Copy and Paste

Anda bebas mengambil content blog ini, tapi mohon sebutkan alamat blog ini dalam tulisan Anda.

You are free to copy the content of my blog. However, please let your readers know my blog as your source.

Sabtu, 27 Desember 2008

Belajar di Jalur Selatan Akhir 2008

Tulisan ini saya buat di Solo. Koneksi 3G XL cukup asyik deh. Tapi jangan besar kepala dulu ya XL, soalnya beberapa waktu yang lalu ayahanda saya ganti ke yang lain gara-gara waktu itu banyak masalah koneksi. Oya, kami sekeluarga ke Solo ini untuk menjenguk anak kami yang mondok di Assalaam. Kata ibunya, saya yang kangen, hehehe. Nggak apalah, yang penting kami sekeluarga bisa kumpul, walaupun cuma sebentar dalam canda, obrolan, dan makan bareng. Becanda sih boleh. Ngobrol apa lagi, boleh banget, tapi dua anak kami yang masih balita seperti biasa butuh pengendalian yang luar biasa. Keluar deh jurus-jurus guru TK, termasuk kisah-kisah dan ungkapan mulia, yang saya pelajari otodidak. Nah, kami berangkat dari Bekasi hari Kamis, jam 6 pagi. Tiba di Solo tepat jam 10 malam. Lho koq lama sekali? Ini dia sebabnya.

Jalur selatan adalah jalur favorit saya. Pertama karena lewat Bandung, yang bisa ditempuh full lewat tol. Kedua karena memang lalu lintasnya nggak terlalu ramai. Berharap sudah tiba di Solo kira-kira jam 7 malam, saya kecele juga. Liburan cukup panjang membuat banyak orang bepergian. Macet. Ngantri. Tidak di sepanjang jalan sih. Menuju Karawang-Cikampek dari Bekasi, tanggal 25 Desember pagi itu, ramai lancar, jadinya nggak bisa ngebut. Dari km 57 ke Bandung-Cilenyi asyik-asyik aja. Bisa di atas 100 km/jam. Lepas dari Bandung, Nagrek kembali jadi leher botol. Penyempitan jalan. Masih OK sih, soalnya jalannya cukup mulus. Terus sampai ujung Jawa Barat kondisinya relatif normal.

Di PringSewu berhenti kami buat makan siang. Wah, pengunjungnya bener-bener membludak. Sampai-sampai seorang calon pembeli membatalkan niatnya makan di situ karena harus ngantri. Dia dan rombongan berharap seperti biasa. Langsung duduk, lalu pesan makanan. Dalam kondisi ramai sekali, PringSewu menerapkan sistem fast-food. Pengunjung diminta antri, kemudian memilih makanan yang sudah siap saji. lalu bayar, dan baru duduk. Menunya sih menu yang biasa. Cuma manajemen PringSewu ingin meningkatkan turnover, mempercepat cycle pelayanan. Walaupun berisiko langganan tertentu kabur, pilihan sistem fast-food di hari raya adalah keputusan yang cerdas. Seolah-olah semua pelanggan yang datang ingin dilayani semua. Secepatnya. Lumayan meningkatkan revenue.

Total waktu berhenti di PringSewu sekitar satu setengah jam. Ngantrinya yang lama, tapi istri saya bilang nggak apa. Menurut temannya kalau lewat jalur utara waktu hari raya bisa lebih parah lagi. Setelah shalat dzuhur dan ashar yang kami jama'-qoshor, kami mulai lagi perjalanan. Mulai deh jalannya berlubang-lubang. Saya coba berkelit-kelit sambil memacu kendaraan. Hasilnya banyak yang protes. "Woi, di belakang sini ada penumpang, bukan cuma barang!" Ya, pilihan terbaik adalah jalan pelan-pelan aja. Setelah Majenang, baru jalan agak mending. Sebenarnya di sekitar Majenang, ada jalanan yang telah diperbaiki, tapi sepenggal-sepenggal. Masuk Kabupaten Banyumas, kembali kendaraan bisa dipacu. Sebenarnya jalannya nggak mulus-mulus amat.

Jalan yang mulus memang dambaan kita semua. Waktu tempuh jadi singkat. Kendaraan awet. Terlebih lagi tingkat stres kita nggak perlu terlalu tinggi. Lihat artikel saya sebelumnya, Jalan Bekasi Bebas Korupsi. Kita berharap pemprov dan pemkab dapat memberikan perhatian serius untuk membenahi jalur selatan ini. Lalu apakah jalan mulus sudah cukup? Nggak juga. Kalau macet, waktu tempuh jadi lebih lama, bahan bakar boros, dan stres meningkat lagi. Ini terjadi di Kebumen. Begitu mau masuk kota, kita diberi alternatif jalan bypass ke kanan. Ada beberapa lampu lalu lintas yang jadi biang kerok kemacetan di sini. Menurut saya, polisi seharusnya bisa mengatur durasi waktu lampu hijau dan lampu merah, agar antrian minimal. Nggak tahulah apakah sudah diteliti, tapi feeling saya lampu hijau yang terlalu singkat membuat kelembaman kendaraan, terutama yang gede-gede, memaksa antrian bergerak perlahan. Mungkin yang paling baik, sekali lampu hijau durasinya lima menit. Bagaimana dengan lalu lintas lokal? Ya, nunggu lima menit di jalan bypass kayaknya nggak terlalu masalah. Mungkin sepuluh menit juga nggak apa (maaf ya masyarakat Kebumen - Y Pan).

Perjalanan sisanya relatif lebih nyaman. Kewaspadaan aja yang perlu ditingkatkan, karena pasti sudah capek kan dan maghrib sudah lewat. Untuk menenangkan suasana gaduh di dalam mobil, saya mulai membacakan hafalan-hafalan saya. Anak-anak yang sudah hafal, boleh ikutan. Ajaib! Dua balita itu berhenti bertengkar. Mereka seolah ikut diliputi ketenangan yang luar biasa. Kalau mereka bertanya, "Ayah, masih lama ya?" Saya nasihati mereka, "Banyak-banyak berdo'a Nak, biar kita cepet sampe." Sampai di Yogya sekitar jam 9.30. Selanjutnya ke Solo... ya asyik-asyik saja. Banyak pelajaran yang bisa diambil! Kalau Anda nggak suka jalan-jalan, coba deh jalan-jalan dengan keluarga. Mudah-mudahan Anda bisa menikmati rekreasi sambil belajar. Belajar di jalan.

2 komentar:

apiqquantum mengatakan...

Hmmm...
kebersamaan yang begitu indah.

Salam,
angger

Y Pan mengatakan...

Do'akan ya Pak Angger agar makin indah.

addthis

Live Traffic Feed