Copy and Paste

Anda bebas mengambil content blog ini, tapi mohon sebutkan alamat blog ini dalam tulisan Anda.

You are free to copy the content of my blog. However, please let your readers know my blog as your source.

Sabtu, 13 November 2010

Hanya Khutbah Biasa

Shalat Jum’at kemarin, seperti biasa kalau nggak dinas atau libur, saya ikuti di masjid kantor. Khotibnya Ustadz Muchlis Abdi. Walaupun belum pernah berguru langsung kepada beliau, saya menganggap beliau salah satu guru saya (beliau belum tentu mengakui saya sebagai murid sih, tapi nggak apa – Y Pan). Karena mendekati hari Arafah, topik khutbah seperti biasa penjelasan mengenai keluarga Ibrahim AS. Sudah berkali-kali mendengar khutbah seperti itu, saya pun berpikir ini akan menjadi suatu khutbah biasa.

Sebelum menceritakan kisah keluarga Ibrahim, Ustadz Muchlis memaparkan bahwa ibadah haji adalah satu-satunya ibadah yang bersifat internasional dan terikat dengan tempat tertentu. Beliau menyampaikan bahwa Allah mendesain ibadah haji seperti itu antara lain untuk menjadi contoh nyata bagi seluruh umat manusia perihal akibat yang baik bagi orang-orang yang baik.

Kalau Anda membaca artikel saya sebelumnya, Yang Belum Kebaca dan Hebatnya Pikiran, yang terinspirasi the Black Swan agar kita skeptis terhadap narasi sebab akibat, mohon jangan menganggap saya tidak yakin dengan ajaran agama saya sendiri. Berbeda mungkin dengan Dr Taleb, saya skeptis dengan perkataan siapa saja, tapi tidak jika ia bersumber dari RasululLah SAW, al-Amin.

Nah, kembali ke khutbah, Ustadz Muchlis menjelaskan lebih lanjut dengan menapaktilasi teladan keluarga Ibrahim, para peragu yang mengatakan ajaran al-Qur’an hanya teoritis dan hanya bagus dalam lembaran-lembaran tulisannya ditantang dengan bukti-bukti nyata di depan mata. Pergilah kamu ke Mekkah, maka kamu akan melihat bukti-bukti agung itu. Memang sih, kita masih tetap bisa menolak., tapi itu nggak masalah. Tidak ada paksaan dalam agama (keyakinan).

Demikianlah kisah dimulai. Ternyata tidak seperti khutbah biasa mengenai keluarga Ibrahim, khutbah ini benar-benar membawaku ke suasana penghayatan. Entah karena cara bertuturnya atau karena latar belakang akademisnya atau karena memang tingkat ruhiyah sang penyampai pesan!

Dalam usia yang sudah senja. Rumah tangga Ibrahim belum juga dapat tertawa lepas bersama kehadiran anak-anak yang dicintai. Bukan karena anak-anak itu akan membuktikan kenormalan beliau sebagai laki-laki, tetapi karena anak-anak itu diharapkan dapat melanjutkan perjuangan. Dengan persetujuan istrinya yang pertama, Nabi Ibrahim menikahi seorang perempuan lagi yang masih muda. Karena kehendak Allah jua, setelah itu hamil keduanya. Betapa senang hati beliau.

Tiba saatnya, istri pertama Nabi Ibrahim melahirkan seorang anak laki-laki. Anak yang dinanti-nanti. Anak yang membuat keluarga ini dapat tertawa senang. Karena itu, ia diberi nama Ishak. Menyusul berikutnya, istri kedua melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ismail, yang bermakna doa yang dipenuhi. Situasi kemudian berubah. Terjadilah ketegangan di dalam keluarganya.

Setelah mendapatkan instruksi dari Allah, Nabi Ibrahim membawa istri keduanya dan putranya Ismail pergi dari rumah di Kanaa, Palestina bagian selatan, menuju ke arah selatan. Berjalan berbulan-bulan, akhirnya beliau mendapat wahyu agar berhenti di suatu tempat bernama Bakkah, yang bermakna tempat penuh duka. Di tempat itu tidak ada air sedikitpun. Tidak ada tanda kehidupan sama sekali.

Ustadz Muchlis tidak menceritakan detil mengenai dialog panjang penuh kesedihan dan perpisahan Ibrahim dengan keluarganya di Bakkah, tetapi tetap saja kata-katanya membuat sulit linangan air mata. Hanya ketika istrinya memahami bahwa ini wahyu Allah Swt, perpisahan tersebut bagaimanapun beratnya terjadi juga. Ustadz tidak menceritakan bagaimana akhirnya sumur Zam Zam muncul di kaki Ismail, tapi cukuplah di benak saya sudah ada cerita itu dan menambah kepedihan perasaan ditinggal di lembah duka.

Sepuluh tahun berlalu. Nabi Ibrahim tidak turut membesarkan Ismail, tapi pada saat itu diterimalah wahyu untuk mengunjungi keluarganya di Bakkah. Di pihak lain, karena tidak mungkin hanya mengandalkan air Zam Zam untuk bertahan hidup. Ismail kecil dan ibunya telah terbiasa beredar di kawasan sekitar Bakkah, sekarang Mekkah. Hingga mereka biasa berada di Arafah. Di sinilah Nabi Ibrahim bertemu kembali dengan keluarganya.

Betapa bahagia keluarga ini bersatu kembali Tanpa mengikuti tumbuh kembang anaknya, Nabi Ibrahim mendapati anaknya sudah remaja dan berperilaku sholeh. Sungguh suatu ni’mat luar biasa dari Tuhannya. Namun tiba-tiba di Muzdalifah, Nabi Ibrahim mendapat wahyu untuk menyembelih anaknya. Kalau kita disuruh melakukan hal seperti ini, bisa dibayangkan betapa banyak deraian air mata mengalir! Alternatifnya, betapa dahsyat perseteruan dalam keluarga! Berbeda dengan kita, Ibrahim adalah seorang RasululLah.

Nabi Ibrahim mendekati anaknya dan menceritakan di dalam mimpinya ia menyembelih anaknya itu. Nabi Ibrahim tentu sudah siap menerima jawaban penolakan dari anaknya, karena ini memang sangat berat. Tanpa disangka, Ismail menjawab, ”Lakukanlah Ayah apa yang diperintahkan itu, insya Allah engkau dapati aku termasuk orang-orang yang sabar.” SubhanalLah!

Berdua, mereka kemudian mengajukan hal ini ke Ibunda Ismail. Kali ini Nabi Ibrahim pun telah siap menerima jawaban penolakan dari istrinya. Wong dia nggak merasakan suka duka membesarkan anak ini. Tanpa disangka, Ibunda Ismail juga membenarkan Nabi Ibrahim. Begitulah seorang Rasul dan keluarganya. Ismail mengajukan tiga permintaan terakhir. Ibundanya juga mengajukan satu permintaan.

Ismail meminta agar pedang yang digunakan untuk menyembelih benar-benar diasah setajamnya agar tidak terlalu sakit, walaupun tetap sakit. Kemudian, yang kedua, ia meminta matanya ditutup agar sang ayah tidak merasa iba dan ragu. Yang terakhir, baju yang dikenakan yang akan berlumuran darah dimintanya untuk diserahkan ke Ibundanya sebagai kenang-kenangan. Oh, betapa mengharukan! Sementara itu, Ibunda Ismail meminta diri untuk tidak mengikuti prosesi penyembelihan. Maka tinggallah ia di Muzdalifah. Di dalam manasik, kita mabit di sini sebelum ke Mina.

Nabi Ibrahim dan Ismail (yang kemudian menjadi salah seorang RasululLah juga dan kemudian melahirkan Nabi Muhammad SAW) pergi mencari tempat pelaksanaan penyembelihan. Di jalan mereka menemui hambatan dari setan yang kemudian mereka hadapi secara fisik dengan melemparinya. Tempat kejadian itu sampai sekarang menjadi situs jamarat, tempat jemaah haji melempari setan! Akhirnya ditemukan juga lokasi yang sesuai di Mina.

Mata Ismail sudah ditutup, pedang sudah dibuka dari sarungnya, pelipis Ismail telah diletakkan di tanah... oh... Nabi Ibrahim meletakkan pedangnya di tempat yang paling tepat agar darah deras mengucur yang akan menyebabkan kematian Ismail... oh... Nabi Ibrahim menggerakkan tangannya dan mengucur deraslah darah... oh... Nabi Ibrahim masih memejamkan matanya karena tidak tega... oh...

Bagaimana kalau saya yang disuruh melakukan ini terhadap anak yang dinanti-nanti? Ya Allah, jadikanlah aku mencintai anak-anakku karena Engkau, bukan hanya karena mencintai mereka saja. Ya Allah, jadikanlah aku tidak terlalu mencintai anak-anakku sehingga melampaui cintaku pada-Mu. Padahal aku sangat mencintai mereka... Dan tiap kali aku melihat wajahnya dan rasa cinta itu membuncah, aku bersyukur dan berdo’a agar cinta itu membawa kami ke surga.

Akhirnya, Nabi Ibrahim mendengar suara gaib yang menjadi klimaks yang mengharukan. Ternyata yang disembelihnya adalah seekor Qibas yang gemuk, sementara Ismail berdiri di depannya tanpa kurang suatu apapun. Allahu akbar wa lilLahi l-hamd.

Heran... walaupun sudah berulangkali mendengar kisah ini, selalu saja keharuan tidak dapat ditahan. Bahkan kali ini, seperti yang saya katakan di atas, entah karena cara bertuturnya atau karena latar belakang akademiknya atau karena tingkat ruhiyah sang penyampai pesan, keharuan kali ini lebih mendalam. Ya Allah selamatkanlah keluargaku dan masukkanlah kami ke dalam surga-Mu, amin.

Dengan kondisi ruhiyah yang sangat kondusif, tidak sulit sama sekali untuk menerima suatu pelajaran yang dieksplisitkan oleh Ustadz Muchlis Abdi di akhir khutbah pertamanya. Dalam situasi negeri yang sangat memprihatinkan, kita hendaknya meneladani keluarga Ibrahim. Kalau tidak dapat memperbaiki, minimal jangan membuat kerusakan!

Mengangkat negeri dari krisis yang tidak habis-habis dapat menjadi kontribusi dan upaya kita, tapi kita tidak dapat melakukannya kalau kita masih berada di tataran materi alias kita masih materialistis atau matrek. Kita bisa ikut berkontribusi dalam perbaikan masyarakat hanya jika kita sudah berada di tataran spiritual, seperti keluarga Ibrahim!

* Sebagaimana biasa, setelah shalat, dilakukan pendalaman materi khutbah. Sebenarnya menarik. Ada tiga pertanyaan. Salah satunya mengenai kontroversi penentuan Hari Raya, tapi tulisan ini sudah terlalu panjang...

Baca juga cerita:
Kekuatan Cerita
Qurban Memaknai Syukur
Cerita Jenaka dari kyai yang sedang mendapatkan ujian karena wanita (kita doakan agar masalah beliau segera selesai)

Tidak ada komentar:

addthis

Live Traffic Feed