Pernah seorang anggota DPRD mengatakan pada saya bahwa ada peraturan-peraturan daerah yang tidak diberlakukan oleh pemda, entah sengaja atau tidak. Padahal kan pemerintah adalah pihak eksekutif, yang mengeksekusi. Kalau yang berwenang nggak mengeksekusi, repot juga yah. Mestinya anggota legislatif, termasuk yang ngobrol dengan saya itu, memberi teguran, tapi mungkin yang berniat menegur merupakan minoritas. Nggak ngefek, katanya. Nah, berhubung hampir setiap hari saya naik KRL, tentu peraturan yang terkait dengannya sering menarik perhatian saya. Contohnya yang ini.
Memang banyak KRL AC Jabodetabek yang asalnya dari Jepang. Mungkin malah semuanya. Sebagaimana negara maju layaknya, Jepang menghormati dan memberi kemudahan kepada orang-orang lemah: sakit, cacat, tua, hamil, dan membawa anak kecil. Secara umum perilaku pengguna KRL sudah bagus. Kalau ada orang membutuhkan tempat duduk di tempat khusus yang disediakan, mereka akan berikan tempatnya. Ini terutama kentara sekali kalau orang hamil yang mengklaim. Susah ngebantahnya kan? Orang perutnya yang makin berat menegaskan bahwa memang dia lebih berhak.
Hanya sedikit saja orang yang kadang tidak mengacuhkan aturan tempat duduk khusus itu. Mungkin orang seperti itu sedang sangat kelelahan, tertidur pulas, terus nggak sadar kalau ada yang lebih berhak datang mengklaim. Bisa juga emang orangnya payah dan perlu ditindak. Apapun, yang paling berwenang menindak adalah petugas KRL berpakaian biru itu. Mereka sudah lebih baik sekarang. Kadang ada yang nggak beli tiket 'digelandang' dan/atau didenda sebagai sanksinya. Akan tetapi, kejadian di tempat khusus belum pernah saya lihat terjadi. Termasuk saya sendiri pelakunya hari ini.
Saya nggak kebagian tempat duduk, lalu berdiri di dekat tempat duduk khusus, sebagaimana foto di atas. Di tempat khusus itu, kebetulan ada aturan khusus pula agar HP dimatikan. Dugaan saya tempat ini biasanya diduduki orang yang dibantu alat bantu jantung atau alat bantu kesehatan lainnya, yang bisa terganggu oleh sinyal HP. Itu di Jepang! Di Jabodetabek kayaknya orang seperti itu kecil kemungkinannya menggunakan transportasi umum seperti KRL. Maksudnya? Peraturan agar HP dimatikan di tempat itu sebenarnya nggak relevan. Saya buktinya. Menggunakan HP yang aktif untuk menulis dan mengambil foto di atas, nggak ditegur petugas yang lewat di depan hidung saya.
Apa sih urgensinya mempermasalahkan ini? Ya... mungkin dari hal kecil kita bisa mulai melakukan perbaikan. Kalau ada peraturan seolah remeh bahkan tidak relevan TIDAK dieksekusi dan di-enforce sama sekali, orang dapat terdidik tanpa sengaja untuk tidak menghargai dan tidak taat aturan. Akumulasi perilaku meremehkan aturan dalam masyarakat telah terjadi dan kita merasakan sendiri dampaknya. Gimana dong? Buat PT KA, mending aturan mematikan HP itu dihapus aja deh. Gimana? Pihak berwenang lainnya? Sama! Pasang mata, buka telinga, terutama di jalan raya.
Amati lalulintas, terutama di perempatan yang seharusnya punya wilayah bebas yang nggak boleh diblok. Bisa deadlock. Lihat selokannya. Berubah fungsi jadi tempat sampah nggak? Di tempat-tempat antrian juga. Masih banyak nggak yang suka nyerobot? Di TK diajarin ngantri, tapi setelah dewasa diajarin nyerobot, nggak perlu antri. Di Monas, masih ada nggak yang (maaf) kencing di bawah pohon? Banyak deh hal-hal kecil yang bisa diperbaiki. Kalau yang besar kan susah. Mari sama-sama belajar. Paling apes di rumah kita masing-masing. Jangan biarkan anak-anak belajar dari tontonan yang nggak bener. Jangan biarkan anak-anak tumbuh tanpa aturan yang baik.
Kamis, 12 Juni 2008
Aturan yang Dicuekin
Selasa, 10 Juni 2008
Syarat Keberhasilan Individu
Jum'at lalu khotbah di masjid kantor diisi tokoh ekonomi syariah Adiwarman Karim. Beliau mengatakan ekonomi syariah tidak akan berhasil tanpa tiga syarat: jujur, cerdas, dan manfaat yang sebesar-besarnya. Retorika seperti mampu membuat mata mengantuk menjadi terbuka. Luar biasa. Tidak akan sukses ekonomi syariah, bila dikatakan oleh beliau, pasti punya makna yang dalam. Maka saya khusu' mengikuti penjelasan selanjutnya. Jujur, cerdas, dan manfaat kemudian menjadi paku pengikat atensi, minimal buat saya. Nggak tahu dengan yang lain. Mungkin ada juga yang bosan terus ketiduran, tapi tidak saya.
Jujur dibagi dua oleh beliau. Jujur kepada Allah dan jujur kepada sesama. Masing-masing diberikan contoh dari kehidupan Rasulullah SAW. Ah, ternyata pesan agama bisa disampaikan dengan bahasa awam sekaligus ilmiah. Bagi saya ini menunjukkan Islam memang rasional dan ilmiah. Sembari menceritakan teladan rasul yang digelari Al Amin, bahkan sebelum menjadi rasul, Pak Adiwarman mengatakan dua sifat kejujuran tersebut berturut-turut adalah shiddieq dan amanah. Saking amanahnya Muhammad muda, hingga juragan kaya Siti Khodijah sanggup mempercayakan dagangannya ke beliau ke tempat yang jauh dari pengawasan, Negeri Syam.
Cerdas dibagi dua juga oleh Pak Adiwarman. Cerdas menghadapi situasi dan cerdas dalam mempengaruhi (saya lebih senang kata mempengaruhi daripada memengaruhi - Y Pan, lihat artikel sebelumnya Mempesona atau Memesona) orang lain. Contohnya adalah ketika Muhammad muda dikerjain oleh pedagang Quraisy lainnya. Mereka hendak membuktikan dengan kompak membanting harga, dagangan Khodijah nggak bakalan laku. Al Amin tentu tidak mungkin mengarang alasan kepada Khodijah atas kerugian yang sudah di depan mata. Dalam situasi seperti ini, Sang Terpercaya menunjukkan kecerdasannya. Beliau tahu demand tetap lebih tinggi dari supply, sehingga tenang-tenang aja. Begitu barang dagangan pedagang Quraisy lainnya habis terjual rugi, konsumen membeli dagangan Khodijah dengan harga normal. Gemparlah Mekkah. Bagaimana mungkin dalam rombongan dagang ke Negeri Syam, semua orang rugi kecuali dia?!
Cerdas menghadapi situasi disebut Pak Adiwarman sebagai fathonah. Aha, cerdas yang kedua tentunya tabligh. Mudah untuk menduganya karena yang dari awal dibicarakan dalam khotbah tidak lain adalah sifat Rasulullah SAW, yaitu yang biasa saya hafal dengan singkatan STAF atau FAST. Ketika memberikan contoh sifat tabligh beliau, Pak Adiwarman menceritakan kisah seorang pemuda penzina, penjudi, dan pemabuk yang berniat mengikuti Rasulullah SAW dengan syarat tetap diperbolehkan berzina, berjudi, dan mabuk-mabukan. Kalau kita, mungkin udah jengkel banget sama pemuda itu. Tidak dengan beliau. Boleh asalkan nggak boleh dusta. Ada syarat juga. Selanjutnya Anda pasti tahu kan, hingga akhirnya si pemuda meninggalkan kebiasaannya.
Syarat yang ketiga pun dapat saya tebak dalam jalannya khotbah itu. Rahmatan lil 'alamin. Ketika seorang sahabat mengikuti Rasulullah SAW secara harfiah dalam berdagang, tidak mengurangi timbangan, beliau justru mengkoreksi (bukan mengoreksi) dengan memberi nasihat berikut. Untuk melawan praktik curang pedagang tertentu, justru pedagang muslim sahabat Rasulullah harus memberikan nilai lebih dengan harga yang sama. Sederhananya: justru nambahin timbangan. Konsumen tentu akan keep coming back. Praktik curang justru nggak laku. Ini terbukti di pasar Madinah hanya dalam tempo yang relatif singkat. Nah, gitu deh, secara keseluruhan, khotbah Pak Adiwarman menurut hemat saya sangat baik dan tepat cara penyampaiannya ke komunitas masjid kantor tempat saya bekerja.
Selanjutnya, apakah shiddieq, amanah, fathonah, dan tabligh, serta rahmatan lil 'alamin hanya berlaku untuk keberhasilan ekonomi Islam? Tentu tidak. Syarat-syarat ini berlaku untuk individu, keluarga, organisasi, ekonomi, hingga masyarakat atau ummat, dan... nilai-nilainya bersifat universal. Pagi tadi saya mendengarkan audiobook berjudul The Speed of Trust, karya Stephen MR Covey, putra Stephen R Covey. Melalui penelitian yang bersifat empiris, nilai-nilai luhur yang bersifat universal tersebut di antara nilai-nilai luhur lainnya dielaborasi. Kalau kita baca buku-buku Stephen R Covey, Jim Collins, Aa' Gym, Ary Ginanjar Agustian, dll, kita pun dapat menemukan hal yang sama. Agar sukses, kita sebagai individu harus jujur, cerdas, dan memberi sebesar-besar manfaat. Saya? Masih belajar!
Rabu, 04 Juni 2008
Anggota Roker Naik Bus
Karena kuatir lalulintas kereta ke arah Bekasi masih tersendat, kemarin sore saya pulang dari kantor naik bus (Lihat artikel Roker Bekasi Nelangsa dan Roker Bekasi Masih Terhambat). Jam 17.30 saya sudah nungguin bus nomor 52 jurusan Bekasi. Dulu bus 52 makanan saya sehari-hari, tapi sejak mengenal ni'mat naik KRL, jarang banget deh saya menggunakannya. Alasan lain karena saya ada janji pertemuan di kawasan Jati Mekar, Pondok Gede. Pertemuan habis Isya' dan saya berencana turun di Jati Bening, makan, terus langsung ke tempat pertemuan.
Alhamdulillah, tanpa menunggu lama, bus 52 yang saya nantikan muncul. Belum penuh. Saya mengambil tempat duduk yang masih tersedia. Beda dengan pengalaman dulu, saat masuk bus saya lega dengan aroma parfum jeruk yang semerbak. Sejak kapan bus, walaupun katanya PATAS AC, pake parfum begini? Apa cuma kebetulan saja bus 52 yang saya naiki harum begitu. Yang lain nggak tahu.
Sampai Semanggi, saya duduk enak sambil gelisah karena ada seorang perempuan muda tepat di samping saya berdiri, nggak kebagian tempat duduk, dan terjepit di antara laki-laki. Lalu saya berikan tempat duduk saya dan giliran saya yang kejepit. Nggak apa lah. Lagian dari Semanggi ke Jati Bening nggak berapa lama. Plong juga waktu sampai. Naik ojek ke Restoran Sari Bungo, tahulah saya tarifnya sudah mesti naik. Kasihan juga mereka berkompetisi mengumpulkan rezeki dalam kondisi ekonomi nasional, bahkan dunia, yang payah.
Sebenarnya saya jarang sekali makan di luar rumah sendirian, kecuali kalau lagi dinas luar kota sendirian. Iseng saya mampir di restoran di Jalan Caman itu. Kan disediakan tempat sholat juga. Walau waktu sudah mepet, saya tetep maghriban. Terus makan. Sendirian. Ditawari kepala ikan kakap, saya terima juga. Ikan bilih / bilis yang disediakan menggoda juga. Rasa dan pengalaman makan di situ Ok lah. Yang nggak OK adalah harganya, tapi gengsi dong kalau kelihatan kaget. Saya berikan dua lembar 50 ribuan, kemudian menerima kembalian sekitar tiga lima.
Setelah makan, saya telpon Achmadi rekan saya, soalnya saya mau nebeng ke tempat pertemuan. Di pertemuan, kami diskusi panjang lebar mengenai kerangka aktivitas bersama demi kebaikan dan perbaikan. Wah, hebat banget. Gaya. Ah, bukan begitu. Kata Om Covey, jadilah bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Kasus FPI sempat hangat juga dibicarakan. Bias informasi dari media perlu disadari. Pulangnya ikut Achmadi lagi yang mau berangkat sekolah S2 ke Australia. Sampai di depan Giant, Bekasi Barat, dilanjutkan taksi. Bayar 12 ribu.
Pagi ini, H+2 setelah kebakaran Stasiun Cakung, kembali saya jadi anggota roker sejati. Berangkat dari Bekasi tepat waktu. Sampai di Manggarai jam 7.07, di Gambir 7.21. Lebih baik dari kemarin. Di Manggarai, nggak banyak kereka yang ngantri. Sekali lagi kita harus puji PT KA yang cepat tanggap mengatasi keadaan tidak normal. Perlu dipuji juga dia karena sudah mengganti poster iklan dalam Bahasa Inggris yang bermasalah (lihat artikel Don't Don't I Wrong). Sekarang iklannya jadi gini atau dikosongin.
Selasa, 03 Juni 2008
Roker Bekasi Masih Terhambat
Setelah kemarin Stasiun Cakung terbakar habis (lihat artikel sebelumnya, Roker Bekasi Nelangsa), hari ini KRL Bekasi-Tanah Abang dan Bekasi-Jakarta telah beroperasi. Aliran listrik untuk KRL telah berfungsi sebagaimana biasa, namun kelihatannya masih ada gangguan persinyalan karena perangkatnya di Stasiun Cakung ludes. KRL Bekasi-Jakarta lewat Gambir yang saya tumpangi berangkat tepat waktu, pukul 6.30, tapi lama terhambat sebelum masuk Klender.
Tanda-tanda KRL belum sepenuhnya normal telah terlihat sejak saya memasuki Stasiun Bekasi. Tidak seperti biasa, calon penumpang agak sepi. Mungkin sebagian memilih moda angkutan lain untuk ke Jakarta hari ini. Melaju hingga Kranji, KRL terasa normal. Di Kranji, sedikit sekali penumpang yang naik. Setelah itu, lebih setengah jam hanya untuk mencapai Klender. Di sini, tidak ada penumpang yang naik, sementara waktu menunjukkan pukul 7.35.
Setelah Klender, KRL melaju cukup lancar, melewati Cipinang, dan akhirnya masuk Jatinegara, 7.42. Di dalam KRL sejak tadi banyak penumpang yang sibuk menelepon atau mengirim SMS untuk memberi khabar terlambat tiba di kantor. Saya sendiri memilih tidur sebentar, lalu menulis artikel ini. Di Jatinegara, terlihat banyak kereta yang ngantri menunggu giliran berangkat, baik yang mau ke timur maupun ke barat. Sebetulnya, waktu antri di Jatinegara tidak terlalu lama, tapi efeknya ke kereta yang mau memasuki Jatinegara sangat signifikan.
Memang nggak ada yang mau kena musibah. Stasiun Cakung juga nggak pernah kita harapkan terbakar. Si pemilik warung sumber kebakaran juga tidak ingin ini terjadi. Modal jualannya tentu habis ludes ikut dilalap api. Cuma antisipasi agar hal semacam ini tidak terulang, apalagi terhadap fasilitas publik, perlu ditingkatkan. Terlepas dari kemampuan antisipasi yang perlu diperbaiki, perlu diapresiasi respon PT KA terhadap situasi tak terduga semacam ini yang menurut hemat saya cukup baik.
Akhirnya sampai juga di Gambir, setelah tadi di Manggarai jam 7.52. Saat ini pukul 8.05. Artinya kami terlambat kurang lebih satu jam. Wah... lama juga yah. Buat saya artinya pulang dari kantor nanti harus lebih sore, padahal rencananya mau pulang awal, soalnya ada acara. Apa boleh buat. Nanti sore pun sudah terbayang waktu tempuh ke Bekasi akan lebih lama. Mudah-mudahan rekan-rekan pertemuan nanti malam maklum dengan situasi ini. Insya Allah, saya tetap datang walaupun terlambat.
Senin, 02 Juni 2008
Roker Bekasi Nelangsa
Pagi ini Senin seperti biasa, saya dianterin istri tercinta ke Stasiun Bekasi buat ngantor. Rani yang sudah selesai ujiannya ikutan nganter. Biasanya cuma Ahmad. Kadang Hanif juga. Waktu melintasi jalan tol, wow, antriannya luar biasa, seperti biasa tiap Senin pagi. Mendekati stasiun, koq nggak biasa. Macet. Sempat heran, sampai ke depan loket. Ternyata roker yang menumpuk di stasiun pada keluar lagi. Apa pasal?
Kereta termasuk KRL ternyata tidak dapat melintasi Cakung, karena stasiunnya terbakar. Pengatur sinyal nggak berfungsi. Yang lebih parah, aliran listrik untuk KRL tidak berfungsi. Belakangan, kereta berlokomotif dapat melintas, tapi ngantri dan super lambat, sementara KRL tetep nggak bisa. Bukan hanya lalulintas kereta lokal Bekasi-Jakarta yang terganggu, tapi juga kereta api dari dan ke luar kota. Kasihan juga pengguna jasa kereta api, termasuk saya dan teman-teman sekantor. Ini nih gambaran nelangsanya.

Iseng-iseng saya juga merekam pengumuman dari petugas sekitar pukul 6.45, berikut ini.
Walaupun sekali-sekali ada gangguan seperti ini - terakhir kali waktu banjir - saya berpendapat modus angkutan umum KRL tetap yang paling top. Hemat bahan bakar. Itu nomor satu. Apalagi ketika harga BBM terus menggila. Kemudian, bebas macet. Otomatis bebas stres. Bila pengurus kawasan Jabodetabek serius membenahinya, saya yakin semakin banyak warga yang akan menggunakannya. Manfaat buat semua jadi makin besar.
Hari ini, untuk sementara operasi KRL terganggu. Mudah-mudahan cepet beres. Satu catatan lagi terkait dengan penyebab kebakaran ini. Menurut laporan radio, warung deket Stasiun Cakung adalah sumber api. Kompornya meledak, katanya. Ini yang mesti ditertibkan. Fasilitas publik seperti stasiun, menurut hemat saya, nggak boleh ditempelin warung. Tingkat keamanan stasiun, juga kebersihannya, perlu jadi prioritas perhatian PT KA dan pengurus kawasan.
addthis
Kategori
- bahasa-matematika (23)
- demokrasi-politik (51)
- ekonomi-bisnis (71)
- lebih personal (42)
- manajemen (111)
- nilai-nilai (137)
- review buku (68)
- sistem informasi (37)

