Laporan wartawan Rakaryan Sukarjaputra
Rabu, 26 Mei 2010 | 06:16 WIB
KOMPAS.com - Ketika memutuskan pergi ke Teheran untuk menembus kebuntuan program nuklir Iran, Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva mendapat cemoohan. Dia dituding sekadar mencari popularitas.
Nyatanya, Lula bersama pemimpin Turki bisa menghasilkan kesepakatan dengan Iran. Inti kesepakatan 17 Mei itu relatif sama dengan yang pernah diusulkan mantan Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Mohammed ElBaradei.
Kesepakatan itu berupa kesediaan Iran mengirimkan 1.200 kilogram uranium dengan kadar pengayaan rendah ke Turki. Setelah setahun Iran akan menerima kiriman uranium kadar pengayaan tinggi untuk bahan bakar reaktor nuklir di Teheran. Usulan IAEA dukungan Barat, negara yang ditunjuk untuk menerima ”titipan” uranium Iran antara lain Rusia.
Muncul komentar menihilkan kesepakatan Brasil-Turki-Iran. Namun, AS dan Barat tertampar dengan hasil diplomasi Lula. China dan Rusia, sama-sama anggota tetap Dewan Keamanan (DK) PBB, menyambut kompromi Iran itu.
Reaksi AS dan Barat bisa ditebak. Kubu ini langsung menyebarkan rancangan resolusi mengenai sanksi-sanksi baru lebih keras terhadap Iran, tidak peduli dengan upaya Brasil dan Turki, sama-sama anggota tidak tetap DK PBB.
Lula, dalam sebuah pidato di Brasilia, ibu kota Brasil, Rabu (19/5), menuduh Barat memiliki sikap ingin menang sendiri soal nuklir Iran.
Hal yang dilakukan Lula menjadi pelajaran diplomasi yang sangat berharga. Sebagai negara yang serius ingin melakukan perubahan di PBB, terutama reformasi DK PBB, terobosan Lula mendukung cita-cita Brasil untuk menjadi anggota tetap DK PBB. Diplomasi Lula juga mencerminkan bagaimana Brasil mengoptimalkan posisinya di DK PBB, berani mengambil risiko berseberangan dengan adidaya tanpa tendensi bermusuhan dengan adidaya.
Peran Rusia
Diplomasi Lula tidak terlepas dari peran Presiden Rusia Dmitry Medvedev yang mengusulkan pendekatan baru pada pertemuan dengan Lula di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi BRIC (Brasil, Rusia, India, China) April lalu. Medvedev mempertajam misinya dengan berkunjung ke Turki dan Suriah.
Terobosan Medvedev itu, seperti ditulis The Hindu, lolos dari perhatian AS dan Barat yang terlalu sibuk meyakinkan Rusia dan China mengenai resolusi sanksi baru untuk Iran itu.
Melalui diplomasinya, Lula sebenarnya juga hendak menelanjangi sikap curang AS dan sekutunya soal nuklir Iran. Bagi Barat, tujuan mereka hanya satu, jangan sampai Iran menguasai teknologi nuklir. Penegasan Iran bahwa pengembangan teknologi nuklir bertujuan damai tidak bermakna.
Presiden AS Barack Obama menelepon langsung Perdana Menteri Turki Recep Erdogan. Obama mengatakan, kompromi terbaru Teheran itu ”tidak menumbuhkan kepercayaan”.
Lula geram. ”Ada sejumlah orang yang tidak tahu bagaimana berpolitik tanpa musuh,” tegasnya.
Rusia pun memperingatkan, pengenaan sanksi sepihak oleh AS dan sekutunya kepada Iran bertentangan dengan prinsip supremasi hukum internasional.
Pada akhirnya, sebagaimana terjadi dengan Iran, negara yang boleh memanfaatkan teknologi nuklir sangat ditentukan oleh AS dan sekutunya. Rusia dan China menolak itu.
Lula semakin membuka mata dunia atas ketidakadilan Barat. Hal itu menonjolkan ketidakberesan dalam sistem politik internasional. Hadirnya kekuatan pengimbang sangat diperlukan pada saat China dan Rusia sering bimbang untuk berperan sebagai pengimbang.
Namun, dari kesepakatan Brasil-Iran-Turki, kita melihat peran menonjol Rusia. Peran penting Rusia dan China sebagai pengimbang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan meski tidak selalu harus dengan terbuka.
Jika Lula berhasil memanfaatkan masalah nuklir Iran untuk mengangkat tinggi citra diplomasi Brasil, Indonesia bisa melakukan hal serupa. Yang diperlukan adalah para pemikir yang siap memanfaatkan permasalahan dunia menjadi peluang diplomasi. Pada saat hard-power bukanlah menjadi keunggulan, kekuatan soft-power (diplomasi) harus dimaksimalkan.
Sumber: http://internasional.kompas.com/read/2010/05/26/06164149/Turki-Brasil.Kagetkan.Barat-7
Rabu, 26 Mei 2010
Turki-Brasil Kagetkan Barat
Selasa, 27 April 2010
Cara Baru Melaporkan SPT
Pernah merasakan ribetnya melaporkan SPT Anda? Pasti Anda merasakannya, tapi bagi Kantor Pajak lebih ribet lagi bagaimana mengolah dokumen SPT yang berjibun. Ah, kan pasti sudah pakai IT. Benar! Dugaan saya pun begitu, tapi kelihatannya ada cara baru yang bakal mengurangi keribetan di sisi Anda dan di sisi Kantor Pajak. Apakah cara pelaporan SPT saja yang mungkin berubah ke depannya. Nggaklah, banyak yang mungkin berubah, seperti pelaporan ke pengawas bursa, pengawas bank, bea cukai, dan lain-lain.
Nah, saya menemukan sebuah dokumen dari Ernst & Young yang saya terjemahkan bagian awalnya berikut ini. Sebagai catatan saja, di banyak negara lain, cara menyampaikan laporan ke pihak berwenang sudah menggunakan cara baru ini lho. Kapan ya di kita?
Sejumlah regulator terkemuka sedang semangat-semangatnya menjual standard teknologi baru – eXtensible Business Reporting Language (XBRL) – sebagai suatu cara untuk mempermudah otomasi pelaporan informasi keuangan, yang diyakini bermanfaat bagi seluruh stakeholder pasar keuangan.
Perusahaan-perusahaan di US, UK, Cina, Jepang, Prancis, Singapura, dan banyak negara lainnya sudah melaporkan informasi ke lembaga regulator atau bursa efek dengan XBRL. Setelah BAPEPAM Amerika dan Kantor Pajak dan Bea Cukai Inggris meliriknya, momentum penerapan XBRL makin bergerak cepat secara global dan ada indikasi kuat bahwa semakin banyak regulator akan mewajibkan penggunaan XBRL untuk pelaporan regulatoris dalam waktu yang tidak terlalu lama. Jelas, XBRL memiliki potensi menjadi standard teknologi global untuk pelaporan informasi keuangan maupun operasional.
Seiring upaya Anda untuk menguatkan fondasi pelaporan perusahaan Anda dengan XBRL, sebaiknya Anda tidak menganggap remeh pentingnya tahap persiapan. Seperti inovasi apapun, pasti terdapat ketidakpastian, terutama terhadap pendekatan awal pelaporan XBRL. Kebutuhan pelapor akan jasa konsultansi dan upaya memastikan keberhasilan tidak 100 persen jelas. Agak burem dikitlah. Beberapa rintangan sudah menanti di depan, termasuk ketakutan akan persyaratan yang demikian ketat dan persepsi bahwa XBRL hanyalah fenomena bertepuk-sebelah-tangan para regulator.
Dalam publikasi ini, kami menyoroti sepuluh tantangan kesiapan bagi pelapor, mulai dari membangun kesadaran (awareness) dan menginisiasi proyek hingga implementasi dan realisasi. Kami berharap para pembaca akan memahami bahwa pelaporan XBRL sesungguhnya lebih rumit daripada yang mungkin dipahami oleh para pendukung atau lembaga yang mewajibkannya. Kami yakin dengan pemahaman dan kesadaran yang benar, melalui persiapan dan perencanaan yang matang, upaya untuk mengikuti standard pelaporan XBRL akan lebih hemat dalam jangka menengah-panjang.
Mengikuti standard XBRL dengan mantap dan percaya diri serta membangun kemampuan yang dibutuhkan dengan tepat akan lebih menyiapkan pelapor dalam menyongsong perubahan sistem pelaporan yang masih akan terus berkembang ke depannya. Kami (EY, yaitu penerbit artikel yang saya terjemahkan sebebas-bebasnya ini – Y Pan) berharap dapat bekerja sama dengan para pelapor untuk membantu mereka menyongsong sistem pelaporan yang baru.
Pengenalan
XBRL adalah standard pelaporan informasi keuangan dan operasional bisnis berbasis Extensible Markup Languange (XML), yang bebas lisensi dan terbuka. Standard ini digunakan untuk pertukaran informasi bisnis secara elektronis. XML adalah sebuah bahasa deskriptif mengenai data yang bersifat universal dan digunakan untuk mendeskripsikan wadah, pengolahan, dan pertukaran data melalui internet.
Ide dasar di belakang XBRL sangat sederhana. XBRL menyediakan penjelasan (dengan tag atau disebut juga metadata) untuk setiap item data yang dilaporkan. Tanda penjelasan tersebut dapat dibaca oleh komputer dan memungkinkan informasi digunakan secara interaktif. Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan sebelumnya yang cenderung menggunakan formulir isian, baik tercetak (manual) atau melalui sistem on-line.
XBRL memungkinkan pertukaran dan analisis data bisnis melalui penyandian informasi atau penandaan yang lebih mempunyai arti buat komputer (karena ada penjelasan atau metadatanya). Oleh karenanya, aplikasi komputer dapat mengolah data XBRL secara ”cerdas” dengan mengenali informasi di suatu dokumen XBRL. Selanjutnya, dengan logik tertentu, aplikasi dapat memilih, menganalisa, menyimpan, dan mempertukarkan data XBRL dengan komputer atau sistem lain serta selanjutnya menyajikan datanya dalam berbagai bentuk kepada pengguna.
Pelapor-pelapor yang berhasil mengikuti tuntutan standard XBRL dari lembaga regulator melakukan persiapan matang jauh hari dalam menghadapi proses perubahan untuk mengikuti standard XBRL. Mengapa demikian? Secara umum, pelaksanaan strategi TI apapun membutuhkan pengetahuan, wawasan, dan perencanaan yang hati-hati. XBRL bukan pengecualian. Lalu bagaimana pelapor memulai kegiatan yang memakan waktu untuk persiapan melaporkan data yang diminta regulator? Padahal argo persiapan tersebut berjalan jauh hari sebelum kegiatan pelaporannya terjadi dan kemudian tetap akan berlangsung seterusnya.
Kami yakin artikel ini dapat membantu Anda menjawab tantangan di atas dan dapat memberikan gagasan yang berguna mengenai XBRL, termasuk beberapa permasalahan pokok dan pertimbangan-pertimbangan terkait dengan penerapan XBRL dalam pelaporan informasi keuangan. Walaupun isu dan pertimbangan yang perlu dipikirkan sebetulnya banyak sekali, kami yakin isu-isu dan pertimbangan yang kami tulis di bawah ini merupakan yang paling mewakili tantangan kesiapan para pelapor; dan jika isu-isu dimaksud dihadapi dengan tepat, tentu hasilnya adalah laporan XBRL yang berkualitas.
CFO dan para eksekutif keuangan senior akan sangat berperan dalam menentukan keseimbangan transisi pelaporan XBRL dari pelaporan sebelumnya. Dalam menjalani perubahannya, mereka akan menghadapi berbagai tantangan teknologi yang akan menguji kesiapan mereka dalam pelaporan XBRL. Oleh karena itu, pertanyaan utama buat CFO dan para eksekutif tersebut adalah, ”Apakah kita benar-benar siap?”
Sepuluh Tantangan Kesiapan XBRL
1. Membangun kesadaran (raising awareness) – Sejumlah besar eksekutif keuangan masih belum paham apakah XBRL itu, bagaimana cara kerjanya, dan problem apa yang dapat diselesaikannya.
2. Memilih saat yang tepat (getting the timing right) – Menyerahkan laporan XBRL secara sukarela atau membuat suatu bentuk ujicoba sebelum XBRL benar-benar diwajibkan terbukti merupakan praktik yang sangat bermanfaat. Para pelapor menemui fakta bahwa semakin meningkat pengalaman dengan XBRL, semakin cepat dan akurat proses pelaporannya. Pada kasus BAPEPAM Amerika, pelaporan XBRL sukarela sebelum diwajibkan dapat menekan risiko yang selanjutnya membuat penerapan pelaporan XBRL berlangsung lebih aman.
3. Mempertimbangkan pilihan implementasi (considering implementation options) – Terdapat beberapa pilihan bagi pelapor untuk mempesiapkan pelaporan XBRL. Waktu yang diinvestasikan di muka untuk edukasi, peningkatan kesadaran, persiapan, dan perencanaan dapat menghemat biaya dan waktu di belakang hari.
4. Membentuk tim yang tepat (building the right team) – Pelaporan XBRL membutuhkan kerjasama dan koordinasi lintas fungsi teknologi, akunting, dan keuangan dalam suatu perusahaan. Biasanya bagian keuangan (finance) adalah fungsi yang bertugas (in charge) mengelola prosesnya.
5. Memilih software (selecting software) – XBRL adalah teknologi yang terus berkembang. Saat ini (sesuai waktu penerbitan artikel oleh EY – Y Pan), belum ada solusi lengkap untuk pelaporan XBRL. Dalam kasus ini, waktu dan biaya pelaporan XBRL sering melampaui antisipasi lembaga regulator.
6. Mengantisipasi kebutuhan pemeliharaan (anticipating manintenance needs) – Pemeliharaan data dan metadata sering terlewat atau sangat dianggap enteng, padahal proses ini adalah kegiatan XBRL yang paling sulit dan mungkin paling penting.
7. Memetakan data (mapping data) – Penandaan (tagging), terutama yang sangat unik bagi suatu laporan keuangan suatu perusahaan, menghabiskan waktu untuk dieksekusi. Pemetaan data ke taksonomi XBRL merupakan suatu yang bersifat ”art” dan ”science” sekaligus.
8. Mengelola ekstensibilitas (addressing extensibility) – Para pelapor cenderung melewatkan fakta bahwa di bawah berbagai regim regulator, mereka juga perlu mengetahui bagaimana mengembangkan (extend) taksonomi pelaporan. Saat ini, masih terdapat ketidakpastian mengenai teknik perluasan (extension) taksonomi XBRL.
9. Menampilkan data (visualizing the data) – Badan regulator yang berbeda mungkin menetapkan mekanisme teknis yang berbeda-beda untuk menampilkan data ke bentuk yang dapat dimengerti manusia sebagai user akhir.
10. Memastikan kualitas (ensuring quality) – Kegiatan terakhir sebelum pelaporan itu sendiri adalah suatu tinjauan menyeluruh terhadap dokumen-dokumen XBRL yang dihasilkan. Proses tinjauan dimaksud melampaui kebutuhan untuk mengindentifikasi tanda-tanda (tags) yang paling tepat. Tinjauan dimaksud harus lebih luas cakupannya, meliputi akurasi, kelengkapan, penampilan data, dan struktur data di dalam XBRL.
Selasa, 20 April 2010
Guru SMA Kami
Kemarin malam HP saya berdering dari nomor tak dikenal. Saya agak sungkan menerimanya, tapi istri memberi nasihat. Siapa tahu penting. Setelah memastikan saya adalah yang dimaksudnya, si penelpon memperkenalkan sebagai teman SMA. Namanya Safaruddin. Agak limbung di awal, saya tiba-tiba diingatkan istri bahwa itu adik Pak Ali Idrus. Seketika ingatan saya kembali. Masya Allah, betapa tumpul ingatan saya mengenai kenangan dua puluh dua tahun silam. Maklum, sudah lama sekali tidak saling kontak.
Kami kemudian bicara banyak, termasuk kerjanya di MUBA, SUMSEL. Nggak semuanya bisa diceritakan kembali di sini, tapi satu topik hangat adalah mengenai rencana reuni akbar. Ya reuni SMA Negeri 11 Palembang untuk semua angkatan. Kebetulan kami generasi pertama. Kalau mau, silakan Anda baca satu fragmen kisah sekolah kami di link ini. Nah, setelah pembicaraan telpon itu, terbetik dalam hati saya alangkah indahnya kalau dalam reuni kami ketemu lagi dengan para guru generasi awal. Saya berjuang keras untuk memanggil ingatan saya. Akhirnya, inilah daftar nama mereka dengan posisinya waktu itu.
Pak Asmawi, kepala sekolah
Pak Ali Idrus, wakil kepala sekolah sekaligus guru PMP
Bu Nur Jasiyah, guru ekonomi dan sosiologi
Pak Nazlimi, guru bahasa Indonesia
Pak Najib, guru bahasa Ingris
Bu Isnaeni Palupi, guru matematika
Bu Nelly Jamilah, guru fisika
Pak Samson, guru biologi
Wah, ternyata susah juga mengingat semuanya. Yang masih di ujung lidah adalah guru agama, guru kimia, dan guru olahraga. Padahal dengan guru agama dan olahraga masih jelas terpampang beberapa momen di mata saya. Misalnya saya gelagapan disuruh baca Al Qur'an oleh guru agama. Waktu disuruh membacakan hafalan surat pendek juga payah. Akhirnya beliau dengan becanda memukul paha saya. Suatu pukulan di hati sesungguhnya.
Dengan guru olahraga, yang terbayang jelas adalah ketika beliau memberi aba-aba pada kami di jalan sepi untuk mengurangi kecepatan. Saya sebagai komandan regu gerak jalan langsung paham. Hasilnya kami juara dua se-kotamadya. Dengan guru-guru yang saya ingat namanya, banyak juga kenangan. Misalnya, saya sering disuruh memeriksa tugas kelas bawah oleh Bu Nelly Jamilah. Waktu saya kuliah di Bandung, kami pernah ketemu sekali. Pak Najib pernah mau menceramahi saya panjang lebar mengenai akhlak saya, eh kepotong karena ada berita sedih.
Ah, udah dulu. Kayaknya pengen langsung reuni aja. Jadi nama guru-guru yang belum saya ingat bakal kembali lagi. Paling asyik kalau bisa ketemu.
Baca sepenggal kisah sekolah kami di:
http://ypanca.blogspot.com/2010/01/sekolah.html
Senin, 29 Maret 2010
Obama Akan Batasi Aktivitas Investasi Perbankan AS
Dikutip dari http://bisniskeuangan.kompas.com
Senin, 25 Januari 2010 | 08:44 WIB
WASHINGTON, KOMPAS.com — Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama akan mengajukan proposal aturan untuk membatasi kegiatan usaha perbankan di negara itu. Terutama, Obama ingin membatasi kegiatan investasi bank berupa pembelian aset atau saham untuk meraup keuntungan.
"Kegiatan itu tidak ada hubungannya dengan kepentingan nasabah," ungkap Obama dalam wawancara dengan ABC, seperti dikutip Bloomberg, pekan lalu.
Transaksi yang biasa disebut proprietary trading ini menjadi penyebab praktik spekulasi di pasar properti AS yang menjadi penyebab krisis pada tahun 2008. Makanya, lanjut Obama, pembatasan ukuran dan kegiatan lembaga keuangan penting untuk mengurangi risiko yang berlebihan.
Usulan ini akan menjadi bagian dari perombakan regulasi keuangan yang akan mengatur pelakunya berperilaku wajar. "Sistem regulasi keuangan AS saat ini tidak cukup mampu mengawasi risiko-risiko ekstra dan perilaku pemain yang tidak bertanggung jawab," ujar Obama.
Tutup bisnis "private equity"
Usulan itu bakal memaksa perbankan raksasa AS, seperti JP Morgan, Goldman Sachs, dan Morgan Stanley, menjual unit bisnis private equity mereka. Tak bisa dimungkiri, bank-bank besar seperti Goldman bakal kehilangan banyak pemasukan.
Maklum, dari bisnis-bisnis tadi, pada tahun lalu Goldman menjadi bank paling menguntungkan dalam sejarah Wall Street. Lebih dari 90 persen pendapatan sebelum pajak Goldman Sachs berasal dari unit private equity tersebut.
Direktur Utama Goldman Sachs Lloyd Blankfein menyatakan, perusahaannya harus menghasilkan keuntungan sendiri agar bisa menutup kerugian yang terjadi akibat krisis pada 2008.
Rencana pemerintah Negeri Uwak Sam ini sebenarnya tak berbeda jauh dengan yang dilakukan Pemerintah Inggris. Sebulan lalu, otoritas jasa keuangan di Inggris mengumumkan rencana membatasi proprietary trading di perbankan. Akibat aturan itu, industri perbankan negara itu harus menyisihkan cadangan modal hingga 47 miliar dollar AS untuk menutupi potensi kerugian dari bisnis tersebut.
Aturan ini bukan tidak mendapat kritik. Bruce Ettelson, konsultan hukum di Kirkland & Ellis LLP, bilang, ini akan berdampak pada perubahan aturan di Wall Street dan banyak perjanjian bisnis yang sebelumnya telah disepakati. "Aturan ini juga makin menciutkan sumber pendanaan bagi equity private dan hedge fund," cetusnya. (Sopia Siregar/Kontan)
Rabu, 10 Maret 2010
Stasiun Rawa Buntu
Baru-baru ini pengguna KRL yang tinggal di sekitar stasiun Rawa Buntu mendapat khabar gembira. KRL Ekspres dari Serpong menuju Tanah Abang akhirnya singgah juga di Rawa Buntu, setelah demikian lama para pelanggan mengajukan permohonan. Malahan saya pernah dengar para pelanggan membuat petisi untuk itu. Entahlah pujian atau kritik yang pantas diberikan ke PT KA.
Terlepas dari lambatnya tanggapan PT KA, alhamdulillah berhentinya KRL Ekspres dari Serpong menuju Tanah Abang di stasiun kami tetap merupakan berkah. Manfaat pertama sih sederhana saja. Pelanggan memiliki satu pilihan tambahan. Kedua, pengguna yang high profile tidak perlu lagi memaksakan diri ke Serpong atau Sudimara untuk naik KRL Ekspres. Saya pernah sih menjalaninya sendiri.
Supaya bisa naik Ekspres, saya harus naik ojek dari rumah ke Serpong yang jaraknya tiga kali lebih jauh. Pernah juga saya naik KRL ekonomi atau kereta ekonomi Rangkas dari Rawabuntu ke Sudimara, lalu buru-buru turun untuk antri beli tiket Ekspres. Tapi itu semua sudah jadi sejarah. Saya sekarang bisa naik Ekspres langsung dari Rawa Buntu.
Memang dua manfaat yang langsung saya nikmati terasa sepele, tapi bagi saya cukup berarti. Jika manfaat tiap individu dikumpulkan, bukan mustahil manfaat keseluruhan untuk masyarakat cukup memadai untuk mengurangi biaya sosial yang hingga hari ini masih di bawah tekanan faktor korupsi.
Tanda pembenahan lain yang dilakukan PT KA terlihat dari penampilan fisik stasiun. Foto berikut ini buktinya. Stasiun Rawa Buntu hanyalah satu dari sekian banyak stasiun yang dibenahi. Belajar dari pengalaman NYC (lihat artikel terkait), stasiun yang bersih dan rapi, dengan penerangan yang cukup, mampu menekan risiko timbulnya kriminalitas. Apalagi kalau kereta-keretanya juga OK. Lagi-lagi PT KA bisa menanam jasa mengurangi ongkos sosial warga yang sebagiannya sampai hari ini masih dihantui kemiskinan.
Foto...
Cukup deh puji-pujian. Kenyataannya masih banyak yang harus dibenahi. Keterlambatan kereta dan gangguan sinyal hanyalah sedikit dari sekian banyak contoh. Yang paling bikin kecele adalah ketika kereta berangkat lebih awal dari jadwal. Bagaimanapun, kritik atau pujian untuk PT KA rasanya tidak pantas menurunkan kinerjanya. Justru keduanya harus jadi motivator untuk terus berbenah. Ayo Pak Ignasius Jonan dkk, Anda bisa!
Baca juga kisah lainnya:
Granada Square
Stasiun Senen
Iklan di KRL
Pelayanan KRL: Membaik Nggak?
Roker Bekasi Nelangsa
addthis
Kategori
- bahasa-matematika (23)
- demokrasi-politik (51)
- ekonomi-bisnis (71)
- lebih personal (42)
- manajemen (111)
- nilai-nilai (137)
- review buku (68)
- sistem informasi (37)

