim di buku bahwa beliau seorang monetaris, jawabnya YA. Sebaliknya, saya lebih senang mengamati kiprah beliau di berbagai posisi, antara lain Menkeu, Menko Perekonomian, Ketua Bappenas yang menghasilkan kebijakan yang tidak semata-mata pro pasar. Juga kiprah beliau di BI yang ramah kepada ekonomi dan perbankan syariah. Anda? Terserah deh.

Baca kisah lainnya:
Timbal Balik Kebaikan dan Kejahatan
Emas Putih dan Hitam
Kelemahan Uang
Irrationality and Improvement
Mencegah Krisis
Kebijakan Berbalik Arah

3 komentar:

Yaihanif mengatakan...

Ada berita internasional yang menarik hari ini. Dengan terpilihnya kembali Mahmoud Ahmadinejad sebagai Presiden Iran, maka neolib di Iran benar benar mati. (Kunjungi: inilah.com). Tentu saja ada pihak yang sangat berkebaratan dengan situasi ini, dan gelagatnya sudah ketahuan banget.

Y Pan mengatakan...

terima kasih Yai pengayaannya.

sby presidenku mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

addthis

Live Traffic Feed