Sangat sering dalam manajemen proyek, kita menaksir atau memperkirakan jadwal dan biaya suatu proyek pada awalnya (ketika kita masih sedikit sekali tahu) dan kemudian tidak pernah melihat kembali taksiran tersebut selama jalannya proyek (ketika kita sudah tahu lebih banyak dibandingkan pada awalnya). Lebih buruk lagi, kita sama sekali tidak pernah membandingkan taksiran mula-mula dengan hasil aktual untuk mengasah keahlian kita ke depan.
Praktik yang berlaku pada organisasi saya (Richard Sheridan di Ann Arbor sebagai penulis artikel asli – Y Pan) berbeda. Kami menaksir seminggu sekali untuk tiap proyek. Bahkan untuk kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya tapi belum dikerjakan, kami menaksirnya lagi. Mengapa? Alasannya sebagai berikut:
(1) Kami makin baik dalam memperkirakan kalau kami makin sering melakukannya.
(2) Kadang-kadang kami kemudian tahu hal baru dan itu membantu perkiraan selanjutnya.
(3) Kadang-kadang kami baru sadar bahwa kami tidak tahu seperti yang kami duga dan itu membantu perkiraan selanjutnya.
(4) Seringkali ketika proyek kami melibatkan teknologi baru, taksiran awal mengandung ”ketakutan” built-in; seiring kami belajar lebih banyak tentang teknologi baru dimaksud, faktor ”ketakutan” akan berkurang.
(5) Pembuatan estimasi adalah suatu diskusi yang penting di tempat kami, karena kami melakukannya sebagai aktivitas kelompok.
Cara terbaik untuk mengasah kemampuan memperkirakan atau menaksir adalah dengan mencatat dan mengikuti kejadian aktual sehingga tim yang terlibat mendapatkan masukan seberapa bagus prakiraan sebelumnya. Sedikit peringatan: Anda tidak dapat menggunakan informasi ini untuk menghukum tim yang terlibat! Akuntabilitas yang hakiki dalam menaksir bukan berarti tim Anda harus mencapai perkiraan, tapi lebih kepada mereka menginformasikan segera jika diketahui perkiraan akan meleset.
Berikut ini suatu permainan sederhana untuk melatih kemampuan dalam menaksir dan mendapatkan feedback. Ambil tiga botol kosong yang ukurannya mulai dari kecil ke sedang ke besar dan isi ketiganya dengan butiran agar-agar. Catat seberapa banyak butiran untuk memenuhi tiap botol.
Kumpulkan kelompok Anda yang berminat belajar estimasi. Lalu mintalah semua anggota menaksir jumlah butiran agar-agar di botol kecil. Bagus juga sih kalau Anda meminta mereka melakukannya berpasang-pasangan.
Berilah mereka waktu yang sangat singkat untuk menghasilkan suatu taksiran dan mintalah mereka menuliskannya. Kumpulkan data dengan meminta setiap pasang menyebutkan secara lantang perkiraan masing-masing. Tuliskan taksiran-taksiran di whiteboard atau flipchart. Lakukan hal yang sama untuk botol kedua dan ketiga.
Akhirnya, sampaikan kepada kelompok bahwa ini adalah cara yang cukup baik untuk mengestimasi. Jangan lupa berterima kasih atas input mereka dan undanglah anggota kelompok untuk mengajukan pertanyaan sebelum kegiatan dilanjutkan. Nah, seseorang akan (belum pernah gagal di pengalaman saya) bertanya sebetulnya berapa butir agar-agar yang ada di tiap botol. Mereka ingin tahu! Biarkan mereka menduga-duga sebentar kemudian katakan betapa lucunya mereka. Bagaimanapun, it’s just a jar of jelly beans.
Sekarang Anda sudah membuat mereka berada di posisi yang Anda inginkan. Tanyakan pada mereka berapa kali mereka mendapatkan data sebagai umpan balik kepada tim mereka pada topik yang jauh lebih penting dan mereka mencemooh dan menganggapnya tidak penting (maksudnya kalee: kalau untuk permainan sederhana di atas mereka sangat ingin mendapatkan umpan balik, seharusnya untuk umpan balik proyek lebih serius lagi – Y Pan). Mengabaikan umpan balik tak akan terjadi lagi...
* Terjemahan bebas dari ”Estimate, Estimate, Estimate” oleh Richard Sheridan, Ann Arbor, Michigan, US, di buku “97 Things Every Project Manager Should Know”
Rabu, 07 Juli 2010
Taksir, Taksir, Taksir
Selasa, 06 Juli 2010
Kekuatan Cerita
Cerita merupakan alat perubahan yang sangat powerful. Semua penda'wah menggunakannya. Guru-guru yang cerdas juga selalu menyampaikan kisah penuh hikmah agar pesan benar-benar meresap ke dalam hati para murid. Hanya orangtua yang belum berpengalaman yang tidak suka bercerita kepada anak-anaknya. Bisa dikatakan bahkan semua buku, artikel, dokumen, berita koran, iklan komersial, iklan layanan masyarakat, dan pidato adalah cerita.
Sungguh membosankan membaca buku atau mendengar nasihat atau mengikuti argumen yang kering dari tuturan cerita. Bagi kebanyakan orang angka statistik, persamaan matematika, dan kalimat normatif adalah jejalan informasi yang sangat tidak menarik, tetapi begitu ceritanya diketahui barulah perhatian mengikuti. Nah, andai kita suatu waktu bertugas memimpin workshop, seminar, atau pertemuan apapun, kita mesti persiapkan kumpulan cerita yang bagus.
Cerita ada di mana-mana. Ketika kita duduk mengamati sekitar, cerita sudah menanti untuk dituturkan. Asal kita tidak tidur... eh bahkan bunga tidur sekalipun selalu siap dituliskan. Lalu mengapa sering kita tidak mau bercerita? Banyak sih faktornya. Mungkin terlalu capek. Mungkin juga tidak ada tema atau tujuan. Dalam kondisi terakhir, cerita yang dipaksa keluar menjadi kurang bermakna. Mungkin juga kita sangat jarang mendengar dan membaca cerita.
Suatu hari saya duduk mengikuti kuliah zuhur di masjid kantor. Penceramahnya sudah saya anggap sebagai salah satu guru besar saya. Beliau memang profesor. Doktornya dari Al Azhar. Hari itu inti ceramahnya dimulai dengan satu kisah ketika RasululLah ditagih hutang oleh seorang yahudi. RasululLah sedang memberikan ceramah (tentu di dalamnya banyak tuturan kisah) kepada sahabat-sahabat beliau yang utama. Tiba-tiba datanglah seorang yahudi menghardik sambil mencengkeram kerah RasululLah. "Hai Muhammad bayarlah hutangmu!"
Yahudi memang terkenal sangat bermusuhan dengan kaum muslimin sampai hari ini. Tetapi hardikan kepada RasululLah ketika sedang berceramah tentu sangat kelewatan. Wajar jika kemudian Umar ra yang naik pitam meminta izin RasululLah untuk menghukum orang itu. Namun, akhlak RasululLah sungguh teramat mulia.
Walaupun banyak yahudi memusuhi beliau karena da'wahnya, beliau tetap bermuamalah dengan mereka dengan cara yang baik. Tidak heran kalau terjadi transaksi dagang antara beliau dengan orang-orang yahudi. Dengan orang yang menagih itu, beliau melakukan transaksi non-tunai. Pembayaran yang dijanjikan belumlah jatuh tempo. Entah mengapa si yahudi menyegerakan penagihan. Tanpa etika pula! Jika kita di posisi RasululLah, wajar kita langsung mengizinkan Umar ra memenggal lehernya. Namun, tidak demikian akhlak seorang nabi.
RasululLah tetap santun dan lembut. Ketika ditanya dengan baik, orang tersebut berkata kurang lebih, "Aku telah mempelajari ciri-ciri engkau, hai Muhammad. Semuanya cocok dengan ciri-ciri seorang nabi. Hanya satu yang belum kuketahui, tapi hari ini aku mendapati engkau tetap lembut ketika layak marah kepadaku. Saksikanlah tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah RasululLah."
Ceramah lalu dilanjutkan dengan satu kisah lain. Di kota Madinah memang banyak orang yahudi. Mereka sebenarnya mencari-cari nabi akhir zaman di kota yang teduh ini. Sayangnya ketika ternyata Muhammad seorang arab yang mendapat wahyu, banyak yahudi Madinah yang tidak mau mengakuinya. Salah satunya adalah seorang pengemis buta. Setiap waktu dia berkata, "Jangan ikuti Muhammad karena dia itu jahat." RasululLah tetap menyantuni si pengemis, walaupun dihina seperti itu.
Beliau memberi roti kepadanya. Ah rupanya karena sudah uzur roti keras tidak nyaman baginya. RasululLah segera tahu hal itu. Beliau melembutkan roti itu dengan mencelupnya ke susu sebelum disuapkan kepadanya. Pengemis itu seperti biasa berkata, "Jangan ikuti Muhammad karena dia itu jahat." Ini kemudian menjadi rutinitas, hingga akhirnya RasululLah wafat. Pengganti beliau, khalifah Abubakar ra berupaya sekeras tenaga untuk mengikuti kebiasaan Nabi Muhammad. Ada yang diketahuinya. Ada yang tidak.
Saking inginnya mengikuti RasululLah, Abubakar ra bertanya kepada putrinya Aisyah ra yang juga istri RasululLah, kira-kira apalagi kebiasaan beliau yang belum diikuti. Aisyah memberitahu ayahandanya mengenai si pengemis yahudi. Abubakar kemudian menemuinya dan memberikan roti sebagaimana RasululLah, tapi ia tidak tahu persis bagaimana caranya. Ketika hal itu terjadi, si pengemis menggamit tangan Abubakar ra dan berkata, "Ini bukanlah orang yang biasa memberikan roti ini untukku. Dia biasanya melembutkan roti terlebih dahulu dengan susu. Di mana dia?"
Abubakar menjelaskan bahwa orang yang biasa memberi roti ke pengemis itu telah wafat. Ia bertanya siapa orang itu sebenarnya. Dijelaskan bahwa orang itu adalah Muhammad RasululLah. Seketika pengemis yang selalu mencela RasululLah itu bersaksi tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad itu RasululLah.
Demikianlah dua kisah yang sangat powerful. Pesan apa yang ingin disampaikan dalam dua cerita ini? RasululLah sungguh memiliki sifat ihsan yang luar biasa. Ah, ceramah selanjutnya jadi lebih mudah. Cerita sudah masuk ke hati. Dengan dorongan sedikit demi sedikit, pendengar ceramah pertama akan makin cinta kepada RasululLah dan kedua akan mencoba semakin mendekati jejak nabi untuk memberikan yang terbaik.
Nah, kembali ke kekuatan cerita, dapat dikatakan cerita sudah mengubah peradaban manusia! Apalagi hanya suatu organisasi!
Rabu, 26 Mei 2010
Turki-Brasil Kagetkan Barat
Laporan wartawan Rakaryan Sukarjaputra
Rabu, 26 Mei 2010 | 06:16 WIB
KOMPAS.com - Ketika memutuskan pergi ke Teheran untuk menembus kebuntuan program nuklir Iran, Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva mendapat cemoohan. Dia dituding sekadar mencari popularitas.
Nyatanya, Lula bersama pemimpin Turki bisa menghasilkan kesepakatan dengan Iran. Inti kesepakatan 17 Mei itu relatif sama dengan yang pernah diusulkan mantan Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Mohammed ElBaradei.
Kesepakatan itu berupa kesediaan Iran mengirimkan 1.200 kilogram uranium dengan kadar pengayaan rendah ke Turki. Setelah setahun Iran akan menerima kiriman uranium kadar pengayaan tinggi untuk bahan bakar reaktor nuklir di Teheran. Usulan IAEA dukungan Barat, negara yang ditunjuk untuk menerima ”titipan” uranium Iran antara lain Rusia.
Muncul komentar menihilkan kesepakatan Brasil-Turki-Iran. Namun, AS dan Barat tertampar dengan hasil diplomasi Lula. China dan Rusia, sama-sama anggota tetap Dewan Keamanan (DK) PBB, menyambut kompromi Iran itu.
Reaksi AS dan Barat bisa ditebak. Kubu ini langsung menyebarkan rancangan resolusi mengenai sanksi-sanksi baru lebih keras terhadap Iran, tidak peduli dengan upaya Brasil dan Turki, sama-sama anggota tidak tetap DK PBB.
Lula, dalam sebuah pidato di Brasilia, ibu kota Brasil, Rabu (19/5), menuduh Barat memiliki sikap ingin menang sendiri soal nuklir Iran.
Hal yang dilakukan Lula menjadi pelajaran diplomasi yang sangat berharga. Sebagai negara yang serius ingin melakukan perubahan di PBB, terutama reformasi DK PBB, terobosan Lula mendukung cita-cita Brasil untuk menjadi anggota tetap DK PBB. Diplomasi Lula juga mencerminkan bagaimana Brasil mengoptimalkan posisinya di DK PBB, berani mengambil risiko berseberangan dengan adidaya tanpa tendensi bermusuhan dengan adidaya.
Peran Rusia
Diplomasi Lula tidak terlepas dari peran Presiden Rusia Dmitry Medvedev yang mengusulkan pendekatan baru pada pertemuan dengan Lula di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi BRIC (Brasil, Rusia, India, China) April lalu. Medvedev mempertajam misinya dengan berkunjung ke Turki dan Suriah.
Terobosan Medvedev itu, seperti ditulis The Hindu, lolos dari perhatian AS dan Barat yang terlalu sibuk meyakinkan Rusia dan China mengenai resolusi sanksi baru untuk Iran itu.
Melalui diplomasinya, Lula sebenarnya juga hendak menelanjangi sikap curang AS dan sekutunya soal nuklir Iran. Bagi Barat, tujuan mereka hanya satu, jangan sampai Iran menguasai teknologi nuklir. Penegasan Iran bahwa pengembangan teknologi nuklir bertujuan damai tidak bermakna.
Presiden AS Barack Obama menelepon langsung Perdana Menteri Turki Recep Erdogan. Obama mengatakan, kompromi terbaru Teheran itu ”tidak menumbuhkan kepercayaan”.
Lula geram. ”Ada sejumlah orang yang tidak tahu bagaimana berpolitik tanpa musuh,” tegasnya.
Rusia pun memperingatkan, pengenaan sanksi sepihak oleh AS dan sekutunya kepada Iran bertentangan dengan prinsip supremasi hukum internasional.
Pada akhirnya, sebagaimana terjadi dengan Iran, negara yang boleh memanfaatkan teknologi nuklir sangat ditentukan oleh AS dan sekutunya. Rusia dan China menolak itu.
Lula semakin membuka mata dunia atas ketidakadilan Barat. Hal itu menonjolkan ketidakberesan dalam sistem politik internasional. Hadirnya kekuatan pengimbang sangat diperlukan pada saat China dan Rusia sering bimbang untuk berperan sebagai pengimbang.
Namun, dari kesepakatan Brasil-Iran-Turki, kita melihat peran menonjol Rusia. Peran penting Rusia dan China sebagai pengimbang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan meski tidak selalu harus dengan terbuka.
Jika Lula berhasil memanfaatkan masalah nuklir Iran untuk mengangkat tinggi citra diplomasi Brasil, Indonesia bisa melakukan hal serupa. Yang diperlukan adalah para pemikir yang siap memanfaatkan permasalahan dunia menjadi peluang diplomasi. Pada saat hard-power bukanlah menjadi keunggulan, kekuatan soft-power (diplomasi) harus dimaksimalkan.
Sumber: http://internasional.kompas.com/read/2010/05/26/06164149/Turki-Brasil.Kagetkan.Barat-7
Selasa, 27 April 2010
Cara Baru Melaporkan SPT
Pernah merasakan ribetnya melaporkan SPT Anda? Pasti Anda merasakannya, tapi bagi Kantor Pajak lebih ribet lagi bagaimana mengolah dokumen SPT yang berjibun. Ah, kan pasti sudah pakai IT. Benar! Dugaan saya pun begitu, tapi kelihatannya ada cara baru yang bakal mengurangi keribetan di sisi Anda dan di sisi Kantor Pajak. Apakah cara pelaporan SPT saja yang mungkin berubah ke depannya. Nggaklah, banyak yang mungkin berubah, seperti pelaporan ke pengawas bursa, pengawas bank, bea cukai, dan lain-lain.
Nah, saya menemukan sebuah dokumen dari Ernst & Young yang saya terjemahkan bagian awalnya berikut ini. Sebagai catatan saja, di banyak negara lain, cara menyampaikan laporan ke pihak berwenang sudah menggunakan cara baru ini lho. Kapan ya di kita?
Sejumlah regulator terkemuka sedang semangat-semangatnya menjual standard teknologi baru – eXtensible Business Reporting Language (XBRL) – sebagai suatu cara untuk mempermudah otomasi pelaporan informasi keuangan, yang diyakini bermanfaat bagi seluruh stakeholder pasar keuangan.
Perusahaan-perusahaan di US, UK, Cina, Jepang, Prancis, Singapura, dan banyak negara lainnya sudah melaporkan informasi ke lembaga regulator atau bursa efek dengan XBRL. Setelah BAPEPAM Amerika dan Kantor Pajak dan Bea Cukai Inggris meliriknya, momentum penerapan XBRL makin bergerak cepat secara global dan ada indikasi kuat bahwa semakin banyak regulator akan mewajibkan penggunaan XBRL untuk pelaporan regulatoris dalam waktu yang tidak terlalu lama. Jelas, XBRL memiliki potensi menjadi standard teknologi global untuk pelaporan informasi keuangan maupun operasional.
Seiring upaya Anda untuk menguatkan fondasi pelaporan perusahaan Anda dengan XBRL, sebaiknya Anda tidak menganggap remeh pentingnya tahap persiapan. Seperti inovasi apapun, pasti terdapat ketidakpastian, terutama terhadap pendekatan awal pelaporan XBRL. Kebutuhan pelapor akan jasa konsultansi dan upaya memastikan keberhasilan tidak 100 persen jelas. Agak burem dikitlah. Beberapa rintangan sudah menanti di depan, termasuk ketakutan akan persyaratan yang demikian ketat dan persepsi bahwa XBRL hanyalah fenomena bertepuk-sebelah-tangan para regulator.
Dalam publikasi ini, kami menyoroti sepuluh tantangan kesiapan bagi pelapor, mulai dari membangun kesadaran (awareness) dan menginisiasi proyek hingga implementasi dan realisasi. Kami berharap para pembaca akan memahami bahwa pelaporan XBRL sesungguhnya lebih rumit daripada yang mungkin dipahami oleh para pendukung atau lembaga yang mewajibkannya. Kami yakin dengan pemahaman dan kesadaran yang benar, melalui persiapan dan perencanaan yang matang, upaya untuk mengikuti standard pelaporan XBRL akan lebih hemat dalam jangka menengah-panjang.
Mengikuti standard XBRL dengan mantap dan percaya diri serta membangun kemampuan yang dibutuhkan dengan tepat akan lebih menyiapkan pelapor dalam menyongsong perubahan sistem pelaporan yang masih akan terus berkembang ke depannya. Kami (EY, yaitu penerbit artikel yang saya terjemahkan sebebas-bebasnya ini – Y Pan) berharap dapat bekerja sama dengan para pelapor untuk membantu mereka menyongsong sistem pelaporan yang baru.
Pengenalan
XBRL adalah standard pelaporan informasi keuangan dan operasional bisnis berbasis Extensible Markup Languange (XML), yang bebas lisensi dan terbuka. Standard ini digunakan untuk pertukaran informasi bisnis secara elektronis. XML adalah sebuah bahasa deskriptif mengenai data yang bersifat universal dan digunakan untuk mendeskripsikan wadah, pengolahan, dan pertukaran data melalui internet.
Ide dasar di belakang XBRL sangat sederhana. XBRL menyediakan penjelasan (dengan tag atau disebut juga metadata) untuk setiap item data yang dilaporkan. Tanda penjelasan tersebut dapat dibaca oleh komputer dan memungkinkan informasi digunakan secara interaktif. Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan sebelumnya yang cenderung menggunakan formulir isian, baik tercetak (manual) atau melalui sistem on-line.
XBRL memungkinkan pertukaran dan analisis data bisnis melalui penyandian informasi atau penandaan yang lebih mempunyai arti buat komputer (karena ada penjelasan atau metadatanya). Oleh karenanya, aplikasi komputer dapat mengolah data XBRL secara ”cerdas” dengan mengenali informasi di suatu dokumen XBRL. Selanjutnya, dengan logik tertentu, aplikasi dapat memilih, menganalisa, menyimpan, dan mempertukarkan data XBRL dengan komputer atau sistem lain serta selanjutnya menyajikan datanya dalam berbagai bentuk kepada pengguna.
Pelapor-pelapor yang berhasil mengikuti tuntutan standard XBRL dari lembaga regulator melakukan persiapan matang jauh hari dalam menghadapi proses perubahan untuk mengikuti standard XBRL. Mengapa demikian? Secara umum, pelaksanaan strategi TI apapun membutuhkan pengetahuan, wawasan, dan perencanaan yang hati-hati. XBRL bukan pengecualian. Lalu bagaimana pelapor memulai kegiatan yang memakan waktu untuk persiapan melaporkan data yang diminta regulator? Padahal argo persiapan tersebut berjalan jauh hari sebelum kegiatan pelaporannya terjadi dan kemudian tetap akan berlangsung seterusnya.
Kami yakin artikel ini dapat membantu Anda menjawab tantangan di atas dan dapat memberikan gagasan yang berguna mengenai XBRL, termasuk beberapa permasalahan pokok dan pertimbangan-pertimbangan terkait dengan penerapan XBRL dalam pelaporan informasi keuangan. Walaupun isu dan pertimbangan yang perlu dipikirkan sebetulnya banyak sekali, kami yakin isu-isu dan pertimbangan yang kami tulis di bawah ini merupakan yang paling mewakili tantangan kesiapan para pelapor; dan jika isu-isu dimaksud dihadapi dengan tepat, tentu hasilnya adalah laporan XBRL yang berkualitas.
CFO dan para eksekutif keuangan senior akan sangat berperan dalam menentukan keseimbangan transisi pelaporan XBRL dari pelaporan sebelumnya. Dalam menjalani perubahannya, mereka akan menghadapi berbagai tantangan teknologi yang akan menguji kesiapan mereka dalam pelaporan XBRL. Oleh karena itu, pertanyaan utama buat CFO dan para eksekutif tersebut adalah, ”Apakah kita benar-benar siap?”
Sepuluh Tantangan Kesiapan XBRL
1. Membangun kesadaran (raising awareness) – Sejumlah besar eksekutif keuangan masih belum paham apakah XBRL itu, bagaimana cara kerjanya, dan problem apa yang dapat diselesaikannya.
2. Memilih saat yang tepat (getting the timing right) – Menyerahkan laporan XBRL secara sukarela atau membuat suatu bentuk ujicoba sebelum XBRL benar-benar diwajibkan terbukti merupakan praktik yang sangat bermanfaat. Para pelapor menemui fakta bahwa semakin meningkat pengalaman dengan XBRL, semakin cepat dan akurat proses pelaporannya. Pada kasus BAPEPAM Amerika, pelaporan XBRL sukarela sebelum diwajibkan dapat menekan risiko yang selanjutnya membuat penerapan pelaporan XBRL berlangsung lebih aman.
3. Mempertimbangkan pilihan implementasi (considering implementation options) – Terdapat beberapa pilihan bagi pelapor untuk mempesiapkan pelaporan XBRL. Waktu yang diinvestasikan di muka untuk edukasi, peningkatan kesadaran, persiapan, dan perencanaan dapat menghemat biaya dan waktu di belakang hari.
4. Membentuk tim yang tepat (building the right team) – Pelaporan XBRL membutuhkan kerjasama dan koordinasi lintas fungsi teknologi, akunting, dan keuangan dalam suatu perusahaan. Biasanya bagian keuangan (finance) adalah fungsi yang bertugas (in charge) mengelola prosesnya.
5. Memilih software (selecting software) – XBRL adalah teknologi yang terus berkembang. Saat ini (sesuai waktu penerbitan artikel oleh EY – Y Pan), belum ada solusi lengkap untuk pelaporan XBRL. Dalam kasus ini, waktu dan biaya pelaporan XBRL sering melampaui antisipasi lembaga regulator.
6. Mengantisipasi kebutuhan pemeliharaan (anticipating manintenance needs) – Pemeliharaan data dan metadata sering terlewat atau sangat dianggap enteng, padahal proses ini adalah kegiatan XBRL yang paling sulit dan mungkin paling penting.
7. Memetakan data (mapping data) – Penandaan (tagging), terutama yang sangat unik bagi suatu laporan keuangan suatu perusahaan, menghabiskan waktu untuk dieksekusi. Pemetaan data ke taksonomi XBRL merupakan suatu yang bersifat ”art” dan ”science” sekaligus.
8. Mengelola ekstensibilitas (addressing extensibility) – Para pelapor cenderung melewatkan fakta bahwa di bawah berbagai regim regulator, mereka juga perlu mengetahui bagaimana mengembangkan (extend) taksonomi pelaporan. Saat ini, masih terdapat ketidakpastian mengenai teknik perluasan (extension) taksonomi XBRL.
9. Menampilkan data (visualizing the data) – Badan regulator yang berbeda mungkin menetapkan mekanisme teknis yang berbeda-beda untuk menampilkan data ke bentuk yang dapat dimengerti manusia sebagai user akhir.
10. Memastikan kualitas (ensuring quality) – Kegiatan terakhir sebelum pelaporan itu sendiri adalah suatu tinjauan menyeluruh terhadap dokumen-dokumen XBRL yang dihasilkan. Proses tinjauan dimaksud melampaui kebutuhan untuk mengindentifikasi tanda-tanda (tags) yang paling tepat. Tinjauan dimaksud harus lebih luas cakupannya, meliputi akurasi, kelengkapan, penampilan data, dan struktur data di dalam XBRL.
Selasa, 20 April 2010
Guru SMA Kami
Kemarin malam HP saya berdering dari nomor tak dikenal. Saya agak sungkan menerimanya, tapi istri memberi nasihat. Siapa tahu penting. Setelah memastikan saya adalah yang dimaksudnya, si penelpon memperkenalkan sebagai teman SMA. Namanya Safaruddin. Agak limbung di awal, saya tiba-tiba diingatkan istri bahwa itu adik Pak Ali Idrus. Seketika ingatan saya kembali. Masya Allah, betapa tumpul ingatan saya mengenai kenangan dua puluh dua tahun silam. Maklum, sudah lama sekali tidak saling kontak.
Kami kemudian bicara banyak, termasuk kerjanya di MUBA, SUMSEL. Nggak semuanya bisa diceritakan kembali di sini, tapi satu topik hangat adalah mengenai rencana reuni akbar. Ya reuni SMA Negeri 11 Palembang untuk semua angkatan. Kebetulan kami generasi pertama. Kalau mau, silakan Anda baca satu fragmen kisah sekolah kami di link ini. Nah, setelah pembicaraan telpon itu, terbetik dalam hati saya alangkah indahnya kalau dalam reuni kami ketemu lagi dengan para guru generasi awal. Saya berjuang keras untuk memanggil ingatan saya. Akhirnya, inilah daftar nama mereka dengan posisinya waktu itu.
Pak Asmawi, kepala sekolah
Pak Ali Idrus, wakil kepala sekolah sekaligus guru PMP
Bu Nur Jasiyah, guru ekonomi dan sosiologi
Pak Nazlimi, guru bahasa Indonesia
Pak Najib, guru bahasa Ingris
Bu Isnaeni Palupi, guru matematika
Bu Nelly Jamilah, guru fisika
Pak Samson, guru biologi
Wah, ternyata susah juga mengingat semuanya. Yang masih di ujung lidah adalah guru agama, guru kimia, dan guru olahraga. Padahal dengan guru agama dan olahraga masih jelas terpampang beberapa momen di mata saya. Misalnya saya gelagapan disuruh baca Al Qur'an oleh guru agama. Waktu disuruh membacakan hafalan surat pendek juga payah. Akhirnya beliau dengan becanda memukul paha saya. Suatu pukulan di hati sesungguhnya.
Dengan guru olahraga, yang terbayang jelas adalah ketika beliau memberi aba-aba pada kami di jalan sepi untuk mengurangi kecepatan. Saya sebagai komandan regu gerak jalan langsung paham. Hasilnya kami juara dua se-kotamadya. Dengan guru-guru yang saya ingat namanya, banyak juga kenangan. Misalnya, saya sering disuruh memeriksa tugas kelas bawah oleh Bu Nelly Jamilah. Waktu saya kuliah di Bandung, kami pernah ketemu sekali. Pak Najib pernah mau menceramahi saya panjang lebar mengenai akhlak saya, eh kepotong karena ada berita sedih.
Ah, udah dulu. Kayaknya pengen langsung reuni aja. Jadi nama guru-guru yang belum saya ingat bakal kembali lagi. Paling asyik kalau bisa ketemu.
Baca sepenggal kisah sekolah kami di:
http://ypanca.blogspot.com/2010/01/sekolah.html
addthis
Kategori
- bahasa-matematika (23)
- demokrasi-politik (51)
- ekonomi-bisnis (71)
- lebih personal (42)
- manajemen (111)
- nilai-nilai (137)
- review buku (68)
- sistem informasi (37)

