Copy and Paste

Anda bebas mengambil content blog ini, tapi mohon sebutkan alamat blog ini dalam tulisan Anda.

You are free to copy the content of my blog. However, please let your readers know my blog as your source.

Kamis, 04 Juni 2009

Timbal Balik Kebaikan dan Kejahatan

Kita pasti pernah musuhan sama seseorang, terutama ketika kecil atau remaja. Tindakan kita sering ditentukan oleh persepsi kita mengenai musuh kita itu, dan selanjutnya tindakan kita dipersepsi oleh musuh kita yang kemudian menentukan tindakan dia berikutnya. Begitu seterusnya. Main catur sama juga. Langkah kita sebagian ditentukan oleh langkah lawan kita sebelumnya, dan selanjutnya langkah kita menentukan langkah dia berikutnya. Mbulet ya? Iya lah, namanya juga hubungan timbal balik.

Hampir semua fenomena kehidupan terkena kutukan timbal balik ini. Ketika kita mencari penyebab sesuatu, kita tidak pernah sampai pada kesimpulan final. Selalu tentatif. Coba deh kasus ini. Apa yang bikin perusahaan sukses? Apakah uang dan emas yang dimilikinya atau pengetahuan dan kompetensi orang-orangnya atau nilai-nilai yang diyakini?

Ada yang menjawab nilai-nilai. Kemudian jawaban itu ditimpali dengan kenyataan nilai-nilai lahir dan terinternalisasi lewat pengetahuan. Ada lagi jawaban lain. Untuk perusahaan yang masih baru, uang dan emas sangat menentukan, sementara untuk perusahaan mapan, justru pengetahuan dan kemampuan yang menentukan kesuksesan selanjutnya. Pertanyaan berikutnya yang mengusik dari fenomena ayam-telor seperti ini adalah dari ketiganya mana yang jadi faktor terpenting.

Saya sering berdebat dengan teman mengenai sifat pasar keuangan. Apakah ia deterministik yang ditentukan persamaan-persamaan matematis yang diusung para financial engineers? Ataukah ia tidak deterministik? Saya berada di kubu non deterministik, seraya mengutip pernyataan besar tokoh Alan Grant dalam film Jurassic Park: kehidupan akan mencari jalannya. Dalam film itu, pernyataan tersebut terbukti dengan meyakinkan. Kehidupan dinosaurus yang dikendalikan oleh sistem yang canggih akhirnya lepas kendali!

Film Jurassic Park tidak bicara eksplisit mengenai hubungan timbal balik. Ia semata-mata mencoba mendemonstrasikan bahwa keinginan makhluk hidup bernama dinosaurus (apalagi manusia) bikin sejarah tidak dapat ditentukan jalannya. Analogi Jurassic Park ini cukup membuat saya bebal dalam diskusi dengan meyakini pasar keuangan tidak akan pernah mencapai titik keseimbangan sesuai teori yang diusung ekonom arus utama. Teori ini berlaku menurut hemat saya hanya di tataran konsep yang jauh dari realita yang sebenarnya.

Buku Predictably Irrational (baca artikel saya sebelumnya mengenai buku ini) terlebih menguatkan keyakinan saya bahwa kekurangan manusia membuat teori ekonomi arus utama tidak berlaku sepenuhnya dalam kehidupan nyata. Kemudian saya membaca pemikiran Karl Popper yang senada bahwasanya manusia tidak pernah menguasai pengetahuan yang sempurna (perfect knowledge atau perfect information). Positifnya adalah baik Dan Ariely maupun Karl Popper mengatakan kelemahan manusia itu justru membuka peluang perbaikan terus menerus.

Jadi, keterbatasan manusia adalah ladang amal buat masing-masing kita. Begitulah bahasa da'wahnya. Terkait dengan keterbatasan manusia dan peluang perbaikan, Popper mengajukan konsep open society di mana pengetahuan manusia saat ini yang terbatas dalam mewakili realita akan diperbaiki dari waktu ke waktu, dengan asumsi anggota open society memang bener-bener berniat mencari kebenaran. Dalam hal ini, Popper cukup rendah hati mengakui keterbatasan manusia dan sekaligus optimistis terhadap upaya pencarian kebenaran. Perbaikan pengetahuan!

Kenyataannya? Kerendahan hati Popper belum cukup jauh (atau dekat) mewakili kenyataan. Dasarnya adalah fenomena sosial timbal balik antara upaya memahami (kognitif) dengan fungsi mempengaruhi (manipulatif). Fungsi kognitif menghasilkan teori atau pengetahuan, walaupun tidak sempurna. Teori yang terbentuk mengubah perilaku manusia, dan sengaja atau tidak sengaja ia mengubah realita sehingga teori semula justru makin nggak akurat. Inilah yang disebut George Soros di dalam bukunya The Alchemy of Finance dan The New Paradigm for Financial Markets sebagai reflexivity.

Sesungguhnya, fenomena timbal balik antara fungsi kognitif dan fungsi manipulatif manusia masih cukup kondusif dalam open society mencari kebenaran, seandainya anggota masyarakat semuanya berniat mencari kebenaran. Fungsi kognitif merupakan jalan untuk mengkoreksi teori dari waktu ke waktu. Namun, ada sifat setan dalam diri manusia, sehingga manusia dapat sengaja memanipulasi realita melalui teori-teori yang palsu. Belum sempat teori itu terbukti kebenarannya, oknum setan dalam diri manusia memanipulasi realita melalui teori-teori palsu lainnya.

Contoh sederhana dari penggunaan sengaja fenomena timbal balik fungsi kognitif dan fungsi manipulatif mudah dilihat ketika sebuah lembaga survey mengeluarkan prediksi perolehan suara tiap-tiap kandidat dalam pemilu. Apalagi ketika lembaga survey dimaksud terkait dengan salah satu kandidat. Contoh lain adalah fitnah yang dikemas sebagai teori ilmiah ataupun laporan intelijen. Figur atau sesuatu yang difitnah akan dipersepsi tidak sesuai dengan kenyataannya. Persepsi yang salah kemudian mempengaruhi perilaku massa terhadap figur tersebut. Realita berubah dan bisa menguatkan persepsi yang salah. Demikian seterusnya.

Nah, apakah kesengajaan memanipulasi realita dengan teori palsu selalu jahat dan selalu bersumber dari sifat setan? Entahlah. Mungkin ada yang memiliki tujuan halal menempuh jalan haram. Mungkin juga ada yang memiliki tujuan halal tapi nggak sadar kalau jalan yang diambil haram. Mungkin ada juga yang nggak tahu apakah tujuannya halal atau tidak. Mungkin juga, nah ini paling parah, memang niatnya nggak bener dari awal.

Terakhir nih, reflexivity pastinya dapat terjadi pada kebaikan maupun kejahatan. Ketika kebaikan dan kejahatan disandingkan, faktor apa yang membedakan keduanya? Uang dan emas? Pengetahuan? Atau nilai-nilai dan keyakinan? Biarlah kita jawab di dalam hati masing-masing.

Fabiayyi hadiitsin ba'dahuu yu'minuun!

Kisah lain:
Emas Putih dan Hitam
Kelemahan Uang
Kekuatan Uang

Tidak ada komentar:

addthis

Live Traffic Feed