Pernah merasakan ribetnya melaporkan SPT Anda? Pasti Anda merasakannya, tapi bagi Kantor Pajak lebih ribet lagi bagaimana mengolah dokumen SPT yang berjibun. Ah, kan pasti sudah pakai IT. Benar! Dugaan saya pun begitu, tapi kelihatannya ada cara baru yang bakal mengurangi keribetan di sisi Anda dan di sisi Kantor Pajak. Apakah cara pelaporan SPT saja yang mungkin berubah ke depannya. Nggaklah, banyak yang mungkin berubah, seperti pelaporan ke pengawas bursa, pengawas bank, bea cukai, dan lain-lain.
Nah, saya menemukan sebuah dokumen dari Ernst & Young yang saya terjemahkan bagian awalnya berikut ini. Sebagai catatan saja, di banyak negara lain, cara menyampaikan laporan ke pihak berwenang sudah menggunakan cara baru ini lho. Kapan ya di kita?
Sejumlah regulator terkemuka sedang semangat-semangatnya menjual standard teknologi baru – eXtensible Business Reporting Language (XBRL) – sebagai suatu cara untuk mempermudah otomasi pelaporan informasi keuangan, yang diyakini bermanfaat bagi seluruh stakeholder pasar keuangan.
Perusahaan-perusahaan di US, UK, Cina, Jepang, Prancis, Singapura, dan banyak negara lainnya sudah melaporkan informasi ke lembaga regulator atau bursa efek dengan XBRL. Setelah BAPEPAM Amerika dan Kantor Pajak dan Bea Cukai Inggris meliriknya, momentum penerapan XBRL makin bergerak cepat secara global dan ada indikasi kuat bahwa semakin banyak regulator akan mewajibkan penggunaan XBRL untuk pelaporan regulatoris dalam waktu yang tidak terlalu lama. Jelas, XBRL memiliki potensi menjadi standard teknologi global untuk pelaporan informasi keuangan maupun operasional.
Seiring upaya Anda untuk menguatkan fondasi pelaporan perusahaan Anda dengan XBRL, sebaiknya Anda tidak menganggap remeh pentingnya tahap persiapan. Seperti inovasi apapun, pasti terdapat ketidakpastian, terutama terhadap pendekatan awal pelaporan XBRL. Kebutuhan pelapor akan jasa konsultansi dan upaya memastikan keberhasilan tidak 100 persen jelas. Agak burem dikitlah. Beberapa rintangan sudah menanti di depan, termasuk ketakutan akan persyaratan yang demikian ketat dan persepsi bahwa XBRL hanyalah fenomena bertepuk-sebelah-tangan para regulator.
Dalam publikasi ini, kami menyoroti sepuluh tantangan kesiapan bagi pelapor, mulai dari membangun kesadaran (awareness) dan menginisiasi proyek hingga implementasi dan realisasi. Kami berharap para pembaca akan memahami bahwa pelaporan XBRL sesungguhnya lebih rumit daripada yang mungkin dipahami oleh para pendukung atau lembaga yang mewajibkannya. Kami yakin dengan pemahaman dan kesadaran yang benar, melalui persiapan dan perencanaan yang matang, upaya untuk mengikuti standard pelaporan XBRL akan lebih hemat dalam jangka menengah-panjang.
Mengikuti standard XBRL dengan mantap dan percaya diri serta membangun kemampuan yang dibutuhkan dengan tepat akan lebih menyiapkan pelapor dalam menyongsong perubahan sistem pelaporan yang masih akan terus berkembang ke depannya. Kami (EY, yaitu penerbit artikel yang saya terjemahkan sebebas-bebasnya ini – Y Pan) berharap dapat bekerja sama dengan para pelapor untuk membantu mereka menyongsong sistem pelaporan yang baru.
Pengenalan
XBRL adalah standard pelaporan informasi keuangan dan operasional bisnis berbasis Extensible Markup Languange (XML), yang bebas lisensi dan terbuka. Standard ini digunakan untuk pertukaran informasi bisnis secara elektronis. XML adalah sebuah bahasa deskriptif mengenai data yang bersifat universal dan digunakan untuk mendeskripsikan wadah, pengolahan, dan pertukaran data melalui internet.
Ide dasar di belakang XBRL sangat sederhana. XBRL menyediakan penjelasan (dengan tag atau disebut juga metadata) untuk setiap item data yang dilaporkan. Tanda penjelasan tersebut dapat dibaca oleh komputer dan memungkinkan informasi digunakan secara interaktif. Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan sebelumnya yang cenderung menggunakan formulir isian, baik tercetak (manual) atau melalui sistem on-line.
XBRL memungkinkan pertukaran dan analisis data bisnis melalui penyandian informasi atau penandaan yang lebih mempunyai arti buat komputer (karena ada penjelasan atau metadatanya). Oleh karenanya, aplikasi komputer dapat mengolah data XBRL secara ”cerdas” dengan mengenali informasi di suatu dokumen XBRL. Selanjutnya, dengan logik tertentu, aplikasi dapat memilih, menganalisa, menyimpan, dan mempertukarkan data XBRL dengan komputer atau sistem lain serta selanjutnya menyajikan datanya dalam berbagai bentuk kepada pengguna.
Pelapor-pelapor yang berhasil mengikuti tuntutan standard XBRL dari lembaga regulator melakukan persiapan matang jauh hari dalam menghadapi proses perubahan untuk mengikuti standard XBRL. Mengapa demikian? Secara umum, pelaksanaan strategi TI apapun membutuhkan pengetahuan, wawasan, dan perencanaan yang hati-hati. XBRL bukan pengecualian. Lalu bagaimana pelapor memulai kegiatan yang memakan waktu untuk persiapan melaporkan data yang diminta regulator? Padahal argo persiapan tersebut berjalan jauh hari sebelum kegiatan pelaporannya terjadi dan kemudian tetap akan berlangsung seterusnya.
Kami yakin artikel ini dapat membantu Anda menjawab tantangan di atas dan dapat memberikan gagasan yang berguna mengenai XBRL, termasuk beberapa permasalahan pokok dan pertimbangan-pertimbangan terkait dengan penerapan XBRL dalam pelaporan informasi keuangan. Walaupun isu dan pertimbangan yang perlu dipikirkan sebetulnya banyak sekali, kami yakin isu-isu dan pertimbangan yang kami tulis di bawah ini merupakan yang paling mewakili tantangan kesiapan para pelapor; dan jika isu-isu dimaksud dihadapi dengan tepat, tentu hasilnya adalah laporan XBRL yang berkualitas.
CFO dan para eksekutif keuangan senior akan sangat berperan dalam menentukan keseimbangan transisi pelaporan XBRL dari pelaporan sebelumnya. Dalam menjalani perubahannya, mereka akan menghadapi berbagai tantangan teknologi yang akan menguji kesiapan mereka dalam pelaporan XBRL. Oleh karena itu, pertanyaan utama buat CFO dan para eksekutif tersebut adalah, ”Apakah kita benar-benar siap?”
Sepuluh Tantangan Kesiapan XBRL
1. Membangun kesadaran (raising awareness) – Sejumlah besar eksekutif keuangan masih belum paham apakah XBRL itu, bagaimana cara kerjanya, dan problem apa yang dapat diselesaikannya.
2. Memilih saat yang tepat (getting the timing right) – Menyerahkan laporan XBRL secara sukarela atau membuat suatu bentuk ujicoba sebelum XBRL benar-benar diwajibkan terbukti merupakan praktik yang sangat bermanfaat. Para pelapor menemui fakta bahwa semakin meningkat pengalaman dengan XBRL, semakin cepat dan akurat proses pelaporannya. Pada kasus BAPEPAM Amerika, pelaporan XBRL sukarela sebelum diwajibkan dapat menekan risiko yang selanjutnya membuat penerapan pelaporan XBRL berlangsung lebih aman.
3. Mempertimbangkan pilihan implementasi (considering implementation options) – Terdapat beberapa pilihan bagi pelapor untuk mempesiapkan pelaporan XBRL. Waktu yang diinvestasikan di muka untuk edukasi, peningkatan kesadaran, persiapan, dan perencanaan dapat menghemat biaya dan waktu di belakang hari.
4. Membentuk tim yang tepat (building the right team) – Pelaporan XBRL membutuhkan kerjasama dan koordinasi lintas fungsi teknologi, akunting, dan keuangan dalam suatu perusahaan. Biasanya bagian keuangan (finance) adalah fungsi yang bertugas (in charge) mengelola prosesnya.
5. Memilih software (selecting software) – XBRL adalah teknologi yang terus berkembang. Saat ini (sesuai waktu penerbitan artikel oleh EY – Y Pan), belum ada solusi lengkap untuk pelaporan XBRL. Dalam kasus ini, waktu dan biaya pelaporan XBRL sering melampaui antisipasi lembaga regulator.
6. Mengantisipasi kebutuhan pemeliharaan (anticipating manintenance needs) – Pemeliharaan data dan metadata sering terlewat atau sangat dianggap enteng, padahal proses ini adalah kegiatan XBRL yang paling sulit dan mungkin paling penting.
7. Memetakan data (mapping data) – Penandaan (tagging), terutama yang sangat unik bagi suatu laporan keuangan suatu perusahaan, menghabiskan waktu untuk dieksekusi. Pemetaan data ke taksonomi XBRL merupakan suatu yang bersifat ”art” dan ”science” sekaligus.
8. Mengelola ekstensibilitas (addressing extensibility) – Para pelapor cenderung melewatkan fakta bahwa di bawah berbagai regim regulator, mereka juga perlu mengetahui bagaimana mengembangkan (extend) taksonomi pelaporan. Saat ini, masih terdapat ketidakpastian mengenai teknik perluasan (extension) taksonomi XBRL.
9. Menampilkan data (visualizing the data) – Badan regulator yang berbeda mungkin menetapkan mekanisme teknis yang berbeda-beda untuk menampilkan data ke bentuk yang dapat dimengerti manusia sebagai user akhir.
10. Memastikan kualitas (ensuring quality) – Kegiatan terakhir sebelum pelaporan itu sendiri adalah suatu tinjauan menyeluruh terhadap dokumen-dokumen XBRL yang dihasilkan. Proses tinjauan dimaksud melampaui kebutuhan untuk mengindentifikasi tanda-tanda (tags) yang paling tepat. Tinjauan dimaksud harus lebih luas cakupannya, meliputi akurasi, kelengkapan, penampilan data, dan struktur data di dalam XBRL.
Selasa, 27 April 2010
Cara Baru Melaporkan SPT
Selasa, 20 April 2010
Guru SMA Kami
Kemarin malam HP saya berdering dari nomor tak dikenal. Saya agak sungkan menerimanya, tapi istri memberi nasihat. Siapa tahu penting. Setelah memastikan saya adalah yang dimaksudnya, si penelpon memperkenalkan sebagai teman SMA. Namanya Safaruddin. Agak limbung di awal, saya tiba-tiba diingatkan istri bahwa itu adik Pak Ali Idrus. Seketika ingatan saya kembali. Masya Allah, betapa tumpul ingatan saya mengenai kenangan dua puluh dua tahun silam. Maklum, sudah lama sekali tidak saling kontak.
Kami kemudian bicara banyak, termasuk kerjanya di MUBA, SUMSEL. Nggak semuanya bisa diceritakan kembali di sini, tapi satu topik hangat adalah mengenai rencana reuni akbar. Ya reuni SMA Negeri 11 Palembang untuk semua angkatan. Kebetulan kami generasi pertama. Kalau mau, silakan Anda baca satu fragmen kisah sekolah kami di link ini. Nah, setelah pembicaraan telpon itu, terbetik dalam hati saya alangkah indahnya kalau dalam reuni kami ketemu lagi dengan para guru generasi awal. Saya berjuang keras untuk memanggil ingatan saya. Akhirnya, inilah daftar nama mereka dengan posisinya waktu itu.
Pak Asmawi, kepala sekolah
Pak Ali Idrus, wakil kepala sekolah sekaligus guru PMP
Bu Nur Jasiyah, guru ekonomi dan sosiologi
Pak Nazlimi, guru bahasa Indonesia
Pak Najib, guru bahasa Ingris
Bu Isnaeni Palupi, guru matematika
Bu Nelly Jamilah, guru fisika
Pak Samson, guru biologi
Wah, ternyata susah juga mengingat semuanya. Yang masih di ujung lidah adalah guru agama, guru kimia, dan guru olahraga. Padahal dengan guru agama dan olahraga masih jelas terpampang beberapa momen di mata saya. Misalnya saya gelagapan disuruh baca Al Qur'an oleh guru agama. Waktu disuruh membacakan hafalan surat pendek juga payah. Akhirnya beliau dengan becanda memukul paha saya. Suatu pukulan di hati sesungguhnya.
Dengan guru olahraga, yang terbayang jelas adalah ketika beliau memberi aba-aba pada kami di jalan sepi untuk mengurangi kecepatan. Saya sebagai komandan regu gerak jalan langsung paham. Hasilnya kami juara dua se-kotamadya. Dengan guru-guru yang saya ingat namanya, banyak juga kenangan. Misalnya, saya sering disuruh memeriksa tugas kelas bawah oleh Bu Nelly Jamilah. Waktu saya kuliah di Bandung, kami pernah ketemu sekali. Pak Najib pernah mau menceramahi saya panjang lebar mengenai akhlak saya, eh kepotong karena ada berita sedih.
Ah, udah dulu. Kayaknya pengen langsung reuni aja. Jadi nama guru-guru yang belum saya ingat bakal kembali lagi. Paling asyik kalau bisa ketemu.
Baca sepenggal kisah sekolah kami di:
http://ypanca.blogspot.com/2010/01/sekolah.html
Senin, 29 Maret 2010
Obama Akan Batasi Aktivitas Investasi Perbankan AS
Dikutip dari http://bisniskeuangan.kompas.com
Senin, 25 Januari 2010 | 08:44 WIB
WASHINGTON, KOMPAS.com — Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama akan mengajukan proposal aturan untuk membatasi kegiatan usaha perbankan di negara itu. Terutama, Obama ingin membatasi kegiatan investasi bank berupa pembelian aset atau saham untuk meraup keuntungan.
"Kegiatan itu tidak ada hubungannya dengan kepentingan nasabah," ungkap Obama dalam wawancara dengan ABC, seperti dikutip Bloomberg, pekan lalu.
Transaksi yang biasa disebut proprietary trading ini menjadi penyebab praktik spekulasi di pasar properti AS yang menjadi penyebab krisis pada tahun 2008. Makanya, lanjut Obama, pembatasan ukuran dan kegiatan lembaga keuangan penting untuk mengurangi risiko yang berlebihan.
Usulan ini akan menjadi bagian dari perombakan regulasi keuangan yang akan mengatur pelakunya berperilaku wajar. "Sistem regulasi keuangan AS saat ini tidak cukup mampu mengawasi risiko-risiko ekstra dan perilaku pemain yang tidak bertanggung jawab," ujar Obama.
Tutup bisnis "private equity"
Usulan itu bakal memaksa perbankan raksasa AS, seperti JP Morgan, Goldman Sachs, dan Morgan Stanley, menjual unit bisnis private equity mereka. Tak bisa dimungkiri, bank-bank besar seperti Goldman bakal kehilangan banyak pemasukan.
Maklum, dari bisnis-bisnis tadi, pada tahun lalu Goldman menjadi bank paling menguntungkan dalam sejarah Wall Street. Lebih dari 90 persen pendapatan sebelum pajak Goldman Sachs berasal dari unit private equity tersebut.
Direktur Utama Goldman Sachs Lloyd Blankfein menyatakan, perusahaannya harus menghasilkan keuntungan sendiri agar bisa menutup kerugian yang terjadi akibat krisis pada 2008.
Rencana pemerintah Negeri Uwak Sam ini sebenarnya tak berbeda jauh dengan yang dilakukan Pemerintah Inggris. Sebulan lalu, otoritas jasa keuangan di Inggris mengumumkan rencana membatasi proprietary trading di perbankan. Akibat aturan itu, industri perbankan negara itu harus menyisihkan cadangan modal hingga 47 miliar dollar AS untuk menutupi potensi kerugian dari bisnis tersebut.
Aturan ini bukan tidak mendapat kritik. Bruce Ettelson, konsultan hukum di Kirkland & Ellis LLP, bilang, ini akan berdampak pada perubahan aturan di Wall Street dan banyak perjanjian bisnis yang sebelumnya telah disepakati. "Aturan ini juga makin menciutkan sumber pendanaan bagi equity private dan hedge fund," cetusnya. (Sopia Siregar/Kontan)
Rabu, 10 Maret 2010
Stasiun Rawa Buntu
Baru-baru ini pengguna KRL yang tinggal di sekitar stasiun Rawa Buntu mendapat khabar gembira. KRL Ekspres dari Serpong menuju Tanah Abang akhirnya singgah juga di Rawa Buntu, setelah demikian lama para pelanggan mengajukan permohonan. Malahan saya pernah dengar para pelanggan membuat petisi untuk itu. Entahlah pujian atau kritik yang pantas diberikan ke PT KA.
Terlepas dari lambatnya tanggapan PT KA, alhamdulillah berhentinya KRL Ekspres dari Serpong menuju Tanah Abang di stasiun kami tetap merupakan berkah. Manfaat pertama sih sederhana saja. Pelanggan memiliki satu pilihan tambahan. Kedua, pengguna yang high profile tidak perlu lagi memaksakan diri ke Serpong atau Sudimara untuk naik KRL Ekspres. Saya pernah sih menjalaninya sendiri.
Supaya bisa naik Ekspres, saya harus naik ojek dari rumah ke Serpong yang jaraknya tiga kali lebih jauh. Pernah juga saya naik KRL ekonomi atau kereta ekonomi Rangkas dari Rawabuntu ke Sudimara, lalu buru-buru turun untuk antri beli tiket Ekspres. Tapi itu semua sudah jadi sejarah. Saya sekarang bisa naik Ekspres langsung dari Rawa Buntu.
Memang dua manfaat yang langsung saya nikmati terasa sepele, tapi bagi saya cukup berarti. Jika manfaat tiap individu dikumpulkan, bukan mustahil manfaat keseluruhan untuk masyarakat cukup memadai untuk mengurangi biaya sosial yang hingga hari ini masih di bawah tekanan faktor korupsi.
Tanda pembenahan lain yang dilakukan PT KA terlihat dari penampilan fisik stasiun. Foto berikut ini buktinya. Stasiun Rawa Buntu hanyalah satu dari sekian banyak stasiun yang dibenahi. Belajar dari pengalaman NYC (lihat artikel terkait), stasiun yang bersih dan rapi, dengan penerangan yang cukup, mampu menekan risiko timbulnya kriminalitas. Apalagi kalau kereta-keretanya juga OK. Lagi-lagi PT KA bisa menanam jasa mengurangi ongkos sosial warga yang sebagiannya sampai hari ini masih dihantui kemiskinan.
Foto...
Cukup deh puji-pujian. Kenyataannya masih banyak yang harus dibenahi. Keterlambatan kereta dan gangguan sinyal hanyalah sedikit dari sekian banyak contoh. Yang paling bikin kecele adalah ketika kereta berangkat lebih awal dari jadwal. Bagaimanapun, kritik atau pujian untuk PT KA rasanya tidak pantas menurunkan kinerjanya. Justru keduanya harus jadi motivator untuk terus berbenah. Ayo Pak Ignasius Jonan dkk, Anda bisa!
Baca juga kisah lainnya:
Granada Square
Stasiun Senen
Iklan di KRL
Pelayanan KRL: Membaik Nggak?
Roker Bekasi Nelangsa
Senin, 22 Februari 2010
Seminar Korupsi di InHar
Minggu kemarin saya mengikuti seminar mengenai korupsi di kawasan Puspitek Serpong. Acara diselenggarakan oleh SMPIT Insan Harapan (InHar) yang dipimpin oleh Ibu Rita Fadhilah. Anak kami yang kedua, namanya Rita juga, sekolah di situ. Saat ini ia duduk di kelas 7-1. Lho koq bisa seminar korupsi diadakan oleh SMP? Bisalah. Menurut penasihat KPK yang menjadi salah satu pembicara, kegiatan seperti ini bagian dari pelaksanaan tugas KPK di bidang pencegahan.
Ketika mencari Gedung DRN, tempat seminar, saya cukup terkagum-kagum dengan penataan kawasan. Kawasan Puspitek memang apik, serasa di tempat lain. Saya bilang ke istri, "Kapan-kapan kita piknik yuk di sini sama anak-anak buat nostalgia," tapi sayangnya waktu pulang satpam bilang kawasan nggak terbuka untuk umum. Fasilitas riset ini ternyata digagas oleh Prof Soemitro. Memang pelaksanaan pembangunan dimulai oleh Prof Habibie dan selesai pada masa AS Hikam menjabat Menristek.
Pembicara seminar ada dua, Kak Seto dan Pak Abdullah Hehamahua, penasihat KPK. Dibuka oleh pejabat pemerintah Tangerang Selatan yang mewakili Pak Wali dan dimoderatori oleh Kepala MAN Insan Cendikia, Pak Ahmad Hidayatullah, seminar berlangsung menarik. Baik Kak Seto maupun Pak Abdullah sama-sama punya kapasitas yang jauh melebihi syarat minimal mengisi seminar. Candaan moderator juga berperan penting membuat suasana tidak angker, padahal ini seminar mengenai korupsi lho.
Presentasi Kak Seto yang hanya beberapa menit, karena tekanan jadwal beliau selanjutnya, cukup membuat meriah suasana. Banyak materi Komnas Perlindungan Anak sih... misalnya:
Tuhan kirimkanlah aku
Ayah ibu yang baik hati
Yang mencintai aku
Apa adanya...
Kontan aja Rita, anak kedua kami, yang baru saja saya marah-marahin dua hari sebelumnya seolah mendapat angin. Saya jelaskan sih ke Rita bahwa pesan Kak Seto banyak benarnya, tapi ada hal yang menuntut ketegasan dalam mendidik anak. Saya ambil hadits Nabi Muhammad SAW mengenai memukul anak sebagai contoh. Tentu akhlak Nabi tidaklah tercela. Yang pasti ada saatnya lemah lembut dan ada saatnya tegas dan keras. Yah... mudah-mudahan Rita paham maksud Kak Seto yang sebenarnya.
Terkait korupsi akhirnya Kak Seto sampai juga pada poin yang tegas dan terang benderang. Jangan mencontek dan curang (yah... begitulah kurang lebih) karena itulah awal dari korupsi. Nggak ada tanya jawab dengan Kak Seto karena beliau harus segera pergi, tapi pasti beliau telah memberi kesan mendalam kepada anak-anak dan orangtua yang hadir. Selanjutnya materi dari Pak Abdullah. Walaupun beliau mengatakan presentasinya disiapkan untuk anak-anak, tetap aja cukup serius.
Penasihat KPK itu bahkan tidak banyak berharap dari orangtua. Kalau mau tobat nasuha, alhamdulillah. Kalau nggak, juga nggak apa-apa buat bahan bakar neraka. Kesannya generasi berikutnyalah yang hanya bisa diharapkan mengatasi korupsi. Nggak tahu deh apakah anak-anak SMP IT Insan Harapan paham betul apa yang beliau maksud, tapi kalau mendengar beberapa pertanyaan yang mereka ajukan dalam seminar, nggak salah kita berharap banyak.
Buat Pak Hehamahua, dan tentunya kita-kita juga, harapan yang besar kepada anak muda mungkin bisa berfungsi sebagai katup untuk menghindari putus asa. Generasi baru! Semangat baru! Ruhul jadid! Berikut ini ekspresi mereka yang amat sangat nian anti korupsi.





addthis
Kategori
- bahasa-matematika (23)
- demokrasi-politik (51)
- ekonomi-bisnis (71)
- lebih personal (42)
- manajemen (111)
- nilai-nilai (137)
- review buku (68)
- sistem informasi (37)

